RUMAH WARISAN IBU KOSONG EMPAT TAHUN, TAPI TAGIHAN LISTRIKNYA MEMBENGKAK—SAAT KUDATANGI MALAM ITU, SUAMIKU KELUAR MEMBAWA SEORANG WANITA HAMIL

Aku berdiri di balik tirai sambil menahan napas. Pria itu tidak langsung masuk. Ia berbicara dengan Pak Rudi selama hampir satu menit, lalu menyerahkan sebuah kartu nama.

Dari gerak bibirnya, aku bisa membaca satu kata.

“Notaris.”

Aku segera menghubungi Alya.

“Alya, orang dari kantor notaris datang.”

“Jangan keluar. Jangan berhadapan langsung dengan siapa pun. Aku ke sana sekarang.”

Aku mematikan lampu rumah dan berdiri dalam gelap.

Beberapa detik kemudian, suara ketukan terdengar.

“Bu Nadira?”

Aku tidak menjawab.

“Bu, saya dari kantor notaris. Ada dokumen yang perlu kami serahkan.”

Aku tetap diam.

Pria itu mengetuk sekali lagi, lalu pergi.

Aku menunggu sampai suara mobilnya menghilang.

Setelah itu, aku memeriksa kamera keamanan rumah melalui aplikasi. Untungnya, kamera depan masih aktif. Aku memutar rekaman lima bulan terakhir.

Ada sesuatu yang membuatku semakin curiga.

Dimas datang ke rumah hampir setiap tiga atau empat hari.

Selalu pada malam hari.

Kadang bersama Citra.

Kadang sendirian.

Tetapi ada satu orang lain yang muncul berulang kali.

Pria berjas dari malam ini.

Aku memperbesar rekaman pada salah satu kunjungannya.

Wajahnya terlihat jelas.

Aku mengirim fotonya kepada Alya.

Beberapa menit kemudian, pesan balasan masuk.

“Aku kenal orang ini. Namanya Arman Wijaya. Dia bukan notaris. Dia staf legal sebuah perusahaan properti.”

Aku membeku.

“Perusahaan apa?”

“PT Graha Sentosa Land.”

Nama itu pernah kudengar.

Perusahaan pengembang yang sedang membeli beberapa rumah di kawasan sekitar kompleksku.

Aku kembali membuka map biru.

Di antara dokumen-dokumen itu ada satu lembar yang sebelumnya tidak kusadari.

Sebuah perjanjian jual beli.

Harga rumah ibuku tercantum Rp4,2 miliar.

Pembelinya adalah PT Graha Sentosa Land.

Tanggal transaksi tinggal dua minggu lagi.

Dadaku terasa sesak.

Jadi semua ini bukan sekadar perselingkuhan.

Dimas ingin menjual rumah itu.

Tapi mengapa harus membawa Citra ke sana?

Aku membuka dokumen berikutnya.

Ada surat pernyataan bahwa aku telah memberikan kuasa penuh kepada Dimas karena sedang menjalani pengobatan di luar negeri.

Aku hampir tertawa.

Aku bahkan belum pernah pergi ke luar negeri sejak menikah.

Lebih aneh lagi, terdapat fotokopi paspor yang bukan milikku.

Alya segera tiba bersama seorang rekannya.

Kami memeriksa seluruh dokumen sampai hampir pukul tiga pagi.

Kemudian Alya menemukan sesuatu yang membuat semuanya menjadi jelas.

“Nadira, lihat ini.”

Ia menunjuk sebuah rekening pembayaran.

“Perusahaan ini sudah mentransfer uang muka Rp800 juta kepada seseorang.”

Nama penerima bukan Dimas.

Bukan pula Citra.

Nama itu adalah nama seorang perempuan yang sama sekali tidak kukenal.

Namun nomor rekeningnya sangat familiar.

Itu rekening yang pernah Dimas pakai untuk menampung uang rumah tangga kami.

Aku menatap layar laptop tanpa berkedip.

Selama berbulan-bulan, Dimas mungkin menggunakan uang kami sendiri untuk membiayai rencana mengambil rumah peninggalan Ibu.

Alya menatapku serius.

“Kamu harus menganggap ini sebagai penipuan aset, bukan masalah rumah tangga biasa.”

Aku mengangguk.

“Besok kita laporkan?”

“Besok pagi.”

Aku pulang ke apartemen sebelum Dimas datang.

Aku tidak mengatakan apa pun kepadanya.

Sekitar pukul tujuh pagi, pintu apartemen terbuka.

Dimas masuk dengan wajah lelah.

Begitu melihatku duduk di ruang makan, dia tersenyum.

“Kamu belum tidur?”

“Belum.”

Dia mendekat dan mencium keningku seperti tidak terjadi apa-apa.

“Aku semalam lembur sampai pagi.”

Aku menatap wajahnya.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku tidak melihat suamiku.

Aku melihat seseorang yang sedang memainkan peran sebagai suami.

“Dimas.”

“Hm?”

“Rumah Ibu ternyata tidak kosong.”

Tangannya berhenti.

Hanya sepersekian detik.

Tapi cukup.

“Apa maksudmu?”

“Aku ke sana tadi malam.”

Wajahnya berubah pucat.

Aku mengeluarkan foto Citra.

“Siapa dia?”

Dimas tidak menjawab.

“Dan kenapa ada surat kuasa dengan tanda tanganku?”

Dia mundur satu langkah.

“Nadira, dengarkan aku.”

“Tidak. Sekarang kamu yang dengarkan.”

Aku meletakkan semua foto di meja.

“Lima bulan terakhir kamu tinggal di rumah itu. Kamu membawa perempuan hamil ke sana. Kamu membuat dokumen palsu. Kamu menerima uang dari perusahaan properti. Dan kamu menggunakan rekening rumah tangga untuk membayar semuanya.”

Dimas menatapku seperti baru saja melihat orang asing.

Kemudian dia berkata pelan,

“Citra bukan selingkuhanku.”

Aku tertawa getir.

“Lalu siapa dia?”

“Adikku.”

Aku terdiam.

“Adik?”

Dimas mengangguk.

“Dia adik tiriku. Ibunya meninggal dua tahun lalu. Dia tidak punya tempat tinggal.”

Aku menatap foto Citra.

“Lalu anak itu?”

Dimas menunduk.

“Anaknya bukan anakku.”

Aku tidak langsung merasa lega.

Justru semakin bingung.

“Kalau begitu, kenapa kamu menyembunyikannya?”

Dimas mengusap wajah.

“Karena ayah kami meninggalkan utang besar. Orang-orang yang menagih utang itu mencari Citra. Aku menyembunyikannya di rumah Ibumu.”

Aku menatapnya lama.

“Kalau memang begitu, kenapa kamu membuat surat kuasa palsu?”

Dimas diam.

Pertanyaan itu membuat semua alasan yang baru saja ia berikan runtuh.

Alya yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya maju.

“Karena dia bukan satu-satunya yang terlibat.”

Dimas langsung menoleh.

Alya meletakkan salinan dokumen di meja.

“Perusahaan properti itu tidak hanya membayar uang muka. Mereka membayar beberapa orang untuk mendapatkan rumah-rumah yang pemiliknya sulit dihubungi.”

Dimas mengepalkan tangan.

“Aku tidak tahu soal itu.”

“Kamu tahu.”

Alya menunjuk bukti transfer.

“Rekening ini milikmu.”

Dimas tidak menjawab.

Lalu tiba-tiba terdengar suara perempuan dari lorong.

“Mas Dimas benar.”

Kami semua menoleh.

Citra berdiri di sana.

Wajahnya pucat, tetapi suaranya tenang.

“Aku yang meminta Mas Dimas menyembunyikan semuanya.”

Dimas terlihat terkejut.

“Citra, kenapa kamu datang?”

Citra menatapku.

“Karena saya tidak ingin Mbak Nadira kehilangan rumah itu.”

Aku mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Citra menarik napas panjang.

“Saya bekerja di perusahaan yang sama dengan Arman.”

Aku terdiam.

“Lima bulan lalu, saya menemukan rencana internal untuk mengambil rumah-rumah tua di kawasan ini. Rumah Mbak termasuk target utama karena nilai tanahnya jauh lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan.”

“Lalu Dimas?”

“Dia awalnya membantu mereka.”

Aku menatap Dimas.

Citra melanjutkan,

“Dia pikir bisa mendapatkan uang dengan cepat. Tapi setelah mengetahui mereka ingin memalsukan dokumen dan menekan pemilik rumah, dia mencoba keluar.”

Aku memandang suamiku.

“Jadi kamu memang terlibat.”

Dimas menunduk.

“Iya.”

Pengakuan itu terasa lebih menyakitkan daripada perselingkuhan mana pun.

“Aku salah,” katanya. “Aku tergoda uang. Aku pikir semuanya akan selesai tanpa kamu tahu.”

Aku berdiri.

“Dan tanda tanganku?”

“Aku tidak memalsukannya sendiri. Arman yang mengurusnya.”

Aku mengambil sertifikat asli rumah dari dalam tas.

“Mulai hari ini, kamu tidak punya urusan apa pun dengan rumah itu.”

Dimas menatapku dengan mata merah.

“Nadira, aku minta maaf.”

Aku menggeleng.

“Maaf tidak mengembalikan kepercayaan.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan resmi dimulai. Perusahaan properti itu diperiksa karena dugaan pemalsuan dokumen dan praktik penipuan. Beberapa orang yang terlibat dipanggil untuk memberikan keterangan.

Aku juga menggugat Dimas.

Bukan karena ingin menghancurkannya.

Aku hanya ingin memastikan tidak ada lagi yang bisa mengambil sesuatu yang ditinggalkan Ibu untukku.

Citra akhirnya pindah ke tempat yang lebih aman. Sebelum pergi, dia memberikan sebuah amplop kepadaku.

“Ini milik Ibu Mbak.”

Di dalamnya ada surat lama yang ditulis empat tahun sebelumnya.

Tulisan tangan Ibu masih sangat jelas.

“Nadira, kalau suatu hari rumah ini membuatmu harus memilih antara mempertahankan benda atau mempertahankan dirimu sendiri, pilih dirimu. Rumah hanyalah tempat. Harga dirimu adalah rumah yang sebenarnya.”

Aku menangis untuk pertama kalinya malam itu.

Empat tahun rumah itu kosong.

Namun ternyata, bukan rumah itu yang benar-benar kosong.

Yang kosong adalah kejujuran orang-orang yang selama ini tinggal di dalam hidupku.

Aku tidak menjual rumah itu.

Aku memperbaikinya, mengecat ulang dindingnya, membuka jendela yang selama bertahun-tahun tertutup, lalu menjadikannya tempat tinggal sementara bagi perempuan yang membutuhkan perlindungan.

Di depan pintu, aku memasang sebuah papan kecil.

Rumah Ibu.

Bukan karena aku takut kehilangannya lagi.

Tetapi karena akhirnya aku mengerti pesan terakhir Ibu.

Pintu untuk pulang bukan selalu sebuah bangunan.

Kadang, pintu itu adalah keberanian untuk meninggalkan orang yang membuat kita lupa siapa diri kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang