SEORANG IBU MENUDUHKU MENCURI UANG ULANG TAHUN ANAKNYA, PADAHAL AKU BARU DATANG MEMBAWA MIKROFON. LALU KUTEMUKAN NAMA SUAMINYA DI BALIK PEMBATALAN PESTA ITU.

Wulan berdiri mematung, menatap suaminya seolah baru saja melihat orang asing. Naufal yang masih berada dalam gendongannya berhenti menangis, mungkin karena merasakan ketegangan yang tiba-tiba memenuhi ruangan.

“Mas, jawab aku!” suara Wulan bergetar. “Utang apa yang memakai namaku?”

Deni mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Aku bisa menjelaskan. Jangan membuat keributan di depan orang banyak.”

“Orang banyak?” Wulan tertawa getir. “Kamu membatalkan makanan ulang tahun anakmu sendiri, mengambil uang pengembaliannya, lalu menyuruhku percaya bahwa semuanya baik-baik saja?”

Aku, Bagas Pratama, berdiri beberapa langkah dari mereka. Aku datang untuk menjadi pembawa acara, bukan untuk menyaksikan kehancuran sebuah keluarga. Namun, setelah melihat bukti yang dikirim pemilik Dapur Lestari, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Pak Deni, kalau memang ada kesalahpahaman, sebaiknya kita periksa semua bukti,” kataku.

Deni menatapku tajam. “Kamu tidak perlu ikut campur. Kamu dibayar untuk membawa acara, bukan mengurusi rumah tangga saya.”

“Masalahnya, nama saya juga tercantum dalam brosur yang membuat istri Bapak kehilangan uang.”

Aku menunjukkan nomor rekening pada brosur. “Ini bukan rekening saya. Saya bahkan tidak pernah menerima pembayaran dari keluarga Bapak.”

Wulan menatapku dengan mata basah. Kemarahannya perlahan berubah menjadi kebingungan.

“Jadi, kamu benar-benar tidak tahu apa-apa?”

“Demi Allah, Bu, saya baru mengetahui semuanya hari ini.”

Aku lalu menghubungi pemilik Dapur Lestari melalui panggilan video. Seorang perempuan paruh baya bernama Bu Sari muncul di layar. Setelah mendengar bahwa Wulan berada di sampingku, ia meminta izin untuk menjelaskan persoalan tersebut.

“Bu Wulan, empat hari lalu suami Ibu membatalkan pesanan makanan. Katanya, ada keadaan darurat keluarga. Saya mengembalikan uang muka Rp6.500.000 sesuai permintaannya.”

“Kenapa uangnya tidak dikembalikan ke rekening saya?” tanya Wulan.

“Karena Pak Deni mengirim surat kuasa yang menyatakan beliau berhak menerima pengembalian itu.”

Bu Sari mengirimkan foto surat tersebut.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan Wulan.

Wulan menatapnya lama, lalu menggeleng kuat-kuat.

“Itu bukan tanda tanganku.”

Deni segera menyela. “Kamu menandatanganinya bulan lalu! Kamu lupa karena banyak urusan!”

“Jangan bohong, Mas. Aku tidak pernah melihat surat ini.”

Aku memperbesar foto itu. Ada nomor identitas, alamat, dan tanda tangan yang terlihat meyakinkan. Namun, yang menarik perhatianku adalah tanggal pembuatannya.

Surat itu dibuat dua hari sebelum Deni mendaftarkan paket ulang tahun Naufal kepada Pesta Ceria Nusantara.

Aku meminta Bu Sari menyimpan semua dokumen asli dan tidak menghapus percakapan mereka. Setelah panggilan berakhir, Wulan duduk di kursi plastik sambil memeluk Naufal.

“Selama ini aku percaya padanya,” bisiknya.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya mengambil mobil-mobilan merah milik Naufal yang terjatuh, membersihkan debu pada rodanya, lalu menyerahkannya kembali.

“Naufal, kita masih punya waktu untuk membuat hari ini menyenangkan.”

Anak itu menatap ayahnya.

“Papa masih mau nyanyi untuk aku?”

Deni terdiam.

Pertanyaan sederhana itu justru terasa lebih menyakitkan daripada semua tuduhan yang dilontarkan Wulan.

Aku mulai mengatur kursi dan menghubungi beberapa kenalan yang biasa bekerja dalam acara kecil. Seorang penjual kue bersedia mengantarkan kue sederhana. Dua orang teman yang memiliki usaha dekorasi setuju meminjamkan balon dan hiasan tanpa meminta bayaran di muka.

Aku tidak ingin keluarga itu kehilangan seluruh kebahagiaan hanya karena ulah seseorang.

Menjelang pukul dua, aula mulai terisi. Anak-anak datang dengan pakaian warna-warni, membawa kado kecil untuk Naufal. Beberapa orang tua sempat kebingungan melihat ruangan yang jauh berbeda dari foto pada undangan, tetapi Wulan menyambut mereka dengan jujur.

“Kami mengalami masalah dengan penyelenggara acara,” katanya. “Maaf karena pestanya tidak sesuai rencana. Tapi kami tetap ingin anak-anak menikmati hari ini.”

Aku mengambil mikrofon.

“Selamat datang di pesta Naufal! Hari ini kita tidak akan berlomba melihat siapa yang membawa hadiah paling besar. Kita akan berlomba membuat Naufal tertawa paling keras!”

Anak-anak bersorak.

Untuk beberapa saat, semuanya terasa normal. Aku mengadakan permainan tebak lagu, pertunjukan sulap sederhana, dan lomba meniup balon. Naufal akhirnya tersenyum, meski sesekali ia masih melirik pintu, menunggu ayahnya bergabung.

Namun, saat aku hendak memulai permainan berikutnya, seorang pria berjas abu-abu memasuki aula. Ia memperkenalkan diri sebagai Arman, pemilik Pesta Ceria Nusantara.

“Ada yang melaporkan bahwa acara ini menggunakan nama perusahaan kami tanpa izin,” katanya.

Wulan berdiri. “Saya membayar Rp18.700.000 kepada perusahaan Anda. Kenapa tidak ada satu pun vendor yang datang?”

Arman terlihat terkejut.

“Maaf, Bu. Berdasarkan catatan kami, pesanan ini dibatalkan oleh pelanggan dan sebagian dana telah dikembalikan.”

“Dibatalkan siapa?” tanyaku.

Arman membuka tabletnya dan menunjukkan riwayat transaksi. Pesanan memang tercatat atas nama Wulan, tetapi perubahan statusnya dilakukan melalui akun pelanggan yang terdaftar atas nama Deni.

Lebih mengejutkan lagi, terdapat permintaan pengembalian dana sebesar Rp12.200.000 ke rekening yang berbeda dari rekening pembayaran awal.

Wulan menoleh perlahan kepada suaminya.

Deni langsung berusaha merebut tablet itu.

“Data itu tidak lengkap!”

Arman mundur. “Pak, transaksi ini sudah masuk laporan pemeriksaan internal. Kami datang karena ada dugaan penyalahgunaan akun pelanggan.”

Suasana aula mendadak gaduh. Beberapa orang tua membawa anak-anak menjauh, sementara Wulan berdiri dengan wajah pucat.

Aku meminta semua orang tetap tenang. Aku tidak ingin ulang tahun Naufal berubah menjadi tontonan pertengkaran orang dewasa.

Arman lalu memperlihatkan nama penerima dana pengembalian tersebut.

Bukan Deni.

Bukan pula Wulan.

Nama itu milik seseorang bernama Riska Puspita, koordinator acara yang sebelumnya menghubungiku.

Aku langsung teringat pesan lama Riska tentang perubahan pesanan yang harus dikonfirmasi melalui Deni. Rupanya, keduanya telah berkomunikasi sejak awal.

Ketika dihubungi, Riska akhirnya mengakui bahwa ia membuat brosur palsu dengan mencatut namaku. Ia bekerja sama dengan Deni untuk membatalkan sejumlah layanan setelah pembayaran masuk, kemudian membagi uang pengembalian di antara mereka.

Namun, pengakuannya belum menjawab pertanyaan paling penting.

Mengapa Deni melakukan semua itu terhadap keluarganya sendiri?

Wulan mendekatinya. “Aku ingin kamu menjawab satu pertanyaan. Untuk apa uang anak kita?”

Deni menunduk cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Aku terlilit utang judi daring. Awalnya hanya sedikit. Aku pikir bisa mengembalikannya sebelum kamu tahu. Tapi jumlahnya terus bertambah.”

Wulan menutup mulutnya.

“Jadi, kamu memakai uang ulang tahun Naufal untuk membayar utangmu?”

“Aku panik, Wulan. Aku takut kehilangan rumah. Aku pikir setelah mendapat uang lagi, aku bisa menggantinya.”

“Dan kamu memalsukan tanda tanganku?”

Deni tidak menjawab.

Keheningan itu sudah cukup.

Wulan memeluk Naufal, lalu berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar, “Kamu bukan hanya mengambil uangku. Kamu mengambil kepercayaan anakmu.”

Deni menangis dan berlutut, memohon agar diberi kesempatan. Namun, Wulan tidak menjawab. Ia meminta Arman memberikan salinan dokumen transaksi dan berjanji akan menempuh jalur hukum.

Aku melanjutkan pesta hingga sore. Naufal akhirnya meniup lilin di atas kue sederhana. Ketika aku bertanya apa harapannya, ia menatap ibunya lalu menjawab polos, “Aku ingin Mama tidak menangis lagi.”

Wulan tersenyum sambil mengusap air matanya.

Setelah semua tamu pulang, ia menghampiriku dan menggenggam tanganku.

“Maaf karena tadi menuduhmu. Aku begitu takut anakku dipermalukan sampai tidak mau mendengar penjelasanmu.”

“Tidak apa-apa, Bu. Yang penting, Naufal tetap punya kenangan indah hari ini.”

Beberapa minggu kemudian, aku mengetahui bahwa kasus penipuan tersebut sedang diproses. Riska dan Deni harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, sementara Wulan mulai menata kembali hidupnya bersama Naufal.

Aku sendiri belajar memeriksa setiap kontrak dan tidak lagi membiarkan namaku digunakan tanpa izin.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah kulupakan dari hari itu.

Sebelum pulang, Naufal berlari menghampiriku dan menyerahkan sebuah gambar. Di atas kertas, ia menggambar tiga orang sedang berdiri di depan kue ulang tahun. Seorang perempuan, seorang anak laki-laki, dan seorang pria yang memegang mikrofon.

Di bawahnya, dengan tulisan yang belum rapi, tertulis, “Terima kasih sudah membuat Papa mau bernyanyi.”

Aku terdiam membaca kalimat itu.

Aku tahu Deni akhirnya menyanyikan satu lagu untuk putranya sebelum pergi bersama petugas yang dipanggil untuk memberikan keterangan. Mungkin, bagi Naufal, momen itu sudah cukup untuk menyelamatkan hari ulang tahunnya.

Namun, aku juga tahu bahwa satu lagu tidak dapat menghapus kebohongan, dan sebuah pesta tidak dapat memperbaiki keluarga yang kepercayaannya telah dihancurkan.

Aku menyimpan gambar itu di rumah, tepat di dekat meja kerjaku.

Bukan sebagai kenangan tentang pesta yang berhasil kuselamatkan, melainkan sebagai pengingat bahwa terkadang orang yang paling membutuhkan pertolongan bukanlah mereka yang berteriak paling keras.

Melainkan seorang anak kecil yang hanya ingin ayahnya menepati satu janji sederhana.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang