Memintaku Menandatangani Perceraian Demi Memenuhi Tantangan Sahabat Masa Kecilnya, Tapi Ia Tak Tahu Apa yang Kusimpan dari Rumah Sakit

Pagi itu, Arga pulang dengan sebuket bunga mawar putih dan senyum yang sama sekali tidak kusadari pernah kubenci. Ia mengira aku masih menjadi perempuan yang akan menyambutnya dengan secangkir kopi, menanyakan bagaimana harinya, lalu memaafkan apa pun yang telah ia lakukan.

Namun, pagi itu, rumah kami sudah kosong.

Bukan hanya lemari yang kehilangan pakaian, bukan hanya rak yang tak lagi menyimpan buku-buku kesukaanku. Bahkan foto pernikahan kami yang selama empat tahun tergantung di dinding ruang tamu pun telah menghilang. Yang tersisa hanyalah bekas persegi panjang yang lebih terang daripada warna dinding di sekitarnya.

Arga berdiri terpaku di ambang pintu.

“Rani?”

Tak ada jawaban.

Ia meletakkan bunga di atas meja, lalu bergegas menuju kamar tidur. Lemari terbuka lebar. Sisi tempatku biasa menyimpan pakaian sudah kosong. Laci meja rias yang menyimpan surat-surat cinta kami juga telah dibersihkan.

Di atas tempat tidur tergeletak sebuah amplop putih.

Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.

Di dalamnya hanya ada cincin pernikahan kami, kunci rumah, dan selembar kertas dengan tulisan tanganku.

Aku tidak pergi karena kamu menikahi Nadira selama sehari. Aku pergi karena akhirnya aku mengerti bahwa bagimu, pernikahan kita memang bisa dikorbankan kapan saja, selama orang lain memintanya.

Jangan mencariku hanya karena kamu baru menyadari rumah ini terasa kosong. Tanyakan pada dirimu sendiri mengapa kamu baru merasakan kehilangan setelah aku berhenti bertahan.

Arga membaca surat itu berulang kali. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan meneleponku.

Nomorku masih aktif, tetapi tidak kuangkat.

Ia menelepon lagi.

Dan lagi.

Ketika akhirnya panggilannya tersambung, ia langsung berbicara dengan napas memburu.

“Rani, kamu di mana? Apa maksud surat ini? Kamu bisa pulang sekarang. Aku sudah datang untuk mengurus pernikahan kita kembali.”

Aku sedang duduk di sebuah kamar penginapan kecil di pinggiran Yogyakarta, menatap cahaya matahari yang jatuh di lantai. Aku memilih pergi ke kota tempat almarhum ayahku pernah membawaku berlibur saat kecil. Aku membutuhkan tempat yang tidak menyimpan kenangan tentang Arga.

“Tidak ada yang perlu diurus lagi,” jawabku.

“Jangan bicara seperti itu. Aku tahu kamu marah. Aku salah karena kemarin tidak menjelaskan semuanya dengan baik.”

Aku tertawa pelan. Bukan karena lucu, melainkan karena untuk pertama kalinya aku mendengar Arga menyebut dirinya bersalah tanpa lebih dulu menyalahkan keadaan.

“Kamu sudah menjelaskan semuanya, Ga. Kamu bilang perceraian itu cuma administrasi. Kamu bilang pernikahan kita tidak ditentukan oleh dokumen. Lalu kamu membiarkan ibumu memberikan gelang keluarga kepada Nadira seolah aku tidak pernah menjadi istrimu.”

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Ia terdiam.

Aku menunggu, tetapi tak ada penjelasan yang datang.

“Rani, pulanglah. Kita bicarakan baik-baik. Aku akan menjelaskan semuanya kepada Ibu dan Nadira. Aku akan memperbaiki keadaan.”

“Kamu selalu berjanji memperbaiki sesuatu setelah kamu sendiri yang menghancurkannya.”

Aku mengakhiri panggilan sebelum ia sempat menjawab.

Setelah itu, aku duduk diam sambil mengusap perutku. Di dalam tas, hasil pemeriksaan dari rumah sakit masih tersimpan rapi. Aku belum memberitahukan kehamilanku kepada siapa pun, bahkan kepada ibuku sendiri.

Bukan karena aku ingin menggunakan anak ini untuk menghukum Arga.

Aku hanya tidak sanggup membayangkan betapa mudahnya kabar itu berubah menjadi alasan baru baginya untuk memintaku kembali tanpa benar-benar memahami luka yang telah ia tinggalkan.

Selama empat tahun pernikahan, kami menjalani berbagai pemeriksaan kesuburan. Setiap bulan yang berakhir dengan hasil negatif membuatku merasa tubuhku telah mengecewakan orang yang kucintai. Arga selalu memelukku dan mengatakan bahwa kami masih memiliki waktu.

Namun, ketika aku benar-benar membawa kabar yang kami tunggu selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkannya.

Hari itu, aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa anakku tidak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta berarti harus terus mengalah agar seseorang tetap tinggal.

Sementara itu, di Jakarta, Arga mulai menyadari bahwa kepergianku bukan sekadar ancaman.

Ia mendatangi kantor tempatku bekerja, tetapi rekan-rekanku hanya mengatakan bahwa aku sedang mengambil cuti. Ia menghubungi sahabat-sahabatku, mengunjungi rumah ibuku, bahkan meminta bantuan adikku untuk membujukku pulang.

Namun, aku tidak kembali.

Tiga hari kemudian, Nadira datang ke rumah keluarga Arga dengan wajah pucat. Gelang emas yang diberikan ibu Arga masih melingkar di pergelangan tangannya.

“Arga, aku harus bicara.”

Arga yang sejak pagi duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan menoleh malas. “Kalau kamu mau membahas tantangan itu, aku sedang tidak punya waktu.”

“Aku tahu Rani pergi karena aku.”

“Bukan urusanmu.”

Nadira terdiam, lalu duduk di hadapannya.

“Dulu kamu pernah berjanji tidak akan meninggalkanku setelah ayahku pergi. Aku ingat itu. Tapi aku tidak pernah memintamu mengorbankan pernikahanmu.”

Arga menatapnya tajam. “Kamu yang menantangku.”

“Iya. Dan aku menyesalinya.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka kecil, Nadira tidak mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa ia hanya bercanda.

“Aku iri kepada Rani,” lanjutnya. “Bukan karena dia punya rumah atau suami yang mencintainya. Aku iri karena dia memiliki seseorang yang bisa dia percaya. Aku ingin membuktikan bahwa aku masih bisa menjadi orang paling penting dalam hidupmu. Aku tidak menyadari bahwa aku sedang membuatmu menghancurkan orang yang paling penting bagimu.”

Arga bangkit berdiri.

“Kalau kamu tahu itu, kenapa kamu tidak menghentikanku kemarin?”

Nadira menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan.

“Karena aku egois.”

Jawaban itu membuat Arga kehilangan kata-kata. Ia ingin marah, tetapi kemarahannya terasa tidak adil. Nadira memang telah menantangnya, tetapi dialah yang memilih menerima tantangan itu. Tidak ada seorang pun yang memaksanya menandatangani dokumen perceraian.

Malam itu, Arga mendatangi ibunya.

Ia meminta penjelasan tentang gelang emas yang diberikan kepada Nadira.

Ibunya tampak terkejut. “Ibu pikir kamu sudah membicarakannya dengan Rani.”

“Membicarakan apa?”

“Gelang itu memang milik keluarga kita. Tapi Ibu tidak pernah bermaksud menjadikan Nadira pengganti Rani. Nadira datang bersama kamu, dan Ibu mengira kalian sedang merayakan sesuatu.”

Arga memejamkan mata.

“Lalu kenapa Ibu bilang gelang itu jatuh kepada orang yang tepat?”

Ibunya menunduk lama sebelum menjawab.

“Karena Ibu kecewa melihatmu terus mengabaikan istrimu demi Nadira. Ibu ingin kamu sadar bahwa kamu tidak bisa memperlakukan Rani seolah dia akan selalu ada. Ibu tidak menyangka kamu akan benar-benar menceraikannya.”

Arga terduduk.

Ia baru memahami bahwa setiap orang memiliki alasan sendiri, tetapi semua alasan itu tidak menghapus akibat dari pilihannya. Ia telah begitu sibuk menjadi penyelamat bagi Nadira hingga lupa bahwa Rani pun memiliki perasaan, ketakutan, dan batas kesabaran.

Seminggu berlalu sebelum sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Pesan itu berasal dariku.

Aku bersedia bertemu. Ada sesuatu yang perlu kamu ketahui. Datanglah sendiri, tanpa Nadira dan tanpa keluargamu.

Arga membalas dalam hitungan detik.

Aku akan datang. Ke mana pun kamu memintaku.

Aku mengirimkan alamat sebuah kafe kecil di Yogyakarta.

Ketika Arga tiba keesokan harinya, ia tampak jauh lebih kurus. Kemejanya kusut, matanya merah karena kurang tidur. Ia berdiri di depan mejaku selama beberapa detik, seolah takut aku akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat.

“Rani.”

Aku mengangguk, mempersilakannya duduk.

Untuk beberapa saat, kami hanya saling memandang. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi tidak semuanya masih perlu diucapkan.

“Aku minta maaf,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan mencari alasan lagi. Aku salah. Aku mengira kamu akan selalu memahamiku, sampai aku lupa bahwa kamu juga berhak untuk tidak setuju.”

Aku menatap wajahnya. Inilah kalimat yang dahulu ingin sekali kudengar. Namun, setelah semuanya terjadi, kalimat itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengembalikan perasaanku ke tempat semula.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu kembali,” lanjutnya cepat. “Aku hanya ingin tahu apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”

Aku menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah amplop dari tas.

Wajah Arga berubah pucat ketika melihat lambang rumah sakit di sudutnya.

“Apa itu?”

“Hasil pemeriksaanku. Hari ketika kamu memintaku menandatangani perceraian, aku baru mengetahui bahwa aku hamil.”

Dunia seolah berhenti bergerak.

Arga menatap amplop itu, lalu menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Kamu hamil?”

Aku mengangguk.

“Sudah berapa lama?”

“Sekarang hampir delapan minggu.”

Ia menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir tanpa bisa ditahannya.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam lama.

“Karena aku ingin memberitahumu saat kamu masih menjadi orang yang membuatku merasa aman. Tapi hari itu, bahkan sebelum kamu mendengarkan apa yang ingin kukatakan, kamu sudah memintaku menghapus pernikahan kita.”

Arga menangis. Ia tidak mencoba menyentuh tanganku, tidak pula memintaku memaafkannya.

“Aku kehilangan semuanya,” bisiknya.

“Tidak, Ga. Kamu masih punya kesempatan menjadi ayah yang baik. Tapi kamu tidak bisa menganggap kesempatan itu sebagai jaminan bahwa aku akan kembali menjadi istrimu.”

Ia mengangguk pelan, seolah baru memahami bahwa penyesalan tidak selalu datang bersama kesempatan kedua.

Sebelum berpisah, Arga bertanya apakah ia boleh menemani pemeriksaan kehamilanku berikutnya. Aku mengatakan bahwa kami bisa membicarakannya setelah aku merasa siap. Untuk pertama kalinya, ia menerima jawabanku tanpa berusaha mengubahnya.

Beberapa bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang kuberi nama Kirana.

Arga datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar dariku. Ia berdiri di samping ranjang, memandang putrinya dengan mata penuh air mata. Ketika aku mengizinkannya menggendong Kirana, tangannya gemetar begitu hebat hingga perawat harus membantunya.

“Aku akan menjaganya,” katanya lirih. “Apa pun yang terjadi di antara kita, aku akan menjadi ayah yang bertanggung jawab.”

Aku percaya bahwa kali ini ia bersungguh-sungguh. Bukan karena kata-katanya terdengar indah, melainkan karena selama berbulan-bulan ia belajar menghormati batasanku, datang tepat waktu, dan memenuhi tanggung jawabnya tanpa menuntut balasan.

Kami tidak menikah kembali.

Aku juga tidak melarang Kirana mengenal ayahnya. Aku hanya memastikan bahwa hubungan mereka dibangun di atas kasih sayang dan tanggung jawab, bukan rasa bersalah atau janji kosong.

Setahun kemudian, ketika Kirana mulai belajar berjalan, Arga datang membawa sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat gelang emas milik keluarganya.

“Ibu ingin kamu menyimpannya,” katanya. “Bukan sebagai syarat untuk kembali menjadi bagian keluarga kami. Katanya, gelang itu seharusnya diberikan kepada orang yang paling memahami arti menjaga keluarga.”

Aku menutup kotak itu perlahan.

“Berikan kepada Kirana ketika dia sudah cukup dewasa untuk memahaminya.”

Arga tersenyum tipis dan mengangguk.

Setelah ia pergi, aku berdiri di dekat jendela sambil memandang Kirana yang tertawa mengejar gelembung sabun di halaman. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang kehilangan sesuatu.

Aku akhirnya memahami bahwa keluarga bukanlah tentang siapa yang paling lama bertahan, siapa yang paling sering mengalah, atau siapa yang bersedia menerima luka demi mempertahankan sebuah nama.

Keluarga adalah tempat seseorang tidak perlu mengorbankan harga dirinya hanya untuk membuktikan bahwa ia layak dicintai.

Dan terkadang, keputusan paling berani dalam hidup bukanlah bertahan bersama seseorang yang kita cintai, melainkan pergi ketika kita sadar bahwa cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang menghargai kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang