PART 2: Bukti Dosa di Balik Pintu Puskesmas
Penyepit besi berkarat itu tergenggam erat di tangan Ibu Rina. Logam yang dingin dan kusam itu seolah menjadi saksi bisu atas segala siksaan keji yang kuterima selama delapan belas tahun hidup di bawah cengkeraman ibu angkatku.
Pak Surya melangkah mendekati istrinya, meletakkan tangan di atas pundak Ibu Rina untuk meredakan amarah yang siap meledak. Namun, sorot mata Pak Surya sendiri menyiratkan badai kemarahan yang jauh lebih dahsyat. Tatapan seorang ayah yang putrinya disia-siakan dan dijadikan budak di rumah sendiri.
“Jangan kotori tanganmu dengan barang kotor ini, Rina,” suara Pak Surya terdengar berat dan dingin. “Biar hukum yang mengurus semuanya. Tapi sebelum itu… kita harus menemui wanita itu di puskesmas.”
Aku hanya terdiam, berdiri di belakang mereka sambil memegang sisa sudut baju ayah kandungku. Keysha masih terduduk di lantai dapur, menangis sesenggukan dengan gaun mewahnya yang kini bernoda minyak rendang dan bau sisa makanan. Ia sama sekali tidak berani mendongak melihat kemarahan luar biasa dari keluarga yang selama ini melindunginya.

“Keysha,” panggil Ibu Rina tanpa menoleh ke belakang, suaranya menusuk tajam. “Ikut kami. Kamu harus melihat sendiri bagaimana tempat dan orang yang selama ini kamu bela memperlakukan kakak kandungmu.”
Perjalanan ke Puskesmas
Mobil Alphard hitam melesat meninggalkan halaman rumah kayu yang kusam itu. Di dalam kabin yang senyap dan ber-AC dingin, tidak ada satupun yang berbicara. Keysha duduk di bangku belakang paling ujung, meringkuk ketakutan sambil berusaha membersihkan noda rendang di gaunnya dengan tisu basah, namun usahanya sia-sia—bau amis dan minyak terlanjur melekat.
Sesampainya di puskesmas kecil di pinggir kecamatan, suasana mendadak riuh. Pengacara Hendra—pria paruh baya berjas rapi dengan kacamata berbingkai emas—telah menunggu di depan pintu IGD bersama dua orang petugas kepolisian lokal yang tampak tegang.
“Pak Surya, Bu Rina,” sapa Pengacara Hendra sambil membungkuk hormat. “Wanita atas nama Siti Aminah baru saja sadar dari pingsannya. Tekanan darahnya sudah mulai stabil, tapi ia sedang mengamuk di dalam karena merasa dirawat tanpa biaya dan menuntut pulangkan.”
Ibu Rina tersenyum dingin. “Bagus. Biar dia berteriak sepuasnya sebelum jeruji besi menutup mulutnya.”
Kami berlima melangkah masuk ke dalam ruang perawatan kelas tiga yang berbau obat antiseptik menyengat. Di atas ranjang besi bercat putih pudar, Ibu angkatku—Siti Aminah—tengah meronta-ronta sambil memarahi perawat yang memberinya air putih.
“Kalian pikir aku ini pengemis, hah?! Kenapa aku dibawa ke sini tanpa izin?! Rumahku berantakan, anak sialan itu pasti sedang mencuri barang-barangku!” teriak Siti Aminah dengan suara parau.
Ucapan itu terhenti seketika saat pintu terbuka lebar dan sosokku muncul di balik tubuh tinggi Pak Surya.
Mata Siti Aminah membelalak lebar. Warna mukanya yang tadinya pucat pasi akibat darah tinggi kini berubah kemerahan karena terkejut dan panik.
“Kau… kau masih hidup?! Dan… dan berani-beraninya membawa orang-orang kaya ini ke sini?!” tunjuk Siti Aminah dengan jarinya yang gemetar.
Penghinaan yang Berbalik Menjadi Bukti
Sebelum Siti Aminah sempat melontarkan kata-kata makian kasarnya yang biasa, Ibu Rina melangkah maju dengan anggun namun mematikan. Ia meletakkan penyepit besi berkarat di atas meja kecil di sebelah ranjang pesakitan itu.
Bruk!
Bunyi logam beradu dengan kayu membuat Siti Aminah terperanjat. Ia menatap penyepit besi tersebut, lalu menelan ludahnya dengan susah payah.
“Kau kenal benda ini, Siti Aminah?” suara Ibu Rina tenang, namun mengandung tekanan psikologis yang membuat seisi ruangan merinding.
Siti Aminah menggeleng cepat, matanya bergeser gelisah. “A-aku tidak tahu! Itu barang rongsokan!”
“Bohong!” potong Keysha tiba-tiba dari belakang. Karena ingin mencari muka dan menyelamatkan posisinya di keluarga kaya, Keysha mendadak bersuara tajam. “Bibi Aminah itu pembohong besar, Ayah, Ibu! Selama ini aku sering dengar dia bilang kalau anak ini tidak becus kerja, dia pasti mengancam pakai besi panas itu! Di rumah mereka, anak ini diperlakukan seperti binatang ternak!”
Siti Aminah menatap Keysha dengan mata terbelalak tidak percaya. “Keysha?! Kau… anak angkat yang kubesarkan dengan belas kasihan, beraninya kau membalikkan fakta?!”
“Diam kau, wanita tua jalang!” bentak Ibu Rina, suaranya meninggi hingga membuat perawat di ambang pintu terlonjak. “Jangan pernah sebut kata ‘belas kasihan’ di depan anakku! Kau mengambil putriku saat bayi dari rumah sakit akibat kelalaian sistem, menyiksanya, menjadikannya pesuruh, dan menyiksanya dengan besi panas ini?!”
Pengacara Hendra maju sambil membentangkan sebuah dokumen tablet digital di depan wajah Siti Aminah.
“Ibu Siti Aminah, berdasarkan hasil visum sementara dari tim medis kepolisian yang kami bawa, ditemukan puluhan bekas luka bakar tingkat dua di bagian telapak kaki dan punggung korban yang identik dengan pola penyepit besi ini. Ditambah kesaksian warga sekitar dan pengakuan saudari Keysha…” Pengacara Hendra tersenyum tipis. “…anda resmi ditahan atas tiga dakwaan berlapis: penculikan anak di bawah umur, penyiksaan berat, dan penganiayaan sistematis.”
Dua petugas kepolisian langsung maju, memborgol pergelangan tangan Siti Aminah yang masih lemas di atas ranjang.
“Tidaaaak! Lepaskan aku! Anak itu anak pungut! Dia tidak punya siapa-siapa!” jerit Siti Aminah histeris sambil meronta-ronta hingga selang infusnya terlepas dan darah segar menetes ke seprai putih puskesmas.
Sumpah di Atas Penderitaan
Aku berdiri terpaku menyaksikan wanita yang selama delapan belas tahun menjadi teror dalam hidupku kini tak berdaya di tangan hukum. Tidak ada rasa benci yang meluap-luap, yang ada hanyalah kelegaan hampa yang perlahan berganti kehangatan saat tangan besar Pak Surya merangkul pundakku dengan lembut.
“Semuanya sudah berakhir, Nak,” bisik ayah kandungku penuh kasih.
Ibu Rina kemudian menatap tajam ke arah Keysha yang berdiri gemetar di sudut ruangan. Bulu kuduk Keysha merinding hebat menyadari bahwa posisinya sebagai putri kesayangan kini berada di ambang kehancuran total.
“Dan untukmu, Keysha…” Ibu Rina membalikkan badan, berjalan mendekati gadis itu dengan langkah perlahan. “…karena kau selama ini menikmati kemewahan keluarga kami sementara darah daging kami sendiri disiksa di tempat terkutuk itu… kemasi seluruh pakaianmu malam ini juga.”
Keysha jatuh berlutut, air matanya tumpah membasahi lantai keramik. “Ibu… maafkan aku, Ibu… Jangan usir aku…”
“Kami tidak mengusirmu,” balas Ibu Rina dingin. “Kami hanya mengembalikanmu ke tempat asalmu yang sebenarnya.”
Di luar jendela puskesmas, langit sore mulai gelap, namun bagiku, babak baru dalam hidupku baru saja dimulai di bawah cahaya matahari keluarga kandung yang sesungguhnya.
Bagaimana kelanjutan nasib Keysha setelah dikembalikan ke tempat asalnya, dan babak baru apa yang menanti sang pemeran utama di dalam keluarga konglomerat Surya?
