SUAMIKU TIBA-TIBA MEMBATALKAN MAKAN MALAM UNTUK 180 TAMU, LALU MENYALAHKANKU DI DEPAN KELUARGA PEMILIK ACARA, PADAHAL ADA SATU PESAN MENCURIGAKAN DARI DAPUR HOTEL.

Malam itu, aku akhirnya mengerti bahwa ancaman terbesar bagi usahaku bukanlah makanan yang gagal disajikan, melainkan orang-orang yang selama ini berdiri paling dekat denganku.

Bu Wening masih menatap layar tablet dengan wajah pucat. Suara Dimas dari rekaman itu terus terngiang di kepalaku.

“Pastikan acara ini gagal. Besok pagi, kontrak pengganti harus sudah ditandatangani.”

Dimas tidak menyadari bahwa ucapannya telah terekam.

“Apa maksudnya kontrak pengganti?” tanyaku pelan.

Bu Wening menarik napas panjang. “Perusahaan katering milik teman bisnis Dimas sudah beberapa kali menawarkan diri menggantikan perusahaanmu. Saya menolaknya karena hasil kerjamu selalu memuaskan.”

Aku menoleh ke arah Galih yang berdiri di ambang pintu. Wajahnya berubah tegang ketika melihat tablet di tangan Bu Wening.

“Rekaman itu tidak membuktikan apa-apa,” katanya cepat. “Saya hanya membicarakan kemungkinan bisnis.”

“Kalau begitu, kenapa makanan sengaja dibatalkan?” tanyaku.

Galih mengusap wajahnya. “Kamu tidak mengerti situasinya, Sekar.”

“Jelaskan.”

Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menunjuk Riska.

“Dia yang mengurus pengembalian uang. Aku hanya mengikuti rencana.”

Riska langsung membelalak. “Mas, jangan lempar semuanya kepadaku!”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat mereka saling menyalahkan tanpa berusaha menyembunyikan kebohongan.

Bu Wening meminta petugas keamanan memanggil Dimas. Namun, sebelum petugas itu pergi, Dimas sudah muncul di depan ruangan dengan wajah tenang.

“Ada masalah apa, Bu?”

Ibunya menunjukkan rekaman tersebut.

Dimas melihat layar sebentar, kemudian tersenyum tipis. “Ibu tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan potongan video.”

“Kalau begitu, jelaskan kenapa kamu menyuruh seseorang menggagalkan acara ini.”

“Saya sedang melindungi perusahaan.”

“Dengan merugikan 180 karyawan yang malam ini datang untuk merayakan kerja keras mereka?” suara Bu Wening bergetar.

Dimas tidak menjawab.

Aku memanfaatkan perdebatan itu untuk kembali ke dapur. Nisa sudah menyiapkan daftar restoran yang bisa membantu. Dua puluh menit sebelumnya, aku bahkan tidak tahu apakah makan malam akan terselamatkan. Sekarang, aku harus mengambil keputusan tanpa membiarkan kemarahan menguasai pikiranku.

Aku menghubungi tiga rumah makan di sekitar hotel. Dua menolak karena keterbatasan waktu. Satu lainnya, rumah makan milik pasangan lansia di Jalan Kaliurang, menyanggupi menyediakan 120 porsi nasi dan lauk dalam waktu empat puluh menit.

Pak Seno memastikan sembilan puluh porsi tambahan bisa disiapkan dari bahan restoran hotel setelah manajemen memberikan persetujuan tertulis.

Jumlah itu cukup untuk 180 tamu jika disusun sebagai hidangan prasmanan dengan pilihan lauk yang sederhana.

Aku menjelaskan rencana tersebut kepada Bu Wening. Beliau langsung menyetujuinya dan meminta stafnya membantu pengaturan ulang meja.

Tidak ada kemewahan seperti yang dijanjikan dalam paket premium. Namun, malam itu setidaknya para karyawan tidak akan pulang dengan perut kosong.

Ketika aku kembali ke ballroom, Galih menghampiriku.

“Sekar, kita bisa menyelesaikan ini di rumah. Jangan membuat masalah keluarga menjadi tontonan.”

Aku menatapnya lama.

“Masalah ini bukan lagi soal keluarga. Ini tentang uang perusahaan, dokumen palsu, dan 180 orang yang hampir kamu kecewakan.”

“Kamu istriku.”

“Dan kamu orang yang menggunakan kepercayaanku untuk mengambil keputusan atas namaku.”

Dia mencoba menggenggam tanganku, tetapi aku mundur.

Aku tidak menangis. Bukan karena tidak sakit, melainkan karena ada sesuatu yang lebih mendesak daripada kesedihanku: memastikan semua orang mendapatkan penjelasan yang benar.

Pukul 19.05, makanan pertama tiba. Para staf hotel bergerak cepat, sementara Nisa mengatur antrean agar para tamu tetap nyaman. Bu Wening naik ke panggung dan menjelaskan bahwa terjadi perubahan menu akibat persoalan teknis. Beliau juga meminta maaf tanpa menyalahkan para pekerja hotel.

Acara akhirnya berjalan, meski sederhana.

Namun, ketika aku mengira bagian terburuk telah berlalu, seorang staf keuangan menghampiriku sambil membawa amplop cokelat.

“Bu Sekar, ini ditemukan di ruang administrasi. Katanya harus diserahkan langsung kepada Ibu.”

Di dalamnya terdapat salinan kontrak baru antara perusahaan Batik Pradipta dan perusahaan katering pesaing. Kontrak itu dijadwalkan berlaku keesokan harinya, dengan nilai jauh lebih besar daripada kontrakku.

Pada halaman terakhir, tercantum tanda tangan Dimas dan sebuah klausul yang membuatku terdiam.

Perusahaan pesaing itu akan membayar komisi kepada pihak perantara sebesar Rp75 juta setelah kontrak ditandatangani.

Nama penerimanya bukan Galih.

Bukan pula Riska.

Nama itu adalah Ratih, mantan pegawaiku.

Aku menyerahkan dokumen tersebut kepada Bu Wening. Wajahnya mengeras ketika membaca setiap halaman.

“Jadi, ini bukan sekadar perebutan kontrak,” katanya. “Mereka merencanakan semuanya sejak awal.”

Dimas yang masih berada di dekat panggung langsung meminta dokumen itu dikembalikan. Bu Wening menolak.

“Besok kita akan memeriksa semuanya bersama penasihat hukum perusahaan.”

Dimas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Galih menyusulnya beberapa menit kemudian. Riska tertinggal di lorong, memeluk tasnya erat-erat.

Aku mengira dia akan membela diri lagi. Namun, dia justru menunduk.

“Aku hanya menerima uang muka, Kak,” bisiknya. “Mas Galih bilang Kakak sudah setuju. Aku tidak tahu semuanya akan sampai seperti ini.”

“Kenapa kamu tidak bertanya kepadaku?”

Matanya berkaca-kaca. “Karena aku ingin percaya kepada kakakku sendiri.”

Kalimat itu menusukku dengan cara yang berbeda. Riska memang telah melakukan kesalahan, tetapi aku tidak tahu seberapa banyak kebohongan yang telah ditanamkan Galih di antara kami.

Aku tidak memaafkannya malam itu. Aku hanya memintanya memberikan semua bukti transaksi kepada penyidik jika perkara ini dilaporkan.

Keesokan paginya, aku menemui penasihat hukum dan menyerahkan dokumen, rekaman, serta laporan transaksi yang diperoleh secara sah dari hotel dan perusahaan. Proses pemeriksaan berlangsung selama beberapa minggu. Aku memilih tidak menyebarkan tuduhan di media sosial sebelum fakta-faktanya jelas.

Kontrakku dengan Batik Pradipta akhirnya diselesaikan melalui kesepakatan tertulis. Bu Wening juga memutuskan mengaudit seluruh pengeluaran perusahaan, termasuk transaksi yang sebelumnya disetujui Dimas.

Sementara itu, aku mengajukan gugatan cerai. Keputusan itu tidak lahir dari satu malam yang buruk, melainkan dari kenyataan bahwa kepercayaan selama bertahun-tahun ternyata telah digunakan untuk menutupi kebohongan.

Dua bulan kemudian, aku kembali ke Hotel Puspa Raya untuk menghadiri acara penghargaan yang sempat tertunda. Kali ini, seluruh pembayaran diverifikasi langsung oleh tim keuangan dan setiap perubahan pesanan memerlukan persetujuan tertulis dariku.

Sebelum acara dimulai, Bu Wening menyerahkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat sebuah kartu ucapan dari para karyawan yang menerima penghargaan malam itu.

Mereka berterima kasih karena aku tidak membatalkan acara meskipun berada dalam tekanan besar.

Aku tersenyum sambil membaca setiap nama.

Lalu Bu Wening berkata pelan, “Ada satu hal yang belum saya ceritakan. Dimas mengaku bahwa dia memilih perusahaanmu sebagai sasaran karena mengira kamu akan diam demi menjaga nama baik suamimu.”

Aku menatapnya.

“Dia yakin kamu akan menanggung semua kerugian agar skandal ini tidak diketahui orang lain,” lanjutnya. “Dia salah menilai kamu.”

Aku tidak merasa menang. Aku hanya merasa lega karena akhirnya tidak perlu lagi membela kebohongan orang lain.

Sebelum meninggalkan hotel, aku membuka kembali pesan pertama dari Pak Seno yang masih tersimpan di ponselku.

Pesan itu pernah menjadi awal dari malam paling kacau dalam hidupku.

Kini, pesan yang sama mengingatkanku pada sesuatu yang jauh lebih penting daripada kontrak bernilai ratusan juta rupiah.

Bencana itu tidak menghancurkan usahaku.

Bencana itu menunjukkan siapa yang pantas berada di dalamnya, dan siapa yang selama ini hanya menunggu kesempatan untuk mengambil alih.

Ternyata, kehilangan kepercayaan kepada orang yang salah bukanlah akhir dari segalanya.

Kadang-kadang, itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup yang selama ini kita bangun dengan susah payah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang