Aku menatap nama Putri Lestari di layar ponsel sampai pandanganku kabur. Rumah yang dibeli suamiku. Uang dari rekening bersama kami. Perempuan yang melahirkan anak yang disebut Budi sebagai putrinya.
Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang selama ini sengaja disembunyikan dariku.
Aku segera menelepon Dewi.
“Dewi, aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Budi membeli rumah di Bandung. Atas namanya. Tapi ada nama perempuan lain di dokumennya. Putri Lestari.”
Dewi terdiam beberapa detik.
“Kamu yakin uangnya dari rekening kalian?”
“Aku sudah hitung. Hampir sama persis.”
“Jangan pulang sendirian malam ini.”
“Aku tidak takut.”
“Aku tahu. Tapi sekarang bukan waktunya membuktikan keberanian. Kamu perlu membuktikan kebenaran.”

Aku mengikuti sarannya dan menginap di rumah Dewi malam itu. Hampir sepanjang malam aku tidak tidur. Enam tahun pernikahan berputar di kepalaku seperti rekaman yang tidak bisa dihentikan.
Budi selalu mengatakan dia mencintaiku.
Budi juga selalu mengatakan bahwa kegagalan kami memiliki anak bukan salah siapa pun.
Ketika aku menangis setelah dokter mengatakan peluang kehamilanku kecil, dia memelukku dan berkata, “Kita masih punya satu sama lain.”
Ternyata mungkin selama ini hanya aku yang percaya pada kalimat itu.
Pagi berikutnya, aku meminta Dewi membantuku mencari tahu siapa Putri Lestari. Dari beberapa informasi yang berhasil ditemukan, perempuan itu ternyata pernah bekerja di perusahaan tempat Budi menjadi manajer proyek. Dia berhenti bekerja sekitar sembilan bulan lalu.
Ada satu hal lain yang membuatku merinding.
Putri ternyata pernah menikah.
Namun pernikahannya berakhir dua tahun sebelumnya.
Tidak ada hubungan yang terlihat antara dia dan Budi secara resmi.
Aku kembali melihat foto yang dikirim nomor asing itu.
Perempuan itu tampak lelah, tetapi wajahnya tidak asing.
Aku memperbesar gambar.
Baru saat itulah aku menyadarinya.
Aku pernah bertemu dengannya.
Delapan bulan lalu, Budi pernah mengajakku menghadiri acara kantor di Bandung. Seorang perempuan datang membawa dokumen dan berbicara sebentar dengan Budi di lorong hotel. Budi memperkenalkannya sebagai mantan rekan kerja.
Namanya Putri.
Saat itu aku tidak memikirkan apa pun.
Aku merasa bodoh.
Siang harinya, Budi kembali menelepon.
“Kamu di mana?”
“Di rumah.”
“Kenapa suaramu berbeda?”
“Aku kurang tidur.”
“Jangan terlalu banyak pikiran. Aku pulang besok.”
Aku menarik napas panjang.
“Bud.”
“Hm?”
“Siapa Putri?”
Hening.
Tidak lama, tetapi cukup untuk membuat jantungku terasa jatuh.
“Putri siapa?”
“Putri Lestari.”
Budi tidak menjawab.
“Kenapa diam?”
“Aku tidak tahu kamu bicara apa.”
Aku tersenyum pahit.
“Kalau begitu, nanti kita bicara saat kamu pulang.”
Aku memutuskan menutup telepon lebih dulu.
Beberapa jam kemudian, nomor asing itu mengirim pesan lagi.
“Kalau Anda ingin tahu semuanya, datang ke rumah sakit tempat bayi itu dilahirkan. Jangan beri tahu suami Anda.”
Aku pergi bersama Dewi.
Di rumah sakit, seorang perawat membawa kami ke ruang administrasi. Setelah melihat bukti yang kami bawa, dia bersedia memberikan informasi yang tidak bersifat rahasia.
Bayi itu memang lahir dua hari sebelumnya.
Nama ibunya Putri Lestari.
Nama ayah di formulir kelahiran belum dicantumkan.
Namun ada satu catatan yang membuatku terdiam.
Orang yang membayar seluruh biaya persalinan adalah Budi.
“Apakah Budi datang sendiri?” tanyaku.
Perawat mengangguk.
“Dia datang sejak malam sebelum persalinan. Sangat panik. Tapi dia juga terus mengatakan bahwa dia suami pasien.”
Aku memejamkan mata.
Jadi inilah kenyataannya.
Budi bukan sekadar berselingkuh.
Dia membangun kehidupan kedua.
Setidaknya itulah yang kupikirkan sampai dokter yang menangani Putri datang.
“Apakah Anda Sari?”
Aku mengangguk.
Dokter itu menatap Dewi, kemudian kembali kepadaku.
“Saya sudah mendengar nama Anda dari Budi.”
“Dok, apakah saya boleh tahu sesuatu?”
Dokter itu ragu.
“Budi meminta kami merahasiakan kondisi Putri. Tapi karena situasinya sudah seperti ini, saya pikir Anda berhak mengetahui bagian yang menyangkut Anda.”
Aku menahan napas.
“Putri menderita komplikasi setelah melahirkan. Kondisinya sempat memburuk. Sebelum operasi, dia menulis surat dan meminta kami memberikannya kepada Anda jika sesuatu terjadi.”
Aku menerima sebuah amplop putih.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Tulisan di dalamnya pendek.
“Mbak Sari, saya tahu Anda mungkin membenci saya. Saya tidak menyalahkan Anda. Tapi saya ingin Anda tahu bahwa saya tidak pernah bermaksud mengambil suami Anda. Budi mengatakan kepada saya bahwa dia sudah bercerai. Dia menunjukkan dokumen perceraian dan mengatakan bahwa pernikahan kalian telah berakhir secara hukum.”
Aku berhenti membaca.
Dewi mengambil napas panjang.
Aku melanjutkan.
“Beberapa bulan setelah saya hamil, saya mengetahui bahwa semuanya bohong. Saya mencoba meninggalkannya, tetapi Budi mengancam akan mengambil anak saya dan mengatakan bahwa dia memiliki cukup uang untuk membuat saya kehilangan segalanya. Rumah itu bukan hadiah untuk saya. Rumah itu dibeli karena saya tidak punya tempat tinggal setelah dia meminta saya berhenti bekerja.”
Ada kalimat terakhir.
“Bayi ini bukan alasan saya ingin bertemu Anda. Saya hanya ingin anak saya tidak tumbuh dengan kebohongan yang sama.”
Aku menurunkan surat itu.
Tiba tiba semuanya menjadi jauh lebih rumit.
Budi memang mengkhianatiku.
Tetapi Putri juga telah menjadi korban kebohongannya.
“Bagaimana kondisinya?” tanyaku.
“Stabil sekarang.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku merasa bisa bernapas.
Malam itu Budi pulang.
Dia masuk ke rumah dengan wajah lelah, membawa koper dan sekotak oleh oleh seperti suami yang baru pulang dari perjalanan biasa.
Namun ketika melihat Dewi duduk di ruang tamu, wajahnya langsung berubah.
“Sari, ini apa?”
Aku meletakkan semua bukti di atas meja.
Foto bayi.
Dokumen rumah.
Riwayat transfer.
Dan surat Putri.
Budi berdiri kaku.
“Dengar dulu.”
“Enam tahun aku mendengarkanmu.”
Suaraku bergetar, tetapi aku tidak menangis.
“Sekarang giliranmu mendengarkan aku.”
Budi akhirnya duduk.
Dia mengakui semuanya.
Dia pernah dekat dengan Putri, tetapi hubungan itu bermula ketika pernikahan kami sedang mengalami masalah. Ketika Putri hamil, Budi panik. Dia takut aku meninggalkannya setelah mengetahui bahwa dia telah menyembunyikan banyak hal.
Dia kemudian membuat kebohongan demi kebohongan.
Rumah di Bandung dibeli untuk memastikan Putri dan bayinya memiliki tempat tinggal.
Uang diambil dari tabungan kami karena Budi yakin suatu hari nanti dia akan mengembalikannya.
Dan unggahan tentang bayi itu dibuat karena keluarganya sudah mengetahui keberadaan anak tersebut.
“Tapi kenapa kamu mengunggahnya sebagai putrimu?” tanyaku.
Budi menatap lantai.
“Karena dia memang putriku.”
Aku menahan air mata.
“Lalu aku ini siapa?”
Dia tidak menjawab.
Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada pengakuannya.
Beberapa minggu kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.
Aku tidak menghancurkan hidup Putri. Aku tidak menyalahkan bayi yang tidak pernah meminta dilahirkan dalam kekacauan orang dewasa.
Aku justru membantu Dewi memastikan Putri mendapatkan pendampingan hukum dan dukungan yang layak.
Rumah di Bandung akhirnya menjadi bagian dari penyelesaian hukum kami.
Tabungan yang hilang juga dihitung sebagai harta bersama.
Budi kehilangan banyak hal yang selama ini dia pikir bisa dibeli dengan uang.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa dia beli kembali.
Kepercayaanku.
Enam bulan kemudian, aku bertemu Putri untuk pertama kalinya.
Dia datang membawa bayi kecil yang sedang tertidur.
“Aku minta maaf,” katanya.
Aku menggeleng.
“Jangan minta maaf untuk kebohongan orang lain.”
Putri tersenyum tipis.
Aku melihat bayi itu.
Wajahnya polos. Tidak tahu tentang komentar media sosial, rekening bank, kebohongan, ataupun perceraian.
Aku menyentuh tangan kecilnya.
“Dia berhak tumbuh tanpa membawa dosa siapa pun.”
Putri mengangguk sambil menangis.
Saat aku berjalan keluar dari rumahnya, ponselku bergetar.
Sebuah kenangan lama muncul di galeri.
Foto pernikahanku dengan Budi enam tahun lalu.
Aku menatap foto itu beberapa detik, lalu menghapusnya.
Bukan karena aku ingin melupakan masa lalu.
Aku hanya tidak ingin masa lalu menentukan siapa diriku selamanya.
Hari itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Kadang orang yang paling kita percaya bukanlah orang yang paling jujur kepada kita.
Dan kadang, kehilangan seseorang bukan akhir dari hidup.
Bisa jadi itu adalah pertama kalinya kita mendapatkan kembali diri sendiri.
