Ibu Brenda marah karena saya berani menjawab. Dia menunjuk ke arah pintu dengan jemarinya yang dipenuhi cincin berlian mahal, lalu berteriak dengan nada yang sangat merendahkan.
“Keluar! Kamu dipecat! Jangan pernah menampakkan wajahmu di gedung ini lagi. Dan jangan harap gajimu dibayarkan. Anggap saja itu denda karena telah merusak kualitas udara di kantor berkelas ini!”
Saya tidak membantah. Saya hanya mengangguk pelan, memungut tupperware yang sudah basah, lalu berjalan keluar melewati kerumunan karyawan yang menatap saya dengan tatapan iba. Seseorang, seorang staf muda bernama Andi, mencoba menyelinap dan memberikan selembar uang seratus ribu padaku, tapi saya menolaknya dengan senyuman. “Simpan saja, Andi. Kamu akan membutuhkannya nanti,” bisik saya pelan.

Malam itu, di dalam mobil limusin yang menjemput saya di gang gelap tak jauh dari sana, saya tidak menangis. Saya justru tersenyum. Bukan senyum kesal, melainkan senyum kemenangan. Saya tahu persis siapa saja yang perlu dipertahankan dan siapa yang harus disapu bersih dari perusahaan ini.
HARI PENGAKUAN
Keesokan harinya, matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Kantor Crest Media yang biasanya penuh dengan ketegangan, hari ini berubah menjadi panggung megah. Karpet merah telah digelar. Balon-balon bertuliskan “Welcome to the New Era” dipasang di lobi.
Ibu Brenda berdiri di barisan depan dengan gaun sutra mahalnya, terlihat begitu angkuh dan penuh percaya diri. Dia sedang berbincang dengan direksi lama, membanggakan bagaimana dia telah “membersihkan” kantor dari elemen-elemen rendahan kemarin.
“Tentu saja, Pak Direktur,” suara Brenda terdengar melengking. “Kemarin saya menendang keluar seorang petugas kebersihan yang sangat menjijikkan. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang kelas bawah berada di dekat investor baru kita.”
Tiba-tiba, suara mesin mobil mewah menderu di depan lobi. Semua orang terdiam. Pintu limusin terbuka, dan sang pemilik baru Imperial Holdings turun.
Dunia seakan berhenti berputar.
Saya keluar dari mobil dengan setelan jas hitam rancangan desainer ternama, rambut yang tertata elegan, dan aura otoritas yang membuat semua orang menahan napas. Saya berjalan dengan langkah mantap melewati barisan karyawan.
Ibu Brenda sudah bersiap memberikan senyum terbaiknya untuk menyambut pemilik baru. Namun, begitu langkah saya tepat di depannya, dia membeku. Wajahnya yang tadinya penuh make-up mahal perlahan berubah pucat pasi, seperti melihat hantu di siang bolong.
Saya berhenti tepat di depannya. Suasana hening mencekam.
“Ibu Brenda,” sapa saya dengan nada datar namun menusuk.
“A… Anda… Anda siapa?” tanyanya terbata-bata. Lututnya mulai gemetar.
Saya tersenyum tipis. Saya menoleh ke arah kerumunan karyawan, lalu kembali menatap mata Brenda yang kini mulai berair karena ketakutan.
“Tidakkah Anda mengenali saya? Saya adalah ‘sampah’ yang Anda usir kemarin karena makan ikan asin di pantri.”
Boom.
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar di tengah ruang lobi. Brenda terhuyung ke belakang, hampir jatuh jika saja tidak ditahan oleh supervisornya. Wajahnya yang tadi angkuh kini berubah menjadi pucat pasi, matanya bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang, nyaris tidak mampu menahan tekanan rasa malu dan ketakutan yang luar biasa.
“S-saya… saya tidak tahu… mohon maafkan saya, Bu!” Brenda mencoba berlutut, suaranya parau karena panik.
Saya tidak mempedulikannya. Saya mengambil gunting emas yang disediakan di meja depan. Bukannya memotong pita di tengah, saya justru berjalan menuju pintu masuk utama dan memotong pita tersebut tepat di depan wajah Brenda.
“Gunting ini bukan hanya untuk memotong pita, Bu Brenda. Ini adalah alat pemotong hubungan kerja,” ucap saya dingin.
Saya kemudian menoleh ke arah staf muda bernama Andi yang kemarin mencoba memberi saya uang. Saya menunjuknya. “Andi, mulai hari ini, kamu adalah Manajer Umum baru di perusahaan ini. Kamu memiliki empati, dan itu adalah aset termahal yang dimiliki perusahaan ini.”
Ibu Brenda jatuh tersungkur. Serangan jantung ringan mungkin memang sedang menyerangnya, namun itu tidak sebanding dengan hancurnya karier yang ia bangun dengan kesombongan.
Tetapi, kejutan saya belum berakhir.
Saat saya hendak melangkah masuk ke ruangan CEO, saya mengeluarkan sepiring kecil dari balik jas saya. Isinya? Nasi hangat dan dua potong ikan asin yang masih mengepul. Saya meletakkannya di atas meja resepsionis yang mewah itu, di depan mata seluruh direksi yang tercengang.
“Ini,” kata saya sambil menatap mereka semua. “Ini adalah pengingat bahwa di gedung ini, kita tidak akan pernah memandang rendah siapa pun berdasarkan apa yang mereka makan atau apa yang mereka kenakan. Karena kesuksesan bukan diukur dari harga dasi kalian, tapi dari bagaimana kalian memperlakukan manusia lain.”
Saya memakan suapan pertama ikan asin itu dengan penuh selera, sementara seluruh lobi terdiam dalam rasa hormat dan penyesalan yang mendalam. Hari itu, Crest Media bukan hanya berpindah tangan, tapi juga berpindah hati.
Dan bagi Ibu Brenda, dia diusir keluar gedung—bukan oleh petugas keamanan, tapi oleh harga dirinya sendiri yang sudah hancur lebur di atas sepiring nasi ikan asin yang kemarin ia hina.
Masa depan perusahaan baru saja dimulai, dan kali ini, saya memastikan tidak ada lagi bau arogansi yang tersisa di sini. Hanya ada kejujuran, kerja keras, dan keadilan yang terasa begitu gurih, layaknya ikan asin yang kini menjadi simbol integritas perusahaan saya.
