Setiap malam di jam 2 pagi, ayah selalu membawa nampan berisi makanan ke gudang bawah tanah, karena penasaran aku pun mencoba mencari tahu dan menemukan fakta, ternyata di sana ada….

Aku membeku di bawah ranjang ketika mendengar suara itu. Suara tersebut bukan milik ayah, melainkan suara Pak Banu, orang yang pertama kali menemukan jenazah Pak Raden di pabrik.

“Saya tahu siapa pembunuh Pak Raden,” ulang Pak Banu melalui telepon. “Tapi saya tidak bisa membicarakannya di sini. Kita harus bertemu malam ini.”

Aku menutup mulut dengan telapak tangan agar napasku tidak terdengar. Jadi, Pak Banu mengetahui sesuatu tentang kematian Pak Raden. Namun, mengapa dia datang ke kamar orang tuaku? Apa hubungannya dengan ayah?

“Baik. Saya akan datang pukul sebelas,” katanya sebelum mengakhiri panggilan.

Terdengar suara laci dibuka, disusul bunyi benda kecil diletakkan di atas meja. Setelah beberapa menit, langkah kakinya menjauh. Pintu kamar tertutup kembali.

Aku menunggu cukup lama sebelum berani keluar dari kolong ranjang. Lututku terasa lemas. Ketika memeriksa meja, aku menemukan sebuah kunci kecil berwarna hitam. Di sampingnya terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang tergesa-gesa.

Gudang bawah tanah. Pukul dua malam.

Dadaku berdebar semakin kencang.

Akhirnya, aku menemukan petunjuk yang kucari.

Aku menyimpan kunci itu di saku, kemudian kembali ke kamarku sebelum orang tuaku pulang. Sepanjang sore, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Jika Pak Banu mengetahui pembunuh Pak Raden, mengapa dia tidak langsung memberitahukannya kepada polisi? Dan mengapa dia harus menemui seseorang di rumahku secara diam-diam?

Pukul delapan malam, ayah dan ibu kembali. Mereka terlihat lelah. Ayah hanya makan sedikit sebelum masuk ke kamar, sedangkan ibu membereskan meja makan.

Aku mencoba bersikap biasa.

“Ibu, Ayah masih sering ke pabrik malam-malam?” tanyaku sambil membantu mencuci piring.

Tangan ibu mendadak berhenti.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Tidak apa-apa. Aku cuma heran. Sejak Pak Raden meninggal, Ayah kelihatan berbeda.”

Ibu terdiam sejenak, lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Irfan, ada hal-hal yang belum bisa kamu pahami. Apa pun yang terjadi, jangan pernah membenci ayahmu.”

Kalimat itu justru membuatku semakin takut.

“Ibu tahu sesuatu, ya?”

Ibu tidak menjawab. Ia hanya menyuruhku tidur lebih awal.

Malam itu, aku berpura-pura masuk kamar dan mematikan lampu. Namun, aku tidak benar-benar tidur. Aku menunggu di balik pintu, mengamati lorong rumah yang gelap.

Tepat pukul dua dini hari, ayah keluar dari kamarnya.

Seperti malam-malam sebelumnya, ia membawa nampan berisi nasi, lauk, segelas air putih, dan beberapa potong buah. Wajahnya terlihat tegang. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya.

Aku membiarkannya berjalan lebih dahulu, lalu mengikutinya dengan hati-hati.

Ayah berhenti di depan gudang bawah tanah yang terletak di belakang dapur. Ia mengeluarkan kunci, membuka pintu, lalu menghilang menuruni tangga.

Aku menunggu beberapa menit sebelum menggunakan kunci hitam yang kutemukan.

Pintu terbuka tanpa suara berarti.

Udara dingin menyambutku. Dari bawah terdengar suara ayah berbicara dengan seseorang.

“Bersabarlah. Aku akan menyelesaikan semuanya besok,” katanya.

Kemudian terdengar suara lain yang membuatku hampir kehilangan keseimbangan.

“Berapa lama lagi aku harus bersembunyi? Kamu bilang semuanya akan aman setelah Raden meninggal!”

Aku mengenali suara itu.

Pak Banu.

Aku menuruni beberapa anak tangga dan mengintip dari balik dinding.

Di dalam ruangan, Pak Banu duduk di sebuah kursi. Di hadapannya terdapat meja kecil, beberapa bungkus makanan, dan sebuah tas berisi pakaian. Rupanya, selama ini ayah diam-diam memberi makan seseorang di gudang bawah tanah.

Namun, yang membuatku terkejut bukanlah keberadaan Pak Banu.

Di sudut ruangan, aku melihat foto Pak Raden bersama ayah dan seorang pria lain. Di belakang foto itu tertulis tanggal yang sudah hampir tiga tahun berlalu.

Ayah menunduk sambil memijat pelipisnya.

“Aku tidak pernah menyuruhmu membunuhnya, Banu. Aku hanya ingin kamu mengambil dokumen itu.”

Pak Banu tertawa getir.

“Jangan berpura-pura tidak tahu! Kamu yang memberiku kunci kantor malam itu. Kamu juga yang berjanji akan mengurus semuanya!”

Aku merasa dunia di sekelilingku berputar.

Ayah terlibat dalam sesuatu yang berhubungan dengan kematian Pak Raden. Namun, apakah dia benar-benar pembunuhnya?

Aku mundur perlahan. Sayangnya, kakiku menyenggol sebuah ember kosong.

Bunyinya menggema di seluruh ruangan.

Ayah langsung menoleh.

“Siapa di sana?”

Aku berlari menaiki tangga, tetapi sebelum mencapai pintu, ayah sudah mengejarku. Ia meraih lenganku dan membalikkan tubuhku.

“Irfan?”

Wajahnya berubah pucat.

“Ayah bisa menjelaskan semuanya,” katanya terbata-bata.

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Jelaskan apa, Yah? Kenapa Pak Banu bersembunyi di sini? Apa Ayah membunuh Pak Raden?”

Ayah melepaskan lenganku. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh kekuatannya.

“Tidak. Ayah tidak membunuhnya.”

“Lalu kenapa Ayah berbohong?”

Sebelum ayah menjawab, terdengar suara tepuk tangan pelan dari belakang kami.

Ibu berdiri di ambang pintu.

Di tangannya terdapat sebuah telepon genggam yang sedang merekam.

“Cukup, Mas,” katanya dengan suara bergetar. “Sudah waktunya Irfan mengetahui kebenarannya.”

Ayah menatap ibu dengan ngeri.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

Ibu menarik napas panjang.

“Karena aku sudah terlalu lama melindungi kebohonganmu.”

Aku memandang mereka bergantian, tidak mengerti.

Ibu kemudian menjelaskan bahwa tiga tahun lalu, Pak Raden menemukan bukti penggelapan uang di pabrik. Ayah memang terlibat dalam penyelewengan itu, tetapi ia tidak mengetahui bahwa Pak Banu telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih buruk untuk membungkam Pak Raden.

Pada malam kematian Pak Raden, ayah bertemu dengannya untuk mengambil dokumen yang bisa membuktikan keterlibatannya. Mereka bertengkar hebat. Ayah pergi meninggalkan pabrik, sementara Pak Banu masih berada di sana.

Keesokan harinya, Pak Raden ditemukan meninggal.

Ayah ketakutan dan memilih menyembunyikan Pak Banu setelah pria itu mengaku mengetahui siapa pembunuh sebenarnya. Ayah berharap bisa mendapatkan pengakuan lengkap sebelum semuanya terbongkar.

Namun, selama itu pula ayah menyembunyikan fakta bahwa ia sendiri terlibat dalam penggelapan uang yang menjadi awal tragedi tersebut.

“Lalu siapa pembunuh Pak Raden?” tanyaku lirih.

Ibu menatap Pak Banu.

Pria itu menunduk lama sebelum akhirnya mengaku bahwa dialah yang memukul Pak Raden saat pertengkaran mereka memuncak. Ia mengaku panik dan melarikan diri setelah menyadari apa yang telah terjadi.

Ayah tidak membunuh Pak Raden, tetapi ia telah membantu menyembunyikan pelaku dan menutupi kejahatan keuangan yang menjadi penyebab semuanya.

Ibu menyerahkan rekaman itu kepada polisi pagi harinya. Tak lama kemudian, petugas datang dan membawa Pak Banu serta ayah untuk diperiksa lebih lanjut.

Sebelum dibawa pergi, ayah menatapku dengan mata merah.

“Maafkan Ayah, Fan. Ayah hanya ingin melindungi keluarga kita.”

Aku menahan air mata.

“Kalau Ayah benar-benar ingin melindungi kami, Ayah seharusnya mengatakan yang sebenarnya sejak awal.”

Ayah tidak menjawab.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan polisi mengungkap bukti yang menguatkan pengakuan Pak Banu. Ia ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan, sedangkan ayah harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam penggelapan uang dan upaya menutupi kejahatan tersebut.

Aku masih tinggal bersama ibu. Rumah kami terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.

Suatu malam, saat membereskan barang-barang ayah, aku menemukan sebuah amplop tersembunyi di dalam laci. Di dalamnya ada surat yang ditulis untukku.

Isinya singkat.

Ayah mengaku bahwa setiap malam pukul dua, ia membawa makanan ke gudang bukan hanya untuk memberi makan Pak Banu. Sebelum Pak Banu bersembunyi di sana, ayah sudah sering turun ke ruangan itu untuk membaca surat-surat lama milik Pak Raden, berharap menemukan cara memperbaiki kesalahannya.

Namun, ia selalu memilih jalan yang salah karena takut kehilangan nama baik dan keluarganya.

Aku melipat surat itu perlahan.

Kini aku mengerti bahwa rahasia terbesar ayah bukanlah siapa yang membunuh Pak Raden, melainkan bagaimana rasa takut telah mengubah seseorang yang kucintai menjadi orang yang sanggup berbohong kepada keluarganya sendiri.

Dan sejak malam itu, setiap kali jam menunjukkan pukul dua dini hari, aku selalu teringat pada nampan makanan yang dibawa ayah ke gudang.

Bukan karena aku takut menemukan seseorang di sana lagi.

Melainkan karena aku tahu, terkadang pintu paling berbahaya bukanlah pintu menuju ruangan gelap di bawah tanah, tetapi pintu menuju kebenaran yang terlalu lama kita hindari.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang