Suami Menuduhku Boros, Jadi Aku Berhenti Membayar Semua Tagihan—Tiga Minggu Kemudian, Ibu Mertuaku Menangis Memohon Aku Menghentikannya.

Tiga minggu kemudian, suara tangisan Bu Ratna terdengar dari ruang tamu sebelum aku sempat membuka pintu kamar.

“Nadira, tolong hentikan semua ini.”

Aku berhenti.

Tiga minggu.

Hanya tiga minggu sejak malam ketika mereka menyebutku pemboros, tetapi rumah yang dulu terasa nyaman kini seperti tempat yang setiap sudutnya menyimpan tagihan.

Raka tidak lagi banyak bicara. Setiap pagi ia berangkat kerja lebih awal dan pulang semakin larut. Namun aku tahu alasannya bukan pekerjaan.

Ia sedang mencari cara membayar cicilan apartemen.

Bulan pertama, ia mencoba menggunakan tabungannya. Tabungan itu ternyata hanya cukup untuk membayar beberapa kebutuhan kecil. Gajinya sebelas juta rupiah bahkan belum cukup menutup cicilan apartemen yang mencapai tiga belas setengah juta.

Kemudian ia menjual motor besarnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku juga tidak mengejek.

Sebab sejak awal, aku tidak ingin menghukum Raka. Aku hanya ingin dia memahami sesuatu yang selama enam tahun tidak pernah mau ia lihat.

Rumah tangga tidak bisa berdiri hanya karena satu orang terus-menerus menanggung semuanya sementara yang lain merasa berhak mengatur.

Hari keenam, kartu kredit Raka mulai ditagih.

Hari kesembilan, ia berhenti makan siang di restoran bersama teman-temannya.

Hari kedua belas, ia menjual jam tangan yang dulu dibelinya dengan cicilan.

Hari kelima belas, Bu Ratna mulai menjual beberapa perhiasannya.

Hari kedelapan belas, suasana rumah berubah total.

Tidak ada lagi suara televisi keras.

Tidak ada lagi teman-teman Raka datang untuk makan malam.

Tidak ada lagi pesan makanan hampir setiap malam.

Bahkan Bu Ratna mulai mematikan lampu kamar ketika keluar.

Aku memperhatikan semuanya dari jauh.

Bukan karena puas melihat mereka kesulitan.

Justru sebaliknya.

Aku sedih.

Karena ternyata mereka baru menyadari nilai sebuah pengorbanan setelah pengorbanan itu dihentikan.

Malam itu, aku pulang lebih cepat.

Begitu membuka pintu, kulihat Bu Ratna duduk di sofa dengan mata sembap.

“Nadira…”

Aku meletakkan tas.

“Ada apa, Bu?”

Ia berdiri dan berjalan mendekat.

Tangannya gemetar ketika menggenggam tanganku.

“Cukup.”

Aku diam.

“Jangan hentikan semuanya lagi. Tolong.”

Raka berdiri di belakangnya.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku melihat wajah suamiku tanpa kesombongan.

Ia tampak lelah.

Sangat lelah.

“Aku sudah membayar tiga minggu ini,” katanya pelan. “Aku benar-benar mencoba.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku tidak sanggup.”

Aku mengangguk.

“Aku juga dulu tidak sanggup.”

Raka menundukkan kepala.

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Bu Ratna menangis.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku hampir tertawa, tetapi air mata justru terasa lebih dekat.

“Karena setiap kali aku bicara, kalian bilang aku boros.”

Bu Ratna menutup wajahnya.

Raka duduk.

“Aku salah.”

Dua kata.

Sederhana.

Namun anehnya, aku sudah menunggu dua kata itu selama enam tahun.

“Aku pikir karena kamu menghasilkan lebih banyak uang, semuanya mudah bagimu,” lanjut Raka. “Aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang kamu bayar.”

“Aku juga tidak ingin kamu hanya menghitung uang.”

Raka menatapku.

“Aku ingin kamu menghitung tenaga, waktu, dan tanggung jawab yang selama ini kupikul.”

Ia mengangguk.

Kemudian aku mengambil sebuah map dari tas.

Map yang sama dengan yang kusimpan di brankas kantor tiga minggu sebelumnya.

Aku meletakkannya di atas meja.

Bu Ratna memandangnya.

“Apa itu?”

“Dokumen apartemen.”

Raka membuka map tersebut.

Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.

Ia membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Kemudian kembali ke halaman pertama.

“Nadira…”

“Baca sampai selesai.”

Tangannya gemetar.

“Apartemen ini…”

“Bukan atas nama kita berdua.”

Raka menatapku.

“Kenapa?”

“Karena uang muka empat ratus dua puluh juta berasal dari tabunganku sebelum menikah. Kreditnya juga menggunakan rekeningku sebagai sumber pembayaran utama.”

“Tapi aku ikut membayar…”

Aku menatapnya.

“Dua juta per bulan?”

Raka terdiam.

Aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.

Namun ternyata ada satu halaman terakhir yang membuatnya semakin pucat.

Ia membacanya perlahan.

Lalu mendongak.

“Kamu mengajukan perjanjian pemisahan harta?”

“Enam tahun lalu.”

“Kenapa aku tidak tahu?”

“Kamu menandatanganinya sebelum pernikahan.”

Raka terdiam cukup lama.

Ia mencoba mengingat.

Aku masih ingat hari itu.

Kami sedang terburu-buru mempersiapkan pernikahan. Dokumen datang bersamaan dengan banyak berkas lain.

Raka hanya membaca beberapa halaman dan berkata, “Kamu terlalu serius soal uang.”

Aku tersenyum pahit.

“Dan kamu bilang, ‘Terserah kamu, aku percaya.’”

Kini kalimat itu kembali kepadanya.

Bu Ratna mengambil dokumen dari tangan anaknya.

Setelah membacanya, ia duduk kembali.

“Nadira…”

“Ya?”

“Kalau kamu memang punya hak atas apartemen ini, kenapa kamu masih membayar semuanya?”

Aku terdiam.

Karena jawabannya jauh lebih menyakitkan daripada angka di rekening bank.

“Karena aku pikir kita keluarga.”

Bu Ratna menangis lagi.

Raka menutup wajahnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain isak tangisnya.

Lalu Raka berkata,

“Aku minta maaf.”

Aku duduk di seberangnya.

“Maaf saja tidak cukup.”

“Aku tahu.”

“Mulai sekarang kita buat aturan baru.”

Raka mengangguk.

“Semua pengeluaran keluarga dicatat. Semua orang yang tinggal di rumah ini ikut berkontribusi. Tidak ada lagi kartu tambahan tanpa persetujuan. Tidak ada lagi mengambil uang seseorang lalu menyebutnya uang keluarga.”

Bu Ratna mengusap air matanya.

“Kalau aku tidak mampu membayar?”

Aku menatapnya.

“Bu tetap ibunya Raka. Aku tidak akan membiarkan Ibu kelaparan.”

Wajahnya berubah.

“Tapi uang bulanan tetap tidak akan kembali seperti dulu. Kita akan membuat anggaran yang masuk akal.”

Bu Ratna mengangguk sambil menangis.

Raka menggenggam kedua tangannya sendiri.

“Aku akan cari pekerjaan tambahan.”

Aku menggeleng.

“Jangan mencari pekerjaan tambahan hanya karena malu.”

Ia menatapku.

“Belajar bertanggung jawab dulu.”

Malam itu, kami duduk bertiga di meja makan dan menghitung semuanya dari awal.

Untuk pertama kalinya, Raka melihat angka yang selama ini hanya muncul otomatis dari rekeningku.

Ia melihat cicilan.

Tagihan.

Biaya sekolah Alya.

Asuransi.

Belanja.

Dan semua hal kecil yang selama ini dianggap muncul begitu saja seperti sulap.

Menjelang tengah malam, Raka bersandar di kursi.

“Selama ini kamu melakukan semua ini sendirian?”

Aku mengangguk.

Ia menunduk.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku tersenyum kecil.

“Itulah masalahnya.”

Keesokan paginya, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Saat aku hendak berangkat kerja, Raka menghampiriku.

Ia menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Slip gaji dan daftar semua pengeluaranku.”

Aku membukanya.

Di halaman terakhir ada satu tulisan tangan.

Mulai bulan ini, aku tidak akan meminta kamu membuktikan bahwa kamu pantas menikmati hasil kerja kerasmu.

Aku menatapnya cukup lama.

Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, aku merasa mungkin pernikahan kami masih bisa diselamatkan.

Namun ada satu hal yang Raka belum tahu.

Malam sebelumnya, aku menerima email dari bank.

Kontrak konsultasi senilai Rp780 juta yang kutandatangani beberapa minggu lalu ternyata bukan kontrak biasa.

Perusahaan itu menawarkan proyek lanjutan selama dua tahun.

Nilainya hampir Rp3,2 miliar.

Aku bisa membeli apartemen itu sepenuhnya dalam waktu kurang dari dua tahun jika mau.

Tetapi aku tidak ingin lagi menjadi orang yang membayar semuanya.

Aku menutup laptop.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.

Kadang-kadang, cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang mencintaimu bukan dengan melihat apa yang ia lakukan ketika kamu memberinya segalanya.

Melainkan melihat siapa dia ketika kamu berhenti memberinya kemudahan.

Dan tiga minggu itu telah memberiku jawaban yang selama enam tahun tidak pernah berani kutanyakan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang