SAYA PULANG CEPT DAN MENEMUKAN IBU MENGUBUR BUBUR BUBUR ANAK SAYA KE WASTAFEL! DIA MENUSIR SAYA, TAPI DIA LUPA SAYA MEMEGANG SERTIFIKAT RUMAH INI!

Sore itu, untuk pertama kalinya sejak bercerai, Rina merasa tidak takut kehilangan apa pun lagi.

Ketakutan terbesarnya bukan kehilangan rumah, uang, atau hubungan dengan keluarganya.

Ketakutan terbesarnya adalah Alya tumbuh sambil percaya bahwa dirinya pantas diperlakukan seperti beban.

Pikiran itulah yang membuat Rina datang ke kantor Maya pukul tiga sore dengan map biru tebal di tangannya.

Maya memeriksa sertifikat asli, akta hibah, salinan pajak bumi dan bangunan, serta dokumen dari notaris satu per satu.

Hampir empat puluh menit berlalu sebelum pengacara itu akhirnya menutup map.

“Secara administrasi, rumah itu memang milik kamu.”

Rina menelan ludah.

“Jadi saya bisa menyuruh mereka pergi?”

Maya bersandar di kursinya.

“Bisa mengupayakan pengosongan secara hukum, tetapi jangan terburu-buru. Mereka orang tuamu. Kalau kamu datang besok lalu mengganti kunci, masalahnya bisa semakin rumit.”

“Saya enggak mau balas dendam.”

“Lalu kamu mau apa?”

Rina terdiam.

Bayangan bubur Alya yang mengalir ke wastafel kembali muncul dalam kepalanya.

“Saya cuma mau mereka berhenti memperlakukan saya seolah-olah saya hidup dari belas kasihan mereka.”

Maya mengangguk.

“Kalau begitu, kita mulai dengan somasi. Beri mereka kesempatan menyelesaikan ini secara baik-baik.”

Malam itu, Rina pulang ke wisma bersama Alya.

Dia membeli nasi hangat, telur, dan sup sederhana dari warung dekat penginapan.

Ketika melihat Alya makan dengan lahap, dada Rina terasa sesak.

Anak itu tidak tahu bahwa hanya sehari sebelumnya, semangkuk bubur menjadi alasan ibunya akhirnya berani melawan sesuatu yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Tiga hari kemudian, surat resmi dari kantor Maya tiba di rumah Tebet.

Tantri menelepon Rina tujuh belas kali.

Rina tidak mengangkat satu pun.

Panggilan kedelapan belas datang dari Bambang.

Kali ini Rina menjawab.

“Halo, Yah.”

Suara ayahnya terdengar gemetar.

“Rina, kamu kirim surat apa ini?”

“Surat dari pengacara.”

“Ibumu sampai menangis.”

Rina memejamkan mata.

“Waktu Alya menangis karena lapar, Ayah juga ada di sana.”

Di ujung telepon terdengar keheningan.

“Rina…”

“Saya tidak sedang mengusir Ayah dan Ibu. Saya cuma mau kita bicara dengan jelas. Selama ini rumah itu atas nama saya. Saya enggak pernah mempermasalahkan karena kalian orang tua saya.”

Bambang menarik napas.

“Tapi ini rumah keluarga.”

“Kalau memang rumah keluarga, kenapa kemarin saya dan Alya diusir?”

Tidak ada jawaban.

Rina melanjutkan.

“Saya ingin kita bertemu di kantor Mbak Maya hari Jumat. Kita selesaikan baik-baik.”

Sebelum Bambang menjawab, suara Tantri terdengar dari kejauhan.

“Kasih teleponnya!”

Beberapa detik kemudian, suara ibunya memenuhi sambungan.

“Kamu sekarang berani mengancam orang tua?”

“Saya tidak mengancam.”

“Kamu kira cuma karena namamu ada di sertifikat, kamu bisa memperlakukan Ibu seperti orang asing?”

Rina terdiam sesaat.

Lalu dia berkata pelan.

“Bu, tiga hari lalu Ibu membuang makanan Alya dan menyuruh kami keluar. Siapa yang lebih dulu memperlakukan siapa seperti orang asing?”

Telepon langsung ditutup.

Hari Jumat, hanya Bambang yang datang ke kantor Maya.

Tantri menolak.

Siska juga tidak muncul.

Bambang duduk di hadapan Rina dengan wajah jauh lebih tua daripada yang Rina ingat.

“Ayah minta maaf.”

Rina tidak segera menjawab.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi Rina telah menunggunya selama bertahun-tahun.

Bambang menatap kedua tangannya.

“Ayah terlalu sering diam.”

Rina menatap ayahnya.

“Kenapa?”

Bambang tersenyum pahit.

“Karena lebih gampang membiarkan ibumu marah daripada melawannya.”

“Tapi setiap Ayah diam, orang lain yang menanggung akibatnya.”

Bambang mengangguk.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.

Maya kemudian menjelaskan pilihan yang tersedia.

Rina bersedia membiarkan orang tuanya tetap tinggal di rumah tersebut tanpa membayar sewa, tetapi harus ada kesepakatan tertulis.

Mereka tidak boleh lagi mengklaim bahwa Rina “menumpang”.

Mereka juga tidak boleh menghalangi Rina menggunakan rumahnya sendiri.

Bambang langsung setuju.

Namun Tantri menolak keras setelah membaca rancangan perjanjian itu.

Dia menelepon Rina malam itu.

“Kamu benar-benar mau mempermalukan Ibu dengan surat seperti ini?”

“Surat itu justru melindungi semua orang.”

“Ibu melahirkan kamu!”

“Dan saya berterima kasih untuk itu.”

“Kamu enggak punya hati!”

Rina menarik napas.

“Kalau saya enggak punya hati, saya sudah meminta rumah dikosongkan minggu lalu.”

Tantri terdiam.

Rina melanjutkan.

“Saya masih memberi Ibu dan Ayah tempat tinggal. Saya cuma minta satu hal. Jangan pernah lagi perlakukan saya atau Alya seperti orang yang bergantung hidup pada kalian.”

Tantri menutup telepon tanpa menjawab.

Masalah berikutnya muncul dari arah yang tidak Rina duga.

Seminggu setelah transfer Rp4,5 juta dihentikan, Siska menelepon.

“Kak, uang bulan ini belum masuk.”

Rina sedang mengedit naskah ketika telepon itu datang.

“Memang tidak akan masuk.”

“Apa?”

“Saya hentikan transfer otomatisnya.”

Suara Siska langsung meninggi.

“Kak, cicilan apartemenku jatuh tempo!”

“Itu cicilanmu.”

“Tapi selama ini Kakak yang bayar!”

“Dan selama ini kamu bilang kepada semua orang kamu membayarnya sendiri.”

Siska terdiam.

Beberapa detik kemudian, nada suaranya berubah.

“Kakak melakukan ini karena kejadian kemarin?”

“Bukan.”

“Lalu kenapa?”

“Karena saya akhirnya sadar saya membiayai orang yang ikut menyebut saya benalu.”

Siska langsung mematikan telepon.

Dua hari kemudian, Tantri datang ke wisma tempat Rina tinggal.

Dia menemukan alamat itu dari Bambang.

Ketika Rina membuka pintu, ibunya berdiri di lorong dengan wajah merah dan mata sembap.

“Kamu tega bikin adikmu hampir kehilangan apartemen?”

Rina tidak mempersilakannya masuk.

“Kenapa cicilan apartemen Siska jadi tanggung jawab saya?”

“Dia adikmu!”

“Saya juga anak Ibu.”

Tantri tercekat.

“Apa maksudmu?”

“Selama enam bulan saya bayar listrik, internet, makanan, obat Ayah. Saya juga bayar cicilan Siska setiap bulan. Tapi saat Ibu marah, saya disebut benalu.”

Tantri memalingkan wajah.

“Itu karena kamu tinggal di rumah.”

“Rumah saya.”

Dua kata itu membuat Tantri menatapnya tajam.

Rina tidak meninggikan suara.

Justru ketenangannya membuat kalimat itu terasa lebih berat.

Tantri menunjuk wajah Rina.

“Kamu berubah setelah cerai.”

“Mungkin.”

“Kamu dulu enggak pernah hitung-hitungan dengan keluarga.”

“Karena dulu saya pikir mencintai keluarga berarti harus terus mengalah.”

Tantri tertawa pahit.

“Sekarang kamu merasa paling benar?”

“Tidak.”

Rina menatap ibunya.

“Saya cuma tidak mau Alya belajar bahwa mencintai keluarga berarti membiarkan mereka menyakitinya.”

Dari dalam kamar terdengar suara langkah kecil.

Alya muncul sambil memegang boneka beruangnya.

Begitu melihat neneknya, anak itu langsung berhenti.

Tubuh kecilnya mundur setengah langkah lalu bersembunyi di belakang kaki Rina.

Perubahan wajah Tantri terjadi seketika.

“Alya.”

Anak itu tidak menjawab.

Tantri berjongkok.

“Nenek bawakan biskuit.”

Alya semakin erat memeluk kaki ibunya.

Lalu dia berbisik sesuatu yang membuat lorong itu mendadak sunyi.

“Nenek jangan buang makanan Alya lagi.”

Wajah Tantri membeku.

Rina tidak pernah mengajari Alya mengatakan itu.

Anak berusia dua tahun tersebut hanya mengingat.

Tantri berdiri perlahan.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Dia meletakkan sekantong biskuit di lantai lalu pergi tanpa berkata apa-apa.

Malam itu Bambang menelepon.

“Ibumu pulang dan menangis hampir satu jam.”

Rina menatap Alya yang sudah tidur.

“Saya tidak mau Ibu menangis, Yah.”

“Ayah tahu.”

“Tapi saya juga tidak bisa pura-pura semuanya baik-baik saja.”

Bambang terdiam beberapa saat.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat Rina duduk tegak.

“Sebenarnya ada satu hal yang belum kamu tahu tentang rumah itu.”

“Apa?”

“Lima tahun lalu, alasan rumah itu dihibahkan ke kamu bukan cuma karena takut rebutan warisan.”

Rina mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Ayah pernah punya utang usaha cukup besar.”

Bambang menjelaskan bahwa bisnis percetakannya nyaris bangkrut enam tahun sebelumnya. Tantri panik karena khawatir rumah mereka ikut terkena masalah.

Namun kemudian Bambang berhasil melunasi utang tersebut.

“Setelah semuanya selesai, ibumu beberapa kali minta rumah dikembalikan atas nama kami.”

Rina terdiam.

“Kenapa tidak bilang?”

“Ayah menolak.”

“Kenapa?”

Suara Bambang terdengar lirih.

“Karena waktu bisnis Ayah jatuh, yang melunasi sebagian besar utangnya itu kamu.”

Rina kehilangan kata-kata.

Bertahun-tahun lalu, ketika masih bekerja di sebuah penerbitan besar, Rina pernah memberikan hampir seluruh tabungannya kepada orang tuanya.

Tantri mengatakan uang itu dibutuhkan untuk memperbaiki usaha keluarga.

Rina tidak pernah tahu jumlah sebenarnya atau apa yang terjadi setelahnya.

“Ayah selalu merasa rumah itu memang seharusnya jadi milikmu.”

“Apakah Ibu tahu?”

“Tahu.”

Rina menutup mata.

Tiba-tiba semua penghinaan selama enam bulan terakhir terasa jauh lebih ironis.

Perempuan yang disebut benalu itu ternyata pernah menyelamatkan rumah tersebut.

Dua minggu kemudian, Rina kembali ke rumah Tebet.

Bukan untuk pindah.

Dia datang untuk menandatangani perjanjian.

Tantri duduk di ruang tamu bersama Bambang.

Siska juga hadir.

Wajah adiknya terlihat lelah.

Tanpa transfer Rina, dia terpaksa menyewakan satu kamar di apartemennya dan mengambil pekerjaan tambahan sebagai admin toko daring.

Anehnya, Rina tidak merasa puas melihat kesulitan itu.

Dia justru melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah tampak.

Siska sedang belajar berdiri dengan kakinya sendiri.

Setelah dokumen ditandatangani, Tantri tiba-tiba berkata,

“Rina.”

Rina menoleh.

Ibunya menatap meja.

“Ibu salah.”

Tidak ada tangisan dramatis.

Tidak ada pelukan.

Hanya tiga kata yang keluar dengan susah payah.

Namun Rina tahu bagi perempuan seperti Tantri, tiga kata itu mungkin lebih berat daripada seribu permintaan maaf.

Tantri melanjutkan.

“Ibu terbiasa berpikir kalau anak membantu orang tua, itu kewajiban. Lama-lama Ibu lupa bantuan itu tetap bantuan.”

Rina merasakan matanya panas.

“Tapi satu hal yang paling Ibu sesali bukan soal rumah.”

Tantri menatap Alya yang sedang duduk di samping Bambang.

“Bubur itu.”

Alya menatap neneknya.

Tantri berjongkok di depannya.

“Nenek minta maaf sudah buang makanan Alya.”

Alya berpikir beberapa detik.

Kemudian bertanya polos,

“Sekarang ada bubur lagi?”

Semua orang terdiam.

Lalu Bambang tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Rina ikut tertawa di rumah itu.

Enam bulan kemudian, Rina tidak kembali tinggal di Tebet.

Dia menyewa apartemen kecil dekat tempat penitipan anak Alya dan perlahan membangun kehidupan baru.

Pendapatannya meningkat setelah dia mendapatkan kontrak tetap dari dua penerbit.

Siska berhasil mempertahankan apartemennya tanpa bantuan Rina.

Hubungan mereka belum sepenuhnya pulih, tetapi untuk pertama kalinya mereka berbicara sebagai dua orang dewasa, bukan sebagai kakak yang selalu menanggung dan adik yang selalu menerima.

Bambang mulai berani menyampaikan pendapatnya kepada Tantri.

Dan Tantri berubah perlahan.

Tidak sempurna.

Kadang-kadang dia masih mengomel soal uang atau menganggap caranya sendiri paling benar.

Namun setiap kali hampir melewati batas, Bambang hanya perlu berkata,

“Tantri, ingat bubur.”

Anehnya, kalimat itu selalu berhasil membuatnya diam.

Pada ulang tahun Alya yang ketiga, seluruh keluarga berkumpul di apartemen Rina.

Tantri datang membawa panci besar.

“Apa itu, Nek?” tanya Alya.

“Bubur ayam.”

Alya langsung tersenyum.

Tantri menyendokkan bubur ke mangkuk kecil dan meletakkannya di depan cucunya.

Kali ini tidak ada makanan yang dibuang.

Setelah Alya mulai makan, Tantri mendekati Rina.

“Ibu masih sering kepikiran satu hal.”

“Apa?”

“Kalau waktu itu kamu enggak pulang lebih cepat, mungkin Ibu tidak akan pernah sadar.”

Rina tersenyum tipis.

Dia memandang putrinya yang sedang makan dengan lahap.

“Kadang kita memang perlu kehilangan rasa nyaman dulu supaya sadar ada sesuatu yang salah.”

Tantri mengangguk.

Beberapa saat kemudian dia berkata,

“Rumah Tebet itu nanti bagaimana?”

Rina menatap ibunya.

Tantri buru-buru menambahkan,

“Ibu cuma tanya. Bukan mau ambil kembali.”

Rina tertawa.

“Saya sudah bicara sama Mbak Maya.”

Tantri tampak tegang.

“Saya membuat surat wasiat.”

“Apa?”

“Nanti, kalau saya sudah enggak ada, rumah itu bukan diwariskan untuk Alya.”

Bambang dan Siska ikut menoleh.

Tantri terlihat benar-benar terkejut.

“Lalu untuk siapa?”

Rina memandang keluarganya satu per satu.

“Saya mau rumah itu dijual.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Hasilnya saya bagi dua. Separuh untuk Alya. Separuh lagi untuk mendirikan dana bantuan hukum bagi ibu tunggal yang baru keluar dari pernikahan bermasalah dan tidak punya tempat tinggal.”

Tantri menatap putrinya lama sekali.

“Kenapa?”

Rina tersenyum.

“Karena saya beruntung.”

“Beruntung?”

“Iya.”

Rina menoleh ke arah Alya.

“Waktu saya diusir, ternyata saya masih punya rumah meskipun saat itu saya tidak tinggal di dalamnya. Banyak perempuan lain keluar dari rumah sambil menggandeng anaknya dan benar-benar tidak punya apa-apa.”

Tidak ada seorang pun menjawab.

Alya, yang sama sekali tidak memahami pembicaraan orang dewasa, mengangkat mangkuknya.

“Ibu, tambah bubur.”

Rina mengambil centong.

Namun sebelum dia sempat berdiri, Tantri lebih dulu mengambil mangkuk cucunya.

“Sini. Nenek tambahin.”

Dia mengisi mangkuk itu perlahan.

Lebih banyak daripada sebelumnya.

Dan Rina akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah dia pelajari dari sertifikat, notaris, atau pengacara mana pun.

Memiliki sebuah rumah tidak selalu berarti memiliki tempat untuk pulang.

Kadang-kadang rumah baru benar-benar menjadi rumah ketika orang-orang di dalamnya akhirnya belajar bahwa kasih sayang bukan utang, bantuan bukan kewajiban, dan hubungan darah tidak pernah memberi seseorang hak untuk merendahkan orang lain.

Sertifikat itu memang membuktikan rumah Tebet adalah milik Rina.

Namun semangkuk bubur yang pernah dibuang ke wastafel itulah yang akhirnya menyelamatkan keluarga mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang