Sekali Lagi, Ibu Mertuaku Menempelkan Pisau di Leher dan Mengancam Lu Licheng Agar Memilih Dirinya. Kali Ini Aku Hanya Menunduk, Diam Tanpa Mengucapkan Sepatah Kata Pun.

Aku terbangun ketika suara notifikasi ponsel Lu Licheng kembali terdengar. Layar ponsel itu menyala sebentar, menampilkan nama Su Yingyue dan sebuah pesan baru.

“Besok kita harus bertemu. Ada sesuatu yang perlu Kakak ketahui sebelum semuanya terlambat.”

Aku menatap suamiku yang masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada rahasia yang disembunyikannya. Dulu, wajah seperti itu selalu membuatku merasa aman. Sekarang, aku justru bertanya-tanya berapa banyak kebohongan yang tersembunyi di baliknya.

Aku tidak membangunkannya. Aku memotret bukti transfer sebesar Rp48 juta, lalu mengembalikan ponselnya ke tempat semula.

Kali ini, aku tidak akan bertindak gegabah.

Keesokan paginya, Lu Licheng berangkat kerja dengan alasan harus menyelesaikan beberapa urusan perusahaan. Sebelum pergi, dia sempat berpesan agar aku menjaga ibunya dan tidak membicarakan rencana pindah lagi.

Aku mengangguk patuh.

Begitu pintu tertutup, aku menghubungi seorang teman lama yang bekerja di bidang keuangan. Namanya Chen Xiaoyu. Kami pernah bekerja bersama di perusahaan asuransi sebelum aku menikah.

Aku hanya mengirimkan foto bukti transfer dan bertanya apakah dia bisa membantuku memahami kemungkinan transaksi tersebut.

Balasannya datang tidak sampai sepuluh menit kemudian.

“Qingwei, dari mana kamu mendapatkan ini? Nominalnya besar. Jangan mengambil keputusan sebelum mengetahui siapa pemilik rekening penerima dan tujuan pembayarannya.”

Aku menjawab singkat bahwa aku sedang memeriksa sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan suamiku.

Siang harinya, aku berpura-pura pergi membeli bahan makanan. Sebenarnya, aku menemui Su Yingyue di sebuah kafe dekat pusat kota.

Dia datang mengenakan gaun krem, membawa tas bermerek yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Ketika melihatku, senyumnya sempat membeku, tetapi dia segera kembali bersikap ramah.

“Kak Qingwei, kenapa tiba-tiba mengajakku bertemu?”

Aku duduk di hadapannya.

“Aku ingin bertanya tentang Licheng.”

Jari-jarinya yang memegang cangkir kopi berhenti bergerak.

“Bukankah Kakak bisa bertanya langsung kepadanya?”

“Bisa. Tapi aku ingin mendengar penjelasanmu terlebih dahulu.”

Aku mengeluarkan ponsel, membuka foto bukti transfer, lalu meletakkannya di atas meja.

Senyum Su Yingyue lenyap.

“Dari mana Kakak mendapatkan foto itu?”

“Jadi, uang ini memang ada hubungannya denganmu?”

Dia segera meraih ponselku, tetapi aku menariknya kembali.

“Jangan salah paham. Ini urusan pribadi Kak Licheng dan aku.”

“Kalau begitu, mengapa kamu menerima Rp48 juta darinya?”

Wajahnya memucat. Selama beberapa detik, dia tidak menjawab.

Kemudian dia mengembuskan napas panjang.

“Kak Qingwei, aku tidak ingin merusak rumah tangga kalian. Tapi Kak Licheng bilang uang itu untuk mengurus kepindahan dan membantu seseorang mendapatkan pekerjaan.”

“Seseorang?”

Dia menunduk.

“Aku.”

Aku sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres, tetapi jawabannya tetap membuatku terdiam.

Su Yingyue menjelaskan bahwa Lu Licheng telah menjanjikannya sebuah posisi di perusahaan besar di kota tujuan. Dia mengatakan bahwa mereka membutuhkan sejumlah uang untuk mengurus tempat tinggal, biaya awal, dan beberapa kebutuhan lain.

Namun, ketika kutanya mengapa uang itu harus dikirim ke rekeningnya, dia mulai gelisah.

“Aku hanya mengikuti permintaannya. Katanya, kalau uang itu masuk melalui rekeningku, urusannya akan lebih mudah.”

“Lebih mudah untuk siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku menatapnya lekat-lekat.

“Yingyue, dulu aku membantumu karena menganggapmu seperti adikku sendiri. Aku tidak akan memaksamu mengaku. Tapi pikirkan baik-baik, apakah orang yang meminta bantuanmu sekarang benar-benar sedang membantumu?”

Wajahnya berubah. Ada rasa takut yang tidak bisa lagi disembunyikannya.

Sebelum aku pergi, dia tiba-tiba menarik lenganku.

“Kak Qingwei, ada satu hal lagi yang harus Kakak tahu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya di sini.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Kalau kamu ingin mengatakan sesuatu, katakan ketika kamu siap bertanggung jawab atas perkataanmu.”

Aku meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi.

Sore itu, ketika aku kembali ke rumah, ibu mertua sedang duduk di ruang tamu. Begitu mendengar langkahku, dia langsung bertanya dengan nada tajam.

“Dari mana saja kamu? Licheng menelepon dan bilang kamu keluar tanpa memberitahunya.”

Aku meletakkan kantong belanja di meja.

“Aku menemui teman lama.”

“Teman lama? Jangan-jangan kamu sedang mencari alasan untuk meninggalkan anakku!”

Aku tidak membantah.

Sikap diamku justru membuatnya semakin marah.

“Kenapa tidak menjawab? Kamu memang sudah tidak menghormati keluarga ini!”

Dulu, aku akan menjelaskan panjang lebar. Aku akan berusaha membuatnya mengerti bahwa aku tidak berniat merebut anaknya.

Sekarang aku hanya berkata, “Kalau Ibu merasa aku salah, Ibu boleh menanyakannya langsung kepada Licheng.”

Dia tertegun.

Barangkali sepanjang hidupnya, belum pernah ada orang yang mengembalikan tanggung jawab kepadanya sesederhana itu.

Malamnya, Lu Licheng pulang dengan wajah muram. Dia langsung menarikku ke kamar begitu ibunya masuk ke dapur.

“Kamu menemui Yingyue?”

Aku menatapnya tenang.

“Dia yang memberitahumu?”

“Jawab saja!”

“Benar.”

Dia mengusap wajahnya dengan kasar.

“Qingwei, kenapa kamu selalu membuat masalah menjadi rumit? Uang itu urusan pekerjaan. Kamu tidak perlu ikut campur.”

“Kalau memang urusan pekerjaan, mengapa kamu menyembunyikannya dariku?”

“Karena kamu pasti akan salah paham!”

Aku hampir tertawa mendengar alasan itu. Rupanya, kebohongan bisa berubah menjadi pembenaran hanya dengan menyalahkan orang yang menemukannya.

Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan pesan yang sempat kupotret.

Wajah Lu Licheng langsung berubah.

“Kamu membuka ponselku?”

“Pesanmu muncul di layar.”

Dia terdiam sesaat, lalu merebut ponselku dan meletakkannya di meja.

“Dengarkan aku. Aku melakukan semua ini demi masa depan kita. Kalau kita tetap tinggal di sini, apa yang bisa kita dapatkan?”

“Lalu mengapa kamu harus melibatkan Yingyue?”

“Dia punya koneksi. Dia bisa membantu kita mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”

“Kalau begitu, mengapa hanya namanya yang tercantum dalam rencana itu?”

Lu Licheng tidak menjawab.

Aku melanjutkan, “Dan mengapa kamu menulis bahwa setelah berhasil pergi, kalian akan menjalankan rencana selanjutnya?”

Dia menatapku dengan kemarahan yang bercampur panik.

“Kamu tidak mengerti apa-apa!”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada penjelasan yang keluar.

Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan kamar dan membanting pintu.

Aku duduk sendirian. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mengejar atau menenangkannya.

Keesokan harinya, Chen Xiaoyu menghubungiku kembali. Dia tidak bisa memastikan tujuan transfer itu hanya dari sebuah foto, tetapi dia menyarankan agar aku menyimpan bukti dan memeriksa dokumen apa pun yang berkaitan dengan uang tersebut.

Aku menyetujuinya.

Aku juga mulai menghubungi perusahaan-perusahaan di kota besar. Dengan pengalaman lamaku di bidang penjualan asuransi, ternyata masih ada peluang yang bisa kuperjuangkan sendiri.

Satu minggu kemudian, Lu Licheng pulang membawa sebuah dokumen.

“Qingwei, tanda tangani ini.”

Aku memeriksa halaman pertama. Itu adalah surat persetujuan pinjaman atas namaku.

Aku mengangkat kepala.

“Untuk apa?”

“Dana awal kepindahan. Pengajuannya akan lebih mudah menggunakan identitasmu.”

“Berapa jumlahnya?”

“Seratus delapan puluh juta rupiah.”

Aku menutup dokumen itu.

“Tidak.”

Wajahnya mengeras.

“Ini demi keluarga kita!”

“Kalau begitu, ajukan atas namamu sendiri.”

“Bank tidak akan menyetujuinya secepat itu!”

“Kalau begitu, tunggu sampai disetujui.”

Dia meraih dokumen itu dengan kasar.

“Kamu sengaja menghambat masa depanku!”

Aku menatapnya tanpa gentar.

“Bukan aku yang menghambatmu, Licheng. Aku hanya tidak bersedia menanggung utang yang bahkan tidak berani kamu jelaskan.”

Dia pergi dengan wajah gelap.

Malam itu, aku menerima telepon dari nomor tak dikenal.

Suara seorang perempuan terdengar gugup di seberang.

“Apakah ini Lin Qingwei? Saya bekerja di bagian administrasi perusahaan yang akan menerima Lu Licheng.”

Aku segera duduk tegak.

“Ada apa?”

“Maaf, saya seharusnya tidak ikut campur. Tapi nama suami Anda tercantum dalam dokumen pengajuan posisi manajer. Ada sesuatu yang tidak cocok.”

Jantungku berdegup kencang.

Perempuan itu menjelaskan bahwa posisi yang dijanjikan kepada Lu Licheng sebenarnya belum tersedia. Perusahaan tersebut sedang menyelidiki dugaan pemalsuan dokumen dan pembayaran tidak resmi yang melibatkan seorang perekrut.

Nama Su Yingyue juga tercantum dalam berkas pemeriksaan.

Namun, yang paling mengejutkan adalah keterangan mengenai Rp48 juta itu.

Uang tersebut bukan biaya pindah.

Dana itu diduga merupakan pembayaran awal untuk mengurus sebuah kontrak yang menggunakan identitas orang lain.

Dan nama yang tercantum dalam kontrak itu adalah namaku.

Aku tidak pernah mengajukan pekerjaan tersebut. Aku juga tidak pernah menyetujui penggunaan identitasku.

Setelah telepon berakhir, aku duduk lama dalam keheningan.

Kini aku mengerti mengapa Lu Licheng begitu mendesakku untuk pindah. Dia bukan sekadar mengejar karier. Dia membutuhkan kehadiranku untuk membuat rencananya terlihat seperti keputusan keluarga yang sah.

Aku segera mengumpulkan dokumen pribadi dan bukti yang kumiliki, lalu mencari bantuan profesional untuk memastikan identitasku tidak digunakan tanpa izin.

Keesokan paginya, aku mendatangi Lu Licheng.

“Batalkan semua pengajuan yang menggunakan namaku.”

Dia membeku.

“Siapa yang memberitahumu?”

“Jadi, memang benar?”

Dia tidak menjawab.

Aku meletakkan salinan dokumen di hadapannya.

“Kalau kamu tidak menjelaskan semuanya, aku akan menyerahkan bukti ini kepada pihak yang berwenang.”

Untuk pertama kalinya, dia terlihat benar-benar takut.

Namun, sebelum dia sempat berbicara, pintu rumah terbuka.

Su Yingyue berdiri di sana dengan mata sembap. Di tangannya ada sebuah map tebal.

Dia menatap Lu Licheng, lalu menatapku.

“Kak Qingwei, aku datang untuk mengakui semuanya.”

Lu Licheng langsung berdiri.

“Yingyue, jangan bicara sembarangan!”

Dia mundur selangkah, menggenggam map itu erat-erat.

“Cukup, Licheng. Kamu bilang semuanya akan baik-baik saja. Kamu bilang Qingwei akan menandatangani dokumen itu setelah kita pindah.”

Aku merasakan darahku seolah berhenti mengalir.

Su Yingyue membuka map tersebut dan mengeluarkan satu lembar surat.

Di bagian bawahnya terdapat tanda tangan yang sangat kukenal.

Tanda tanganku sendiri.

Namun, aku tidak pernah menandatanganinya.

Lu Licheng menatapku dengan wajah pucat. Ibu mertuaku yang baru keluar dari kamar ikut mendekat, kebingungan melihat kami.

Su Yingyue menahan tangis.

“Aku menerima uang itu karena dia mengatakan bahwa ini satu-satunya cara agar kami bisa pergi bersama. Tapi aku baru tahu kemarin bahwa kontrak tersebut menggunakan nama Kak Qingwei untuk menanggung seluruh kewajiban jika rencana ini gagal.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku mengambil surat itu dan membacanya sekali lagi.

Di bawah tanda tanganku, tercantum satu kalimat yang membuat seluruh kebohongan Lu Licheng terbuka.

Jika terjadi pelanggaran atau kerugian, Lin Qingwei akan menjadi pihak yang bertanggung jawab.

Aku mengangkat wajah.

“Jadi, selama ini kamu tidak sedang membangun masa depan kita.”

Lu Licheng menggeleng cepat.

“Qingwei, dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Tidak perlu.”

Aku mengambil ponsel, memotret dokumen itu, lalu menyimpannya bersama bukti transfer dan pesan-pesan yang telah kukumpulkan.

Ibu mertuaku memandang anaknya dengan mata membelalak.

“Licheng, apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

Untuk pertama kalinya, dia tidak menoleh kepadaku untuk mencari seseorang yang bisa disalahkan.

Lu Licheng berdiri di tengah ruangan, kehilangan kata-kata yang biasanya begitu mudah digunakannya untuk mengendalikan semua orang.

Aku berjalan menuju pintu.

“Qingwei, kamu mau ke mana?” serunya.

Aku berhenti sebentar.

“Ke tempat di mana aku tidak harus membayar harga untuk kebohongan orang lain.”

Aku meninggalkan rumah itu hari itu juga dan tinggal sementara bersama Chen Xiaoyu. Dengan bantuan yang tepat, aku mulai mengurus persoalan penggunaan identitasku serta mengamankan dokumen keuanganku.

Beberapa hari kemudian, Lu Licheng menelepon berkali-kali. Aku tidak menjawab sampai sebuah pesan masuk.

“Ibu jatuh sakit. Pulanglah. Keluarga ini membutuhkanmu.”

Aku menatap pesan itu lama.

Dulu, kalimat semacam itu akan membuatku berlari pulang, mengesampingkan seluruh luka dan kemarahanku.

Kali ini, aku menelepon rumah sakit untuk memastikan kondisi ibu mertuaku, lalu mengirimkan biaya yang diperlukan melalui jalur resmi setelah memastikan kebutuhannya.

Aku tidak kembali ke rumah itu.

Beberapa minggu kemudian, aku menerima tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan asuransi. Gajinya belum sebesar penghasilanku dahulu, tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa sedang membangun hidupku sendiri.

Pada hari pertamaku bekerja, sebuah pesan datang dari nomor yang tidak kukenal.

Itu adalah pesan dari ibu mertuaku.

“Qingwei, selama ini Ibu selalu menyalahkanmu karena mengira kamu ingin membawa anakku pergi. Sekarang Ibu tahu, justru anakku yang menjadikanmu tameng. Ibu tidak tahu apakah kamu bisa memaafkan Ibu. Ibu hanya ingin mengatakan bahwa kamu tidak berutang apa pun kepada keluarga ini.”

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Aku belum bisa memaafkan semua yang terjadi. Luka tidak hilang hanya karena seseorang akhirnya mengakui kesalahannya.

Namun, aku tidak lagi membiarkan rasa bersalah menentukan arah hidupku.

Sore itu, aku berjalan keluar dari kantor dengan matahari yang perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Ponselku kembali bergetar.

Nama Lu Licheng muncul di layar.

Aku menatapnya sebentar, lalu menolak panggilan itu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak takut kehilangan seorang pria yang hanya menginginkanku ketika aku bersedia menanggung semua bebannya.

Aku pernah mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani hidup yang sama. Dulu, kukira kesempatan itu diberikan agar aku bisa menyelamatkan pernikahanku.

Sekarang aku mengerti.

Kesempatan kedua itu bukan untuk mengubah orang yang tidak pernah berniat berubah.

Kesempatan kedua itu diberikan agar aku akhirnya berani memilih diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang