DI ATAS PANGGUNG RETRET KANTOR, SUAMIKU MENYURUH AKU MENJAUH, SEMENTARA WANITA YANG DISEBUT TUNANGANNYA MENUDUHKU MENCURI UANG PERUSAHAAN DI DEPAN RATUSAN KARYAWAN.

Aku menatap namaku sendiri di layar besar, seolah-olah deretan huruf itu milik orang lain. Delapan puluh empat juta rupiah. Jumlah yang cukup besar untuk menghancurkan reputasi seseorang dalam hitungan detik.

“Bisa jelaskan, Nadira?” Vania mengulangi pertanyaannya. “Atau kamu ingin kami menganggap tuduhan ini benar?”

Ratusan pasang mata tertuju kepadaku. Beberapa orang berbisik, sementara yang lain mengeluarkan ponsel mereka. Aku bisa merasakan tanganku mulai dingin.

“Aku tidak pernah menerima uang itu untuk kepentingan pribadi,” jawabku akhirnya.

Vania mengangkat alis. “Tapi rekening penerimanya jelas atas namamu.”

“Kalau begitu, tunjukkan bukti lengkapnya. Tanggal transaksi, nomor rekening pengirim, dan dokumen persetujuannya.”

Senyum Vania sedikit memudar. Namun, hanya sesaat.

“Semua bukti sudah diperiksa oleh tim keuangan.”

Aku menoleh kepada Arga. Ia masih berdiri di dekat panggung, dengan wajah yang sulit kubaca.

“Pak Arga,” kataku, sengaja menggunakan panggilan formal yang selalu diwajibkannya di kantor. “Apakah Bapak mengetahui masalah ini sebelumnya?”

Ia mengangkat wajahnya.

“Nadira, sebaiknya kamu mengikuti proses pemeriksaan. Jangan memperkeruh suasana.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada tuduhan Vania.

Sebelas bulan lalu, di hadapan penghulu dan ayahku, Arga berjanji akan menjagaku. Kini, di hadapan seluruh rekan kerjaku, ia bahkan tidak bersedia mengatakan bahwa aku pantas mendapatkan kesempatan untuk membela diri.

Vania mengambil alih mikrofon.

“Mulai hari ini, Nadira dibebastugaskan sementara dari semua tanggung jawab pengadaan sampai penyelidikan selesai.”

“Siapa yang memberimu wewenang melakukan itu?” tanya seseorang dari barisan depan.

Suara itu milik Fajar.

Vania menatapnya tajam. “Ini urusan manajemen.”

“Kalau begitu, biarkan manajemen yang menjelaskan. Bukan seseorang yang bahkan tidak memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari tim keuangan.”

Suasana mendadak gaduh.

Vania tersenyum dingin. “Saya Vania Pramesti. Saya ditunjuk untuk mengawasi evaluasi keuangan perusahaan.”

“Ditunjuk oleh siapa?” Fajar bertanya lagi.

Kali ini, Vania tidak menjawab.

Aku melihat Arga memberi isyarat agar Fajar berhenti. Namun, sebelum ia sempat berbicara, aku melangkah menuju panggung.

“Tidak perlu membelaku, Fajar. Aku bisa menjelaskan sendiri.”

Aku mengambil mikrofon dari tangan Vania.

“Transfer ini terjadi pada tanggal berapa?”

“Dua minggu lalu,” jawabnya.

“Kalau begitu, mengapa saya baru mengetahuinya hari ini? Dan mengapa bukti yang ditampilkan hanya menunjukkan nama penerima tanpa keterangan transaksi?”

Vania berusaha merebut mikrofon, tetapi aku mundur selangkah.

“Selain itu, saya tidak memiliki akses untuk menyetujui pembayaran sebesar ini. Setiap pencairan dana pengadaan di atas lima puluh juta rupiah membutuhkan persetujuan direktur operasional.”

Aku menoleh kepada Arga.

“Benar, Pak?”

Wajahnya menegang.

“Prosedur perusahaan memang seperti itu.”

“Bagus. Berarti Bapak bisa membantu menjelaskan siapa yang menyetujui transaksi ini.”

Arga terdiam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di matanya.

Vania segera menyela. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Kami memiliki alasan kuat untuk menduga kamu terlibat.”

Aku mengembalikan mikrofon kepada pembawa acara, lalu berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.

“Saya bersedia diperiksa. Tetapi saya tidak akan mengakui kejahatan yang tidak saya lakukan.”

Setelah itu, aku meninggalkan aula.

Maya menyusulku sampai ke taman belakang resor. Begitu melihatnya, pertahanan yang susah payah kubangun runtuh begitu saja.

“Nad, apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku ingin menceritakan semuanya. Tentang pernikahan rahasia, janji yang terus ditunda, dan pria yang kini membiarkanku dipermalukan.

Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

“Aku tidak mengambil uang itu, May.”

Maya menggenggam tanganku.

“Aku percaya kamu.”

Hanya tiga kata. Tetapi saat itu, tiga kata tersebut terasa lebih berarti daripada semua janji yang pernah diberikan Arga kepadaku.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Jangan pulang ke kamar dulu. Periksa email kantor. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui sebelum mereka menghapusnya.

Pesan itu disertai sebuah foto layar komputer. Tampak laporan transaksi dengan kode pembayaran yang sama seperti yang ditampilkan Vania.

Aku segera membuka laptop.

Dengan koneksi internet resor yang lambat, aku masuk ke sistem pengadaan perusahaan. Akun milikku masih aktif, meskipun hak aksesnya baru saja dibatasi.

Aku mencari nomor transaksi tersebut.

Hasilnya membuat napasku tercekat.

Dana sebesar Rp84.000.000 memang masuk ke rekeningku. Namun, transaksi itu tercatat sebagai pengembalian biaya pengadaan yang sebelumnya kubayarkan menggunakan uang pribadi.

Tiga bulan lalu, perusahaan terlambat membayar vendor kemasan untuk pesanan besar. Atas permintaan Arga, aku menggunakan tabunganku sendiri agar pengiriman tidak tertunda. Ia berjanji uang itu akan dikembalikan setelah pencairan anggaran berikutnya.

Aku memiliki seluruh bukti pengeluaran, kuitansi, dan percakapan kami.

Tetapi laporan yang sedang dibuka itu menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Dana tersebut dicatat sebagai pembayaran fiktif kepada vendor, kemudian dipindahkan ke rekeningku. Persetujuan digitalnya menggunakan akun Arga.

Aku segera mengunduh seluruh dokumen yang masih bisa kuakses.

Tiba-tiba, layar laptop menampilkan peringatan bahwa akunku telah dinonaktifkan.

“Mereka tahu kamu sedang membuka laporan,” ujar Maya dengan wajah pucat.

Aku mengangguk.

Sebelum sempat menjawab, seseorang meneleponku.

Arga.

“Jangan melakukan apa pun lagi,” katanya begitu aku mengangkat telepon. “Serahkan semua dokumen kepada tim hukum perusahaan.”

“Kenapa akunmu yang menyetujui transfer itu?”

Hening beberapa detik.

“Itu bukan urusan yang bisa kamu pahami hanya dari laporan.”

“Uang itu adalah pengembalian uang pribadiku, Ga. Kamu tahu itu.”

“Jangan panggil aku begitu.”

Aku memejamkan mata.

Bahkan sekarang, ia masih lebih takut kehilangan kedudukannya daripada kehilangan diriku.

“Apakah kamu tahu Vania akan menuduhku?”

Arga tidak menjawab.

Keheningan itu sudah cukup.

“Selama ini kamu menyembunyikan pernikahan kita karena alasan bisnis, bukan?”

“Nadira, kita bicarakan nanti.”

“Tidak. Aku ingin tahu sekarang.”

Suaranya berubah keras.

“Kalau kamu menyebarkan masalah ini, kamu akan menghancurkan semuanya. Pikirkan baik-baik sebelum bertindak.”

Telepon terputus.

Malam itu, aku tidak kembali ke kamar. Maya menemaniku duduk di lobi sampai hampir tengah malam. Aku mengirim salinan bukti kepada alamat email pribadiku dan menyimpannya di penyimpanan daring.

Menjelang pukul satu, pesan dari nomor tidak dikenal kembali masuk.

Besok pukul sembilan, datanglah ke kantor pusat. Jangan beri tahu Arga.

Kali ini, pengirimnya mencantumkan nama.

Rendra Wiratama, komisaris utama PT Lentera Nusantara.

Keesokan paginya, aku tiba di Jakarta dengan penerbangan pertama. Rendra sudah menungguku di ruang rapat kecil bersama seorang auditor independen.

“Duduklah, Nadira,” katanya. “Kami sudah memeriksa transaksi itu.”

Aku meletakkan dokumen yang kubawa di atas meja.

“Kalau Bapak ingin tahu apakah saya mengambil uang perusahaan, jawabannya tidak.”

Rendra mengangguk.

“Kami tahu. Uang itu memang pengembalian dana yang kamu keluarkan. Namun, pencatatan fiktifnya digunakan untuk menutupi transaksi lain.”

Auditor membuka sebuah berkas.

Selama enam bulan terakhir, sejumlah pembayaran perusahaan dialihkan melalui vendor yang tidak pernah melakukan pengiriman barang. Total kerugiannya mencapai hampir empat miliar rupiah.

Nama perusahaan vendor itu tercatat atas nama seseorang yang memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Arga.

Aku membaca dokumen tersebut berulang kali.

“Jadi, mereka menggunakan pengembalian uang saya untuk menutupi penggelapan?”

“Benar,” jawab Rendra. “Dan ketika audit internal mulai mendekati transaksi tersebut, namamu dijadikan pihak yang bertanggung jawab.”

“Siapa yang merencanakannya?”

Rendra tidak langsung menjawab.

Pintu ruang rapat terbuka.

Arga masuk bersama Vania dan seorang pengacara. Wajah Vania yang kemarin penuh percaya diri kini tampak pucat.

Arga menatapku.

“Kamu tidak seharusnya berada di sini.”

Rendra menyilangkan tangan.

“Justru dia orang yang paling berhak berada di sini.”

Vania buru-buru berkata, “Pak Rendra, saya hanya menjalankan instruksi yang diberikan kepada saya.”

“Termasuk memalsukan laporan dan menuduh karyawan tanpa pemeriksaan?” tanya Rendra.

Vania menoleh kepada Arga.

“Bukankah Anda bilang semua ini sudah disetujui?”

Arga membentaknya, “Diam!”

Namun, semuanya sudah terlambat.

Rendra meletakkan satu dokumen di tengah meja.

“Kami memiliki rekaman rapat, riwayat persetujuan digital, dan percakapan yang menunjukkan bahwa kalian berdua merencanakan pengalihan tanggung jawab kepada Nadira.”

Aku menatap Arga dengan dada sesak.

“Kenapa?”

Ia mengusap wajahnya.

“Perusahaan sedang berada dalam tekanan. Ayahku menjanjikan investasi besar jika aku bisa menyelesaikan masalah keuangan sebelum akhir tahun. Vania membantu mengatur semuanya.”

“Dengan mencuri uang perusahaan?”

“Aku tidak pernah berniat membuatmu menderita.”

Aku tertawa kecil, tetapi air mataku jatuh juga.

“Kamu tahu aku bisa kehilangan pekerjaan, nama baik, bahkan kebebasanku. Tapi kamu tetap membiarkannya.”

Arga menunduk.

Lalu Rendra mengeluarkan sebuah dokumen lain.

“Masih ada satu hal yang perlu kamu ketahui. Sebelas bulan lalu, Arga melaporkan status perkawinannya kepada bagian kepatuhan perusahaan.”

Aku terdiam.

“Artinya?”

“Artinya, pernikahan kalian tidak pernah menjadi rahasia bagi seluruh manajemen. Arga hanya meminta agar informasi itu tidak diumumkan kepada karyawan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Jadi, selama ini kamu sengaja membuatku percaya bahwa semuanya hanya sementara?”

Arga tidak menjawab.

Rendra melanjutkan, “Ketika hubungan Arga dan Vania mulai dipertanyakan, ia menyebut pernikahan kalian sebagai kesalahan pribadi yang akan segera diselesaikan.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Bukan karena ia mencintaiku terlalu sedikit.

Melainkan karena sejak awal, ia sudah menyiapkan jalan keluar untuk meninggalkanku.

Aku berdiri dan melepaskan cincin kawin dari jariku. Kutaruh cincin itu di atas meja, tepat di samping laporan transaksi.

“Aku akan menyerahkan semua bukti kepada penyidik,” kataku. “Aku juga akan mengajukan gugatan cerai.”

Arga bangkit.

“Nadira, tunggu. Kita bisa memperbaiki semuanya.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Yang rusak bukan hanya pernikahan kita, Arga. Yang rusak adalah kepercayaanku bahwa kamu pernah menganggapku sebagai seseorang yang harus kamu lindungi.”

Dua bulan kemudian, penyelidikan resmi membuktikan bahwa aku tidak melakukan penggelapan. Arga dan Vania menghadapi proses hukum atas keterlibatan mereka dalam manipulasi keuangan perusahaan. PT Lentera Nusantara memulihkan nama baikku dan menawarkan jabatan baru di divisi pengawasan pengadaan.

Aku menerima pekerjaan itu, tetapi bukan karena ingin membalas dendam.

Aku menerimanya karena akhirnya aku mengerti bahwa kejujuran tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan tempat untuk berdiri.

Pada hari sidang perceraian kami, Arga menungguku di lorong pengadilan.

“Aku masih mencintaimu,” katanya lirih.

Aku menatap pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.

“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan membiarkanku berdiri sendirian di panggung itu.”

Aku melangkah pergi tanpa menoleh.

Di luar gedung, Maya sudah menungguku dengan dua gelas kopi.

“Sudah selesai?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya setelah sebelas bulan, aku bisa menarik napas tanpa merasa harus menyembunyikan sesuatu.

Ponselku bergetar. Sebuah email masuk dari bagian sumber daya manusia perusahaan.

Subjeknya berbunyi, Pengangkatan Direktur Kepatuhan dan Integritas.

Aku membukanya sambil tersenyum kecil.

Dulu, aku hanya ingin diakui sebagai istri seorang direktur. Kini, aku berdiri dengan namaku sendiri, tanpa perlu berlindung di balik nama siapa pun.

Dan aku akhirnya memahami satu hal.

Kehilangan seseorang yang tidak pernah berani membelamu bukanlah akhir dari hidupmu.

Terkadang, itu justru awal dari keberanian untuk menyelamatkan dirimu sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang