“Kamu pikir ini pernikahan impianmu, Pak Budi?” bisik Siti dengan suara sedingin lantai kamar yang kupijak. “Pernikahan ini adalah akhir dari pelarianmu.”
Aku tidak bisa bergerak.
Botol kaca kecil di tangan Siti menangkap cahaya lampu kamar. Cairan bening di dalamnya bergoyang pelan mengikuti gemetar jemarinya. Namun bukan botol itu yang paling membuatku takut.
Nama di punggungnya membuat lututku nyaris kehilangan tenaga.

Raka Prasetyo.
Nama anak sulungku.
Anak yang dua puluh tahun lalu pergi dari rumah setelah pertengkaran hebat denganku dan tidak pernah kembali.
“Siti…” suaraku tercekat. “Kenapa nama Raka ada di punggungmu?”
Dia tertawa pendek. Tidak ada sedikit pun kehangatan dalam suara itu.
“Jadi kamu masih ingat namanya?”
“Tentu aku ingat. Dia anakku.”
“Anakmu?”
Siti mendadak menamparku.
Tamparannya tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat wajahku berpaling.
“Jangan berani menyebut dirimu ayahnya.”
Aku menatapnya dengan napas memburu.
Selama bertahun-tahun aku menyimpan kisah tentang Raka seperti luka yang tidak pernah benar-benar mengering.
Ketika berusia dua puluh enam tahun, Raka bekerja di sebuah perusahaan logistik di Surabaya. Dia keras kepala, idealis, dan selalu mengatakan bahwa hidup tidak boleh dijalani dengan menundukkan kepala kepada orang yang lebih berkuasa.
Aku justru sebaliknya.
Aku percaya keselamatan keluarga lebih penting daripada keberanian.
Suatu malam Raka pulang membawa sebuah tas hitam. Dia mengatakan telah menemukan bukti penggelapan dan penyelundupan yang dilakukan atasannya. Dia ingin menyerahkan dokumen itu kepada polisi.
Aku melarangnya.
Kami bertengkar.
Aku bahkan mengusirnya.
Itulah terakhir kali aku melihatnya.
Beberapa minggu kemudian, sepeda motornya ditemukan di dekat Sungai Brantas. Tidak ada jasad. Polisi menduga dia mengalami kecelakaan dan terseret arus.
Aku tidak pernah percaya sepenuhnya.
Namun setelah bertahun-tahun tanpa kabar, aku terpaksa menerima kemungkinan bahwa anakku telah meninggal.
“Apa hubunganmu dengan Raka?” tanyaku.
Siti menatapku lama.
“Dia menyelamatkan hidupku.”
Dadaku serasa dihantam sesuatu.
Siti meletakkan botol itu di meja, lalu mengambil sebuah amplop cokelat dari tasnya.
Dia melemparkannya ke ranjang.
“Buka.”
Tanganku gemetar saat menarik isinya.
Ada beberapa foto lama.
Foto pertama memperlihatkan seorang pemuda kurus mengenakan jaket hitam.
Aku mengenal wajah itu dalam satu detik.
Raka.
Di sebelahnya berdiri Siti yang jauh lebih muda.
Foto berikutnya memperlihatkan sebuah bangunan terbakar.
Foto ketiga menunjukkan Siti terbaring di rumah sakit dengan punggung dibalut perban.
“Apa ini?”
“Dua puluh tahun lalu aku tinggal di Surabaya,” katanya. “Setelah suamiku meninggal, aku bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan tempat Raka bekerja.”
Aku menatapnya.
“Perusahaan logistik itu?”
Siti mengangguk.
“Raka menemukan sesuatu yang seharusnya tidak dia temukan. Catatan pengiriman palsu. Uang suap. Barang ilegal yang disembunyikan dalam kontainer resmi.”
“Dia pernah menceritakannya kepadaku.”
“Dan kamu menyuruhnya diam.”
Kalimat itu menusuk tepat ke tempat yang selama bertahun-tahun berusaha kusembunyikan.
Aku menunduk.
“Aku takut.”
“Raka juga takut.”
Suara Siti mulai bergetar.
“Tapi dia tetap mencoba melakukan sesuatu.”
Siti bercerita bahwa malam setelah pertengkaran kami, Raka kembali ke Surabaya dan menyembunyikan salinan dokumen penting di rumah kontrakan Siti. Mereka berencana menyerahkannya kepada seorang penyidik yang dipercaya Raka.
Namun seseorang membocorkan rencana itu.
Rumah kontrakan Siti dibakar.
Dia terjebak di dalam.
Raka menerobos api untuk menyelamatkannya.
“Bekas luka ini,” Siti menyentuh punggungnya, “aku dapat malam itu.”
“Lalu Raka?”
Siti tidak menjawab.
Aku berdiri.
“Di mana anakku?”
Untuk pertama kalinya, kebencian di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan.
Kesedihan.
“Dia berhasil membawaku keluar. Tapi orang-orang itu datang.”
Siti menarik napas panjang.
“Raka menyuruhku lari. Dia menghadapi mereka sendirian.”
“Apakah mereka membunuhnya?”
“Aku tidak tahu.”
Aku terdiam.
“Bagaimana mungkin tidak tahu?”
“Aku pingsan. Ketika sadar tiga hari kemudian, Raka sudah hilang.”
Siti kemudian mengetahui bahwa sepeda motor Raka sengaja diletakkan dekat sungai untuk menciptakan kesan kecelakaan.
Aku memegang ujung ranjang agar tidak jatuh.
Selama dua puluh tahun aku percaya anakku meninggal karena keras kepala.
Ternyata mungkin dia menjadi korban kejahatan.
“Kalau begitu kenapa kamu membenciku?”
Siti menatapku tajam.
“Karena ada satu hal lagi yang tidak kamu ceritakan kepada keluargamu.”
Aku membeku.
Dia mengeluarkan selembar kertas tua.
Fotokopi laporan kepolisian.
Di bagian bawah terdapat sebuah nama.
Namaku.
Budi Santoso.
Aku langsung mengenal dokumen itu.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan.”
Dua puluh tahun lalu, tiga hari setelah Raka menghilang, dua pria mendatangiku.
Mereka tahu alamat rumahku.
Mereka tahu sekolah anak bungsuku.
Mereka bahkan tahu jadwal istriku pergi ke pasar.
Mereka mengatakan bahwa jika aku terus mencari Raka atau membicarakan dokumen yang pernah disebutkannya, keluargaku akan mengalami nasib yang sama.
Aku ketakutan.
Ketika polisi bertanya apakah Raka pernah menceritakan masalah di tempat kerjanya, aku berbohong.
Aku mengatakan tidak.
Aku juga menyerahkan surat pernyataan bahwa Raka sedang mengalami tekanan emosional sebelum menghilang.
Penyelidikan perlahan kehilangan arah.
“Aku punya istri dan dua anak lain yang harus kulindungi,” kataku lirih.
“Dan untuk melindungi mereka, kamu mengorbankan Raka.”
“Aku tidak tahu mereka akan melakukan itu!”
“Karena kamu memilih untuk tidak tahu!”
Siti mendorong dadaku.
Aku tidak melawan.
Air matanya mulai jatuh.
“Selama bertahun-tahun aku mencari Raka. Aku pindah kota. Aku menemui mantan karyawan perusahaan. Aku mencari saksi. Beberapa menghilang. Beberapa takut bicara.”
“Kenapa baru sekarang kamu datang kepadaku?”
Siti memandang botol di meja.
“Aku ingin kamu merasakan ketakutan yang dia rasakan.”
Aku melihat cairan bening itu.
“Apa itu racun?”
Siti mengambil botol tersebut.
Lalu, tanpa peringatan, dia membuka tutupnya dan meminumnya.
“Siti!”
Aku merebut botol itu.
Dia justru tersenyum getir.
“Air mineral.”
Aku terpaku.
“Aku bukan pembunuh, Budi.”
“Lalu semua ini?”
“Aku ingin tahu apakah setelah dua puluh tahun kamu masih seorang pengecut.”
Dia berjalan menuju lemari dan mengeluarkan ponselnya.
Layar menunjukkan panggilan yang sedang berlangsung.
Seseorang mendengarkan percakapan kami.
“Siapa itu?”
Siti tidak menjawab pertanyaanku.
Sebaliknya dia berkata, “Aku membutuhkan pengakuanmu bahwa kamu pernah berbohong kepada polisi. Sekarang aku sudah mendapatkannya.”
Amarah muncul di dadaku.
“Jadi pernikahan kita cuma jebakan?”
Siti terdiam cukup lama.
“Aku berharap begitu.”
Jawaban itu justru membuatku bingung.
“Apa maksudmu?”
“Aku datang kepadamu enam bulan lalu dengan rencana sederhana. Mendekatimu. Membuatmu percaya aku masih mencintaimu. Menikah denganmu. Lalu membuatmu mengaku.”
“Dan sekarang?”
Air mata mengalir di pipinya.
“Masalahnya, aku benar-benar jatuh cinta lagi kepadamu.”
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, kebohongannya atau kenyataan bahwa sebagian diriku masih mempercayainya.
Tiba-tiba terdengar ketukan keras dari pintu depan.
Tiga kali.
Siti menegang.
“Itu mereka,” katanya.
“Polisi?”
Dia menggeleng.
Wajahnya berubah pucat.
“Seharusnya bukan malam ini.”
Ketukan kembali terdengar.
Lebih keras.
Kemudian suara seorang pria.
“Bu Siti, kami tahu Anda di dalam.”
Aku mengenali suara itu.
Butuh beberapa detik sebelum ingatanku membawa wajah seorang lelaki tua yang pernah kulihat puluhan tahun lalu.
Mantan direktur perusahaan tempat Raka bekerja.
Harsono.
Dia seharusnya sudah berusia hampir delapan puluh tahun.
“Bagaimana mereka tahu?”
Siti melihat ponselnya.
Panggilan terputus.
“Ponselku dilacak.”
Aku mematikan lampu kamar.
“Lewat belakang.”
Kami bergerak menuju dapur.
Namun sebelum mencapai pintu belakang, terdengar suara kaca pecah.
Seseorang masuk.
Siti menggenggam lenganku.
Saat itulah sesuatu yang tidak pernah kulakukan dua puluh tahun lalu muncul dalam diriku.
Keberanian.
Aku mengambil ponsel dan menekan nomor polisi.
Kemudian aku menyuruh Siti bersembunyi.
“Aku yang menghadapi mereka.”
“Jangan bodoh.”
“Dua puluh tahun lalu aku bersembunyi ketika anakku membutuhkan keberanian dariku.”
Aku menatap matanya.
“Aku tidak akan melakukannya lagi.”
Aku keluar ke ruang tengah.
Dua lelaki berdiri di sana.
Namun bukan Harsono.
Salah satunya berusia sekitar lima puluh tahun.
Yang satunya mengenakan jaket hitam dan topi.
“Mana dokumennya?” tanya lelaki pertama.
“Aku tidak tahu apa yang kalian maksud.”
Dia mendekat.
“Kami tidak datang untuk bercanda, Pak Budi.”
Lelaki bertopi itu tetap diam.
Anehnya, dia justru menatapku.
Lama sekali.
Kemudian tangannya perlahan terangkat dan melepas topinya.
Aku melihat rambut yang hampir seluruhnya memutih.
Ada bekas luka panjang di pelipis kirinya.
Tetapi mata itu tidak mungkin kulupakan.
Ponselku jatuh.
“Raka?”
Lelaki itu tidak menjawab.
Aku melangkah maju.
“Raka…?”
Bibirnya bergetar.
“Bapak ternyata sudah tua.”
Kakiku kehilangan tenaga.
Aku menangis seperti anak kecil.
Aku ingin memeluknya, tetapi Raka mundur.
“Jangan.”
Satu kata itu menghancurkanku.
Lelaki yang datang bersamanya ternyata bukan anggota kelompok Harsono, melainkan penyidik dari kepolisian yang selama dua tahun terakhir diam-diam membuka kembali kasus lama tersebut.
Raka masih hidup.
Malam kebakaran itu, dia diculik dan ditahan beberapa hari. Dia berhasil melarikan diri, tetapi mengetahui orang-orang yang mengejarnya mengawasi keluarga kami.
Karena itu dia memilih menghilang.
Bertahun-tahun dia hidup dengan identitas berbeda di Kalimantan.
Baru setelah jaringan perusahaan lama itu mulai terbongkar akibat penyelidikan kasus korupsi lain, dia berani kembali.
Siti mengetahui Raka masih hidup tiga tahun lalu.
“Kalian berdua tahu?”
Aku menatap mereka.
Siti mengangguk.
“Kenapa tidak memberitahuku?”
Raka menatapku.
“Karena aku ingin tahu satu hal sebelum kembali menjadi anakmu.”
“Apa?”
“Kalau ancaman yang sama datang lagi, Bapak akan memilih siapa?”
Aku terdiam.
Jadi malam ini bukan hanya tentang mendapatkan pengakuanku.
Itu ujian.
Raka ingin mengetahui apakah ayah yang pernah memilih diam masih menjadi orang yang sama.
Aku berjalan mendekatinya.
“Aku tidak bisa mengubah apa yang kulakukan dua puluh tahun lalu.”
Air mataku jatuh.
“Aku juga tidak akan meminta kamu memaafkanku malam ini.”
Raka menunduk.
“Tapi kalau aku diberi satu kesempatan untuk melakukan hal yang seharusnya kulakukan dulu, aku akan bersaksi.”
“Kamu bisa kehilangan rumah. Nama baik. Bahkan mungkin keselamatan.”
“Aku sudah kehilangan anakku selama dua puluh tahun.”
Aku menatapnya.
“Tidak ada lagi yang lebih mahal daripada itu.”
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Lalu Raka melangkah mendekat.
Dia tidak memelukku.
Hanya meletakkan tangannya di bahuku.
Namun bagiku, sentuhan kecil itu terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka setelah dua puluh tahun terkunci.
Beberapa bulan kemudian, kesaksianku bersama bukti yang disimpan Raka dan Siti membantu penyidik membongkar jaringan lama yang selama puluhan tahun terlindungi oleh uang dan koneksi.
Aku juga harus menerima konsekuensi.
Kebohonganku kepada penyidik dua puluh tahun sebelumnya diperiksa kembali.
Anak-anakku marah setelah mengetahui seluruh kebenaran.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak bersembunyi di balik alasan bahwa semua kulakukan demi keluarga.
Aku mengakui bahwa ketakutan pernah membuatku gagal menjadi seorang ayah.
Siti tetap menjadi istriku.
Pernikahan yang dimulai sebagai jebakan itu justru menjadi sesuatu yang tidak pernah kami rencanakan.
Kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu.
Suatu sore, hampir setahun setelah malam itu, aku duduk di teras bersama Siti ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Raka turun.
Dia membawa seorang perempuan dan seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.
Anak itu berlari kecil mendahuluinya.
Raka berdiri di depan pagar, tampak canggung.
“Pak.”
Aku bangkit.
Dia menunjuk anak laki-laki itu.
“Ini Arga.”
Aku mengangguk, belum memahami.
Raka tersenyum tipis.
“Cucu Bapak.”
Dadaku sesak.
Anak itu menatapku beberapa detik, kemudian mendekat.
“Kakek Budi?”
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun, Raka memanggilku dengan suara yang tidak lagi dipenuhi jarak.
“Pak, bukakan pagar. Masa cucu Bapak disuruh berdiri di luar?”
Tanganku gemetar ketika membuka gerendel.
Siti berdiri di belakangku sambil menangis.
Saat itulah akhirnya aku memahami sesuatu.
Di usia enam puluh tiga tahun, aku mengira cinta pertama yang kembali adalah kesempatan kedua yang diberikan hidup kepadaku.
Ternyata aku salah.
Siti bukan kesempatan keduaku.
Dia adalah jalan yang membawaku kembali kepada kesalahan terbesar yang selama ini kuhindari.
Dan di balik kebaya putih, tato naga, bekas luka bakar, serta nama anakku yang sempat membuat malam pernikahanku terasa seperti neraka, ternyata tidak tersembunyi sebuah rencana pembunuhan.
Yang tersembunyi adalah sebuah pintu pulang.
Pintu yang selama dua puluh tahun tidak berani kubuka.
