Aku menatap kotak kopi yang tergeletak di lantai. Di sudut kemasannya, masih terlihat tulisan tangan Ayah yang mulai memudar. Hanya beberapa kata sederhana, tetapi entah mengapa, saat itu rasanya jauh lebih menyakitkan daripada semua penghinaan yang baru saja kudengar.
Untuk Arga dan keluarga, semoga selalu diberi kebahagiaan. Dari keluarga Alya.
Aku membungkuk, mengambil kotak itu, lalu membersihkan debunya dengan telapak tangan.
“Terima kasih, Om. Sekarang saya tahu di mana sebaiknya keluarga saya menaruh harapan.”
Papa Arga mengernyit. “Maksud kamu apa?”
“Tidak apa-apa, Om. Saya hanya sedang belajar membedakan orang yang menerima hadiah dengan orang yang menghargai ketulusan.”
Aku mengambil kotak kedua, memasukkannya ke dalam tas, lalu berjalan menuju pintu.
Arga mengejarku sampai teras.
“Alya, tunggu dulu!”
Aku berhenti, tetapi tidak berbalik.
“Aku minta maaf. Mama dan Papa memang kadang bicara tanpa berpikir. Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi.”

Aku memejamkan mata sebentar. Selama hampir tiga tahun, aku selalu berusaha memahami keluarganya. Aku menoleransi komentar tentang pekerjaanku, diam ketika Mama Arga membandingkan masakanku dengan masakan Nadira, bahkan berpura-pura tidak mendengar ketika mereka menyebut keluargaku terlalu sederhana untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.
Selama itu pula, aku percaya Arga akan membelaku ketika waktunya tiba.
Ternyata, selama ini aku hanya mencintai kemungkinan tentang dirinya, bukan kenyataan yang berdiri di hadapanku.
“Ga, kalau hari ini aku tidak datang, apakah kamu akan menyadari ada yang salah?”
Dia terdiam.
“Kalau aku tidak melihat Nadira duduk di tempatku, memakai sandalku, dan diperlakukan seperti calon istri di depan mataku, apakah kamu akan pernah bercerita bahwa keluargamu sudah memilih perempuan lain untukmu?”
Arga mengusap wajahnya.
“Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Nadira memang dekat dengan keluargaku, tapi aku tidak pernah berniat menyakitimu.”
“Justru itu masalahnya. Kamu tidak pernah berniat melakukan apa pun. Kamu membiarkan semuanya terjadi, lalu berharap aku cukup sabar untuk memakluminya.”
“Aku mencintaimu, Alya.”
Aku akhirnya menoleh.
“Kalau begitu, kenapa aku selalu merasa harus memperjuangkan tempatku di hidupmu sendirian?”
Arga tidak menjawab.
Aku meninggalkannya di teras dan memesan ojek daring untuk kembali ke Jatinangor.
Sepanjang perjalanan, ponselku terus bergetar. Ada belasan panggilan dari Arga, disusul pesan dari Mama dan Papa Arga yang bahkan tidak pernah kusimpan nomornya. Mereka menghubungiku melalui grup keluarga yang sebelumnya dibuat untuk membahas rencana pernikahan kami.
Pesan Mama Arga singkat.
Kalau memang tidak bisa menerima candaan, mungkin hubungan ini memang tidak cocok diteruskan.
Papa Arga menambahkan bahwa persoalan kecil tidak seharusnya dibesar-besarkan.
Aku membaca semuanya tanpa membalas.
Lalu aku membuka percakapan dengan Ayah.
Pagi tadi, sebelum berangkat, Ayah mengirim pesan bahwa beliau berharap keluarga Arga menyukai kopi yang dibawaku. Aku belum sempat menjawab karena terlalu sibuk bersiap.
Jari-jariku gemetar ketika mengetik.
Yah, maaf. Hadiahnya tidak mereka buka. Aku bawa pulang lagi.
Balasan Ayah datang beberapa menit kemudian.
Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu sudah menyampaikan niat baik kita. Sudah makan?
Aku menutup mulut dengan tangan.
Di tengah rasa malu dan marah yang memenuhi dadaku, pertanyaan sederhana itu membuat air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Ayah tidak bertanya apakah aku berhasil menyenangkan calon mertuaku. Tidak bertanya apakah Arga membelaku. Beliau hanya ingin tahu apakah aku sudah makan.
Malam itu aku pulang ke rumah orang tuaku di Garut, bukan ke kos. Ibu terkejut melihatku datang membawa kembali dua kotak kopi yang dibungkus kain.
Ayah sedang duduk di teras, memperbaiki gagang cangkul.
Beliau mengangkat kepala.
“Lho, kok pulang? Bukannya tadi mau makan siang di Bandung?”
Aku mencoba tersenyum.
“Makan siangnya batal, Yah.”
Ayah meletakkan cangkulnya. Tatapannya beralih ke wajahku yang sembap, lalu ke kotak kopi di tanganku.
Beliau tidak bertanya lagi.
Hanya bangkit, mengambil tasku, dan berkata, “Masuk dulu. Ayah buatkan kopi.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menceritakan semuanya kepada orang tuaku. Tentang Nadira, sandal krem, ucapan Mama Arga, dan bagaimana Papa Arga mendorong kotak kopi pemberian Ayah dengan ujung sandalnya.
Ayah mendengarkan sampai selesai.
Ketika aku bertanya apakah beliau kecewa, Ayah justru tersenyum tipis.
“Ayah memang kecewa, Nak. Tapi bukan karena kopinya tidak dihargai.”
“Lalu karena apa?”
“Karena kamu hampir menikah dengan seseorang yang membuatmu berpikir bahwa kamu harus meminta maaf hanya karena ingin dihormati.”
Aku menangis lagi.
Ayah duduk di sebelahku.
“Pernikahan itu bukan cuma tentang siapa yang kamu cintai. Kamu juga harus melihat bagaimana orang itu memperlakukanmu ketika orang lain merendahkanmu.”
Aku mengangguk, meskipun sebagian hatiku masih berharap Arga akan melakukan sesuatu yang bisa memperbaiki semuanya.
Harapan itu bertahan sampai tiga hari kemudian.
Pagi itu, Arga datang ke rumahku tanpa pemberitahuan. Dia membawa bunga, sekotak kue, dan wajah seseorang yang tidak tidur semalaman.
Aku menemuinya di ruang tamu.
“Aku sudah bicara dengan Mama dan Papa,” katanya. “Aku bilang aku tetap mau menikah denganmu.”
Aku terdiam.
“Awalnya mereka marah. Tapi akhirnya Mama bilang akan mempertimbangkannya kalau kamu datang meminta maaf karena membuat suasana Lebaran berantakan.”
Aku menatapnya lama.
“Kamu datang ke sini untuk meminta aku meminta maaf?”
“Bukan begitu. Aku cuma ingin kita punya jalan keluar.”
“Jalan keluar untuk siapa, Ga?”
Dia menghela napas.
“Aku juga tertekan. Kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku. Kalau aku menentang mereka, semuanya jadi rumit.”
Aku hampir tersenyum karena akhirnya dia mengatakan sesuatu yang selama ini kusadari.
Arga ingin menikah denganku selama aku tidak membuat hidupnya sulit.
Dia ingin aku menjadi istrinya, tetapi tidak ingin menanggung konsekuensi ketika membelaku.
“Kalau aku datang dan meminta maaf, apa yang akan berubah?”
“Mama mungkin akan lebih menerima kamu.”
“Dan kalau suatu hari mereka menghina Ayah lagi?”
Arga terdiam.
“Kalau mereka memutuskan anak kita tidak pantas masuk keluarga karena kakeknya petani kopi?”
“Alya, jangan membawa masalah ini terlalu jauh.”
Aku mengangguk pelan.
“Baik. Sekarang aku tidak perlu bertanya lagi.”
Aku mengembalikan bunga yang dibawanya.
“Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang menganggap harga diriku sebagai masalah yang harus diselesaikan.”
Arga berdiri.
“Jadi kamu benar-benar mau mengakhiri semuanya karena satu kejadian?”
“Bukan satu kejadian. Ini hanya pertama kalinya aku berhenti mencari alasan untuk membenarkan semuanya.”
Dia menatapku dengan mata memerah.
“Kamu akan menyesal.”
“Mungkin. Tapi setidaknya aku tidak akan menghabiskan hidupku menyesali kenapa aku terus bertahan.”
Arga pergi tanpa mengucapkan salam.
Aku menangis setelah pintu tertutup, tetapi kali ini aku tahu tangisanku bukan alasan untuk kembali.
Dua bulan berlalu. Aku menyelesaikan skripsi, mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan pengolahan kopi di Bandung, dan mulai membantu Ayah mengembangkan usaha kecilnya. Selama bertahun-tahun, Ayah menjual kopi hasil petani desa kepada pengepul dengan harga yang sering kali tidak sebanding dengan kualitasnya.
Aku mengusulkan agar kami membuat merek sendiri.
Awalnya Ayah ragu.
“Siapa yang mau membeli kopi dari desa kita?”
“Orang yang tahu rasanya, Yah. Kita hanya perlu memberi mereka kesempatan untuk mencobanya.”
Kami menamai usaha itu Kopi Lereng, mengambil nama dari tanah tempat biji-biji kopi tersebut tumbuh. Aku mengurus pemasaran, sementara Ayah menghubungi para petani dan memastikan kualitas setiap panen.
Bisnis itu tidak langsung berhasil. Ada pesanan yang dibatalkan, kemasan yang harus diganti, dan bulan-bulan ketika uang hasil penjualan bahkan belum cukup untuk menutup biaya produksi.
Namun perlahan, pesanan datang dari kafe-kafe kecil di Bandung dan Jakarta.
Enam bulan kemudian, seorang pembeli dari sebuah perusahaan perhotelan menghubungiku untuk membicarakan kontrak pasokan kopi dalam jumlah besar.
Aku terkejut ketika mengetahui nama perusahaannya.
Perusahaan itu dimiliki oleh keluarga Nadira.
Aku sempat mempertimbangkan untuk menolak pertemuan tersebut. Namun pada akhirnya, aku memutuskan bahwa masa laluku tidak seharusnya menentukan masa depan usaha yang dibangun bersama Ayah.
Pertemuan berlangsung di sebuah hotel di Bandung.
Nadira datang bersama seorang manajer pengadaan. Dia tampak berbeda dari perempuan yang kutemui di rumah Arga. Tidak ada tunik mewah atau senyum penuh kemenangan. Dia mengenakan kemeja sederhana dan membawa beberapa lembar hasil pengujian kopi.
Begitu melihatku, langkahnya terhenti.
“Alya?”
Aku berdiri dan menjabat tangannya.
“Halo, Nadira.”
Dia duduk dengan canggung.
“Aku tidak tahu perusahaanmu yang mengajukan penawaran.”
“Usaha ini milik keluargaku. Aku hanya mengurus operasionalnya.”
Nadira mengangguk. Pertemuan berjalan profesional. Dia mengajukan pertanyaan tentang asal biji kopi, proses pengolahan, konsistensi rasa, dan kapasitas produksi. Aku menjawab semuanya berdasarkan data yang kami miliki.
Ketika pertemuan selesai, manajer pengadaan keluar untuk menerima telepon.
Nadira tetap duduk.
“Aku ingin minta maaf,” katanya pelan.
Aku tidak langsung menjawab.
“Waktu Lebaran, aku tahu sandal itu milikmu. Aku juga tahu bagaimana Tante memperlakukanmu. Aku seharusnya tidak ikut mempermalukanmu.”
“Kenapa kamu melakukannya?”
Dia menunduk.
“Karena aku ingin Arga memilihku. Aku pikir kalau aku membuatmu terlihat tidak cocok untuk keluarganya, aku akan punya kesempatan.”
Aku menatapnya tanpa berkata-kata.
“Tapi setelah kamu pergi, Arga tidak datang mencariku seperti yang kuharapkan. Dia justru terus membicarakanmu. Kami bertengkar, dan aku baru sadar bahwa selama ini aku juga membiarkan diriku menjadi bagian dari sesuatu yang tidak sehat.”
“Lalu kamu dan Arga?”
“Kami tidak pernah benar-benar bersama. Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak ingin menikahi seseorang hanya karena keluarganya menganggapku pilihan terbaik.”
Aku menghela napas.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Nadira bukan sebagai saingan, melainkan sebagai seseorang yang juga terjebak dalam harapan keluarganya sendiri.
“Aku menghargai permintaan maafmu,” kataku. “Tapi aku tidak bisa menghapus kejadian itu seolah-olah tidak pernah terjadi.”
“Aku mengerti.”
Kami menyelesaikan pembicaraan bisnis dan menandatangani kesepakatan percobaan untuk tiga bulan. Sebelum pergi, Nadira berhenti di dekat pintu.
“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu. Setelah kamu putus dengan Arga, Tante sempat menghubungi ibuku. Mereka ingin mengatur pernikahan kami.”
Aku terdiam.
“Kenapa kamu memberitahuku?”
“Karena aku menolak. Dan karena ada sesuatu yang mungkin belum kamu ketahui.”
Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
“Ini salinan dokumen yang diberikan ibuku setelah pembicaraan keluarga itu. Sepertinya kamu berhak mengetahui isinya.”
Di dalam amplop terdapat fotokopi surat penawaran pembelian tanah dan rumah keluarga Arga oleh perusahaan investasi milik ayah Nadira. Aku membaca dokumen itu dengan dahi berkerut. Tanggalnya hampir setahun sebelum Lebaran.
Di halaman berikutnya, ada surat dari bank mengenai pinjaman usaha keluarga Arga yang menunggak.
Aku mengangkat kepala.
“Apa hubungannya semua ini denganku?”
Nadira menarik napas panjang.
“Ayahku pernah menawarkan bantuan keuangan kepada keluarga Arga. Tapi ada syaratnya. Mereka ingin hubungan kedua keluarga menjadi lebih dekat, dan pernikahan kami dianggap cara paling mudah untuk menjamin kerja sama itu.”
Aku terdiam cukup lama.
Tiba-tiba, banyak hal yang dulu terasa aneh mulai masuk akal. Mengapa Mama Arga begitu sering memuji keluarga Nadira. Mengapa Papa Arga selalu membicarakan kemudahan jika mereka menikah. Mengapa Arga terus membiarkan keluarganya menentukan siapa yang paling pantas menjadi istrinya.
Namun aku tidak ingin mengambil kesimpulan hanya dari dokumen yang belum kupahami sepenuhnya.
“Aku tidak tahu seluruh urusan keuangan mereka,” kata Nadira. “Tapi aku tahu keluargaku tidak pernah menganggap hubungan itu semata-mata soal cinta.”
Aku memasukkan dokumen tersebut kembali ke amplop.
“Terima kasih sudah memberitahuku.”
Malam itu, aku tidak menghubungi Arga. Aku juga tidak berniat menggunakan dokumen itu untuk mempermalukannya. Aku sudah meninggalkan hubungan tersebut, dan aku tidak ingin kembali hanya untuk membuktikan bahwa keputusanku benar.
Namun dua minggu kemudian, Arga menelepon.
Suaranya terdengar lelah.
“Alya, aku dengar kamu bekerja sama dengan perusahaan keluarga Nadira.”
“Iya. Ini urusan bisnis.”
“Aku tahu. Aku cuma ingin bertanya apakah kamu pernah mendengar sesuatu tentang pinjaman perusahaan Papa.”
Aku terdiam.
“Kenapa kamu bertanya kepadaku?”
“Karena Papa bilang keluarga Nadira mungkin tidak jadi membantu kami. Sekarang bank meminta pelunasan, dan keadaan di rumah sedang kacau.”
Aku memejamkan mata.
“Ga, aku bukan bagian dari urusan keuangan keluargamu.”
“Aku tahu. Maaf. Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa.”
Untuk sesaat, aku merasa kasihan kepadanya. Aku tahu Arga juga berada di bawah tekanan. Tetapi rasa kasihan tidak mengubah kenyataan bahwa selama hubungan kami, dia memilih diam setiap kali keluarganya merendahkanku.
“Aku harap kamu menemukan jalan keluar,” jawabku. “Tapi kamu harus menyelesaikannya sendiri.”
Setelah telepon ditutup, aku menceritakan semuanya kepada Ayah.
Beliau mendengarkan, kemudian bertanya, “Menurutmu, apakah kita harus membantu mereka?”
Aku berpikir cukup lama.
“Kalau kita membantu, mungkin mereka akan menganggap kita sedang membalas budi. Atau lebih buruk, mereka akan mengira aku masih ingin kembali kepada Arga.”
Ayah mengangguk.
“Kalau begitu, jangan membantu karena masa lalu. Kalau suatu hari kamu membantu seseorang, pastikan kamu melakukannya karena itu memang benar.”
Beberapa bulan kemudian, usaha Kopi Lereng mendapatkan kontrak pasokan tetap dari beberapa hotel dan restoran. Kami mulai membeli hasil panen lebih banyak dari petani sekitar dengan harga yang lebih adil. Ayah bahkan membangun tempat pengolahan kecil di dekat rumah.
Pada suatu sore menjelang Lebaran berikutnya, aku duduk bersamanya di teras. Dua kotak kopi baru tersusun di atas meja, siap dikirim kepada para pelanggan.
Ayah memandang kemasannya dengan bangga.
“Dulu Ayah membeli kopi mahal-mahal hanya supaya keluarga Arga tahu kita datang dengan niat baik.”
Aku tersenyum.
“Sekarang Ayah menjual kopi yang sama kepada banyak orang.”
“Bukan kopi yang sama, Nak.” Ayah menunjuk biji-biji yang baru selesai disortir. “Ini hasil panen baru. Lebih baik dari sebelumnya.”
Aku tertawa kecil.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.
Pesan itu berasal dari Mama Arga.
Alya, Tante dengar usahamu sekarang berhasil. Tante ingin mengundangmu makan bersama keluarga kami saat Lebaran. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan.
Aku membaca pesan itu dua kali, lalu memperlihatkannya kepada Ayah.
Beliau tidak bertanya apakah aku akan datang.
Beliau hanya berkata, “Kamu tidak berutang kesempatan kedua kepada siapa pun.”
Aku meletakkan ponsel tanpa membalas.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa keluarga Arga akhirnya menjual rumah mereka untuk menyelesaikan sebagian utang. Arga pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan lain. Aku tidak tahu apakah dia bahagia, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari tahu.
Menjelang malam, seorang kurir datang membawa paket kecil. Tidak ada nama pengirim, hanya alamat rumah kami.
Di dalamnya terdapat sepasang sandal krem bergambar kucing.
Sandal yang sama seperti milikku dahulu.
Ada secarik kertas di dalam kotak.
Aku masih menyimpan sandal yang kamu tinggalkan di rumah kami. Aku baru mengerti bahwa hari itu bukan tentang sandal atau kopi. Kami kehilangan seseorang yang datang dengan tulus karena kami terlalu sibuk menilai apa yang bisa diberikan keluarganya. Maafkan kami.
Tidak ada tanda tangan.
Aku tahu siapa yang mengirimkannya.
Ayah membaca surat itu, lalu mengembalikannya kepadaku.
“Kamu mau membalas?”
Aku menggeleng.
“Tidak, Yah.”
Aku membawa kotak itu ke gudang dan meletakkannya di rak paling atas. Bukan untuk membalas dendam, juga bukan karena masih menyimpan kemarahan. Aku hanya tidak ingin menjadikan penyesalan orang lain sebagai pusat hidupku.
Malam itu, aku membantu Ayah membungkus pesanan kopi. Sebelum menutup kotak terakhir, aku menyelipkan kartu kecil untuk seorang pelanggan baru yang memesan kopi sebagai hadiah pernikahan.
Semoga rumah tangga kalian selalu dipenuhi rasa hormat, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Aku menutup kotak itu dan menyerahkannya kepada kurir.
Baru saat itulah aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kisah cinta mana pun kepadaku.
Keluarga bukanlah tentang siapa yang memiliki rumah paling besar, hadiah paling mahal, atau nama yang paling dihormati. Cinta juga bukan tentang seberapa lama kita bertahan menghadapi penghinaan.
Terkadang, keberanian terbesar bukanlah memperjuangkan seseorang agar tetap tinggal.
Melainkan berani pergi ketika kita akhirnya menyadari bahwa tempat itu tidak pernah benar-benar disediakan untuk kita.
