SUAMIKU MEMBIARKAN NAMAKU DIHAPUS DARI LABORATORIUM YANG KUBANGUN, TAPI SAAT SERVER DIKUNCI, SATU NOMOR LISENSI MEMBUAT SELURUH DIREKSI BERDIRI PANIK.

Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar. Jika tanda tangan itu palsu, berarti seseorang telah merencanakan pencurian hak kekayaan intelektualku jauh sebelum aku dipecat.

Dan orang yang menjadi saksi pemalsuan itu adalah suamiku sendiri.

“Bu Ratih, apakah rekaman video tanggal itu masih tersimpan?” tanyaku.

“Masih. Saya sudah mengamankannya. Tapi, Livia, jangan bergerak sendirian. Kalau mereka berani memalsukan tanda tangan, kita tidak tahu sejauh mana mereka akan bertindak.”

Aku mengucapkan terima kasih, lalu menutup telepon. Selama delapan tahun menikah dengan Bram, aku selalu percaya bahwa kami bisa membedakan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Aku bahkan pernah menolak tawaran perusahaan lain karena ingin membangun masa depan bersama suamiku di Nusa Energi Selaras.

Ternyata, baginya, masa depan itu hanya berharga selama aku masih bisa dimanfaatkan.

Pukul 12.15, aku tiba di sebuah kafe dekat kawasan perkantoran Jakarta. Aku membuka laptop pribadi dan memeriksa salinan kontrak LM-27. Ada satu klausul tambahan yang selama ini jarang kubicarakan kepada siapa pun. Jika perusahaan menggunakan formula setelah lisensinya berakhir, pemegang hak berwenang meminta penghentian penggunaan dan mengajukan tuntutan atas pelanggaran perjanjian.

Namun, aku tidak ingin menghancurkan proyek yang telah dikerjakan puluhan peneliti hanya demi membalas dendam kepada Bram.

Aku ingin kebenaran terungkap.

Pukul 12.42, sebuah pesan masuk dari Fikri.

“Bu, saya punya bukti. Mereka memindahkan dokumen asli dan menyalin formula ke server produksi. Saya takut, tapi saya tidak mau Ibu dituduh mencuri hasil penelitian sendiri.”

Aku segera membalas, meminta Fikri mengamankan bukti tanpa mengakses sistem yang tidak menjadi kewenangannya.

Tak lama kemudian, ia mengirimkan foto halaman buku log laboratorium. Di sana tercatat bahwa pada Selasa malam, Raline memerintahkan pemindahan kotak LM-27 atas persetujuan Bram. Ada pula catatan mengenai pengujian yang sengaja dilewati demi mengejar jadwal peluncuran.

Dadaku sesak.

Membran itu belum lolos uji tekanan siklus ke-600. Jika diproduksi massal tanpa pengujian lanjutan, sistem penyimpanan hidrogen berpotensi mengalami kegagalan serius.

Mereka bukan hanya mencuri penelitianku. Mereka mempertaruhkan keselamatan orang lain demi keuntungan.

Pukul 12.55, aku menerima telepon dari Bram.

“Livia, kamu harus datang ke kantor sekarang.”

“Untuk apa?”

“Server proyek terkunci. Tim teknologi tidak bisa menjalankan proses validasi.”

Aku terdiam.

“Kenapa kamu menghubungiku?”

“Karena kamu yang membangun sistem validasinya.”

Aku hampir tertawa. Selama bertahun-tahun, Bram menyebut pekerjaanku sebagai urusan teknis yang tidak perlu dipahami direksi. Sekarang, setelah namaku dihapus dari laboratorium, dia baru menyadari bahwa sistem itu tidak bisa berjalan tanpa persetujuanku.

“Aku sudah tidak bekerja di sana,” jawabku.

“Jangan bercanda, Liv. Investor datang empat puluh menit lagi.”

“Bukankah penelitian sudah selesai? Bukankah posisiku tidak lagi kritis?”

Bram mengembuskan napas kasar.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah rumah tangga.”

“Bagi kamu, mungkin. Bagi saya, ini soal pemalsuan tanda tangan dan penggunaan formula tanpa lisensi.”

Telepon mendadak sunyi.

Kemudian Bram berkata pelan, “Kalau kamu datang, kita bisa menyelesaikan semuanya.”

Aku menutup mata sejenak. Bagian diriku yang masih mencintainya ingin percaya. Namun, aku teringat tanda tanganku yang dipalsukan, buku catatanku yang hilang, dan pintu laboratorium yang tertutup di hadapanku.

“Aku akan datang,” kataku akhirnya. “Tapi aku datang sebagai pemegang hak LM-27, bukan sebagai istrimu.”

Pukul 13.31, aku memasuki ruang rapat utama Nusa Energi Selaras. Belasan orang duduk mengelilingi meja panjang. Para investor tampak gelisah. Di layar besar, muncul pemberitahuan bahwa validasi akhir proyek tidak dapat dilanjutkan.

Bram berdiri di dekat pintu. Wajahnya pucat.

Raline duduk di sebelah Direktur Utama, berusaha mempertahankan senyum profesionalnya.

“Livia, syukurlah kamu datang,” kata Direktur Utama. “Kami mengalami gangguan sistem. Tim teknis mengatakan hanya kamu yang bisa membantu.”

“Ada kesalahpahaman,” sela Raline. “Ibu Livia masih terbiasa mengakses sistem lama.”

Aku meletakkan map di atas meja.

“Kalau begitu, mari kita mulai dengan dokumen yang lebih penting daripada gangguan sistem.”

Aku membagikan salinan kontrak lisensi, bukti pencatatan kekayaan intelektual, serta permohonan pengalihan hak yang diduga menggunakan tanda tangan palsu.

Senyum Raline menghilang.

“Dokumen itu belum diverifikasi,” katanya cepat.

“Benar. Karena itu saya membawa Bu Ratih.”

Pintu terbuka. Konsultan hukum yang menyusun kontrak LM-27 masuk bersama seorang pengacara independen. Mereka membawa salinan rekaman dan dokumen autentikasi yang diperlukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Bram menatapku dengan mata memohon.

“Liv, kita bisa membicarakan ini secara pribadi.”

“Sudah terlalu lama semuanya kamu putuskan secara pribadi, Bram.”

Aku menoleh kepada para investor.

“Formula LM-27 tercatat atas nama saya. Lisensi penggunaan perusahaan berakhir ketika hubungan kerja saya dihentikan secara sepihak. Selain itu, dokumen pengalihan hak yang diajukan atas nama saya sedang dipersoalkan karena saya tidak pernah menandatanganinya.”

Seorang investor senior membuka kontraknya sendiri.

“Apakah ini berarti proyek senilai Rp14,2 triliun tidak memiliki dasar lisensi yang sah?”

“Untuk penggunaan LM-27 setelah lisensi berakhir, status hukumnya harus ditentukan melalui pemeriksaan. Namun, saya tidak memberikan izin penggunaan baru.”

Ruangan mendadak riuh.

Direktur Utama meminta tim hukum memeriksa semua dokumen. Raline mulai menyalahkan bagian administrasi, tetapi Fikri, yang dipanggil sebagai saksi internal, mengungkapkan pemindahan arsip dan pengabaian pengujian keselamatan.

Lalu muncul kejutan yang bahkan tidak kuduga.

Tim keamanan digital menemukan bahwa seseorang telah mencoba menghapus riwayat akses server setelah sistem terkunci. Permintaan penghapusan itu berasal dari akun eksekutif milik Bram.

Wajah suamiku kehilangan seluruh warnanya.

“Aku hanya mencoba memperbaiki sistem,” katanya.

Namun, rekaman akses menunjukkan bahwa akun tersebut juga digunakan untuk mengunduh dokumen LM-27 pada malam pemindahan arsip.

Direktur Utama memerintahkan penghentian sementara penggunaan formula dan meminta audit independen. Rapat investor ditunda. Raline diminta menyerahkan perangkat kerjanya, sedangkan Bram dinonaktifkan dari kewenangan operasional selama penyelidikan berlangsung.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa lelah.

Saat semua orang mulai meninggalkan ruangan, Bram menghampiriku.

“Aku melakukan ini demi kita,” bisiknya. “Perusahaan membutuhkan formula itu. Aku pikir setelah proyek berhasil, semuanya akan kembali seperti semula.”

“Termasuk pernikahan kita?”

Ia menunduk.

“Aku tidak pernah berniat kehilanganmu.”

“Kamu tidak kehilangan aku dalam satu hari, Bram. Kamu memilih mengorbankanku sedikit demi sedikit, sampai akhirnya kamu tidak lagi mengenali orang yang kamu lukai.”

Aku melepaskan cincin kawinku dan meletakkannya di atas meja.

“Aku akan menyerahkan persoalan ini kepada pengacara. Jangan menghubungiku kecuali melalui jalur hukum.”

Aku berjalan keluar tanpa menoleh.

Tiga bulan kemudian, audit membuktikan adanya pemalsuan dokumen dan pelanggaran prosedur keselamatan. Kasus itu diproses melalui jalur hukum, sementara nasib Bram dan Raline ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan. Pernikahanku berakhir, tetapi aku kembali membangun tim penelitian independen bersama beberapa ilmuwan yang memilih mengutamakan keselamatan daripada tekanan bisnis.

Aku juga memperbarui sistem lisensi LM-27 agar hak inventor dan keselamatan pengguna tidak lagi bergantung pada janji seorang direktur.

Pada hari laboratorium baruku resmi dibuka, Fikri berdiri di sampingku.

“Bu, apakah Ibu tidak menyesal pernah membangun perusahaan itu?”

Aku memandang para peneliti yang sedang bekerja di balik dinding kaca.

“Tidak,” jawabku. “Aku menyesal pernah mengira bahwa orang yang mencintaiku pasti akan menghargai hasil kerjaku.”

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.

“Bu Livia, saya mantan staf legal Nusa Energi Selaras. Ada satu dokumen yang belum pernah diperiksa. Dokumen itu membuktikan bahwa pemalsuan tanda tangan Anda bukan dimulai oleh Bram atau Raline.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Di bawahnya terdapat satu kalimat tambahan.

“Orang yang pertama kali memerintahkan semuanya adalah orang yang menyelamatkan Anda dari kebangkrutan empat tahun lalu.”

Aku membeku.

Nama yang muncul pada foto dokumen berikutnya membuat napasku tertahan.

Direktur Utama.

Orang yang selama ini berdiri di sisiku saat semua orang menentangku.

Dan tiba-tiba aku memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada pengkhianatan seorang suami.

Mungkin, sejak awal, aku tidak pernah benar-benar membangun kerajaan ilmiahku sendiri.

Mungkin aku hanya sedang membangun sesuatu yang sejak lama telah direncanakan orang lain untuk dicuri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang