Mereka Menyebut Siswi Baru Itu Pembawa Keberuntungan, Lalu Memindahkan Mejaku ke Gudang—Sampai Aku Menemukan Nama Kakekku di Balik “Ritual” Sekolah

Aku memotret halaman buku besar itu berkali-kali, memastikan setiap tulisan terlihat jelas, sebelum mengirimkannya kepada Kakek. Tanganku gemetar, bukan karena takut pada ruangan gelap atau benda-benda tua di sekelilingku, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, semua keyakinan yang selama ini kuanggap tidak masuk akal justru membawaku pada sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada cerita mistis mana pun.

Kakek membalas pesanku dengan satu kalimat.

Jangan percaya kepada kepala sekolahmu, Rania.

Aku belum sempat bertanya ketika terdengar suara langkah kaki dari balik pintu kayu. Seseorang berhenti tepat di depanku.

“Sudah menemukan sesuatu yang menarik?”

Suara itu milik Pak Wiryo.

Aku segera memasukkan ponsel ke saku dan berdiri di depan buku besar. “Saya menemukan laporan pemeriksaan bangunan. Rupanya kakek saya pernah bekerja sama dengan yayasan sekolah ini.”

Pak Wiryo tersenyum tipis. “Keluargamu memang punya sejarah panjang dengan tempat ini.”

“Kalau begitu, Bapak pasti tahu kenapa beliau meminta semua ritual dihentikan.”

Senyumnya menghilang.

Selama beberapa detik, kami hanya saling menatap. Kemudian ia melangkah mendekati meja, mengulurkan tangan, dan menutup buku besar itu.

“Kadang-kadang, anak muda perlu memahami bahwa tidak semua kebenaran harus dibongkar.”

Aku mundur selangkah. “Kalau kebenarannya tidak berbahaya, kenapa harus disembunyikan?”

Sebelum ia menjawab, suara seseorang terdengar dari luar.

“Pak Wiryo, kepala sekolah mencari Bapak!”

Pak Wiryo mengumpat pelan. Ia membuka pintu ruangan, lalu menoleh kepadaku.

“Kamu boleh pulang sekarang. Anggap kejadian hari ini tidak pernah terjadi.”

Aku tidak menjawab. Begitu ia pergi, aku bergegas keluar dan langsung menemukan Nisa di lorong. Wajahnya pucat. Rupanya ia mengetahui bahwa aku dikunci di gudang, tetapi ketika mencoba meminta bantuan guru, ia justru dimarahi karena dianggap ikut campur.

Kami meninggalkan gedung belakang tanpa menoleh lagi.

Malam itu, aku datang ke rumah Kakek dengan membawa foto-foto halaman buku besar. Kakek tinggal sendirian di sebuah rumah sederhana di pinggir Yogyakarta. Usianya sudah tujuh puluh delapan tahun, tetapi ingatannya masih tajam. Ia membaca foto-foto itu dalam diam, lalu membuka lemari kayu yang selama ini tidak pernah diizinkannya kusentuh.

Dari dalam lemari, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah menguning.

“Dua puluh tiga tahun lalu, Kakek diminta yayasan sekolah memeriksa beberapa kejadian aneh di gedung lama,” katanya. “Mereka mengaku ada siswa yang sering sakit setelah duduk di tempat tertentu. Mereka juga mengatakan nilai beberapa siswa meningkat setelah mengikuti ritual khusus.”

Aku duduk di hadapannya. “Lalu apa yang Kakek temukan?”

“Tidak ada kutukan. Tidak ada energi buruk. Yang ada hanya manipulasi.”

Kakek membuka amplop itu dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Ternyata denah bangunan sekolah pernah diubah secara sengaja. Beberapa ruangan yang disebut sebagai titik keberuntungan sebenarnya merupakan ruang penyimpanan dokumen keuangan yayasan. Ritual yang diselenggarakan di sana menjadi alasan untuk membatasi akses siswa dan guru.

Namun, penemuan yang paling mengejutkan bukanlah itu.

“Kakek menemukan bukti bahwa seseorang menggunakan nama-nama siswa untuk membuat perhitungan weton palsu,” lanjutnya. “Siswa yang keluarganya berpengaruh ditempatkan pada posisi yang dianggap membawa keberuntungan. Sementara siswa yang tidak disukai dipindahkan, dipermalukan, atau dituduh mengganggu keseimbangan.”

Aku menelan ludah. “Kenapa Kakek tidak melaporkannya ke polisi?”

“Sudah. Kakek juga menyerahkan laporan kepada pengurus yayasan.” Ia menarik napas panjang. “Tetapi beberapa hari kemudian, kepala sekolah saat itu datang bersama seorang anggota yayasan. Mereka mengancam akan menuduh Kakek mencemarkan nama baik sekolah jika dokumen itu disebarkan. Kakek punya anak kecil dan istri yang harus dilindungi. Kakek takut.”

Aku belum pernah melihatnya mengakui ketakutan dengan cara seperti itu.

“Lalu laporan ini?”

“Kakek menyimpan salinannya. Kakek pikir suatu hari nanti seseorang akan membutuhkan bukti itu.”

Aku memandang dokumen tersebut. Ada tanda tangan kepala sekolah lama, tetapi di bagian bawah halaman terakhir tercantum nama lain yang membuat dadaku terasa sesak.

Surya Pradana.

Ayah Arga.

Aku mengenali nama itu dari berbagai acara sekolah. Pak Surya merupakan donatur terbesar yayasan dan pemilik perusahaan konstruksi yang membiayai renovasi gedung utama. Dialah orang yang kontrak bisnisnya dianggap sebagai bukti keberuntungan Sekar.

“Jadi keluarga Arga terlibat sejak dulu?”

“Belum tentu semuanya terlibat,” jawab Kakek hati-hati. “Kamu harus mencari bukti sebelum menuduh siapa pun. Jangan biarkan kemarahan membuatmu melakukan kesalahan yang sama seperti mereka.”

Aku mengangguk, meskipun pikiranku sudah dipenuhi pertanyaan.

Keesokan paginya, aku kembali ke sekolah. Aku tidak langsung menemui kepala sekolah. Sebaliknya, aku meminta bantuan Nisa untuk mencari tahu siapa yang memiliki akses ke ruang penyimpanan. Dari daftar petugas yang ditempel di kantor administrasi, kami menemukan sesuatu yang aneh. Kunci gedung lama hanya dipegang oleh kepala sekolah, Pak Wiryo, dan seorang staf administrasi bernama Bu Sulastri.

Saat jam istirahat, aku menemui Sekar di perpustakaan.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” kataku.

Ia menutup buku yang sedang dibacanya. “Tentang ritual itu?”

“Bukan. Tentang kenapa kamu benar-benar percaya bahwa aku menghalangi keberuntunganmu.”

Sekar terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

“Aku tidak pernah benar-benar percaya.”

Aku menatapnya, terkejut.

Ia meremas ujung lengan bajunya. “Ketika pertama kali pindah, aku memang kesulitan menyesuaikan diri. Ibuku sedang sakit dan ayahku kehilangan pekerjaan. Aku belajar sampai larut malam karena merasa harus mendapatkan beasiswa. Tante Arga bilang keluarganya bisa membantuku kalau aku mengikuti beberapa aturan tradisional.”

“Termasuk mengambil mejaku?”

“Aku baru tahu tentang itu pagi itu juga.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku ingin menolak, tetapi Arga bilang kalau aku menentang mereka, semua bantuan untuk keluargaku akan dihentikan. Aku takut.”

Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa Sekar bukan sekadar siswi yang menikmati perlakuan istimewa. Ia juga seseorang yang sedang berjuang, tetapi memilih diam karena tidak tahu bagaimana melawan orang-orang yang mengendalikan hidupnya.

“Kenapa kamu tidak mengatakan semuanya sejak awal?”

“Karena aku malu.” Ia mengusap air matanya. “Aku ingin terlihat kuat. Aku tidak menyangka orang lain harus menderita supaya aku bisa mempertahankan harapan.”

Aku menghela napas. “Kalau begitu, bantu aku menghentikan ini.”

Sore itu, Sekar menyerahkan tangkapan layar percakapan dalam grup keluarga Arga. Di sana, Pak Wiryo menjelaskan bahwa ia akan menggunakan cerita tentang weton Sekar untuk mengalihkan perhatian siswa dari pemeriksaan dokumen renovasi sekolah. Ada pula pesan dari Bu Sulastri mengenai berkas lama yang seharusnya sudah dimusnahkan.

Tetapi satu pesan terakhir membuat kami terdiam.

Jangan sampai Rania mengetahui hubungan kakeknya dengan laporan lama. Kalau dia menemukan dokumen asli, semuanya selesai.

Pesan itu dikirim oleh seseorang dengan nama kontak Kepala Sekolah.

Kami segera menghubungi Bu Ratih. Awalnya ia menolak terlibat, tetapi setelah melihat bukti, wajahnya berubah pucat. Ia mengaku telah diminta mengabaikan laporan kehilangan barang-barangku karena kepala sekolah mengatakan bahwa aku sedang mencari perhatian.

“Bapak bilang ini hanya masalah antarsiswa,” katanya lirih. “Saya ingin percaya karena saya tidak mau sekolah ini terlibat skandal.”

“Lalu sekarang?” tanyaku.

Bu Ratih menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Sekarang saya sadar bahwa diam juga bisa membuat kita ikut bersalah.”

Keesokan harinya, sekolah mengadakan pertemuan terbuka dengan pengurus yayasan, para guru, dan perwakilan orang tua. Kepala sekolah awalnya mengira pertemuan itu akan membahas persiapan olimpiade. Ia bahkan sempat memuji Sekar sebagai siswi yang membawa semangat baru bagi sekolah.

Namun, sebelum acara berakhir, Bu Ratih berdiri dan meminta waktu untuk menyampaikan sesuatu.

Aku menyerahkan salinan laporan Kakek kepada pengurus yayasan. Sekar menunjukkan percakapan yang disimpannya. Bu Ratih menyampaikan kesaksiannya tentang laporan yang diabaikan, sementara Nisa menunjukkan bukti bahwa meja dan barang-barangku dipindahkan tanpa izin.

Ruangan itu mendadak riuh.

Pak Wiryo bersikeras bahwa semua yang dilakukannya merupakan bagian dari pelestarian budaya. Kepala sekolah menyebut dokumen lama itu tidak relevan. Pak Surya bahkan berdiri dan mengatakan bahwa nama keluarganya sedang difitnah.

Lalu pintu aula terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun masuk bersama dua penyidik kepolisian dan seorang anggota pengawas yayasan pusat.

Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Ratna Pradana, kakak perempuan Pak Surya sekaligus mantan bendahara yayasan yang mengundurkan diri dua puluh tiga tahun lalu.

Ia membawa map berisi dokumen asli yang selama ini tidak pernah ditemukan.

“Saya sudah terlalu lama membiarkan ini terjadi,” katanya. “Saya datang hari ini bukan untuk membela keluarga saya, melainkan untuk mengakhiri kebohongan yang kami pelihara.”

Ternyata, laporan Kakek bukan satu-satunya bukti. Sebagai bendahara, Ratna dahulu menemukan penggelapan dana renovasi yang dilakukan melalui perusahaan milik adiknya. Ruang ritual digunakan untuk menyembunyikan dokumen transaksi, sementara cerita tentang keberuntungan sengaja diciptakan agar orang-orang tertentu bisa menguasai akses ke gedung lama.

Pak Wiryo membantu menjalankan skenario itu. Kepala sekolah sekarang meneruskannya untuk melindungi kepentingan donatur dan mempertahankan jabatannya. Sekar dipilih bukan karena kekuatan gaib, melainkan karena kisah keluarganya mudah dimanfaatkan untuk menarik perhatian seluruh sekolah.

Dan aku dijadikan penghalang karena nilai ujianku membuat mereka khawatir aku akan memperoleh posisi dalam tim olimpiade yang nantinya digunakan sebagai alasan untuk mengaudit program beasiswa.

Penyelidikan resmi pun dimulai. Pak Wiryo dan kepala sekolah dinonaktifkan, sedangkan transaksi yayasan diperiksa lebih lanjut. Pak Surya membantah mengetahui seluruh rencana tersebut, sehingga keterlibatannya harus ditentukan berdasarkan bukti, bukan tuduhan. Ratna menyerahkan semua dokumen yang dimilikinya kepada penyidik.

Namun, kejutan terbesar datang tiga hari kemudian, ketika Kakek mengunjungiku di sekolah.

Ia berdiri di depan mejaku yang akhirnya dikembalikan ke tempat semula, lalu mengeluarkan sebuah amplop kecil.

“Dulu Kakek mengira tugas Kakek selesai setelah menyerahkan laporan,” katanya. “Ternyata, menyimpan kebenaran tidak sama dengan memperjuangkannya.”

Di dalam amplop terdapat surat tulisan tangan yang dibuatnya dua puluh tiga tahun lalu. Surat itu ditujukan kepada seseorang bernama Ratna, tetapi tidak pernah dikirimkan.

Aku membaca kalimat terakhirnya berulang kali.

Jika suatu hari anak-anak kita menemukan kebohongan ini, jangan ajari mereka membalas dendam. Ajari mereka mengungkap kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan.

Aku memandang Kakek. “Kenapa Kakek tidak pernah bercerita tentang semua ini?”

“Karena Kakek malu telah memilih diam.”

Aku menggenggam tangannya. “Tapi Kakek akhirnya menyimpan buktinya.”

Ia tersenyum sedih. “Kadang-kadang, keberanian tidak datang saat kita pertama kali menghadapi ketidakadilan. Kadang-kadang, keberanian datang bertahun-tahun kemudian, ketika kita akhirnya berhenti membenarkan ketakutan kita sendiri.”

Beberapa minggu setelah kejadian itu, sekolah mulai berubah. Aturan pemindahan tempat duduk dibuat jelas, laporan perundungan ditangani secara resmi, dan tidak ada lagi siswa yang dipaksa mengikuti ritual demi mendapatkan perlakuan istimewa.

Sekar tetap belajar keras untuk olimpiade. Kali ini, ia tidak lagi meminta siapa pun memberinya keberuntungan. Ia bahkan menjadi orang pertama yang membantuku menyusun kembali catatan matematika yang sempat hilang.

Pada hari pengumuman seleksi, namaku kembali berada di urutan pertama. Sekar menempati posisi kedua.

Ketika semua orang bertepuk tangan, ia mendekat dan berbisik, “Sepertinya aku memang membawa keberuntungan.”

Aku mengangkat alis. “Untuk siapa?”

Ia tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjukku.

“Untuk siapa pun yang akhirnya berani mengatakan tidak.”

Aku tertawa, sesuatu yang belum kulakukan dengan lega sejak meja itu dipindahkan.

Hari itu aku mengerti bahwa keberuntungan bukanlah kekuatan ajaib yang diwariskan melalui tanggal lahir, benda pusaka, atau posisi sebuah meja. Keberuntungan juga bukan hak istimewa yang bisa dirampas dari orang lain.

Namun, ketika hendak meninggalkan kelas, aku melihat selembar kertas terlipat di dalam laci mejaku.

Tidak ada nama pengirimnya.

Di atas kertas itu tertulis satu kalimat pendek.

Rania, kamu sudah menemukan kebohongan yang pertama. Sekarang tanyakan kepada Kakekmu siapa yang sebenarnya membangun sekolah ini.

Aku mengangkat kepala dan memandang Kakek yang sedang menungguku di gerbang.

Untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya apakah kisah yang baru saja kami ungkap benar-benar telah berakhir, atau apakah selama ini keluargaku hanya mengetahui sebagian kecil dari rahasia yang jauh lebih besar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang