Aku mundur perlahan dari ranjang besi itu. Jantungku berdegup kencang, sementara telapak tanganku mulai berkeringat. Kain putih bernoda kehitaman yang menggantung di kepala ranjang terus terbayang di benakku.
Aku ingin segera keluar dari kamar itu, tetapi sebelum sempat berbalik, terdengar suara langkah kaki dari lorong.
Tok… tok… tok…
Aku membeku.
Suara itu terdengar seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki. Langkahnya pelan, tetapi semakin mendekat ke arah kamar tempatku berdiri.
“Mas Halid?” panggilku lirih.
Tidak ada jawaban.
Aku segera keluar dan menutup pintu kamar. Saat hendak menguncinya, mataku menangkap sesuatu di ujung lorong. Sebuah bayangan perempuan berbaju putih berdiri membelakangiku di dekat balkon.

Rambutnya panjang menjuntai hingga pinggang.
“Mbak?” panggilku lagi, kali ini dengan suara bergetar.
Perempuan itu tidak bergerak.
Aku berkedip beberapa kali. Ketika kubuka mata kembali, sosok itu sudah menghilang.
Astaghfirullah.
Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuruni tangga. Aku tidak peduli lagi dengan debu yang belum selesai kubersihkan. Begitu sampai di lantai bawah, aku langsung mengunci pintu menuju tangga dan duduk di ruang tamu sambil membaca doa.
Mungkin aku terlalu lelah. Mungkin pikiranku masih terbebani masalah utang yang belum selesai. Aku mencoba mencari alasan masuk akal agar tidak semakin ketakutan.
Namun, beberapa menit kemudian, terdengar suara perempuan bersenandung dari lantai dua.
Suaranya lembut, mendayu-dayu, seperti sinden yang sedang melantunkan tembang Jawa.
Aku menutup telinga.
Suara itu justru terdengar semakin jelas.
Anehnya, aku tidak mengerti bahasa yang dinyanyikannya. Hanya satu kalimat yang terdengar berulang-ulang.
“Bocahku… endi bocahku…”
Anakku… di mana anakku…
Bulu kudukku berdiri.
Aku dan Mas Halid belum mempunyai anak. Jadi, mengapa suara itu terdengar seolah-olah seseorang sedang mencari buah hatinya?
Aku meraih ponsel dan segera menelepon suamiku. Sayangnya, panggilan itu tidak tersambung. Sinyal di kawasan perkebunan memang buruk, tetapi kali ini aku merasa benar-benar terisolasi.
Tiba-tiba, suara senandung itu berhenti.
Digantikan oleh suara ketukan dari pintu depan.
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Mbak, buka pintunya!”
Suara seorang laki-laki terdengar dari luar.
Aku mengintip melalui jendela. Ternyata salah seorang pekerja yang tadi pulang, Pak Samin, berdiri di depan pagar dengan wajah pucat.
Aku segera membukakan pintu.
“Kenapa, Pak? Bapak lupa sesuatu?”
Pak Samin menatapku dengan gelisah. Pandangannya beralih ke arah lantai dua.
“Mbak sendirian di rumah?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
Ia menelan ludah sebelum menjawab.
“Kalau mendengar suara perempuan dari atas, jangan pernah menjawab. Apa pun yang terjadi, jangan naik ke sana setelah Magrib.”
Aku terdiam.
“Bapak tahu sesuatu tentang rumah ini?”
Pak Samin tidak langsung menjawab. Ia justru bertanya, “Mbak sudah masuk ke kamar paling ujung sebelah kanan?”
Darahku terasa seperti berhenti mengalir.
“Sudah. Tapi kenapa, Pak?”
Wajahnya semakin pucat.
“Ya Allah… berarti sekarang dia sudah mulai memperlihatkan dirinya kepada Mbak.”
Aku mencengkeram kusen pintu.
“Siapa yang Bapak maksud?”
Pak Samin menundukkan kepala. Sebelum sempat menjelaskan, suara sepeda motor terdengar dari jalan perkebunan. Mas Halid dan Mas Budi akhirnya pulang.
Melihat kedatangan mereka, Pak Samin segera berpamitan. Namun, sebelum pergi, ia berbisik kepadaku.
“Kalau ingin selamat, jangan percaya semua yang dikatakan Pak Hamdan.”
Setelah itu, ia bergegas pergi tanpa menoleh lagi.
Aku berdiri terpaku sampai Mas Halid menghampiriku.
“Kenapa, Sayang? Mukamu pucat sekali.”
Aku menceritakan semua yang terjadi, mulai dari kain bernoda darah hingga suara perempuan di lantai dua. Mas Halid mendengarkan dengan wajah serius, tetapi ketika kusebut nama Pak Hamdan, ekspresinya berubah.
“Sudahlah. Kamu pasti kecapekan. Jangan membuat cerita yang aneh-aneh.”
“Tapi Mas, Pak Samin tadi bilang jangan percaya Pak Hamdan.”
Mas Halid terdiam sejenak.
“Dia bilang begitu?”
Aku mengangguk.
Mas Halid menghela napas, lalu mengusap wajahnya.
“Besok kita tanyakan langsung kepada Pak Hamdan. Sekarang kamu istirahat saja.”
Malam itu, aku berusaha tidur dengan memeluk bantal. Mas Halid masih sibuk mengurus beberapa dokumen pekerjaan di ruang tengah.
Sekitar pukul sebelas malam, aku terbangun karena mendengar suara sinden dari lantai atas.
Kali ini, suaranya tidak lagi mendayu-dayu.
Ia menangis.
Tangisan itu begitu memilukan, seolah-olah seorang ibu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Aku hendak membangunkan Mas Halid, tetapi tempat di sebelahku kosong.
Kucari dia ke ruang tengah. Tidak ada.
Pintu belakang ternyata sedikit terbuka.
Aku melangkah mendekat dan melihat cahaya senter bergerak di taman samping rumah. Mas Halid berdiri di dekat kolam ikan bersama seseorang.
Orang itu adalah Pak Hamdan.
Aku hampir memanggil suamiku, tetapi percakapan mereka membuatku mengurungkan niat.
“Perempuan itu sudah masuk ke kamar atas,” kata Mas Halid dengan suara pelan.
Pak Hamdan menjawab dingin, “Bagus. Berarti semuanya mulai berjalan sesuai rencana.”
Tubuhku mendadak lemas.
“Lalu bagaimana dengan suara itu?” tanya Mas Halid.
“Biarkan saja. Besok malam, kita selesaikan semuanya.”
Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara. Selama ini, aku mengira Mas Halid adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya. Mendengar percakapan itu membuat pikiranku kacau.
Aku mundur perlahan, tetapi kakiku menyenggol sebuah pot kecil.
Prang!
Suara pecahan itu memecah keheningan.
Mas Halid langsung menoleh.
“Siapa di sana?”
Aku berlari kembali ke kamar dan berpura-pura tidur. Beberapa menit kemudian, Mas Halid masuk.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangku cukup lama.
“Kamu belum tidur?”
Aku tidak menjawab.
Tangannya menyentuh bahuku. Sentuhan yang biasanya membuatku tenang kini justru membuatku takut.
“Besok jangan pergi ke mana-mana, ya. Ada sesuatu yang harus kita selesaikan.”
Aku memejamkan mata rapat-rapat.
Pagi harinya, aku berpura-pura tidak mengetahui apa pun. Mas Halid berangkat bersama Mas Budi untuk memeriksa kebun, sementara aku memutuskan mencari tahu sejarah rumah itu.
Aku teringat Bu RT yang kutemui kemarin.
Dengan alasan membeli kebutuhan dapur, aku berjalan ke rumahnya. Awalnya ia tampak terkejut melihat kedatanganku. Namun, setelah mendengar ceritaku, wajahnya berubah muram.
“Jadi, akhirnya ada orang yang tinggal di sana lagi,” gumamnya.
“Bu, sebenarnya siapa perempuan yang menghuni rumah itu?”
Bu RT memandangku lama sebelum menjawab.
“Sepuluh tahun lalu, rumah itu milik keluarga Pak Wiratama. Mereka punya seorang istri bernama Raras dan seorang anak perempuan berusia lima tahun, namanya Sekar.”
Aku menyimak tanpa berkedip.
“Suatu malam, terjadi kebakaran kecil di lantai dua. Setelah kejadian itu, Raras menghilang. Sekar ditemukan meninggal dunia di rumah sakit beberapa hari kemudian. Sejak saat itu, Pak Wiratama menjual sebagian asetnya dan rumah itu dibiarkan kosong.”
“Lalu, apa hubungannya dengan Pak Hamdan?”
Bu RT menarik napas panjang.
“Pak Hamdan dahulu mengurus perkebunan milik keluarga itu. Banyak orang menduga ada sesuatu yang disembunyikannya, tetapi tidak ada yang berani bicara.”
Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Di rumah, aku kembali naik ke lantai dua saat siang hari. Kali ini, aku memberanikan diri memeriksa kamar dengan ranjang besi. Di bawah kasur, kutemukan sebuah kotak kayu kecil yang tertutup debu.
Di dalamnya terdapat beberapa foto lama, surat, dan sebuah buku harian.
Foto pertama memperlihatkan seorang perempuan berwajah lembut menggendong anak perempuan kecil. Di belakang mereka berdiri Pak Hamdan yang jauh lebih muda.
Aku membuka buku harian itu dengan tangan gemetar.
Tulisan terakhirnya bertanggal sepuluh tahun lalu.
Jika sesuatu terjadi kepadaku, jangan percaya Hamdan. Dia ingin mengambil semua milik suamiku. Sekar mengetahui rahasianya. Aku takut dia akan menyakiti anakku.
Aku membalik halaman berikutnya. Ada sebuah surat yang belum sempat dikirim.
Di sana tertulis bahwa Raras berencana melaporkan pemalsuan dokumen tanah perkebunan yang diduga dilakukan Pak Hamdan.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu utama dibanting.
Aku berlari turun sambil membawa buku harian itu.
Mas Halid berdiri di ruang tamu bersama Pak Hamdan.
Tatapan suamiku langsung tertuju pada benda di tanganku.
“Kamu menemukan buku itu?” tanyanya.
Aku mundur selangkah.
“Mas, apa sebenarnya yang terjadi di rumah ini?”
Pak Hamdan tersenyum tipis.
“Berikan buku itu kepadaku.”
“Tidak!”
Aku berlari menuju pintu belakang, tetapi Mas Halid lebih cepat menghalangi jalanku.
“Dengar dulu, Sayang,” katanya. “Aku bisa menjelaskan semuanya.”
“Menjelaskan apa? Kamu bekerja sama dengan orang yang mungkin mencelakai keluarga pemilik rumah ini?”
Wajah Mas Halid menegang.
Pak Hamdan mengeluarkan selembar dokumen dari tasnya.
“Kamu tahu utang suamimu belum lunas, bukan? Aku yang menanggung sebagian kewajibannya. Sebagai gantinya, dia hanya perlu membantuku mengambil dokumen yang tersisa di rumah ini.”
Aku menatap Mas Halid tidak percaya.
“Jadi, pekerjaan ini… rumah ini… semuanya sudah direncanakan?”
Mas Halid menunduk.
“Aku terdesak. Aku tidak tahu cara lain untuk menyelamatkan kita.”
Air mataku mengalir. Aku tidak menyangka orang yang kuajak berjuang selama ini tega menyembunyikan hal sebesar itu.
Namun, sebelum Pak Hamdan sempat merebut buku harian dari tanganku, terdengar suara langkah kaki dari tangga.
Seorang perempuan berbaju putih berdiri di sana.
Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Di sampingnya berdiri seorang anak perempuan kecil yang menggenggam boneka lusuh.
Pak Hamdan mendadak kehilangan warna wajahnya.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Perempuan itu mengangkat wajah.
“Hamdan, sepuluh tahun kau berbohong. Sekarang, kebenarannya akan diketahui semua orang.”
Lampu rumah berkedip-kedip. Dari luar terdengar suara beberapa orang berlari memasuki halaman.
Ternyata Pak Samin telah membawa warga dan polisi setelah mengetahui aku berada dalam bahaya. Mereka datang untuk menyelidiki laporan mengenai dugaan pemalsuan dokumen perkebunan yang selama ini dicurigai warga.
Dalam kekacauan itu, Pak Hamdan mencoba melarikan diri, tetapi berhasil ditahan. Dokumen yang dibawanya dan buku harian Raras menjadi petunjuk penting bagi penyelidikan.
Mas Halid berdiri terpaku. Ia akhirnya mengakui keterlibatannya membantu Pak Hamdan, meskipun ia bersikeras tidak mengetahui seluruh kejahatan yang dilakukan lelaki itu.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan mengungkap bahwa Raras pernah melaporkan ancaman sebelum menghilang. Nasibnya masih menyisakan banyak pertanyaan, tetapi catatan lama membantu penyidik menemukan bukti kejahatan yang selama ini disembunyikan.
Sementara itu, aku dan Mas Halid harus menghadapi akibat dari keputusan kami sendiri. Kami berpisah sementara agar aku bisa menenangkan diri dan menentukan masa depanku tanpa tekanan.
Sebelum meninggalkan rumah untuk terakhir kalinya, aku naik ke lantai dua.
Kamar itu sudah kosong. Ranjang besi telah dipindahkan, dan jendela yang lama tertutup kini terbuka lebar.
Di atas meja, kutemukan sebuah foto kecil yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Foto Raras dan Sekar sedang tersenyum di taman rumah itu.
Di belakangnya tertulis sebuah kalimat.
Terima kasih sudah berani mencari kebenaran.
Aku menahan napas. Saat mengangkat kepala, kulihat dua sosok berdiri di balkon, seorang perempuan dan anak kecil yang menggenggam boneka.
Sekar melambaikan tangan kepadaku.
Lalu keduanya perlahan menghilang bersama cahaya matahari pagi.
Aku tidak tahu apakah yang kulihat benar-benar arwah mereka atau sekadar bayangan yang ditinggalkan masa lalu. Namun, satu hal kupahami.
Rumah mewah itu tidak pernah benar-benar kosong. Selama sepuluh tahun, ada kebenaran yang terkunci di dalamnya, menunggu seseorang cukup berani untuk membukanya.
Dan terkadang, suara paling menakutkan bukanlah suara dari dunia lain, melainkan kebohongan orang yang selama ini kita percaya.
