Malam itu, suamiku menelepon saat aku sedang menyiapkan makan malam di rumah. Suaranya terdengar terburu-buru, seolah ada sesuatu yang membuatnya gelisah.
“Sayang, besok pagi jemput anak kita di bandara, ya. Pesawatnya mendarat pukul sembilan. Aku tidak bisa datang karena ada urusan pekerjaan mendadak.”
Aku sempat terdiam. Putra kami, Dimas, memang sedang kuliah di Singapura dan sudah hampir enam bulan tidak pulang ke Jakarta.
“Kenapa kamu tidak menjemputnya sendiri? Bukankah kamu bilang akhir pekan ini tidak ada pekerjaan?”
“Sudahlah, jangan banyak bertanya. Nanti aku jelaskan. Yang penting, jemput Dimas.”
Sambungan telepon terputus sebelum aku sempat menjawab.
Aku menghela napas panjang. Selama dua puluh tahun menikah, aku sudah terbiasa dengan sikap Arman yang selalu mengutamakan pekerjaan. Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda. Dia sering pulang larut malam, menyembunyikan layar ponselnya, dan beberapa kali menerima telepon di luar rumah.
Ketika kutanya, jawabannya selalu sama.
“Urusan kantor. Kamu tidak perlu ikut campur.”
Aku berusaha mengabaikan kecurigaanku. Aku tidak ingin menjadi istri yang selalu mencurigai suaminya sendiri.
Keesokan paginya, aku tiba di Bandara Soekarno-Hatta lebih awal. Aku membawa sekotak makanan kesukaan Dimas dan sebuah jaket yang dulu tertinggal di rumah sebelum dia berangkat kuliah.
Aku berdiri di depan pintu kedatangan internasional, memperhatikan satu per satu penumpang yang keluar.
Beberapa menit kemudian, mataku menangkap sosok yang sangat kukenal.
Arman.
Jantungku seolah berhenti berdetak.

Suamiku berjalan keluar sambil mendorong sebuah koper hitam. Di sampingnya ada seorang perempuan muda mengenakan gaun krem. Perempuan itu tampak sedang hamil besar, satu tangannya menggenggam lengan Arman, sementara tangan lainnya memegang sebuah map merah.
Mereka berjalan begitu dekat, seperti pasangan yang baru pulang dari perjalanan bersama.
Aku membeku di tempat.
Arman mendongak dan melihatku. Wajahnya langsung pucat. Langkahnya terhenti, sementara perempuan di sampingnya menoleh ke arahku dengan tatapan bingung.
“Laras?” bisiknya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap tangan perempuan itu yang masih menggenggam lengan suamiku.
“Siapa dia?” tanyaku akhirnya.
Arman membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Perempuan muda itu justru menjawab lebih dahulu.
“Bu Laras, ya? Saya Natasya.”
Dia melepaskan tangan Arman, lalu memeluk map merah itu erat-erat ke dadanya.
“Saya rasa Ibu berhak mengetahui semuanya.”
Aku menatap Arman. “Kamu bilang aku harus menjemput Dimas.”
“Laras, dengarkan aku dulu.”
“Di mana anak kita?”
Arman menunduk.
Saat itulah aku menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan daripada melihat suamiku bersama perempuan hamil. Dimas tidak ada di sana.
Aku merasakan telapak tanganku mulai dingin.
“Arman, di mana Dimas?”
Suamiku akhirnya mengangkat wajah. Matanya memerah, tetapi aku tidak menemukan keberanian di sana. Hanya ketakutan.
“Dimas baik-baik saja. Dia masih di Singapura.”
Aku tertawa kecil, bukan karena lucu, melainkan karena tidak tahu lagi bagaimana harus bereaksi.
“Jadi, kamu menyuruhku datang ke bandara untuk apa?”
Natasya mengulurkan map merah itu kepadaku.
“Silakan buka, Bu.”
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, foto, dan salinan surat resmi. Tanganku gemetar saat melihat foto Arman sedang berdiri di depan sebuah rumah mewah bersama Natasya. Foto berikutnya memperlihatkan mereka memasuki sebuah rumah sakit.
Namun, yang paling membuat dadaku sesak adalah dokumen bertanggal tiga bulan lalu.
Surat permohonan cerai.
Nama pemohonnya adalah Arman.
Namaku tercantum sebagai pihak yang akan diceraikan.
Aku mengangkat wajah perlahan.
“Kamu mengajukan cerai tanpa memberitahuku?”
Arman mengusap wajahnya. “Aku bisa menjelaskan.”
“Dua puluh tahun, Man. Dua puluh tahun aku menemanimu membangun hidup kita. Ketika usahamu hampir bangkrut, aku menjual perhiasan peninggalan ibuku untuk membantumu. Ketika kamu jatuh sakit, aku yang menjagamu setiap malam. Sekarang kamu bahkan tidak punya keberanian untuk mengatakan bahwa kamu ingin meninggalkanku?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Natasya menunduk. Air matanya mulai jatuh.
“Saya minta maaf, Bu. Saya tidak tahu kalau Pak Arman belum mengatakan apa pun kepada Ibu.”
Aku menoleh kepadanya. “Kamu tahu dia sudah menikah?”
Dia mengangguk pelan.
Jawaban itu terasa seperti tamparan kedua.
“Kalau begitu, apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?”
Natasya menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Saya tidak datang untuk merebut suami Ibu. Saya datang karena saya tidak ingin anak saya tumbuh dengan kebohongan.”
Arman langsung memotong, “Tasya, jangan sekarang.”
Perempuan itu menatapnya tajam.
“Tidak. Kamu sudah terlalu lama menyuruh semua orang diam.”
Dia kembali menatapku.
“Bu Laras, saya mengenal Pak Arman dua tahun lalu. Dia mengatakan bahwa pernikahannya dengan Ibu sudah berakhir dan mereka hanya tinggal serumah demi anak. Saya mempercayainya. Saya baru mengetahui kenyataannya ketika saya hamil lima bulan.”
Aku memandang Arman dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Dua tahun?”
Dia tidak membantah.
“Jadi, selama ini kamu berbohong kepadaku, kepada Dimas, dan kepadanya?”
Arman akhirnya berkata dengan suara lirih, “Aku salah.”
Aku ingin marah. Aku ingin menangis. Namun, ada sesuatu dalam diriku yang tiba-tiba menjadi tenang, seolah seluruh kebohongan yang selama ini kurasakan akhirnya mendapatkan bentuknya.
Aku kembali melihat map merah itu.
Di antara dokumen-dokumen tersebut, ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang kukenal.
Tulisan Dimas.
Aku langsung mengambilnya.
Ibu,
Jika Ibu membaca surat ini bersama Ayah, berarti akhirnya Ayah membawa Ibu ke tempat yang dijanjikannya. Aku tahu Ibu pasti bingung. Maaf karena aku tidak mengatakan semuanya sejak awal.
Tanganku semakin gemetar.
Aku melanjutkan membaca.
Tiga bulan lalu, aku mengetahui Ayah memiliki utang besar atas nama perusahaan keluarga. Aku juga menemukan bukti bahwa beberapa aset yang Ibu kira masih menjadi milik kita ternyata sudah dijaminkan tanpa sepengetahuan Ibu.
Aku mencoba menyelesaikannya dari Singapura, tetapi Ayah memintaku diam.
Aku tidak bisa membiarkan Ibu kehilangan rumah yang selama ini Ibu perjuangkan.
Aku berhenti membaca. Air mataku akhirnya jatuh.
Ternyata, ada pengkhianatan lain yang selama ini tidak pernah kubayangkan. Bukan hanya tentang perempuan lain, melainkan juga tentang masa depan keluarga kami yang diam-diam dipertaruhkan.
Di bagian bawah surat, Dimas menuliskan satu kalimat lagi.
Bu, jangan percaya siapa pun hanya karena dia menangis. Periksa dokumennya.
Aku segera membuka berkas berikutnya. Ada salinan perjanjian utang, catatan transaksi, dan surat dari seorang pengacara. Di sana tertulis bahwa sejumlah aset keluarga masih dapat dilindungi melalui proses hukum, tetapi aku harus segera mengambil tindakan.
Arman mencoba merebut map itu.
“Laras, jangan membuat masalah ini semakin besar. Kita bisa menyelesaikannya di rumah.”
Aku menarik map tersebut ke dadaku.
“Di rumah? Rumah yang ternyata bisa kamu gadaikan tanpa sepengetahuanku?”
“Usaha itu untuk keluarga kita!”
“Kalau memang untuk keluarga, mengapa kamu menyembunyikannya?”
Dia terdiam.
Natasya lalu berkata pelan, “Pak Arman meminta saya ikut hari ini karena katanya Ibu sudah menyetujui perceraian. Saya baru tahu itu tidak benar ketika melihat wajah Ibu.”
Aku memandang perempuan itu. Untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa dia bukan sekadar orang yang datang menghancurkan rumah tanggaku. Dia juga telah menjadi korban kebohongan yang sama, meskipun keputusan-keputusannya sendiri tetap menjadi tanggung jawabnya.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Dimas.
Dia mengangkatnya setelah dering kedua.
“Ibu sudah menerima mapnya?” tanyanya.
“Dimas, kamu tahu semua ini sejak kapan?”
“Sejak tiga bulan lalu, Bu. Aku ingin pulang, tapi Ayah melarangku karena takut semuanya terbongkar.”
Aku memejamkan mata.
“Kenapa kamu tidak memberi tahu Ibu?”
“Aku takut Ibu terluka. Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri.”
“Sayang, melindungi Ibu bukan berarti kamu harus menanggung semuanya sendirian.”
Di seberang sana, Dimas terisak.
Aku pun menangis, tetapi kali ini bukan hanya karena dikhianati. Aku menangis karena anakku yang masih muda merasa harus menjadi orang dewasa bagi kedua orang tuanya.
“Pulanglah, Nak,” kataku. “Kita hadapi semuanya bersama-sama.”
Setelah menutup telepon, aku menatap Arman untuk terakhir kalinya pagi itu.
“Aku tidak akan menandatangani apa pun sebelum semuanya diperiksa pengacara. Aku juga tidak akan membiarkan kamu mengambil hak Dimas atau mengorbankan masa depan keluarga ini demi menyelamatkan dirimu sendiri.”
Arman menatapku dengan wajah putus asa.
“Laras, aku masih mencintaimu.”
Aku menggeleng pelan.
“Cinta bukan alasan untuk membohongi seseorang selama bertahun-tahun.”
Aku berbalik dan berjalan meninggalkan mereka, membawa map merah yang kini terasa lebih berat daripada koper mana pun.
Dua minggu kemudian, setelah berkonsultasi dengan pengacara dan memeriksa seluruh dokumen, aku mengetahui bahwa sebagian besar tabungan keluarga memang telah digunakan untuk menutup utang perusahaan Arman. Proses hukum pun dimulai untuk melindungi aset yang masih tersisa. Aku tidak membuat keputusan berdasarkan tangisan atau janji, melainkan berdasarkan bukti.
Dimas akhirnya pulang ke Jakarta. Dia memelukku lama sekali di ruang tamu, tempat kami dulu selalu makan malam bersama.
Beberapa bulan kemudian, Natasya melahirkan seorang bayi perempuan. Dia menghubungiku hanya untuk memberi tahu bahwa anak itu sehat. Aku membalas singkat, mengucapkan selamat, lalu kembali menjalani hidupku.
Pernikahanku dengan Arman akhirnya berakhir melalui proses hukum yang panjang. Tidak ada kemenangan yang terasa manis, tetapi setidaknya aku tidak lagi hidup dalam kebohongan.
Pada suatu sore, Dimas duduk di sampingku sambil memandangi foto keluarga lama.
“Bu, apa Ibu menyesal menikah dengan Ayah?”
Aku berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“Tidak, Nak. Ibu tidak menyesal pernah mencintai seseorang. Ibu hanya menyesal terlalu lama mengira bahwa kesetiaan berarti harus menutup mata.”
Dimas menggenggam tanganku.
Saat itu aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku. Kehilangan seseorang yang kita cintai memang menyakitkan, tetapi kehilangan diri sendiri demi mempertahankan seseorang jauh lebih berbahaya.
Map merah di bandara itu pernah terasa seperti akhir dari seluruh hidupku.
Ternyata, itu adalah awal dari keberanianku untuk membangun hidup yang tidak lagi bergantung pada kebohongan orang lain.
