“Terima kasih telah mengikuti cerita ini! Jika Anda ingin membaca kisah selengkapnya, silakan klik tautan yang saya lampirkan di kolom komentar!”
Kata-kata itu menghiasi layar ponsel Clara saat ia pertama kali membuat postingan fiktif tentang kehidupan ‘insinyur’ ayahnya di media sosial. Namun sekarang, di sudut lorong yang gelap dan lembap, kenyataan jauh lebih dingin daripada sekadar teks di layar.
Clara menepis tangan ayahnya dengan kasar, hingga tubuh renta Mang Karding terhuyung ke dinding beton.
“Jangan pernah panggil aku ‘Nak’ di depan teman-temanku lagi! Papa lihat sendiri kan? Mereka semua anak orang penting. Kalau mereka tahu aku anak seorang kuli panggul yang memakai baju compang-camping, hidupku di kampus ini akan berakhir! Pergi, Pa! Jangan tunjukkan wajah Papa di sini, apalagi dengan pakaian menjijikkan itu!”

Mang Karding terdiam. Napasnya memburu, bukan karena marah, melainkan karena dadanya terasa sesak seolah ada beban ribuan karung beras yang menindih hatinya. Ia melihat putrinya—bunga yang ia sirami dengan keringat darah selama dua puluh tahun—kini menatapnya dengan kebencian murni.
“Clara,” suara Mang Karding parau, “Papa hanya ingin melihatmu… bahagia.”
“Kebahagiaanku adalah ketika Papa tidak ada di sini!” teriak Clara pelan namun tajam. Ia mendorong ayahnya menjauh, lalu berbalik dan pergi dengan angkuh, membiarkan Mang Karding berdiri sendirian dalam kesunyian lorong.
Upacara wisuda dimulai. Nama Clara dipanggil. Ia berjalan menuju podium dengan kepala tegak, aura kemenangan terpancar dari wajahnya. Ia adalah bintang hari itu. Presiden Universitas, seorang pria tua bijak bernama Profesor Aris, berdiri di sana untuk memberikan medali kehormatan.
Namun, saat Clara berdiri di samping sang Presiden, Profesor Aris tidak langsung menyerahkan medali itu. Ia justru memegang mikrofon dengan tangan gemetar.
“Sebelum saya memberikan medali ini,” suara Profesor Aris bergema di seluruh auditorium yang megah, “saya ingin mengungkapkan sesuatu tentang beasiswa penuh yang didapatkan Clara selama empat tahun ini.”
Clara tersenyum bangga, mengira Profesor akan memuji prestasinya di depan para donatur elit.
“Banyak dari kalian mengira beasiswa ini diberikan oleh yayasan universitas atau dana pemerintah. Tapi kenyataannya, dana ini datang dari seorang anonim. Seseorang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem selama belasan tahun, yang menyisihkan setiap sen penghasilannya, bahkan saat ia hanya makan nasi dengan garam.”
Auditorium mendadak sunyi senyap. Clara merasa firasat buruk merayap di tengkuknya.
Profesor Aris menunjuk ke arah pintu masuk aula yang terbuka. Di sana, seorang pria tua dengan kemeja barong yang robek dan tambalan—pakaian yang sama yang membuat Clara merasa terhina—berdiri dengan pundak yang membungkuk. Mang Karding.
“Pria ini,” lanjut Profesor Aris dengan suara bergetar, “adalah sosok yang setiap bulan mengirimkan uang ke rekening universitas kita atas nama ‘anonim’. Selama empat tahun, ia tidak pernah absen. Dia adalah donatur terbesar, dan dialah alasan mengapa Clara bisa berdiri di sini hari ini.”
Clara mematung. Dunianya seakan runtuh.
“Dia bekerja sebagai kuli panggul,” lanjut Profesor Aris, “dan saya pribadi tahu, dia sering kelaparan demi memastikan dana itu cukup untuk biaya kuliah anaknya. Saya sudah sering memintanya untuk datang dan menerima penghargaan, tapi dia selalu menolak. Dia bilang: ‘Tugas saya hanya memberikan sayap agar dia bisa terbang, saya tidak butuh sorotan.’“
Profesor Aris menatap Clara yang wajahnya berubah pucat pasi, lalu menatap kerumunan yang kini mulai berbisik-bisik, menyadari siapa sebenarnya ‘insinyur Dubai’ yang sering dibanggakan Clara.
“Clara,” suara Profesor Aris dingin, “kamu tadi memintanya pergi, bukan?”
Seluruh aula menoleh ke arah Clara. Tatapan kekaguman dari teman-temannya berubah menjadi cemoohan. Stella dan teman-teman kayanya tampak jijik melihat Clara, bukan lagi karena kemiskinan, tapi karena kebusukan hatinya.
Clara mencoba melangkah turun dari podium, namun kakinya terasa seperti timah. Ia melihat ke pintu. Mang Karding tidak lagi berdiri di sana. Ia sudah pergi.
Di atas lantai yang ia injak, tertinggal rangkaian bunga sampaguita sederhana yang tadi ia hempaskan. Bunga-bunga itu layu, tertindih sepatu hak tinggi Clara yang mahal.
Clara berlari keluar dari universitas, mencari ayahnya di tengah terik matahari. Ia mencari di pasar, di tempat-tempat mangkal kuli panggul. Berjam-jam ia mencari, hingga ia sampai di sebuah gubuk reyot di pinggiran kota.
Di sana, ia menemukan ayahnya terbaring di atas tikar tipis. Mang Karding tidak marah. Ia hanya menatap langit-langit gubuk dengan pandangan kosong. Tubuhnya yang sudah ringkih tak lagi sanggup menahan beban kelelahan yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan.
“Papa!” Clara menangis histeris, memeluk kaki ayahnya. “Maafkan aku! Aku bodoh! Aku egois!”
Mang Karding menoleh pelan. Tidak ada amarah di matanya, hanya kesedihan yang mendalam. Ia mengangkat tangannya, ingin mengusap rambut putrinya, namun tangannya terkulai lemas sebelum sampai ke kepala Clara.
“Nak…” bisik Mang Karding untuk terakhir kalinya, “Papa tidak malu dengan pakaian robek Papa… Papa hanya malu… karena tidak bisa membuatmu menjadi manusia yang mencintai orang lain lebih dari harta.”
Malam itu, di hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya, Clara kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat.
Di saku kemeja barong ayahnya yang robek, Clara menemukan sebuah surat. Itu adalah rincian tabungan selama 20 tahun. Di bagian belakang surat itu, tertulis sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang kasar:
“Untuk Clara, putriku tercinta. Maaf, Papa tidak bisa memberimu kehidupan mewah seperti teman-temanmu. Tapi Papa berharap, dengan pendidikan ini, kau bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari Papa. Jadilah kebanggaan bagi dirimu sendiri, bukan bagi dunia yang memandangmu.”
Clara memeluk surat itu dan menjerit di tengah kegelapan malam. Penyesalan adalah beban yang jauh lebih berat daripada karung beras mana pun yang pernah dipikul ayahnya. Dan kini, beban itu akan dipikulnya seumur hidup, di bawah bayang-bayang kesuksesan yang ia raih di atas pengorbanan seorang ayah yang ia usir demi gengsi yang fana.
Kelulusan itu bukanlah sebuah awal, melainkan akhir dari seorang putri yang kehilangan kemanusiaannya demi sebuah citra, dan hanya menyadari nilainya setelah sang pahlawan tak lagi ada untuk memeluknya.
