NENEKKU MENJAHIT GAUN WISUDAKU DARI POTONGAN KAIN BEKAS, LALU MENINGGAL—SAAT GAUN ITU DITERTAWAKAN, AKU MENEMUKAN LABEL TERSEMBUNYI DI BALIK LAPISANNYA.

Aku menatap pesan itu berkali-kali.

“Kok bisa ada orang yang tahu aku akan membuka laci ini?”

Bu Ranti tidak langsung menjawab. Ia mengambil kembali ponselnya, lalu mengunci layar dengan tangan gemetar.

“Karena ada seseorang yang sudah menunggu hari ini.”

“Siapa?”

“Entahlah.”

“Bu, ini tentang Nenek saya, kan?”

Bu Ranti menghela napas panjang. Ia kemudian mengambil map cokelat dari laci, tetapi tidak menyerahkannya kepadaku.

“Namamu Nisa, bukan?”

Aku mengangguk.

“Aminah pernah bilang, suatu hari nanti cucunya mungkin datang ke sini. Dia meminta satu hal kepadaku.”

“Apa?”

“Jangan berikan apa pun sebelum aku yakin kamu benar-benar ingin tahu kebenarannya.”

Aku menatap map itu.

“Saya datang sejauh ini bukan untuk pulang dengan tangan kosong.”

Bu Ranti tersenyum tipis.

“Jawabanmu persis seperti nenekmu.”

Ia akhirnya membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar sketsa pakaian, foto-foto lama, kuitansi kain, dan sebuah dokumen yang sudah menguning. Aku mengambil sketsa paling atas.

Aku langsung mengenali garis desainnya.

Itu mirip gaun yang sedang kubawa.

Potongan pinggang, bentuk lengan, bahkan susunan kain yang berbeda-beda. Semuanya hampir sama.

“Ini desain Nenek?”

“Bukan hanya desain.”

Bu Ranti menunjuk bagian bawah kertas.

“Ini rancangan koleksi yang seharusnya mengubah hidupnya.”

Aku membaca nama yang tertulis di sana.

Aminah Suryani.

Tanggalnya 17 Agustus 1994.

Angka yang sama dengan tulisan di gaunku.

“Kenapa koleksi ini tidak pernah saya dengar?”

“Karena seseorang mencurinya.”

Aku terdiam.

Bu Ranti membuka buku catatan tua.

“Waktu itu Aminah masih muda. Dia sangat berbakat. Dia membuat rancangan dari kain sisa, kain cacat produksi, dan potongan-potongan yang dianggap tidak berguna.”

Aku memandang gaunku.

“Nenek selalu bilang kain bekas masih bisa menjadi sesuatu yang indah.”

“Karena itu bukan sekadar kalimat.”

Bu Ranti menatapku.

“Itu prinsip hidupnya.”

Lalu ia menunjukkan sebuah foto.

Dalam foto itu, Nenek berdiri di tengah beberapa orang dengan wajah penuh percaya diri. Di belakangnya terdapat pakaian-pakaian yang terlihat sangat mirip dengan rancangan modern.

“Dia memenangkan kompetisi desain tahun itu,” kata Bu Ranti. “Tapi sebelum namanya diumumkan secara resmi, semua rancangan dibawa oleh seseorang yang bekerja di panitia.”

“Lalu?”

“Beberapa bulan kemudian, rancangan yang sama muncul atas nama orang lain.”

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

“Siapa?”

Bu Ranti menutup buku itu.

“Orang yang sekarang sudah sangat terkenal.”

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara ketukan dari depan toko.

Tok.

Tok.

Tok.

Bu Ranti langsung pucat.

“Jangan bersuara.”

Kami diam.

Ketukan terdengar lagi.

Kemudian suara seorang laki-laki dari balik pintu.

“Ranti, saya tahu kamu di dalam.”

Aku mengenali suara itu.

Aku pernah mendengarnya di televisi.

Seorang tokoh terkenal di dunia mode Indonesia.

Bu Ranti menatapku dan berbisik, “Dia datang.”

“Siapa?”

“Orang yang mengambil karya Aminah.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

Laki-laki itu mengetuk lagi.

“Aku hanya ingin bicara.”

Bu Ranti tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian suara langkah kaki menjauh.

Aku mengira semuanya selesai.

Ternyata tidak.

Ponsel Bu Ranti kembali bergetar.

Pesan baru.

Kali ini hanya satu kalimat.

“Gaun itu jangan dibawa keluar dari toko.”

Aku menatap gaun biru yang ada di tanganku.

“Bu…”

Bu Ranti langsung mengambil gaun itu.

Ia membalik bagian dalamnya, lalu membuka jahitan kecil di pinggang dengan gunting.

Dari balik lapisan kain keluar sebuah benda pipih yang dibungkus plastik.

Aku menahan napas.

Bu Ranti membukanya.

Sebuah kartu memori kecil.

“Apa ini?”

“Entahlah. Aminah tidak pernah memberitahuku.”

Kami memasukkan kartu itu ke komputer lama di meja belakang.

Hanya ada satu folder.

Namanya 170894.

Di dalamnya terdapat beberapa foto dokumen dan satu rekaman video.

Aku menekan tombol putar.

Wajah Nenek muncul di layar.

Lebih muda.

Jauh lebih muda.

Ia duduk di depan mesin jahit yang sama.

Aku langsung menangis.

“Nisa, kalau kamu melihat rekaman ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya secara langsung.”

Nenek tersenyum.

“Maaf karena menyimpan banyak hal darimu.”

Aku menutup mulut.

“Aku tidak pernah ingin kamu hidup dengan rasa malu karena berasal dari keluarga sederhana. Justru sebaliknya. Aku ingin kamu tahu bahwa sesuatu yang dibuat dengan tangan dan hati tidak pernah menjadi rendah hanya karena tidak memiliki harga mahal.”

Nenek berhenti sebentar.

“Orang yang mengambil karyaku dulu mungkin berhasil mendapatkan nama dan uang. Tapi dia tidak pernah bisa mengambil satu hal.”

Aku mendekat ke layar.

“Cerita.”

Rekaman berlanjut.

“Kalau suatu hari seseorang mencoba mengambil cerita ini lagi, berikan semua bukti kepada wartawan. Jangan simpan untuk dirimu sendiri.”

Video berhenti.

Aku dan Bu Ranti saling menatap.

“Wartawan?” tanyaku.

Bu Ranti mengangguk perlahan.

“Nenekmu memang sudah menyiapkan semuanya.”

Ia membuka dokumen terakhir.

Di sana terdapat surat pernyataan, foto rancangan asli, tanda tangan saksi, serta bukti pembayaran yang menunjukkan bahwa Nenek adalah pencipta desain tersebut.

Namun ada satu nama di bagian bawah dokumen.

Namaku.

“Nisa…”

Aku terdiam.

“Kenapa nama saya ada di sini?”

Bu Ranti menatapku lama.

“Karena Aminah mendaftarkan hak atas desain itu beberapa tahun lalu menggunakan namamu sebagai ahli waris.”

Aku merasa seluruh dunia berhenti bergerak.

“Nenek melakukan itu?”

“Iya.”

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena dia tidak ingin kamu mengejar masa lalunya. Dia ingin kamu membangun masa depanmu sendiri.”

Aku menangis tanpa suara.

Tiba-tiba pintu belakang toko terbuka.

Laki-laki tadi berdiri di sana.

Di belakangnya ada dua orang lain.

Ia melihat meja, komputer, dan map cokelat.

Kemudian pandangannya jatuh pada gaun biru.

“Kalian tidak seharusnya membuka itu.”

Aku berdiri.

Untuk pertama kalinya sejak Nenek meninggal, aku tidak merasa takut.

Aku menggenggam gaun itu erat-erat.

“Kenapa?”

Ia diam.

“Karena desain itu milik Anda?”

Wajahnya berubah.

Bu Ranti berdiri di sampingku.

“Nisa, jangan bicara lagi.”

Aku justru mengangkat ponsel.

“Saya sudah merekam percakapan kita.”

Padahal sebenarnya aku baru saja menekan tombol rekam beberapa detik sebelumnya.

Laki-laki itu terdiam.

Aku tersenyum tipis.

“Nenek saya mungkin sudah tidak ada. Tapi ceritanya masih ada.”

Dua hari kemudian, sebuah artikel muncul di halaman utama sebuah media nasional.

Judulnya membahas seorang penjahit sederhana dari Solo yang karyanya diduga dicuri puluhan tahun lalu.

Bukti-bukti dari laci nomor tiga dipublikasikan.

Nama Aminah Suryani kembali disebut.

Dalam beberapa minggu, kasus itu menjadi pembicaraan luas.

Orang-orang mulai mencari karya-karya lama Nenek.

Sementara aku menyimpan gaun biru itu di dalam lemari.

Bukan karena gaun itu mahal.

Justru karena harganya hampir tidak berarti.

Rp185.000.

Potongan kain bekas.

Benang sisa.

Kain dari pesanan orang lain.

Namun di balik lapisannya tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Keberanian seorang perempuan yang selama puluhan tahun tidak pernah berhenti menjahit, meskipun dunia berkali-kali mengatakan bahwa karyanya tidak cukup berharga untuk dikenang.

Beberapa bulan kemudian, aku datang ke kampus dengan membawa gaun itu.

Bukan untuk memakainya.

Aku membawanya ke ruang pamer kecil yang dibuat mahasiswa untuk mengenang para perajin lokal.

Di samping gaun itu, aku memasang sebuah kartu kecil.

Hanya ada satu kalimat.

“Jangan pernah menilai harga sebuah karya dari kain yang digunakan untuk membuatnya.”

Di bawahnya kutulis nama lengkap Nenek.

Aminah Suryani.

Untuk pertama kalinya, namanya tidak tersembunyi di balik lapisan kain.

Dan mungkin, itulah alasan sebenarnya Nenek menjahit gaun itu untukku.

Bukan agar aku terlihat paling cantik di aula.

Melainkan agar suatu hari nanti, ketika semua orang telah melupakan gaun itu, aku masih memiliki keberanian untuk mencari tahu siapa perempuan yang membuatnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang