Hujan masih mengguyur kota ketika aku berdiri sendirian di depan pusat perbelanjaan, menatap layar ponsel yang menampilkan dua transaksi mencurigakan. Empat puluh delapan juta rupiah dari rekening bersama kami telah dikirim ke rekening Sari. Seratus dua puluh lima juta rupiah lainnya digunakan sebagai uang muka vila di Bali.
Pada catatan transaksi tertulis, Untuk rumah baru kita.
Aku membaca kalimat itu berulang kali, berharap mataku salah melihat. Namun, semakin lama aku menatapnya, semakin jelas kenyataan yang selama ini berusaha kuhindari.
Budi tidak sekadar lebih menyayangi adikku. Ia sedang membangun kehidupan baru bersama Sari, menggunakan uang yang kukumpulkan bersamanya selama bertahun-tahun.
Aku memesan taksi daring dan pulang sendirian. Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi kenangan. Aku teringat bagaimana Budi dahulu datang ke pameran fotografiku dengan membawa bunga sederhana. Ia pernah mengatakan bahwa foto-fotoku membuatnya merasa dunia masih memiliki keindahan.
Lalu Dwi lahir, dan aku memilih berhenti bekerja untuk merawatnya. Ketika penghasilanku hilang, aku mengira pengorbanan itu hanya sementara. Aku tidak pernah membayangkan suatu hari nanti, orang-orang yang kucintai justru akan memperlakukanku seolah aku tidak lagi memiliki nilai.
Sesampainya di rumah, aku tidak langsung masuk. Dari jendela ruang tamu, kulihat Budi, Sari, dan Dwi duduk mengelilingi meja. Mereka tertawa sambil membuka katalog vila di Bali.

Aku berdiri di luar, mendengarkan percakapan mereka.
“Kalau renovasinya selesai, kita bisa pindah sebelum akhir tahun,” kata Sari.
Budi menggenggam tangannya. “Aku sudah mengurus semuanya. Tinggal menunggu Ayu menandatangani beberapa dokumen.”
Sari terdiam sesaat. “Kalau Kakakmu tahu?”
“Dia tidak akan tahu. Selama ini semua urusan keuangan rumah kupegang.”
Dwi mengangkat wajah dari ponselnya. “Terus Mama bagaimana?”
Budi menghela napas seolah sedang membicarakan masalah sepele.
“Mama akan baik-baik saja. Dia punya rumah ini. Lagi pula, kamu sendiri tahu Mama tidak pernah mengerti apa yang kita inginkan.”
Sari menunduk, memainkan cincin di jarinya.
“Budi, aku tidak mau Kak Ayu membenciku.”
“Dia akan marah sebentar, kemudian melupakan semuanya. Begitulah kakakmu.”
Aku menutup mata.
Delapan tahun lalu, aku meninggalkan dunia fotografi demi keluarga. Selama itu pula, aku meyakinkan diriku bahwa cinta berarti mengalah. Ternyata, bagi mereka, kebiasaanku mengalah hanyalah kesempatan untuk mengambil lebih banyak.
Aku membuka pintu dan masuk.
Tawa mereka langsung berhenti.
“Sudah pulang, Kak?” Sari berdiri dengan senyum canggung. “Kami tadi sedang membicarakan liburan.”
Aku meletakkan tas di meja.
“Bukan cuma liburan, kan? Kalian juga sedang membicarakan rumah baru.”
Wajah Budi berubah.
“Apa maksudmu?”
Aku mengangkat ponsel dan memperlihatkan transaksi rekening bersama.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Sari memucat, sedangkan Dwi menatap ayahnya dengan gelisah.
Budi akhirnya tertawa kecil.
“Kamu salah paham. Vila itu investasi. Sari membantu mengurusnya.”
“Dengan uang empat puluh delapan juta dari rekening bersama kita?”
“Itu uang keluarga!”
“Benar. Uang keluarga yang tidak pernah kamu diskusikan denganku.”
Budi bangkit dari kursinya. “Jangan mulai membuat keributan hanya karena kamu cemburu pada adikmu sendiri.”
Kalimat itu menusuk, tetapi kali ini aku tidak menangis.
“Aku tidak cemburu, Budi. Aku hanya ingin tahu sejak kapan kalian memutuskan bahwa aku tidak berhak mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tanggaku sendiri.”
Sari mendekatiku.
“Kak, dengarkan dulu. Semuanya tidak seperti yang Kakak pikirkan.”
Aku menatapnya. “Kalau begitu, jelaskan.”
Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Dwi tiba-tiba berdiri.
“Sudahlah, Ma! Papa cuma ingin kita bahagia. Kenapa Mama selalu membuat semuanya sulit?”
Aku memandang anakku lama sekali.
“Dwi, kamu tahu uang itu milik siapa?”
“Uang Papa juga.”
“Benar. Tapi sebagian besar uang dalam rekening itu berasal dari tabungan Mama, termasuk hasil penjualan koleksi kameraku dulu.”
Dwi terdiam. Aku tahu ia tidak pernah benar-benar memahami apa yang kulepaskan demi membesarkannya. Baginya, semua yang tersedia di rumah muncul begitu saja, seperti makanan di meja dan pakaian bersih di lemari.
Budi menunjuk pintu kamar.
“Cukup. Kamu sedang emosional. Kita bicarakan besok.”
“Tidak,” jawabku. “Kita bicarakan sekarang.”
Aku mengeluarkan sebuah map dari tas. Di dalamnya terdapat salinan dokumen rekening, bukti transfer, dan surat-surat kepemilikan rumah yang kusimpan sejak beberapa bulan terakhir.
Aku tidak pernah berniat menyelidiki suamiku. Namun, tiga bulan lalu, bank menghubungiku karena ada pengajuan pinjaman menggunakan namaku. Aku mengira itu kesalahan administrasi. Setelah kejadian tersebut, aku mulai memeriksa dokumen keuangan keluarga secara diam-diam.
Ternyata, ada beberapa tanda tangan yang tidak pernah kububuhkan.
Budi menatap map itu dengan wajah tegang.
“Kamu mendapatkan semua ini dari mana?”
“Dari bank. Besok aku akan meminta pemeriksaan resmi.”
Sari mundur selangkah.
Budi mencoba merebut map tersebut, tetapi aku menariknya menjauh.
“Kamu tidak akan melakukan itu,” katanya dengan suara rendah. “Kalau kamu membuka masalah ini, semua orang akan tahu rumah tangga kita berantakan.”
Aku menatapnya tanpa gentar.
“Rumah tangga ini sudah berantakan. Aku hanya berhenti berpura-pura tidak melihatnya.”
Malam itu aku tidur di kamar terpisah. Keesokan paginya, aku menghubungi bank dan berkonsultasi dengan pengacara. Aku tidak mengambil keputusan berdasarkan amarah. Aku hanya ingin memastikan uangku terlindungi dan semua dokumen diperiksa secara benar.
Beberapa hari kemudian, aku juga menghubungi seorang teman lama yang bekerja di dunia fotografi. Ia sedang mencari fotografer untuk proyek dokumentasi hotel dan destinasi wisata di Lombok.
Ketika mendengar tawarannya, aku terdiam.
Lombok.
Tempat yang seharusnya menjadi tujuan bulan maduku.
Aku menerima pekerjaan itu.
Budi menganggap keputusanku hanya gertakan. Ia bahkan mengatakan aku akan kembali setelah beberapa hari karena tidak sanggup hidup sendiri.
Aku tidak membantah.
Pada pagi keberangkatan, aku membawa satu koper dan kamera lamaku. Dwi berdiri di dekat tangga, memperhatikanku dengan wajah yang sulit kubaca.
“Mama benar-benar pergi?”
Aku mengangguk.
“Bagaimana kalau aku merindukan Mama?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
“Kamu boleh merindukan Mama, Dwi. Tapi kamu juga harus belajar memahami bahwa menyayangi seseorang bukan berarti kamu boleh memperlakukannya sesuka hati.”
Ia menunduk.
Aku ingin memeluknya, tetapi aku tidak ingin lagi memaksakan kedekatan yang selama ini hanya kuperjuangkan sendirian.
Di Lombok, aku mulai bekerja kembali. Hari-hariku dipenuhi matahari pagi, pantai yang luas, dan suara ombak yang dulu hanya sempat kunikmati melalui jendela mobil. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memotret bukan karena diminta, melainkan karena aku ingin melakukannya.
Foto pertamaku diunggah dengan nama Senja.
Dalam waktu dua hari, ribuan orang membagikannya. Beberapa pengikut lama mengenaliku dan menulis bahwa mereka merindukan karyaku.
Aku menangis saat membaca komentar-komentar itu. Bukan karena sedih, melainkan karena baru menyadari bahwa diriku tidak pernah benar-benar hilang. Aku hanya terlalu lama mengubur bagian diriku sendiri demi membuat orang lain bahagia.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung tanpa gangguan.
Suatu sore, pengacaraku menelepon. Pemeriksaan awal menemukan bahwa dokumen pinjaman menggunakan tanda tangan yang diduga dipalsukan. Pengalihan uang ke rekening Sari juga sedang ditelusuri. Vila di Bali ternyata dibeli melalui sebuah perusahaan yang baru didirikan atas nama adikku.
Lalu pengacaraku menyampaikan satu hal yang membuatku terdiam.
“Bu Ayu, ada dokumen lain yang perlu Ibu lihat. Nama Ibu tercantum sebagai pemilik sebagian besar aset perusahaan tersebut. Sepertinya seseorang menggunakan identitas Ibu tanpa izin.”
Aku menatap laut di hadapanku.
Ternyata, mereka bukan hanya berusaha menyingkirkanku dari kehidupan mereka. Mereka juga menggunakan namaku untuk membangun kehidupan yang tidak pernah mereka izinkan untuk kuikuti.
Aku meminta pengacaraku melanjutkan proses pemeriksaan dan tidak membuat kesimpulan sebelum semua bukti lengkap.
Dua minggu kemudian, Budi datang ke Lombok.
Ia menemukanku di sebuah kafe dekat pantai, sedang menyunting foto untuk proyek berikutnya. Wajahnya terlihat lelah. Tidak ada lagi nada meremehkan dalam suaranya.
“Ayu, pulanglah. Kita bisa memperbaiki semuanya.”
Aku menutup laptop.
“Bagaimana dengan Sari?”
Ia terdiam.
“Dia tidak tinggal bersamaku lagi.”
“Bagaimana dengan vila di Bali?”
“Masalahnya sedang diurus.”
Aku menatap lelaki yang pernah kucintai lebih dari siapa pun.
“Dan Dwi?”
Budi mengusap wajahnya.
“Dia baru tahu semuanya. Dia menangis semalaman setelah mengetahui uang yang digunakan untuk vila juga berasal dari tabunganmu.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat penyesalan di wajah suamiku. Namun, penyesalan tidak otomatis menghapus kebohongan selama bertahun-tahun.
“Aku tidak tahu apakah suatu hari aku bisa memaafkan kalian,” kataku. “Tapi aku tahu aku tidak bisa kembali menjadi perempuan yang selalu mengalah hanya agar kalian merasa nyaman.”
Budi menunduk. Sebelum pergi, ia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada foto lama kami bertiga, diambil beberapa hari setelah Dwi lahir. Aku tersenyum ke arah kamera, sementara Budi mencium keningku dan Dwi tidur dalam pelukanku.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan Budi.
Aku berjanji akan selalu menjagamu.
Aku memandangi tulisan tersebut lama sekali, kemudian memasukkannya kembali ke amplop.
Ada janji yang begitu indah ketika diucapkan, tetapi kehilangan maknanya ketika seseorang berhenti menepatinya.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum masih berjalan. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya hubungan kami akan berakhir, dan aku tidak lagi memaksakan diri untuk menentukan semuanya dalam satu malam.
Dwi mulai mengirimiku pesan. Awalnya hanya menanyakan kabar, kemudian bercerita tentang sekolah dan hal-hal kecil yang dulu jarang ia bagikan kepadaku. Aku membalas dengan hangat, tetapi tetap memberinya waktu untuk memahami kesalahannya sendiri.
Pada suatu pagi, aku menerima tawaran untuk memamerkan karya fotografiku di Jakarta.
Judul pameran itu kupilih sendiri, Senja yang Kembali.
Di antara puluhan foto pantai dan wajah manusia, ada satu foto yang paling banyak menarik perhatian pengunjung. Foto itu memperlihatkan seorang perempuan berdiri sendirian di tepi laut, memandang cakrawala dengan kamera tergantung di bahunya.
Tidak ada wajah yang terlihat jelas. Namun, banyak orang mengatakan mereka merasakan keberanian dalam foto tersebut.
Aku berdiri di sampingnya ketika seorang gadis kecil menunjuk gambar itu dan bertanya kepada ibunya, “Kenapa perempuan itu sendirian?”
Ibunya tersenyum.
“Mungkin karena dia akhirnya tahu ke mana harus melangkah.”
Aku tersenyum mendengar jawaban itu.
Dulu, aku mengira kehilangan keluarga berarti kehilangan seluruh hidupku. Kini aku mengerti bahwa sebuah keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang merasa dihargai, bukan tempat ia harus menghilangkan dirinya sendiri agar tetap diterima.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Dwi muncul di layar.
Ma, aku baru mengerti kenapa Mama pergi. Aku belum bisa memperbaiki semuanya, tapi aku ingin belajar menjadi anak yang lebih baik.
Aku membaca pesan itu beberapa kali sebelum membalas.
Mama selalu menyayangimu, Dwi. Tapi kita berdua harus belajar bahwa kasih sayang juga membutuhkan rasa hormat dan kejujuran.
Setelah mengirim pesan, aku kembali menatap foto di dinding.
Hari itu, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami selama delapan tahun terakhir.
Aku tidak perlu menunggu seseorang memilihku agar hidupku memiliki arti.
Dan ketika pesawat yang membawaku kembali ke Lombok lepas landas beberapa minggu kemudian, aku tidak lagi merasa sedang melarikan diri dari rumah.
Aku sedang pulang kepada diriku sendiri.
