Pukul tujuh pagi, rumah yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan suara kartun kesukaan Keira berubah menjadi ruang sidang yang sunyi.
Aku duduk di ujung meja makan dengan kemeja putih dan rambut terikat rapi. Di depanku tersusun tiga map cokelat, segelas air putih, dan dua cangkir kopi yang belum kusentuh. Aku tidak tidur semalaman, tetapi anehnya, aku merasa jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Raka datang lebih dahulu bersama Pak Yudi, pengacara keluarga kami. Tak lama kemudian, Bu Ratih dan Arman tiba. Wajah mereka penuh tanda tanya.
“Alya, sebenarnya ada apa?” tanya Bu Ratih sambil duduk di kursi seberangku.
Aku belum sempat menjawab ketika terdengar langkah kaki dari tangga.
Dimas muncul dengan kaus hitam dan rambut berantakan. Selma berjalan di belakangnya, mengenakan kemeja yang jelas bukan miliknya. Wajah Dimas langsung berubah saat melihat begitu banyak orang berkumpul di ruang makan.
“Ada apa ini?” tanyanya tajam. “Kenapa semua orang ada di rumahku?”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Duduk, Mas. Kita perlu bicara.”
Dimas melirik Selma. Perempuan itu tampak pucat. Ia bahkan tidak berani menatapku.
“Alya, kalau ini soal pekerjaan, kita bicarakan nanti saja.”
“Ini memang soal pekerjaan. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal.” Aku menunjuk kursi di sampingnya. “Sudah berapa lama Selma tidur di kamar kita?”
Wajah Bu Ratih seketika memucat.
Arman berdiri setengah dari kursinya. “Dimas, apa maksud Alya?”
Dimas tertawa pendek, seolah semuanya hanya kesalahpahaman kecil.
“Kalian jangan langsung percaya. Selma kemarin malam datang karena ada masalah pekerjaan. Kami minum sedikit, lalu dia ketiduran. Tidak ada yang terjadi.”
Aku membuka ponsel dan memutar video yang kurekam malam sebelumnya.
Tidak ada yang berbicara sampai video selesai.
Bu Ratih menutup mulutnya. Arman menggeleng berkali-kali, sedangkan Raka mengepalkan tangan di bawah meja. Selma menunduk begitu dalam hingga rambutnya menutupi wajah.

Dimas mematikan layar ponselku dengan kasar.
“Cukup! Kamu sengaja mempermalukan aku di depan keluarga sendiri?”
Aku menarik kembali ponselku.
“Tidak, Mas. Kamu melakukan itu sendiri. Aku hanya memastikan semua orang melihat kenyataan yang selama ini kamu sembunyikan.”
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Bagus. Kalau begitu, jelaskan empat ratus dua belas juta rupiah yang kamu kirim kepada Selma.”
Wajahnya berubah.
Aku mengeluarkan lembar mutasi rekening dan meletakkannya di atas meja.
“Kalau hubungan kalian hanya sebatas rekan kerja, untuk apa kamu membiayai apartemennya? Untuk apa membayar renovasi, biaya hidup, dan berbagai pengeluaran pribadi menggunakan uang keluarga kita?”
Dimas membolak-balik dokumen itu dengan tangan gemetar. Sesaat kemudian, ia melemparkannya ke meja.
“Itu uangku juga!”
“Sebagian adalah uangku. Sebagian lagi berasal dari rekening bersama yang kita gunakan untuk kebutuhan Keira.”
“Aku bisa menggantinya!”
“Dengan uang apa?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Aku lalu membuka map kedua.
“Karena ternyata, persoalannya jauh lebih besar daripada perselingkuhan.”
Pak Yudi mengambil alih pembicaraan. Dengan suara tenang, ia menjelaskan bahwa sejumlah pembayaran perusahaan mengarah kepada PT Mahardika Prima Logistik, perusahaan yang memiliki hubungan dengan Selma. Beberapa dokumen persetujuan juga memuat tanda tangan yang diduga dipalsukan.
Dimas langsung menoleh kepadaku.
“Kamu mendapatkan dokumen ini dari mana?”
“Dari arsip yang selama ini kamu kira tidak pernah kubuka.”
“Kamu tidak mengerti urusan perusahaan!”
“Mungkin. Tapi aku tahu tanda tanganku sendiri.”
Aku menunjukkan salinan dokumen tersebut.
Di bawah namaku sebagai komisaris, terdapat tanda tangan yang tampak serupa, tetapi goresan terakhirnya berbeda. Aku sudah membandingkannya dengan tanda tanganku pada akta nikah dan dokumen kepemilikan rumah.
Pak Yudi menegaskan bahwa keaslian dokumen perlu diperiksa lebih lanjut dan bahwa bukti yang ada belum cukup untuk menyimpulkan siapa yang bertanggung jawab atas seluruh transaksi. Namun, aliran dana itu cukup serius untuk memerlukan pemeriksaan independen.
Bu Ratih memandang putranya dengan mata berkaca-kaca.
“Dimas, katakan bahwa ini tidak benar.”
Dimas mengusap wajahnya.
“Bu, ini urusan bisnis. Alya tidak memahami semuanya.”
“Kalau begitu, jelaskan,” kata Arman. “Jangan bersembunyi di balik kata bisnis setiap kali kamu membuat kesalahan.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Dimas tidak punya jawaban.
Selma tiba-tiba berdiri.
“Aku tidak tahu soal tanda tangan itu,” katanya terbata-bata. “Aku hanya menerima uang yang dikirim Dimas. Dia bilang itu bonus proyek dan kompensasi pekerjaan.”
Aku menatapnya.
“Lalu apartemen di Sentul?”
Selma menggigit bibir.
“Dia bilang itu investasi perusahaan.”
“Dan kamu percaya?”
Air matanya jatuh.
“Aku percaya karena dia bilang pernikahan kalian sudah lama berakhir. Dia bilang kalian hanya tinggal serumah demi anak.”
Aku hampir tertawa mendengarnya. Bukan karena lucu, melainkan karena kebohongan Dimas ternyata memiliki banyak versi.
Dimas mendadak membentak, “Selma, tutup mulutmu!”
Selma tersentak. Namun kali ini ia tidak menurut.
“Kamu sendiri yang bilang begitu! Kamu bilang akan menceraikan Alya setelah urusan perusahaan selesai. Kamu juga bilang uang itu aman karena semua dokumen sudah ditandatangani.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Dimas, lalu menatap Selma.
“Dokumen apa yang sudah ditandatangani?”
Selma tampak menyesal telah berbicara. Ia membuka tasnya dengan tangan gemetar dan mengeluarkan sebuah amplop putih.
“Aku membawa ini karena semalam Dimas bilang akan menyelesaikan semuanya hari ini.”
Ia menyerahkan amplop itu kepada Pak Yudi.
Di dalamnya terdapat salinan perjanjian pengalihan saham perusahaan. Namaku tercantum sebagai pihak yang menyetujui transaksi, tetapi tanggal penandatanganannya membuatku tertegun.
Dokumen itu dibuat tiga bulan lalu.
Saat itu aku sedang berada di Surabaya untuk mengurus proyek besar. Aku bahkan masih menyimpan tiket pesawat dan bukti perjalanan yang menunjukkan bahwa aku tidak berada di Jakarta pada hari tersebut.
Pak Yudi membaca setiap halaman dengan teliti.
“Dokumen ini harus segera diamankan dan diperiksa. Jangan ada yang mengubah atau menghilangkan arsip terkait.”
Dimas bangkit.
“Berikan itu kepadaku!”
Raka berdiri menghalangi jalannya.
“Duduk, Dimas. Jangan membuat keadaan semakin buruk.”
“Ini perusahaan keluargaku!”
“Dan Alya adalah istrimu,” sahut Bu Ratih dengan suara bergetar. “Perempuan yang selama ini bekerja, membantu rumah tanggamu, dan membesarkan anakmu. Bagaimana kamu bisa melakukan ini kepadanya?”
Dimas menatap ibunya, lalu duduk kembali. Untuk beberapa detik, ia tampak seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan. Namun rasa bersalah itu segera berubah menjadi kemarahan ketika ia kembali memandangku.
“Kamu mau apa sekarang? Uang? Saham? Katakan saja berapa yang kamu inginkan.”
Aku menggeleng pelan.
“Aku tidak ingin membeli pengakuanmu, Mas. Aku hanya ingin mengakhiri pernikahan ini dengan benar dan melindungi Keira.”
Aku mengeluarkan map ketiga.
Di dalamnya terdapat rancangan kesepakatan mengenai pemisahan tempat tinggal, pengaturan sementara pengasuhan Keira, serta daftar aset yang harus diperiksa sebelum pembagian dilakukan. Tidak ada angka fantastis atau tuntutan yang kutulis karena marah. Semuanya akan dibahas melalui proses hukum, dengan kepentingan anak kami sebagai prioritas.
“Aku tidak akan menghalangimu bertemu Keira,” kataku. “Dia tetap berhak memiliki ayah. Tapi mulai hari ini, kamu tidak lagi berhak menggunakan namaku untuk menutupi keputusanmu.”
Dimas menatap rancangan itu lama sekali.
“Kamu benar-benar mau menceraikan aku?”
Aku teringat malam ketika pulang membawa martabak kesukaannya. Aku teringat pesan-pesan sederhana yang kukirim setiap kali Keira bertanya kapan ayahnya pulang. Aku juga teringat betapa seringnya aku membela Dimas ketika orang lain mempertanyakan sikapnya.
“Aku sudah kehilangan suamiku jauh sebelum malam tadi,” jawabku. “Malam tadi aku hanya menemukan buktinya.”
Tidak ada yang berbicara.
Pak Yudi menjelaskan bahwa surat tersebut bukan putusan cerai dan perceraian harus ditempuh melalui pengadilan yang berwenang. Setelah mendengar penjelasannya, aku menandatangani pernyataan bahwa aku ingin memulai proses perceraian. Dimas menolak menandatangani rancangan kesepakatan itu.
Aku tidak memaksanya.
Hari itu bukan akhir dari semuanya. Masih ada pemeriksaan transaksi, penelusuran dokumen, dan persoalan hukum yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pertemuan keluarga.
Namun, ketika semua orang mulai berdiri, Dimas tiba-tiba memanggilku.
“Alya, tunggu. Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Aku berhenti.
Wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan. Yang tersisa hanya ketakutan.
“Uang itu bukan cuma untuk Selma,” katanya lirih. “Aku meminjamnya dari seseorang. Kalau transaksi perusahaan itu diperiksa, mereka akan tahu siapa yang sebenarnya memberikan dana.”
Pak Yudi segera meminta Dimas tidak melanjutkan pembicaraan tanpa pendampingan hukum. Namun sebelum ia menutup mulut, Dimas menambahkan satu kalimat yang membuat Bu Ratih terduduk kembali.
“Orang yang membiayai semuanya adalah ayah.”
Ayah mertuaku telah meninggal dua tahun lalu.
Aku memandang Dimas, tidak memahami maksudnya.
“Ayah meninggalkan utang?” tanyaku.
Dimas menggeleng.
“Bukan. Ayah masih hidup ketika semua transaksi itu dimulai. Dia sengaja menyembunyikan kepemilikan sebagian perusahaan melalui beberapa nama. Aku hanya meneruskan apa yang dia minta.”
Arman menatap adiknya dengan wajah tidak percaya. Bu Ratih menangis tanpa suara.
Aku teringat sebuah percakapan lama dengan mendiang ayah mertuaku, ketika ia pernah berkata bahwa suatu hari aku akan memahami alasan dirinya memberiku saham perusahaan. Waktu itu aku mengira ia sekadar ingin memastikan masa depan keluargaku aman.
Pak Yudi meminta kami memeriksa akta dan arsip perusahaan sebelum mengambil kesimpulan. Raka lalu membuka map dokumen yang kubawa dari ruang kerja.
Di antara lembar-lembar lama itu, ia menemukan surat yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Surat tersebut ditujukan kepadaku, ditulis tangan oleh ayah mertuaku, dan disimpan bersama akta kepemilikan saham.
Aku membukanya dengan jemari dingin.
Alya, jika surat ini akhirnya sampai ke tanganmu, berarti Dimas telah mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan ayahnya. Jangan biarkan rasa cinta membuatmu mengorbankan masa depanmu dan Keira. Saham yang kuberikan kepadamu bukan hadiah pernikahan. Itu adalah hakmu atas perusahaan yang seharusnya dilindungi sejak awal.
Di bagian paling bawah, ada satu kalimat tambahan.
Jika Dimas menggunakan namamu untuk menyembunyikan transaksi tanpa persetujuanmu, hubungi notaris yang tercantum dalam lampiran. Ia menyimpan dokumen asli mengenai kepemilikan perusahaan.
Aku mengangkat wajah.
Tiba-tiba aku mengerti mengapa ayah mertua memberiku saham, mengapa Dimas selalu menghindari pembicaraan tentang laporan keuangan, dan mengapa namaku muncul pada dokumen yang tidak pernah kutandatangani.
Namun surat itu belum menjawab siapa yang membuat transaksi palsu dan sejauh mana Dimas terlibat.
Aku melipatnya kembali, lalu menatap suamiku untuk terakhir kalinya pagi itu.
Di luar, matahari mulai menerangi halaman rumah. Keira sebentar lagi akan pulang dari rumah Mama, membawa boneka kesayangannya dan bertanya mengapa semua orang berkumpul sejak pagi.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perpisahan ini kepadanya. Aku hanya tahu bahwa aku tidak ingin putriku tumbuh dengan menganggap pengkhianatan sebagai sesuatu yang harus diterima demi mempertahankan keluarga.
Pernikahanku mungkin akan berakhir di pengadilan. Perusahaan itu mungkin akan menghadapi pemeriksaan panjang. Dan kebenaran tentang ayah mertuaku mungkin akan mengubah seluruh hidup kami.
Namun ketika aku melangkah keluar dari ruang makan, untuk pertama kalinya aku tidak merasa sedang kehilangan rumah.
Aku sedang merebut kembali hak untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di dalamnya.
Sebab pagi itu, dua keluarga memang duduk menghadap surat perceraian.
Tetapi yang benar-benar berakhir bukan hanya sebuah pernikahan.
Yang berakhir adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun membuatku percaya bahwa diam berarti setia, memaafkan berarti harus bertahan, dan mempertahankan keluarga berarti mengorbankan diri sendiri.
Aku tidak lagi bersedia membayar harga semahal itu.
