Di lorong belakang hotel yang dingin dan berbau bahan kimia pembersih, Anton mencengkeram lengan ibunya dengan kasar hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya merah padam, bukan karena haru, melainkan karena amarah yang dipupuk oleh kepalsuan.
“Ibu, apa yang Ibu lakukan?!” bisik Anton mendesis, matanya menyapu sekeliling, memastikan tidak ada tamu yang melihat. “Aku sudah membangun hidup baru. Aku sudah punya reputasi! Kenapa Ibu harus menghancurkan semuanya dengan datang ke sini, mengenakan baju kumal itu?”
Ibu Rosa, yang napasnya masih terengah-engah karena perjalanan jauh, menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kirinya yang kasar dan penuh bekas luka akibat memilah besi tua selama puluhan tahun, gemetar saat memegang kotak kecil yang dibungkus koran. “Anton… Ibu hanya… Ibu hanya ingin melihatmu bahagia, Nak. Ibu tidak meminta apa-apa, Ibu hanya ingin memberikan ini.”

“Aku tidak butuh hadiah dari pemulung!” bentak Anton. Ia menarik kotak itu dari tangan ibunya dan melemparkannya ke lantai beton dengan keras. “Pergi! Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hidupku. Anggap saja aku sudah mati!”
Anton berbalik dan pergi, meninggalkan ibunya yang terduduk lemas di lantai. Satpam hotel segera menarik lengan Ibu Rosa dan menyeretnya keluar melalui pintu belakang, membuangnya ke trotoar yang basah diguyur hujan. Ibu Rosa ditinggalkan di sana, di tengah gelapnya malam, lapar, kedinginan, dan dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Dua jam kemudian, di dalam aula megah, resepsi pernikahan mencapai puncaknya. Stella yang cantik berdiri di samping Anton, merasa bangga dengan pria yang dianggapnya berasal dari keluarga terpandang.
“Oh, Anton, sayang,” bisik Stella manja. “Siapa tadi wanita gila itu? Untung saja sudah diusir.”
Anton tersenyum kecut, berusaha menutupi kegugupannya. Namun, tiba-tiba seorang petugas hotel datang menghampiri meja utama dengan wajah bingung. Di tangannya, ia membawa kotak kecil yang tadi dibuang Anton ke lantai.
“Tuan Anton, maaf mengganggu. Tadi ada kotak yang terjatuh di lorong belakang. Saya melihat nama Anda tertulis di sini. Mungkin ini milik Anda?”
Stella tertawa sinis. “Hadiah dari pengemis? Pasti isinya sampah. Buang saja, Anton!”
Namun, rasa penasaran yang aneh merayapi Anton. Dengan tangan gemetar, ia membuka ikatan pita usang tersebut. Saat kertas koran pembungkus itu terbuka, isi di dalamnya bukanlah perhiasan mewah atau uang. Itu adalah sebuah buku tabungan bank tua yang sudah lusuh, dan selembar sertifikat tanah yang sudah menguning.
Anton membuka buku tabungan itu. Matanya membelalak. Saldo di dalamnya bukanlah nominal recehan. Itu adalah tabungan puluhan tahun—uang hasil jerih payah ibunya yang mengais sampah—yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Namun, bukan angka itu yang membuat Anton hampir pingsan.
Di balik sertifikat tanah tersebut, terdapat sebuah surat tulisan tangan yang bergetar. Anton membacanya dengan suara pelan:
“Anton sayang, tanah ini adalah tanah di desa tempat ayahmu dimakamkan. Dulu, Ibu menjual semua perhiasan pemberian nenekmu agar kau bisa kuliah. Ibu menabung setiap rupiah dari hasil memulung selama 25 tahun, bukan untuk hidup Ibu, tapi untuk memastikan kau punya modal usaha jika suatu saat kau butuh. Ibu tidak pernah malu memulung, Nak, karena bagi Ibu, setiap botol plastik yang Ibu pungut adalah satu langkah masa depan untukmu. Jika Ibu tidak diundang, tidak apa-apa. Ibu hanya ingin kau tahu, kau tidak pernah sendirian. Selamat menikah, Nak.”
Tiba-tiba, suara riuh resepsi itu seolah hilang. Anton merasa dunianya runtuh. Ia menatap ke arah pintu hotel dengan tatapan kosong. Namun, kejutan yang sesungguhnya belum berakhir.
Seorang pria tua berjas rapi, pemilik hotel tempat resepsi itu berlangsung, tiba-tiba naik ke panggung dengan mikrofon. Ia adalah miliarder properti yang sangat disegani di Manila.
“Selamat malam hadirin sekalian,” suaranya menggelegar. “Sebelum saya menutup acara ini, saya ingin memberikan penghargaan kepada tamu yang paling istimewa bagi saya pribadi.”
Semua orang terdiam. Pria tua itu turun dari panggung dan berjalan menuju arah Anton, namun ia melewatinya begitu saja. Ia berjalan ke arah pintu masuk, tempat Ibu Rosa tadi diusir. Ia kembali dengan menggandeng Ibu Rosa yang bajunya kotor namun wajahnya tampak tenang.
“Wanita ini,” kata miliarder itu sambil menunjuk Ibu Rosa, “adalah pahlawan yang menyelamatkan nyawa saya dua puluh tahun lalu saat saya hampir tewas dirampok di gang sempit. Tanpa dia, saya tidak akan ada di sini. Saya telah mencarinya selama bertahun-tahun.”
Stella dan para tamu ternganga. Anton terpaku, wajahnya pucat pasi.
“Dan untuk Anton,” miliarder itu menoleh tajam, “kamu bilang kamu yatim piatu? Kamu malu dengan ibumu? Padahal, seluruh hotel ini, dan perusahaan tempatmu bekerja, sebenarnya adalah milik saya—dan saya telah berniat memberikan jabatan direktur kepada wanita hebat ini sebagai bentuk terima kasih saya. Namun, melihat perilakumu tadi, saya menyesal telah mempekerjakanmu.”
Situasi berubah 180 derajat. Anton yang tadi sombong, kini menjadi bahan tertawaan semua orang. Stella, yang menikahinya karena harta, langsung melepaskan cincin pernikahannya dan berteriak, “Penipu! Kamu pembohong!”
Dalam hitungan menit, pernikahan mewah itu berubah menjadi mimpi buruk bagi Anton. Ia dipecat di tempat, diceraikan, dan ditinggalkan oleh semua orang yang dulu mengelu-elukannya.
Ibu Rosa, yang hatinya begitu luas, tidak menaruh dendam. Ia mendekati Anton yang bersimpuh di lantai, menangis penuh penyesalan. Meski dipermalukan, meski diusir, Ibu Rosa membelai kepala anaknya.
“Ibu tidak marah, Anton,” bisik wanita tua itu. “Karena kasih sayang seorang ibu tidak pernah butuh balasan, bahkan jika ia harus kembali memulung untuk menyuapimu saat kau jatuh nanti.”
Di tengah gemerlap lampu kristal yang mahal, semua tamu terdiam, menyadari bahwa mereka baru saja menyaksikan sebuah pelajaran hidup paling berharga: bahwa harta yang paling mewah di dunia bukanlah emas atau jabatan, melainkan ketulusan seorang ibu yang sering kali kita abaikan hingga semuanya terlambat.
Anton kehilangan segalanya dalam satu malam, namun di tengah kehancurannya, ia akhirnya sadar—ia baru saja kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.
Apakah Anton layak mendapatkan kesempatan kedua setelah pengkhianatan kejam ini, ataukah penyesalan adalah satu-satunya hal yang tersisa untuknya selamanya?
