DI TENGAH API YANG MEMBAKAR TEMPAT KERJAKU, CALON SUAMIKU MENGUNCI PINTU DARI LUAR, SEMENTARA SEORANG PETUGAS PEMADAM MENEMUKAN RAHASIA YANG MENGHANCURKAN HIDUPKU

Aku ingin berteriak bahwa Dimas berbohong, tetapi tenggorokanku terasa terbakar. Setiap kali mencoba menarik napas panjang, dadaku seperti diremas dari dalam.

Petugas medis menyuruhku beristirahat, sementara dua polisi mulai meminta keterangan dari para saksi. Dimas tetap berdiri di samping ambulans, memasang wajah cemas yang begitu meyakinkan hingga beberapa warga menepuk bahunya.

“Yang sabar, Mas. Yang penting calon istri selamat,” kata seorang ibu.

Dimas mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Saya hampir kehilangan dia.”

Aku menatapnya dengan perasaan mual.

Hampir kehilangan aku? Bukankah dia sendiri yang mengunciku di dalam bangunan yang terbakar?

Raka, petugas pemadam yang menyelamatkanku, berdiri tidak jauh dari ambulans. Tatapannya bergantian mengamati Dimas dan pintu belakang bangunan yang kini dikelilingi garis polisi.

“Pak, saya ingin memberikan keterangan,” kataku kepada polisi.

Dimas langsung menoleh.

“Laras masih syok, Pak. Sebaiknya dia diperiksa dulu. Tadi dia sempat pingsan.”

“Aku bisa bicara sendiri,” jawabku.

Senyum Dimas menghilang sejenak sebelum kembali muncul.

Polisi itu mengangguk. “Baik. Nanti kami mengambil keteranganmu di rumah sakit.”

Ketika ambulans mulai bergerak, aku melihat Dimas mengangkat telepon dan berjalan menjauh. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kesedihan. Dia berbicara dengan seseorang sambil berkali-kali menoleh ke arah bangunan yang terbakar.

Aku tidak mendengar percakapannya, tetapi satu hal terasa semakin jelas. Kebakaran itu bukan kecelakaan biasa.

Di rumah sakit, dokter menyatakan aku mengalami keracunan asap dan harus menjalani observasi. Ibuku datang menjelang tengah malam bersama Mbak Mira. Begitu melihatku terbaring dengan selang oksigen, Ibu menangis sambil mencium tanganku.

“Ya Allah, Ras. Ibu kira kamu tidak akan pulang.”

Aku menggenggam tangannya.

“Maaf, Bu.”

“Jangan minta maaf. Kamu tidak salah hanya karena sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

Kalimat sederhana itu membuat air mataku mengalir. Aku belum menceritakan semuanya kepada Ibu. Kondisinya tidak cukup kuat untuk menerima kabar bahwa calon menantunya mungkin mencoba membunuhku.

Malam itu, Raka datang setelah menyelesaikan tugasnya di lokasi kebakaran. Dia membawa sebuah kantong plastik berisi barang-barang yang ditemukan petugas di dekat pintu belakang.

“Polisi sudah mengamankan lokasi,” katanya. “Saya datang karena ada sesuatu yang menurut saya perlu kamu ketahui.”

Dia mengeluarkan foto gembok yang menghitam terkena panas.

“Gembok ini terpasang dari luar. Rantai penguncinya masih utuh ketika tim kami tiba. Kami harus memotongnya untuk membuka pintu.”

Aku menahan napas.

“Berarti mereka tahu aku dikunci?”

“Polisi sudah memeriksa kondisi pintu. Tapi kami belum bisa menyimpulkan siapa yang memasangnya. Itu harus dibuktikan melalui penyelidikan.”

Aku mengangguk, lalu menceritakan bagaimana Dimas menutup pintu tepat ketika aku meminta pertolongan.

Raka mendengarkan tanpa menyela.

“Apakah kamu melihat dia membawa sesuatu sebelum kebakaran?” tanyanya.

Aku teringat dua kardus yang diletakkan di dekat gudang, juga bau menyengat dari salah satunya.

“Ada dua kardus. Bagian bawahnya basah. Setelah itu, listrik di belakang padam.”

Raka segera mencatat informasi tersebut.

“Kami menemukan beberapa wadah kimia di sekitar gudang. Petugas penyidik akan memeriksa apakah isinya berhubungan dengan sumber api. Jangan mencoba mendatangi lokasi sendiri, ya.”

Sebelum pergi, dia menatapku dengan serius.

“Dan satu lagi. Jangan menghadapi Dimas sendirian jika kamu merasa terancam.”

Aku mengangguk, meskipun sebagian diriku masih sulit menerima kenyataan bahwa lelaki yang hendak kunikahi bisa menjadi ancaman terbesar dalam hidupku.

Keesokan paginya, Dimas datang membawa bunga dan sekotak makanan.

Dia duduk di samping ranjang, lalu menggenggam tanganku seolah-olah tidak pernah menyakitiku.

“Ras, aku sudah bicara dengan polisi. Mereka akan menyelidiki penyebab kebakaran.”

“Bagus.”

“Ada satu hal yang perlu kita sepakati. Kamu harus bilang bahwa kamu melihat seseorang masuk ke gudang sebelum kebakaran. Mungkin ada pencuri.”

Aku menatapnya.

“Kenapa aku harus berbohong?”

Wajahnya mengeras.

“Karena kalau kamu mengatakan hal yang salah, perusahaan asuransi bisa menolak mengganti kerugian. Bu Wening akan kehilangan semuanya.”

Aku hampir tertawa mendengar alasannya.

“Bukankah kamu yang mengurus pembayaran dan administrasi usaha?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Dimas, aku melihatmu mengunci pintu.”

Dia mendekat dan merendahkan suaranya.

“Pikirkan ibumu. Biaya pengobatannya selama ini dibayar dari uang yang aku bantu urus. Kamu yakin ingin membuat masalah denganku?”

Aku merasa darahku mendidih, tetapi aku tidak menunjukkan ketakutan.

“Kalau kamu memang tidak melakukan apa-apa, kenapa harus mengancamku?”

Dimas terdiam. Kemudian dia berdiri, memasukkan kembali ponselnya ke saku, dan meninggalkan bunga di atas meja.

“Aku harap kamu berpikir lebih bijaksana sebelum terlambat.”

Setelah dia pergi, aku menelepon Bu Wening. Panggilanku tidak dijawab. Aku mencoba lagi beberapa kali hingga akhirnya beliau mengangkat telepon dengan suara lemah.

“Laras, kamu sudah sadar?”

“Iya, Bu. Ibu di mana?”

“Saya di rumah. Polisi meminta saya tidak meninggalkan Yogyakarta dulu.”

Aku menceritakan tentang Dimas dan gembok di pintu belakang.

Bu Wening lama tidak menjawab.

“Laras, ada sesuatu yang belum pernah Ibu ceritakan kepadamu,” katanya akhirnya. “Beberapa bulan terakhir, uang usaha sering tidak cocok dengan catatan pemasok. Dimas selalu mengatakan ada keterlambatan pembayaran. Ibu percaya karena dia yang mengurus semuanya.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa Ibu tidak memberi tahu saya?”

“Ibu takut kamu terluka. Ibu tahu kamu sangat mencintainya.”

Sebelum percakapan berakhir, Bu Wening memintaku memeriksa sebuah kotak dokumen yang kusimpan di lemari ruang kerja. Katanya, beberapa kuitansi asli dan salinan laporan pembayaran mungkin masih ada di sana.

Aku meminta Maya, sahabatku, mengambil dokumen tersebut setelah polisi mengizinkan kami memasuki bangunan yang aman.

Dua hari kemudian, Maya datang ke rumah sakit membawa sebuah map tebal dan laptop milik kantor.

Di antara kuitansi, kami menemukan tagihan pembelian bahan kimia dalam jumlah besar. Nama penerimanya adalah perusahaan pemasok yang tidak pernah bekerja sama dengan Rumah Jahit Puspa.

Namun, yang paling mengejutkan adalah tanda tangan persetujuan di bagian bawah.

Namaku.

Aku langsung mengenali tanda tangan itu. Bentuknya memang mirip, tetapi aku tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.

Maya membuka laptop dan menemukan beberapa surel yang tersimpan di folder arsip. Salah satunya berasal dari alamat email Dimas. Isinya berupa percakapan dengan seseorang yang membahas pembayaran asuransi bangunan dan rencana pengosongan gudang.

Ada kalimat yang membuat tanganku gemetar.

Setelah kebakaran, seluruh kerugian harus tercatat atas nama Laras. Dokumen persetujuan sudah disiapkan.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Jadi, Dimas bukan hanya ingin membungkamku. Dia telah menyiapkan cara untuk menjadikanku tersangka bahkan sebelum api menyala.

Maya segera menyerahkan salinan dokumen kepada penyidik. Polisi kemudian memeriksa rekaman kamera dari toko-toko di gang sekitar Rumah Jahit Puspa.

Tiga hari setelah kebakaran, mereka menemukan rekaman yang lebih jelas.

Pada pukul 19.36, Dimas terlihat keluar dari pintu belakang sambil membawa rantai dan gembok. Dia menutup pintu, menguncinya, lalu pergi menggunakan sepeda motor.

Beberapa menit kemudian, asap pertama terlihat dari celah ventilasi.

Rekaman itu tidak membuktikan dengan sendirinya siapa yang memulai kebakaran, tetapi cukup kuat untuk membantah cerita Dimas bahwa dia telah berusaha menyelamatkanku.

Polisi memanggilnya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Saat itulah kejutan lain muncul.

Raka menghubungiku dan mengatakan bahwa penyidik telah menemukan bukti pembelian bahan mudah terbakar melalui perusahaan fiktif yang berkaitan dengan salah satu pemasok Dimas. Mereka juga menemukan transaksi yang menunjukkan sebagian uang usaha dialihkan ke rekening pribadi.

Aku terdiam ketika mendengarnya.

Selama ini, aku mengira Dimas hanya berubah karena tekanan menjelang pernikahan. Ternyata, di balik sikap dinginnya, dia sedang menutupi sesuatu yang jauh lebih besar.

Namun, ada satu hal yang belum terjawab.

Mengapa dia begitu yakin aku akan diam?

Jawabannya datang dari Ibu.

Saat aku pulang dari rumah sakit, Ibu memberiku sebuah amplop yang ditemukan di antara dokumen lama milik ayah.

Di dalamnya ada surat perjanjian pinjaman atas nama Dimas. Ayah pernah meminjamkan sejumlah uang kepadanya ketika usaha konveksi hampir bangkrut. Sebagai jaminan, Dimas menyerahkan dokumen kepemilikan sebidang tanah milik keluarganya.

Tetapi di balik surat itu terdapat salinan perjanjian lain yang lebih baru.

Dimas telah menggunakan dokumen tanah milik Bu Wening sebagai jaminan pinjaman tanpa sepengetahuan beliau. Jika utang tidak dibayar, Rumah Jahit Puspa berisiko kehilangan tempat usahanya.

Kini aku mengerti mengapa Dimas ingin gudang itu terbakar. Dia berharap kerusakan bangunan dan dokumen dapat menutupi transaksi yang selama ini disembunyikannya.

Namun, dia tidak memperhitungkan satu hal.

Bu Wening menyimpan salinan dokumen penting di tempat lain, dan aku masih hidup untuk menceritakan apa yang kulihat.

Beberapa minggu kemudian, polisi menetapkan Dimas sebagai tersangka dalam perkara yang berkaitan dengan manipulasi dokumen, penggelapan dana, dan dugaan kesengajaan yang menyebabkan kebakaran. Penyebab pasti kebakaran tetap diperiksa melalui bukti forensik, tetapi rekaman pintu terkunci dan dokumen keuangan menjadi bagian penting penyelidikan.

Dimas mengirimiku pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Aku melakukan semua ini demi masa depan kita. Kalau kamu mencabut keteranganmu, kita masih bisa menikah.

Aku membaca pesan itu sampai selesai, lalu menghapusnya.

Aku tidak lagi ingin menikahi lelaki yang menganggap nyawaku sebagai harga yang pantas dibayar untuk menyelamatkan dirinya.

Tiga bulan kemudian, Rumah Jahit Puspa mulai beroperasi kembali di tempat yang lebih kecil. Para pekerja kembali menjahit seragam sekolah, membuat kebaya, dan menerima pesanan dari pelanggan lama.

Sasa datang bersama ibunya pada hari pembukaan sederhana itu. Anak itu memelukku erat.

“Tante Laras, nanti kalau Tante menikah, aku masih boleh jadi pembawa bunga?”

Aku berlutut di hadapannya dan tersenyum.

“Tentu boleh, Sayang. Tapi Tante belum tahu kapan akan menikah.”

“Kalau begitu, Tante menikah dengan orang baik saja.”

Aku tertawa, lalu memeluknya.

Di seberang jalan, Raka sedang membantu beberapa relawan mengangkat mesin jahit yang baru disumbangkan. Setelah selesai, dia menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Ini bukan cincin,” katanya cepat ketika melihatku terkejut. “Hanya gantungan kunci. Saya pikir kamu perlu sesuatu untuk mengingat bahwa kamu sudah melewati masa sulit.”

Aku membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat gantungan kunci berbentuk pintu kecil, dengan tulisan sederhana: Selalu ada jalan keluar.

Mataku terasa panas.

Aku belum siap memulai hubungan baru. Raka pun tidak pernah memintaku melupakan apa yang telah terjadi. Dia hanya berdiri di sampingku ketika aku membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa cinta bukan tentang janji besar atau cincin mahal. Cinta terlihat dari tindakan seseorang ketika kita tidak bisa memberikan apa pun sebagai balasannya.

Pada hari kebakaran, Dimas mengunci pintu karena mengira dia bisa mengendalikan ceritaku setelah aku mati.

Dia salah.

Aku selamat, bukan hanya dari api yang melahap tempat kerjaku, tetapi juga dari kehidupan yang hampir kujalani bersama orang yang tidak pernah benar-benar kukenal.

Dan ketika aku memutar gantungan kunci itu di telapak tangan, aku menyadari bahwa pintu paling penting yang berhasil kubuka malam itu bukanlah pintu gudang.

Melainkan pintu menuju hidupku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang