AKU MEMAKI PETUGAS BANK DARAH KARENA TERLAMBAT MEMBAWA DARAH UNTUK ANAKKU

Hening seketika merayap di lorong rumah sakit yang dingin. Bau disinfektan dan obat-obatan mendadak terasa menyesakkan dada.

Aku menatap Raka. Pria itu berdiri kaku, napasnya memburu, sementara perban di lipatan siku kirinya perlahan merembeskan warna merah terang. Darah segar yang menembus kain kasa putih itu menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi.

“Kamu… menyumbangkan darahmu sendiri untuk anakku?” suaraku bergetar, nyaris tak terdengar.

Raka tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah, tenggorokannya tampak bergerak susah payah. “Stok AB negatif di seluruh kota kosong, Bu Laras,” ucapnya pelan, suaranya serak dan parau akibat kelelahan. “Pihak PMI pusat mengabarkan stok baru akan tiba besok pagi dari Surabaya. Tapi dari catatan rekam medis, anak Ibu tidak punya waktu sampai besok.”

Bima yang berdiri di sampingku tertegun. Ponsel di tangannya yang tadi dipakai untuk mengancam, perlahan turun. Kemarahannya mendadak menguap, berganti dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

“Tapi… kenapa harus kamu? Kenapa kamu tidak bilang dari awal?” tanyaku dengan air mata yang akhirnya tumpah, membasahi pipiku.

Raka tersenyum tipis, meski wajahnya terlihat sangat pucat pasi karena kehilangan banyak darah dalam waktu singkat. “Kalau saya bilang dari awal, Ibu pasti akan menolak atau memperdebatkannya lebih dulu. Prosedur donor sukarela butuh waktu skrining yang panjang—uji HIV, hepatitis, sifilis, dan tes kecocokan silang yang normalnya memakan waktu berjam-jam.”

Ia menunjuk kotak pendingin di tangan perawat Sari.

“Saya sudah tahu golongan darah saya sama persis dengan anak Ibu dari data kepegawaian rumah sakit. Jadi, saya langsung memaksa dokter jaga untuk mengambil darah saya secara langsung, melompati prosedur standar demi menyelamatkan waktu. Setiap menit penundaan adalah taruhan nyawa untuk Dito.”

Aku teringat kembali bagaimana aku mencaci maki pria ini di depan umum. Aku membentaknya, menarik lengannya dengan kasar, dan menuduhnya lalai, sementara ia baru saja mengorbankan sebagian nyawanya sendiri untuk anakku. Perban basah di lengannya adalah bukti nyata dari pengorbanan tanpa pamrih yang hampir tidak masuk akal di dunia yang serba egois ini.

“Mas Raka…” Bima melangkah maju, lalu merangkul pundak Raka dengan erat. Suara pria berbadan tegap itu bergetar hebat. “Maafkan kami. Kami benar-benar orang tua yang bodoh dan penuh amarah.”

Raka menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Pak. Saya juga seorang ayah. Saya paham betul rasanya hampir kehilangan seorang anak.”

Tiba-tiba, lampu indikator di atas pintu ruang operasi yang tadinya menyala merah terang, berubah menjadi hijau.

Pintu terbuka lebar. Dokter bedah utama keluar dengan langkah tenang, membuka masker hijaunya sambil menyeka keringat di dahi. Senyum lelah tersungging di wajahnya.

“Operasinya berjalan sukses,” kata sang dokter. “Limpa berhasil ditangani, dan transfusi darah AB negatif dari kantong darurat tadi langsung bekerja sempurna menstabilkan tekanan darah Dito. Anak Ibu selamat.”

Bima langsung bersujud lemas di lantai lorong, mengucapkan syukur dengan suara parau. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya—bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena rasa haru dan terima kasih yang begitu mendalam kepada sosok di hadapanku.

Aku berbalik untuk memeluk Raka, namun tubuh pria itu tiba-tiba terhuyung ke belakang. Kehilangan terlalu banyak darah dalam waktu singkat membuatnya kehilangan kesadaran.

“Raka!” seru perawat Sari panik.

Beruntung, Bima sigap menangkap tubuh Raka sebelum ambruk ke lantai. Dengan sigap, para perawat langsung membawanya ke ruang pemulihan sebelah untuk mendapatkan infus pengganti cairan.

Tiga hari kemudian, Dito sudah sadar dan dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Bocah laki-laki itu tampak sudah bisa tersenyum, menggenggam erat mainan mobil-mobilan di ranjangnya.

Di kamar rawat sebelah, Raka sedang duduk di tempat tidur dengan infus yang masih menempel di tangannya. Senyuman ramahnya menyambut kedatangan kami.

Aku dan Bima masuk membawa sekeranjang buah dan sebuah amplop putih tebal, serta sepucuk surat ucapan terima kasih yang ditulis tangan di atas kertas khusus.

“Mas Raka,” kataku sambil meletakkan keranjang buah di meja nakas. “Kami tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan nyawa yang sudah Mas berikan untuk Dito. Ini adalah biaya perawatan Raka selama di sini, dan sedetik pun kami tidak akan pernah melupakan apa yang Mas lakukan.”

Raka menolak dengan halus amplop tersebut. “Simpan saja untuk biaya pemulihan Dito, Bu Laras. Bagi saya, melihat anak itu bisa bernapas dan tersenyum lagi adalah bayaran yang jauh lebih mahal daripada uang apa pun.”

Dito, yang dibantu kursi roda oleh ayahnya, masuk ke dalam kamar rawat Raka. Bocah delapan tahun itu menatap lurus ke arah lengan kiri Raka yang masih tertutup perban rapi.

Dito mendekati ranjang, lalu dengan polosnya membungkuk dan mencium punggung tangan Raka.

“Terima kasih, Pahlawan,” bisik Dito tulus.

Raka tertegun sejenak, lalu matanya berkaca-kaca. Ia mengelus lembut kepala anak itu. “Sama-sama, jagoan. Tugasmu sekarang adalah cepat sembuh dan jadi anak yang baik.”

Di luar jendela rumah sakit, matahari sore memancarkan cahaya keemasan yang hangat, menyinari lorong tempat di mana kemarahan dan keputusasaan malam itu telah berubah menjadi sebuah ikatan kemanusiaan yang takkan pernah putus sepanjang hidup kami.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang