AKU MENYAMAR JADI PENJUAL SAYUR UNTUK MEMBUKTIKAN PUNGUTAN LIAR—TAPI SAAT DIBORGOL, SEORANG PETUGAS MENYEBUT NAMA AYAHKU YANG SUDAH LAMA HILANG.

Kunci kecil bernomor 317 itu terasa dingin di telapak tanganku. Di hadapanku, Harun Santoso berdiri dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Selama bertahun-tahun, dia selalu menjadi sosok yang tenang, orang yang menemaniku melewati kematian Ibu dan membantuku mencari Ayah. Namun pagi itu, aku melihat ketakutan di matanya.

“Serahkan kunci itu, Nadira,” katanya pelan.

Aku menggenggamnya lebih erat. “Tidak sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi pada Ayahku.”

Harun menghela napas panjang. “Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Dia menatap Pak Darma yang kini ditahan Yudha. “Orang itu sudah terlalu tua untuk membedakan kebenaran dan kebohongan.”

Pak Darma berusaha melepaskan diri. “Jangan percaya dia, Nadira! Ayahmu tidak pernah menghilang karena kecelakaan!”

Jantungku berdegup kencang.

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, suara sirene terdengar dari luar gudang. Beberapa petugas memasuki ruangan, dipimpin seorang perempuan berseragam yang langsung menunjukkan surat penangkapan kepada Yudha dan pria berkemeja putih.

“Semua orang diam di tempat! Kami menerima laporan dugaan pemerasan, penyekapan, dan penghilangan barang bukti.”

Yudha pucat pasi. Dia menoleh kepada Harun, berharap mendapatkan perintah. Namun Harun justru mengangkat kedua tangannya seolah tidak memahami apa pun.

“Ini kesalahpahaman,” ujarnya. “Saya datang untuk membantu penyelidikan.”

Aku tertawa hambar. “Kau selalu pandai memilih kata-kata.”

Petugas menemukan buku pungutan liar, beberapa amplop berisi uang, serta dokumen yang mencatat aliran dana dari para pedagang menuju sejumlah rekening. Nama Harun muncul berkali-kali, disertai kode H.S. dan persentase setoran.

Ketika seorang petugas hendak memborgol Harun, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Nadira, aku membesarkanmu setelah ibumu meninggal. Aku menganggapmu seperti anakku sendiri.”

“Kalau begitu, kenapa kau mengkhianati ayahku?”

Dia terdiam.

Aku tidak tahu apakah air matanya benar-benar penyesalan atau sekadar ketakutan kehilangan kekuasaan. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menebak isi hatinya.

Aku hanya ingin menemukan kebenaran.

Satu jam kemudian, setelah memberikan keterangan awal, aku pergi menuju terminal lama di Solo. Pak Darma ikut bersama dua petugas pengawal. Sebelum berangkat, dia akhirnya menceritakan sedikit tentang masa lalu.

Dua belas tahun lalu, Bagas Prameswari sedang mengaudit sebuah proyek pembangunan pasar dan terminal antarkota. Dia menemukan anggaran fiktif, pembayaran kepada perusahaan cangkang, dan aliran dana yang melibatkan pejabat pemerintah serta kelompok pemungut uang ilegal.

Harun adalah salah satu orang yang membantu mengumpulkan bukti.

Namun menjelang laporan itu diserahkan, seluruh dokumen asli menghilang. Bagas kemudian dinyatakan hilang setelah mobilnya ditemukan di jalur menuju Wonogiri.

“Lalu kenapa Bapak tidak pernah memberi tahu saya?” tanyaku.

Pak Darma menunduk.

“Karena aku pengecut. Aku takut kehilangan keluargaku. Selama bertahun-tahun, aku membiarkan orang-orang itu hidup nyaman dengan kebohongan.”

Kami tiba di terminal lama menjelang sore. Bangunan itu sebagian besar telah ditinggalkan. Debu menutupi kursi-kursi besi, sementara suara kendaraan dari terminal baru terdengar samar dari kejauhan.

Loker nomor 317 berada di lorong belakang yang hampir tidak pernah digunakan.

Tanganku gemetar saat memasukkan kunci.

Klik.

Pintu loker terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah tas kulit cokelat, beberapa lembar dokumen yang menguning, sebuah kartu identitas lama, dan amplop putih dengan namaku tertulis di bagian depan.

Tulisan itu membuat napasku tercekat.

Aku mengenalinya.

Itu tulisan tangan Ayah.

Dengan hati-hati, aku membuka amplop tersebut.

“Nadira, jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti seseorang akhirnya berani membuka kebenaran yang selama ini disembunyikan. Maafkan Ayah karena tidak bisa pulang. Ada hal-hal yang harus Ayah selesaikan sebelum kamu mengetahui semuanya.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Aku membaca halaman berikutnya.

Ayah menjelaskan bahwa dia berhasil menyelamatkan sebagian bukti sebelum menghilang. Dia menemukan bahwa jaringan korupsi tersebut bukan hanya mencuri uang proyek, tetapi juga menggunakan pungutan liar terhadap pedagang kecil untuk membiayai operasi mereka.

Namun bagian paling mengejutkan terdapat pada lembar terakhir.

Sebuah foto memperlihatkan Ayah berdiri di depan sebuah bangunan sederhana bersama Harun. Foto itu diambil tiga tahun setelah Ayah dinyatakan hilang.

Di belakang foto terdapat tanggal dan sebuah kalimat pendek.

“Harun berjanji membawa Nadira kepadaku setelah semuanya aman.”

Aku menatap Pak Darma.

“Artinya, Ayah masih hidup tiga tahun setelah dinyatakan hilang. Apa yang terjadi setelah itu?”

Wajahnya berubah muram.

“Aku tidak tahu. Tapi ada satu orang yang tahu lebih banyak daripada siapa pun.”

“Siapa?”

Pak Darma menatapku lama.

“Harun.”

Aku segera menghubungi penyidik dan menyerahkan semua dokumen. Rekaman dari kamera tersembunyiku juga sudah diterima tim pemeriksa. Dalam beberapa hari, penyelidikan meluas ke sejumlah pejabat, pengusaha, dan petugas yang diduga terlibat.

Harun akhirnya mengakui perannya dalam pengelolaan dana ilegal. Namun dia bersikeras bahwa dia tidak pernah menyakiti Bagas.

Menurut pengakuannya, setelah menemukan bukti korupsi, Bagas memilih menghilang untuk melindungi keluarganya. Harun membantu mengatur pelariannya, tetapi kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengendalikan orang-orang dalam jaringan itu.

“Aku melakukan semuanya agar kamu tetap aman,” katanya saat pemeriksaan.

Aku menatapnya melalui kaca ruang pemeriksaan.

“Tidak. Kau melakukannya agar mereka tidak membongkar rahasiamu.”

Dia menunduk.

Aku meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

Tiga minggu berlalu. Penangkapan demi penangkapan dilakukan. Para pedagang Pasar Waringin mulai berani melapor, dan pemerintah daerah membentuk tim independen untuk mengaudit pengelolaan pasar.

Namun satu pertanyaan terus menghantuiku.

Di mana Ayah?

Suatu malam, aku menerima paket tanpa nama pengirim di kantor. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel lama dan kartu memori. Aku meminta tim forensik memeriksanya.

Video pertama memperlihatkan sebuah rumah kecil di pesisir Jawa Timur. Seorang pria berambut putih duduk di teras, memandang laut.

Wajahnya jauh lebih tua, tetapi aku mengenali matanya.

Ayah.

Aku menutup mulut, berusaha menahan tangis.

Video itu direkam dua bulan sebelumnya.

Di akhir rekaman, Ayah menatap kamera dan berkata, “Jika Nadira sudah menemukan ini, berarti Harun tidak lagi bisa menghentikannya. Nak, jangan mencariku sendirian. Ada satu kebenaran lagi yang harus kamu ketahui.”

Rekaman berikutnya menampilkan sebuah dokumen pengadilan lama. Nama Bagas Prameswari tercantum sebagai saksi dalam kasus korupsi yang diam-diam dibatalkan bertahun-tahun lalu.

Namun tanda tangan di halaman terakhir bukan milik Bagas.

Itu tanda tangan Harun, yang menyatakan bahwa Bagas telah meninggal dunia.

Tanggal dokumen tersebut adalah tiga tahun setelah Ayah dinyatakan hilang.

Aku segera mengirim salinan kepada penyidik dan meminta perlindungan resmi sebelum menuju alamat dalam video.

Keesokan paginya, aku tiba di sebuah desa pesisir di Pacitan. Rumah itu berdiri di antara pohon kelapa, dengan halaman sederhana dan kursi kayu di depan pintu.

Seorang pria keluar perlahan.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling memandang.

Lalu dia berbisik, “Nadira?”

Aku berlari memeluknya.

Tubuhnya kurus dan rambutnya hampir seluruhnya putih, tetapi pelukannya masih sama seperti yang kuingat sejak kecil.

“Ayah,” tangisku. “Kenapa Ayah tidak pulang?”

Dia memejamkan mata.

“Karena Ayah percaya, selama kamu tidak tahu apa-apa, kamu akan selamat.”

Aku melepaskan pelukan dan menatapnya.

“Harun bilang dia melindungi saya.”

Ayah menggeleng.

“Harun memang membantuku melarikan diri. Tapi setelah itu, dia mengancam akan mengungkap identitasku jika aku kembali. Dia ingin menggunakan rahasia ini untuk menguasai jaringan pungutan liar.”

Aku terdiam. Selama bertahun-tahun, aku menganggap Harun sebagai keluarga. Ternyata, dia telah menjadikan kehilangan Ayah sebagai alat untuk mengendalikan hidupku.

Ayah menggenggam tanganku.

“Maafkan Ayah karena terlalu lama memilih diam.”

Aku menangis, bukan karena semua luka itu tiba-tiba hilang, melainkan karena akhirnya aku tahu bahwa kehilangan tidak selalu berarti kematian.

Beberapa bulan kemudian, kasus tersebut resmi dibawa ke pengadilan. Harun dan sejumlah pejabat menghadapi dakwaan berdasarkan bukti yang terkumpul. Ayah memberikan kesaksian dengan identitas dan perlindungan hukum yang memadai.

Pada hari pertama persidangan, aku kembali mengunjungi Pasar Waringin.

Bu Saminah sedang menata tempe di lapaknya. Ketika melihatku, dia tersenyum lebar.

“Sekarang tidak ada lagi yang berani meminta uang sembarangan, Mbak Nadira.”

Aku membantu mengangkat keranjang dagangannya.

Di tempat itulah semuanya bermula. Aku datang dengan kerudung lusuh untuk mencari bukti pungutan liar, tetapi justru menemukan rahasia yang telah merenggut keluargaku selama dua belas tahun.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh jabatan atau dokumen resmi.

Kebenaran memang bisa dikubur, dipalsukan, bahkan dijaga oleh orang yang kita percaya. Namun selama masih ada seseorang yang berani bertanya, kebohongan tidak pernah benar-benar aman.

Dan terkadang, untuk menemukan kembali orang yang kita cintai, kita harus lebih dahulu berani kehilangan kepercayaan kepada orang yang selama ini kita anggap keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang