Aku tidak pernah menyangka bahwa pengkhianatan terbesar dalam hidupku justru akan terbongkar di sebuah hotel mewah, di depan orang-orang yang selama ini paling keras membela suamiku.
“Dewi?”
Suara ibu mertuaku terdengar begitu pelan hingga hampir tenggelam oleh dengung pendingin udara di lorong hotel. Namun, aku mendengarnya dengan jelas.
Aku menatapnya. “Ibu mengenal perempuan itu?”
Ia tidak menjawab. Ayah mertuaku justru segera menghampiri pintu kamar 602, lalu mengetuknya keras-keras.
“Arjuna! Buka pintunya sekarang!”
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lebar.
Arjuna berdiri di sana dengan kemeja putih yang kancing atasnya belum terpasang. Wajahnya langsung kehilangan warna saat melihatku, kedua orang tuanya, dan Dwi yang masih memegang kamera.
Di belakangnya, seorang perempuan berambut panjang mengenakan gaun satin berdiri dengan gelisah.
Dewi.
Aku mengenalnya dari foto-foto lama yang pernah kulihat di ponsel Arjuna. Perempuan itu adalah mantan kekasihnya sebelum kami menikah. Menurut cerita Arjuna, Dewi telah pindah ke Surabaya dan menikah dengan seorang pengusaha.
Namun, yang membuat dadaku terasa sesak bukanlah keberadaan Dewi di kamar itu.
Melainkan cara ibu mertuaku memandangnya.
Bukan tatapan seorang ibu yang baru mengetahui perselingkuhan putranya. Tatapannya justru seperti seseorang yang ketahuan menyimpan rahasia.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” bentak Arjuna.
Aku tersenyum tipis. “Aku hanya ingin memastikan seminar budaya yang kamu hadiri berjalan lancar.”
Dwi menurunkan kameranya sedikit, tetapi siaran langsung masih berjalan. Beberapa orang yang menonton mulai membanjiri layar dengan pertanyaan.
Arjuna baru menyadarinya ketika ponsel Dwi bergetar berkali-kali.
“Matikan kameranya!” teriak Arjuna.
“Kenapa?” tanyaku tenang. “Bukankah kamu selalu bilang bahwa orang yang tidak bersalah tidak perlu takut pada kebenaran?”
Ia menatapku dengan kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kamu sengaja mempermalukanku!”
“Tidak, Arjuna. Aku hanya datang bekerja. WiFi-mu yang mempertemukan kita.”
Dewi buru-buru mengambil tas tangannya.
“Aku tidak tahu kalau kamu masih menikah dengannya,” katanya kepadaku.
Aku memperhatikannya tanpa berkedip.
“Kalau begitu, kenapa kamu berada di kamar suamiku?”
Dewi membuka mulut, tetapi Arjuna langsung menyela.
“Jangan percaya omongannya. Dewi hanya klien yang sedang membahas proyek kerja sama.”

Aku hampir tertawa mendengar alasan itu. Proyek kerja sama dengan sepatu hak tinggi yang tergeletak di samping tempat tidur dan kotak alat kontrasepsi yang baru saja diterima?
Namun, sebelum aku sempat menjawab, ayah mertuaku mengangkat tangannya.
“Cukup! Kita pulang sekarang. Masalah keluarga tidak boleh menjadi tontonan orang banyak.”
Ia lalu menatap Dwi tajam.
“Kalau rekaman itu sampai tersebar, kamu akan berurusan denganku.”
Dwi tampak ragu. Aku tahu ia bekerja sama dengan Arjuna selama bertahun-tahun. Kariernya bergantung pada hubungan mereka.
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Dwi memandang layar ponselnya, lalu berkata, “Pak, videonya sudah ditonton ribuan orang.”
Wajah Arjuna semakin pucat.
Aku tidak merasa menang. Aku justru merasa lelah. Tujuh tahun pernikahan, tujuh tahun membangun kepercayaan, dan ternyata selama ini aku hanya hidup di dalam cerita yang ditulis suamiku sendiri.
Aku berbalik menuju lift.
“Sari!” panggil Arjuna.
Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Kita bisa membicarakan ini di rumah.”
“Tidak,” jawabku. “Kita sudah terlalu lama membicarakan semuanya dengan caramu.”
Aku masuk ke lift sendirian.
Namun, ketika pintunya hampir tertutup, seseorang menyelipkan tangannya di antara kedua daun pintu.
Dewi.
Ia masuk dengan napas terengah-engah, lalu menekan tombol lantai dasar.
“Aku harus memberitahumu sesuatu,” katanya.
“Aku tidak tertarik mendengar alasanmu.”
“Ini bukan tentang perselingkuhan.”
Aku menatapnya.
Dewi meremas tali tasnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Arjuna tidak pernah benar-benar pergi dinas. Itu sudah kamu ketahui. Tapi ada sesuatu yang lebih buruk. Ibu mertuamu tahu semuanya karena dia sendiri yang mempertemukan kami kembali.”
Aku terdiam.
Dewi melanjutkan dengan suara bergetar.
“Beberapa bulan lalu, Arjuna menghubungiku. Katanya pernikahan kalian hanya formalitas karena kalian sudah lama tidak hidup sebagai suami istri. Dia juga bilang bahwa perusahaanmu sebenarnya dikelola menggunakan modal keluarganya.”
Aku menahan napas.
“Lalu kamu percaya begitu saja?”
“Awalnya tidak. Tetapi ibu Arjuna menghubungiku secara langsung. Dia mengatakan keluarga kalian akan segera mengumumkan perceraian, dan setelah itu Arjuna akan menikah denganku.”
Aku merasa seolah-olah lantai hotel bergeser di bawah kakiku.
Selama ini, ibu mertua selalu menyebutku menantu yang tidak tahu diri. Ia sering menyindir bahwa aku tidak pantas mendampingi seorang tokoh budaya seperti Arjuna.
Ternyata, semua itu mungkin bukan sekadar penghinaan.
Itu bagian dari rencana.
“Kenapa kamu baru mengatakan ini sekarang?” tanyaku.
Dewi mengeluarkan ponselnya.
“Karena tadi aku melihat siaran langsung Dwi. Aku baru sadar bahwa Arjuna berbohong kepada kita berdua. Dia mengatakan kepadaku bahwa kamu sudah menyetujui perceraian dan tidak akan menuntut apa pun.”
Ia menunjukkan sebuah pesan.
Di layar, nama Arjuna terlihat jelas.
Pesan itu berbunyi, “Begitu semua dokumen ditandatangani, perusahaan Sari akan menjadi milik keluarga. Setelah itu, kita tidak perlu berpura-pura lagi.”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Perusahaanku.
Perusahaan yang kubangun dari nol setelah bertahun-tahun bekerja membersihkan kantor dan rumah orang lain.
Perusahaan yang membayar kebutuhan rumah tangga ketika Arjuna belum memiliki penghasilan tetap.
Perusahaan yang diam-diam menjadi sumber kebanggaan palsu suamiku di hadapan orang-orang.
Aku mengangkat kepala.
“Dokumen apa yang kamu maksud?”
Dewi menelan ludah.
“Arjuna bilang dia sedang mengurus perubahan kepemilikan perusahaan. Dia membutuhkan tanda tanganmu. Katanya kamu sudah menandatangani sebagian dokumen.”
Jantungku berdegup kencang.
Tiga hari sebelumnya, Arjuna memang memberiku setumpuk kertas. Ia mengatakan dokumen itu hanya untuk memperbarui administrasi perusahaan karena ada perubahan alamat kantor.
Aku tidak langsung menandatanganinya. Aku membawa dokumen tersebut kepada pengacaraku karena ada beberapa bagian yang terasa janggal.
Pengacaraku belum memberikan hasil pemeriksaan.
Aku segera menghubunginya.
“Pak Bima, saya membutuhkan jawaban sekarang. Apakah dokumen perubahan kepemilikan perusahaan saya sudah diajukan?”
Suara pengacaraku terdengar serius.
“Bu Sari, untung Anda menelepon. Saya sedang mencoba menghubungi Anda sejak tadi. Ada seseorang yang berusaha mendaftarkan perubahan kepemilikan menggunakan dokumen yang mencantumkan nama Anda.”
“Siapa?”
“Suami Anda.”
Aku memejamkan mata.
“Tanda tangan saya sah?”
“Belum. Ada beberapa ketidaksesuaian, dan saya sudah meminta agar prosesnya ditunda sampai verifikasi selesai. Tetapi ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Apa?”
“Dalam dokumen itu, perusahaan Anda disebut sebagai bagian dari aset bersama yang akan diserahkan kepada pihak ketiga. Kami perlu memeriksa dasar hukumnya sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.”
Lift tiba di lantai dasar.
Aku keluar tanpa menjawab. Dewi berjalan di belakangku.
Di lobi, beberapa orang sudah berkumpul. Ponsel mereka mengarah ke layar masing-masing, tempat video Arjuna yang tertangkap di kamar hotel sedang ramai dibicarakan.
Aku tidak peduli.
Aku hanya ingin pulang, membuka seluruh dokumen perusahaan, dan memastikan tidak ada lagi yang bisa diambil dariku.
Namun, sebelum aku mencapai pintu keluar, ponselku kembali bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Bu Sari, jangan pulang dulu. Saya memiliki bukti bahwa suami Anda bukan satu-satunya orang yang mengincar perusahaan itu.”
Pesan berikutnya berisi foto lama.
Foto Arjuna, ibu mertuaku, dan seorang pria berjas berdiri di depan kantor notaris.
Di belakang foto, terdapat tanggal yang membuatku terpaku.
Foto itu diambil enam bulan sebelum aku menikah dengan Arjuna.
Aku memperbesar wajah pria tersebut.
Aku mengenalnya.
Dia adalah orang yang dahulu membantuku mendapatkan kontrak perusahaan pertamaku. Pria yang kemudian menghilang setelah menerima sejumlah uang pinjaman dariku.
Namanya Rendra.
Aku menelepon nomor tak dikenal itu.
Seorang perempuan mengangkatnya.
“Bu Sari, nama saya Maya. Saya mantan asisten pribadi Pak Rendra.”
“Kenapa Anda mengirim foto ini kepada saya?”
“Karena saya baru mengetahui bahwa rencana mereka belum berakhir. Selama ini, mereka membutuhkan pernikahan Anda dengan Arjuna untuk mengakses dokumen tertentu yang berkaitan dengan perusahaan.”
Aku menatap jalanan di luar hotel. Kendaraan berlalu-lalang seolah tidak ada apa-apa, sementara hidupku sedang berubah dalam hitungan menit.
“Apa yang sebenarnya mereka cari?”
Maya terdiam sejenak.
“Bukan perusahaan Anda, Bu. Setidaknya bukan hanya itu.”
Ia menarik napas sebelum melanjutkan.
“Mereka mencari dokumen kepemilikan sebuah gudang lama yang dulu Anda warisi dari ayah Anda. Gudang itu berada di atas lahan yang sekarang nilainya sangat tinggi karena proyek pembangunan kota.”
Aku teringat sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta yang diwariskan ayahku sebelum meninggal. Selama bertahun-tahun, tempat itu hanya kugunakan untuk menyimpan peralatan dan arsip lama.
Aku bahkan pernah menawarkan kepada Arjuna untuk menjualnya demi memperluas usaha. Ia selalu menolak dengan alasan tempat itu tidak memiliki nilai berarti.
Kini semuanya mulai masuk akal.
“Apa hubungan Rendra dengan ayah saya?” tanyaku.
Suara Maya berubah semakin pelan.
“Rendra pernah menjadi rekan bisnis ayah Anda. Tetapi sebelum meninggal, ayah Anda menuduhnya memalsukan dokumen tanah. Ada bukti yang disimpan di gudang tersebut.”
Aku tidak sanggup menjawab.
Selama ini, aku mengira ayah meninggalkan gudang itu karena tidak sempat menjualnya. Ternyata, mungkin ada alasan lain.
Maya menambahkan, “Bu Sari, saya perlu mengatakan sesuatu yang paling penting. Ayah Anda tidak pernah menyerahkan dokumen asli tanah itu kepada siapa pun. Beliau meninggalkannya khusus untuk Anda.”
“Bagaimana Anda tahu?”
“Karena saya adalah orang yang diminta beliau menjaga salinannya.”
Sambungan terputus.
Aku berdiri di depan hotel, menatap layar ponsel yang mendadak gelap.
Di belakangku, Arjuna berlari keluar sambil memanggil namaku. Wajahnya kusut, dan kedua orang tuanya mengikuti dari kejauhan.
Aku tidak lagi melihat seorang suami yang berselingkuh.
Aku melihat seseorang yang mungkin menikahiku karena menginginkan sesuatu yang bahkan belum kupahami sepenuhnya.
Arjuna berhenti beberapa langkah dariku.
“Sari, dengarkan aku. Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau begitu, besok kita pergi bersama ke gudang peninggalan ayahku.”
Wajahnya berubah.
Hanya sesaat, tetapi cukup untuk menjawab semua pertanyaanku.
Ia tahu apa yang ada di sana.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di mata suamiku.
Aku berbalik menuju mobil.
Malam itu, aku belum mengetahui seluruh kebenaran. Namun, aku akhirnya memahami satu hal: pengkhianatan Arjuna bukanlah akhir dari pernikahanku.
Itu adalah awal dari rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya.
Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menulis akhir ceritaku selain diriku sendiri.
