SEORANG PELANGGAN MEMBAYARNYA UNTUK SATU MALAM, TIGA BULAN KEMUDIAN NAIRA HAMIL DAN SESEORANG MULAI MEMBURU NYAWANYA

Arga langsung berhenti.

Wajahnya yang biasanya tenang berubah ketika melihat pistol di tangan Darto dan Naira berdiri beberapa meter di depannya dengan wajah pucat.

“Jangan lakukan apa pun,” kata Arga pelan. “Aku tidak akan mendekat.”

Darto mencengkeram lengan Naira lebih kuat.

“Kamu Arga Mahendra?”

“Aku Arga.”

“Bagus. Berarti kamu tahu kenapa aku di sini.”

Arga tidak menjawab.

Tatapannya berpindah kepada Naira. Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, mata mereka bertemu.

Naira ingin mengatakan begitu banyak hal.

Tentang kehamilannya.

Tentang pesan-pesan anonim.

Tentang ketakutannya.

Namun yang keluar hanya satu kalimat.

“Aku tidak pernah mencarimu.”

“Aku tahu,” jawab Arga.

Naira terkejut.

“Kamu tahu?”

“Aku tahu sejak dua minggu lalu.”

Darto mengerutkan dahi.

Arga perlahan mengangkat kedua tangannya.

“Aku menemukan laporan dari klinik yang membawamu. Seseorang membayar petugas untuk mendapatkan informasi tentang pasien. Aku menyelidikinya.”

Naira menatapnya tidak percaya.

“Kenapa?”

Arga menarik napas.

“Karena aku juga baru tahu bahwa malam itu bukan sekadar sesuatu yang ingin kulupakan.”

Naira menundukkan wajah.

“Aku tidak datang untuk meminta apa pun darimu.”

“Aku tahu.”

“Bayi ini tidak pernah kurencanakan untuk menjadi alat mendapatkan uang.”

“Aku juga tahu.”

Darto mulai gelisah.

“Cukup bicara!”

Arga memandangnya.

“Berapa yang mereka bayar?”

“Lima ratus juta.”

“Aku bayar dua kali lipat.”

Naira langsung menoleh.

“Arga, jangan.”

Darto tampak ragu.

Arga melanjutkan, “Tapi bukan untuk membunuhnya. Kamu pergi sekarang, dan aku akan memastikan kamu mendapat perlindungan hukum.”

Darto tertawa.

“Kamu pikir aku bodoh? Kalau aku pulang tanpa menyelesaikan pekerjaan, mereka akan membunuhku.”

“Siapa?”

Darto diam.

Arga mengeluarkan ponselnya.

“Aku sudah merekam semuanya.”

Wajah Darto berubah.

“Bohong.”

“Coba lihat mobil di belakangmu.”

Darto menoleh.

Dari jalan raya terdengar suara kendaraan lain. Dua mobil polisi berhenti tidak jauh dari sana.

Ternyata sejak beberapa menit sebelumnya, Arga sudah menghubungi pihak berwenang.

Darto semakin panik.

Ia menarik Naira mundur.

Namun Naira melihat kesempatan itu.

Ia menginjak kaki Darto dan melepaskan diri.

Arga segera berlari mendekat, sementara Darto menjatuhkan senjatanya dan mencoba melarikan diri ke arah perkebunan.

Petugas yang datang mengejarnya.

Beberapa menit kemudian semuanya berakhir.

Naira berdiri di tengah jalan tanah dengan tubuh gemetar.

Arga berhenti beberapa langkah di depannya.

Mereka saling memandang.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada adegan dramatis seperti film.

Hanya dua orang yang pernah membuat keputusan buruk pada malam yang sama-sama mereka sesali, kini dipertemukan oleh kehidupan yang jauh lebih rumit daripada yang mereka bayangkan.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Arga.

Naira mengangguk.

“Bayinya?”

Naira spontan memegang perutnya.

“Sepertinya baik.”

Arga menghela napas lega.

Kemudian seorang petugas datang membawa sebuah ponsel.

“Pak Arga, kami menemukan ini dari pria tadi.”

Arga menerima ponsel tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa percakapan.

Bukan hanya antara Darto dan Kirana.

Ada percakapan lain.

Nama seseorang membuat wajah Arga seketika berubah.

Ayahnya.

Arga membaca pesan terakhir dengan tangan gemetar.

Aku tidak peduli bagaimana caranya. Pernikahan dengan Kirana harus tetap berlangsung. Anak itu tidak boleh muncul sebelum semuanya selesai.

Naira melihat ekspresinya.

“Apa?”

Arga tidak langsung menjawab.

Ia menunjukkan layar kepadanya.

Naira membaca perlahan.

Wajahnya pucat.

“Jadi bukan Kirana?”

“Dia terlibat,” kata Arga. “Tapi dia bukan satu-satunya.”

Keesokan harinya, berita tentang percobaan penculikan seorang perempuan hamil mulai beredar di beberapa media lokal.

Nama Naira tidak langsung disebut.

Namun keluarga Mahendra mulai menjadi sorotan.

Kirana membantah semuanya.

Ia mengatakan tidak pernah memerintahkan siapa pun melakukan kejahatan.

Namun polisi menemukan transaksi senilai dua ratus lima puluh juta rupiah dari rekening perusahaan yang terhubung dengan salah satu orang kepercayaannya.

Sementara itu, ayah Arga juga diperiksa setelah ditemukan bukti komunikasi dengan orang yang mengatur pembayaran kepada Darto.

Arga membatalkan pertunangannya.

Tidak ada pesta.

Tidak ada konferensi pers.

Ia hanya mengirim satu pernyataan singkat bahwa pernikahan tersebut tidak akan dilanjutkan.

Tiga minggu kemudian, Naira kembali ke rumah ibunya.

Ia tidak mau tinggal di rumah mewah Arga.

Tidak ingin menerima uang.

Tidak ingin dianggap sebagai perempuan yang tiba-tiba masuk ke keluarga kaya karena mengandung anak seorang pengusaha.

Ia hanya ingin hidup tenang.

Suatu sore, Arga datang ke warung kecil milik ibu Naira.

Ia tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah mahal.

Hanya membawa sebuah map.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu menikah denganku,” katanya.

Naira menatapnya.

“Lalu?”

“Di dalam map itu ada laporan keuangan untuk biaya pemeriksaan dan persalinan. Semuanya atas nama rekening khusus anak kita. Kamu yang memegang kendali. Aku tidak akan menyentuh uang itu.”

Naira terdiam.

“Dan kalau aku tidak mau?”

“Kamu tetap punya hak untuk menolaknya.”

Untuk pertama kalinya, Naira melihat Arga bukan sebagai pria yang pernah membayarnya untuk satu malam.

Ia melihat seorang laki-laki yang akhirnya mengerti bahwa tanggung jawab tidak sama dengan memiliki seseorang.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu,” kata Naira.

“Aku tidak meminta kamu memaafkan.”

“Dan aku tidak tahu apakah kita bisa menjadi keluarga.”

Arga mengangguk.

“Aku juga tidak akan memaksamu.”

Naira memandangnya cukup lama.

Kemudian bayi di dalam kandungannya bergerak.

Ia refleks tersenyum.

Arga melihat senyum itu dan ikut tersenyum kecil.

Beberapa bulan kemudian, seorang bayi perempuan lahir dengan sehat.

Naira memberinya nama Aira.

Arga datang ke rumah sakit, tetapi ia tidak masuk sebelum Naira mengizinkannya.

Ketika akhirnya melihat putrinya untuk pertama kali, Arga hanya berdiri diam di samping tempat tidur.

Matanya berkaca-kaca.

“Aku boleh menggendongnya?”

Naira menyerahkan bayi itu.

Arga menggendong Aira dengan hati-hati.

“Ayah tidak akan menjanjikan hidup yang sempurna,” bisiknya. “Tapi Ayah akan berusaha tidak pernah membuatmu merasa sendirian.”

Naira mendengar kalimat itu.

Untuk sesaat, ia teringat malam ketika semuanya bermula.

Dulu ia berpikir uang dapat menyelesaikan masalah.

Ternyata uang hanya menyelesaikan satu bagian kecil dari kehidupan.

Yang jauh lebih sulit adalah menghadapi akibat dari keputusan, mengakui kesalahan, dan belajar menghargai manusia lain.

Beberapa minggu kemudian, Kirana akhirnya diperiksa secara resmi. Bukti terhadapnya semakin kuat, tetapi keputusan hukum sepenuhnya diserahkan kepada pengadilan.

Sementara keluarga Mahendra mulai berantakan dari dalam.

Arga memilih keluar dari perusahaan keluarganya.

Ia membangun perusahaan baru bersama beberapa orang yang benar-benar ia percaya.

Naira kembali bekerja, kali ini membuka usaha kecil katering bersama ibunya.

Mereka tidak langsung menjadi pasangan.

Tidak ada pernikahan mendadak.

Tidak ada akhir seperti dongeng.

Namun setiap minggu Arga datang menemui Aira.

Kadang membawa buku cerita.

Kadang hanya duduk di teras sambil membantu Naira menghitung pesanan.

Hubungan mereka tumbuh perlahan, bukan karena masa lalu mereka bisa dihapus, tetapi karena keduanya belajar tidak mengulanginya.

Setahun kemudian, Naira menemukan sebuah kotak kecil di laci meja.

Di dalamnya ada selembar kertas yang pernah ditulisnya sendiri tiga bulan setelah mengetahui kehamilannya.

Aku tidak membutuhkan seorang penyelamat. Aku hanya membutuhkan kesempatan untuk menyelamatkan diriku sendiri dan anakku.

Naira tersenyum.

Kini ia mengerti mengapa hidup membawanya melewati begitu banyak ketakutan.

Bukan agar ia berakhir sebagai istri seorang pria kaya.

Bukan agar ia menjadi bagian dari keluarga Mahendra.

Melainkan agar ia belajar bahwa harga dirinya tidak pernah ditentukan oleh uang yang diberikan seseorang kepadanya.

Dan ketika Arga datang sore itu, Aira berlari kecil menyambutnya.

Naira berdiri di depan pintu, memandangi keduanya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak takut pada masa depan.

Sebab masa depan mereka mungkin tidak sempurna.

Tetapi kali ini, mereka akan membangunnya dengan pilihan yang sadar, bukan dengan rasa takut, tekanan, atau uang.

Dan ternyata, itulah akhir yang sebenarnya tidak pernah Naira bayangkan ketika sebuah mobil abu-abu membawanya keluar dari Kota Malang.

Malam itu ia mengira sedang menuju akhir hidupnya.

Padahal tanpa disadarinya, ia sedang menuju awal dari hidup yang akhirnya benar-benar menjadi miliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang