Tiga Tahun Menikah, Aku Selalu Mengira Kami Tinggal di Rumah Kontrakan. “Pemilik Rumah Menagih Lagi,” Kata Suamiku, Sampai Aku Menemukan Sertifikat Itu.

Selama tiga tahun menikah, aku selalu percaya bahwa rumah yang kutinggali bersama suamiku hanyalah rumah kontrakan biasa. Sampai suatu hari, aku menemukan dua sertifikat apartemen atas namanya dan menyadari bahwa selama ini aku bukan sekadar ditipu, melainkan sedang membiayai kebohongannya sendiri.

Aku berdiri di depan pintu Unit 2801, Cendana Residence, menatap Budi yang wajahnya pucat pasi. Di sampingnya, Dewi masih merangkul lengannya dengan santai, seolah-olah akulah orang asing yang datang mengganggu rumah tangga mereka.

“Mas, aku cuma mau tanya satu hal,” kataku, berusaha menahan gemetar dalam suaraku. “Selama ini, uang sewa yang kubayar setiap bulan itu sebenarnya untuk apa?”

Budi membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Dewi justru tertawa kecil.

“Mbok, Mbak belum tahu semuanya?” katanya. “Mas Budi bilang uang itu memang haknya. Katanya, Mbak sendiri yang mau membayar biaya tempat tinggal karena penghasilannya lebih kecil.”

Aku menoleh kepadanya.

“Lalu kenapa uang itu diberikan kepadamu?”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Karena saya juga butuh uang untuk mengurus rumah ini.”

“Rumah ini?” Aku menunjuk pintu di belakangnya. “Apartemen ini milik Budi, bukan?”

Dewi mengangguk, kemudian menatap Budi dengan raut curiga.

“Mas, bukankah kamu bilang apartemen ini dibeli dari hasil kerja kerasmu dan investasi bersama keluargamu?”

Budi segera memotong, “Dewi, jangan ikut campur.”

Aku tertawa hambar.

Lucu sekali. Selama tiga tahun dia bisa berbohong kepadaku tanpa merasa bersalah, tetapi sekarang dia justru takut ketika kebohongannya mulai terbongkar di hadapan perempuan lain.

“Aku tidak akan membuat keributan di sini,” kataku. “Aku hanya ingin tahu satu hal lagi. Kalian sudah bersama hampir dua tahun, bukan?”

Dewi mengangguk pelan.

“Dan selama itu kamu tahu dia sudah menikah?”

Kali ini, dia tidak langsung menjawab.

Budi menarik lengannya.

“Sudah, Dewi. Masuk.”

Namun Dewi melepaskan diri.

“Kamu bilang pernikahanmu dengan Ayu cuma formalitas, Mas. Kamu bilang kalian sudah tidak punya hubungan apa-apa selain tinggal bersama.”

Aku memandang Budi.

Jadi, bukan hanya aku yang diberi cerita palsu. Dia menciptakan kebohongan berbeda untuk setiap orang, lalu berharap semuanya tidak pernah bertemu.

“Kalau begitu,” kataku sambil mengeluarkan ponsel, “kalian berdua bisa menjelaskan semuanya kepada orang yang tepat.”

Aku menunjukkan foto kedua sertifikat apartemen yang telah kusimpan.

Budi langsung meraih tanganku.

“Ayu, jangan gegabah. Kita pulang dulu. Aku bisa jelaskan semuanya.”

Aku menarik tanganku.

“Selama tiga tahun, setiap kali aku bertanya kenapa kita harus berhemat, kamu bilang kita sedang menabung untuk masa depan. Setiap kali aku mengeluh karena harus membayar sewa, kamu memelukku dan bilang aku istri yang paling pengertian.”

Suaraku mulai pecah.

“Aku bahkan pernah menolak membeli tas yang sudah lama kuinginkan karena takut pengeluaran kita bertambah. Sementara itu, kamu membeli apartemen lain dan menghabiskan uangku untuk perempuan lain.”

Budi menunduk.

“Aku bisa mengembalikan uangmu.”

“Bukan itu masalahnya, Mas.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali sebelum berbalik.

“Masalahnya, kamu membuatku merasa bersalah karena tidak cukup membantu suamiku sendiri, padahal sejak awal kamulah yang mempermainkanku.”

Aku meninggalkan koridor itu tanpa menunggu jawabannya.

Malam itu aku tidak pulang ke apartemen kami. Aku menginap di rumah Rina, sahabatku sejak kuliah, yang langsung memelukku ketika melihat wajahku.

Aku menangis sampai tidak sanggup berbicara.

Rina tidak memaksaku menjelaskan semuanya. Dia hanya duduk di sampingku, menyiapkan air hangat, lalu berkata pelan, “Kamu nggak harus memutuskan semuanya malam ini. Besok kita pikirkan langkah berikutnya.”

Keesokan paginya, setelah pikiranku sedikit lebih jernih, aku menghubungi seorang pengacara yang direkomendasikan Rina. Aku membawa bukti transfer selama tiga tahun, foto sertifikat, dan riwayat percakapan dengan Budi.

Pengacara itu memeriksa semuanya dengan teliti.

“Jangan mengubah atau menghapus percakapan apa pun,” katanya. “Simpan bukti asli, termasuk rekening koran. Kita perlu memastikan aliran uangnya dan memeriksa status kepemilikan setiap aset.”

Aku mengikuti sarannya.

Selama beberapa hari berikutnya, Budi menelepon puluhan kali. Pesannya berubah-ubah, mulai dari permintaan maaf, janji mengembalikan uang, hingga tuduhan bahwa aku terlalu membesar-besarkan masalah.

Pesan terakhirnya membuatku terdiam cukup lama.

“Ayu, kamu juga menikmati hidup di apartemen itu. Jangan bertingkah seolah-olah aku satu-satunya orang yang salah.”

Aku membaca kalimat tersebut berulang kali.

Bahkan setelah ketahuan, dia masih mencoba membuatku merasa bersalah.

Aku tidak membalas.

Seminggu kemudian, pengacara menghubungiku dan meminta kami bertemu. Ada perkembangan yang perlu kubahas secara langsung.

Saat tiba di kantornya, aku mendapati sebuah dokumen tambahan tergeletak di atas meja.

“Dari hasil pemeriksaan awal, ada hal yang cukup penting,” katanya. “Apartemen tempat kalian tinggal memang tercatat atas nama suami Anda. Namun, ada sejumlah transaksi yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Kami juga menemukan bahwa sebagian dana untuk pembelian unit kedua berasal dari rekening bersama yang pernah Anda gunakan.”

Aku mengernyit.

“Rekening bersama?”

“Rekening yang Anda gunakan untuk menerima bonus pekerjaan dan menyimpan tabungan keluarga. Kami perlu memeriksa tanggal serta jumlah transaksi sebelum menarik kesimpulan.”

Aku langsung teringat tabunganku yang berkurang drastis dua tahun lalu.

Saat itu Budi mengatakan perusahaan tempatnya bekerja sedang mengalami kesulitan. Dia memintaku meminjamkan sebagian tabungan untuk menutup kebutuhan mendesak. Aku memberikan uang itu tanpa meminta bukti apa pun karena percaya kepadanya.

Ternyata uang tersebut mungkin tidak pernah digunakan untuk keperluan yang dia ceritakan.

Namun, kejutan terbesar baru datang tiga hari kemudian.

Aku menerima telepon dari nomor tidak dikenal.

“Apa benar ini Ibu Ayu, istrinya Pak Budi?” tanya seorang perempuan dengan suara hati-hati.

“Benar. Siapa ini?”

“Saya Maya, adik Pak Budi. Maaf menghubungi Ibu tanpa pemberitahuan. Ada sesuatu yang harus Ibu ketahui.”

Aku terdiam.

Maya melanjutkan, “Kakak saya mengatakan kepada keluarga bahwa Ibu sudah mengetahui hubungan dia dengan Dewi. Dia juga bilang Ibu menyetujui pengaturan keuangan mereka.”

Darahku terasa mendidih.

“Tidak pernah. Saya bahkan baru mengetahui semuanya minggu lalu.”

Maya menarik napas panjang.

“Saya tahu. Karena itu saya menghubungi Ibu. Saya menemukan dokumen lama di rumah orang tua kami. Ada surat yang ditandatangani Kak Budi sebelum kalian menikah.”

“Surat apa?”

“Surat perjanjian mengenai apartemen pertama.”

Aku meminta Maya mengirimkan salinannya kepada pengacaraku. Beberapa jam kemudian, dokumen itu tiba.

Isinya membuatku sulit mempercayai mataku.

Sebelum menikah denganku, Budi pernah berjanji kepada ayahnya bahwa apartemen pertama akan menjadi tempat tinggal keluarga kecilnya. Namun, ada satu klausul tambahan yang tidak pernah kuceritakan atau bahkan kuketahui keberadaannya.

Jika suatu hari Budi menggunakan aset keluarga untuk menipu pasangan atau menyembunyikan transaksi keuangan, ayahnya berhak meminta pemeriksaan atas dana yang digunakan dalam pembelian aset tersebut.

Aku belum memahami seluruh konsekuensi hukumnya. Pengacaraku pun menegaskan bahwa surat itu tidak otomatis membatalkan kepemilikan apartemen. Namun, dokumen tersebut memberikan petunjuk penting untuk menelusuri asal uang yang digunakan Budi.

Malam itu, Maya datang menemuiku.

Dia membawa sebuah amplop cokelat yang diberikan ayah mereka sebelum meninggal enam bulan sebelumnya.

“Bapak pernah bilang, kalau suatu hari Kak Budi menyakiti istrinya dengan kebohongan soal uang, aku harus memberikan ini kepada orang yang dirugikan,” katanya.

Di dalam amplop terdapat salinan rekening lama, catatan transaksi, dan sepucuk surat tulisan tangan.

Surat itu ditujukan kepadaku.

Ayu, jika surat ini sampai kepadamu, berarti Budi telah mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya sebelum menikah. Bapak tidak tahu apakah kamu akan memaafkannya atau memilih pergi. Namun, jangan biarkan rasa sayang membuatmu menyerahkan hakmu begitu saja.

Bapak sudah meminta pengacara keluarga menyimpan catatan mengenai sumber dana pembelian apartemen pertama. Sebagian uang itu berasal dari hibah keluarga yang diberikan dengan tujuan agar anak Bapak memiliki tempat tinggal tetap setelah menikah. Bapak tidak pernah bermaksud menjadikanmu penanggung jawab atas kebohongan anak Bapak sendiri.

Aku menutup surat itu dengan tangan gemetar.

Selama ini aku mengira tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tanggaku. Ternyata, ayah Budi pernah melihat sisi anaknya yang tidak pernah ingin kuterima.

Beberapa bulan berikutnya, aku menjalani proses hukum dan penyelesaian pernikahan dengan bantuan pengacara. Setiap transaksi diperiksa, setiap dokumen diverifikasi, dan semua klaim diuji berdasarkan bukti, bukan sekadar pengakuan.

Aku tidak mendapatkan semua jawaban sekaligus. Ada hal-hal yang masih harus diselesaikan, termasuk penelusuran dana dan hak atas aset yang terkait dengan pernikahan kami.

Namun, satu hal berubah sepenuhnya.

Aku berhenti meminta maaf karena ingin mengetahui kebenaran.

Pada hari aku kembali ke apartemen pertama untuk mengambil barang-barangku, Budi sudah menungguku di ruang tamu.

“Ayu, kita masih bisa memperbaiki semuanya,” katanya. “Aku akan berubah.”

Aku memandang ruangan yang selama tiga tahun kuanggap sebagai rumah kami.

Di sudut ruangan masih ada foto pernikahan kami. Aku mengenakan kebaya putih, sementara Budi tersenyum lebar sambil menggenggam tanganku.

Dulu, aku mengira senyum itu adalah janji untuk menjagaku.

Sekarang aku tahu bahwa sebuah foto hanya bisa menyimpan satu momen, bukan menjamin kebenaran seseorang.

“Aku pernah percaya kamu akan menjadi tempat paling aman untukku,” kataku. “Tapi aku tidak bisa membangun rumah tangga dengan orang yang menjadikan kepercayaanku sebagai sumber keuntungan.”

Budi menunduk.

Aku mengambil koper terakhir dan berjalan menuju pintu.

Sebelum pergi, aku meletakkan kunci apartemen di atas meja.

“Uang bisa dicari lagi, Mas. Kepercayaan yang kamu hancurkan tidak bisa kamu beli kembali dengan janji.”

Pintu tertutup di belakangku.

Beberapa bulan kemudian, aku pindah ke sebuah apartemen kecil yang kusewa atas namaku sendiri. Tidak mewah, tidak memiliki pemandangan kota yang menakjubkan, dan tidak ada dekorasi mahal di ruang tamunya.

Namun, setiap kali membayar sewa, aku tahu persis ke mana uangku pergi.

Pada malam pertama di tempat baru, aku menempelkan sebuah foto kecil di dekat meja kerja. Foto itu bukan foto pernikahan, melainkan foto diriku sendiri ketika sedang tertawa bersama Rina setelah menyelesaikan urusan hukum yang panjang.

Aku tersenyum melihatnya.

Dulu aku mengira rumah adalah tempat seseorang menunggumu pulang.

Sekarang aku mengerti, rumah yang sebenarnya adalah tempat kamu tidak perlu takut bahwa orang yang kamu percayai sedang menyembunyikan kebenaran darimu.

Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku tidak lagi membayar harga sebuah kebohongan demi mempertahankan sesuatu yang kusebut cinta.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang