Arga menatap kotak cincin di tanganku seolah benda kecil itu bisa meledak kapan saja. Wajahnya pucat, bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Di belakangnya, Keisha mundur selangkah.
“Nadira, kamu bisa jelaskan ini dulu?” akhirnya Arga bersuara.
Aku tertawa pendek. Entah bagaimana, di tengah lengan yang nyeri dan hati yang rasanya sudah remuk, aku masih bisa tertawa.

“Menarik. Seharusnya aku yang bertanya begitu, bukan?”
Arga melirik penyangga di tangan kiriku. “Tanganmu kenapa?”
“Kamu serius bertanya?”
“Aku tidak tahu kamu ada di sini.”
“Tentu saja. Kamu sedang di laboratorium, kan?”
Keisha menunduk. Arga terdiam.
Aku meletakkan kotak cincin di atas meja, tepat di samping struk restoran yang kutemukan tadi.
“Delapan tahun, Ga. Aku menempuh perjalanan dari Solo untuk merayakan hubungan kita. Kamu bahkan tidak ingat tanggalnya. Sebaliknya, kamu menemani perempuan yang menabrakku, lalu berbohong kepadaku sambil duduk di sampingnya.”
“Aku bisa menjelaskan semuanya.”
“Silakan.”
Arga membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Keisha tiba-tiba menyela. “Kak Arga tidak bermaksud menyakitimu.”
Aku menoleh kepadanya. “Aku tidak sedang bertanya kepadamu.”
Dia langsung terdiam.
Arga mengusap wajahnya. “Hubungan kami tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalau begitu, kenapa ada cincin berukir A dan K?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengangkat cincin itu dengan tangan kanan. Benda itu tampak indah, berkilau di bawah lampu ruang tamu. Aku teringat berapa kali aku dan Arga pernah berjalan melewati toko perhiasan, berhenti di depan etalase, lalu bercanda tentang cincin pernikahan.
Dulu, dia selalu menggenggam tanganku sambil berkata, “Nanti kalau waktunya tepat.”
Ternyata waktunya memang sudah tiba.
Hanya saja, bukan untukku.
“Aku tidak pernah merencanakan ini,” kata Arga akhirnya. “Awalnya Keisha cuma teman. Dia sedang punya masalah, dan aku membantunya.”
“Sejak kapan membantu teman membutuhkan cincin?”
Arga menunduk.
Keisha mulai menangis. “Kak, biar aku yang bicara.”
“Tidak,” potong Arga.
Satu kata itu membuatku mengangkat kepala.
Selama bertahun-tahun, Arga selalu membelaku ketika orang lain menyakitiku. Kini, untuk pertama kalinya, dia justru terlihat takut jika perempuan lain mengatakan sesuatu di hadapanku.
Aku menatap Keisha. “Apa yang belum aku ketahui?”
Dia menggigit bibir. Pandangannya beralih kepada Arga, meminta izin yang tidak kunjung diberikan.
“Aku dan Kak Arga sudah bersama sejak tahun lalu,” katanya lirih.
Dunia terasa berhenti.
“Tahun lalu?” ulangku.
Keisha mengangguk sambil menghapus air matanya. “Sebelum dia mulai kuliah lagi. Kami bertemu waktu dia membantu proyek penelitian di tempatku bekerja.”
Aku memandang Arga. “Jadi, ketika ayahku meninggal dan aku meneleponmu setiap malam karena tidak sanggup tidur, kamu sudah bersamanya?”
Arga memejamkan mata.
“Ketika aku meminjamkan uang untuk membayar biaya kuliahmu, kamu sudah bersamanya?”
“Nadira, uang itu—”
“Ketika ibumu bertanya tentang kebaya yang kusukai, kamu sudah bersamanya?”
Dia tidak menjawab.
Tiga pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan daripada benturan yang membuat tulangku retak. Aku mulai memahami bahwa pengkhianatan bukan hanya tentang seseorang yang mencintai orang lain. Pengkhianatan adalah ketika seseorang membiarkan kita membangun masa depan di atas kebohongan yang sudah lama diketahuinya.
Aku duduk karena kakiku mendadak lemas.
Arga berjongkok di depanku. “Aku salah. Aku tahu aku salah. Tapi aku belum pernah berhenti menyayangimu.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau kamu masih menyayangiku, kenapa kamu membiarkanku percaya bahwa kita sedang menuju pernikahan?”
“Aku bingung.”
“Selama setahun?”
Dia menunduk.
Aku mengangguk pelan. “Kamu tidak bingung, Arga. Kamu hanya tidak mau kehilangan apa yang kamu dapatkan dariku.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan, “Kamu punya seseorang yang bisa kamu datangi ketika kesepian, dan seseorang yang bisa kamu andalkan ketika hidupmu berantakan. Kamu tidak ingin memilih karena selama ini kamu bisa mendapatkan keduanya.”
“Bukan begitu.”
“Kalau bukan begitu, jelaskan.”
Sekali lagi, dia diam.
Keisha duduk di ujung sofa, menangis tanpa suara. Untuk sesaat, aku merasa iba kepadanya. Mungkin dia juga telah mendengar janji-janji yang sama. Mungkin dia juga percaya bahwa suatu hari Arga akan menyelesaikan semua urusannya denganku.
Namun rasa iba tidak menghapus tanggung jawab.
“Kamu tahu dia punya pacar?” tanyaku.
Keisha mengangguk.
“Dan kamu tetap bersamanya?”
Air matanya semakin deras. “Dia bilang kalian sudah tidak dekat lagi. Dia bilang hubungan kalian hanya tinggal nama.”
Aku menoleh kepada Arga.
Dia tidak membantah.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi masuk dari aplikasi perbankan. Aku tidak berniat melihatnya, tetapi layar yang menyala menampilkan nama penerima transfer dan jumlah uang yang cukup besar.
Keisha melihatnya lebih dahulu.
Wajahnya berubah pucat.
“Kak, kamu bilang uang itu sudah kamu kembalikan.”
Arga segera mengambil ponselnya. “Jangan bahas sekarang.”
Aku menatap mereka bergantian. “Uang apa?”
“Tidak ada hubungannya denganmu,” jawab Arga cepat.
Kalimat itu justru membuatku berdiri.
“Baik. Kalau begitu, aku tidak perlu tahu.”
Aku berjalan menuju kamar untuk mengambil tas. Aku hanya ingin pergi. Aku tidak ingin menghabiskan malam dengan menggali lebih banyak kebohongan dari orang yang bahkan tidak mampu mengakui satu pun tanpa dipaksa.
Namun ketika aku melewati meja kerja, sebuah map cokelat terjatuh dari laci yang setengah terbuka.
Beberapa lembar kertas berserakan di lantai.
Aku membungkuk, lalu memungut salah satunya dengan tangan kanan.
Namaku tercetak di bagian atas.
Di bawahnya ada salinan perjanjian pinjaman yang pernah kubuat ketika membantu Arga membayar biaya penelitiannya. Aku mengenali tanda tanganku. Namun angka pada salinan itu berbeda dari jumlah yang kuingat.
Aku mengambil lembar berikutnya.
Ada catatan transfer dari rekeningku, daftar pengeluaran, dan sejumlah transaksi yang tidak pernah kubicarakan dengannya.
Salah satunya bertanggal tiga bulan lalu, dengan keterangan pembayaran uang muka sebuah rumah.
Alamatnya berada di pinggiran Yogyakarta.
Di bagian penerima, tertulis nama Keisha.
Aku menoleh perlahan.
“Arga, rumah apa ini?”
Dia berlari mendekat dan mencoba mengambil kertas itu. Aku menarik tanganku menjauh.
“Berikan kepadaku.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Ini urusanku.”
“Uang muka rumah itu berasal dari uang yang kupinjamkan kepadamu?”
Keisha berdiri. “Kak Arga bilang uang itu tabungan kami.”
Aku merasa mual.
Selama ini aku percaya uang yang kuberikan kepadanya digunakan untuk penelitian dan kebutuhan kuliah. Aku tidak pernah meminta bukti. Aku tidak pernah menganggap hubungan kami sebagai transaksi.
Arga menatapku dengan mata merah. “Aku akan mengembalikannya.”
“Kapan?”
“Aku butuh waktu.”
“Berapa lama? Delapan tahun lagi?”
Dia meraih tanganku, tetapi aku segera menariknya.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat benar-benar ketakutan.
Bukan karena aku terluka. Bukan karena aku mengetahui perselingkuhannya.
Dia takut kehilangan sesuatu yang selama ini dianggapnya akan selalu tersedia.
Aku memasukkan dokumen itu ke dalam tas dan mengambil kunci apartemen dari gantungan.
“Kunci ini akan kutinggalkan. Mulai besok, semua urusan kita hanya tentang pengembalian uang dan barang-barangku.”
“Nadira, jangan hancurkan hubungan kita karena satu kesalahan.”
Aku berhenti di depan pintu.
“Satu kesalahan adalah lupa menelepon. Satu kesalahan adalah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Kamu membuat pilihan yang sama berulang kali selama setahun, lalu berharap aku menyebutnya kesalahan.”
Aku membuka pintu.
“Nadira, aku mencintaimu!”
Aku menoleh untuk terakhir kalinya.
“Kalau begitu, seharusnya kamu tidak membuatku merasa begitu mudah digantikan.”
Lalu aku pergi.
Malam itu aku menginap di rumah seorang teman di Yogyakarta. Rasa sakit di tangan kiriku semakin kuat, tetapi aku tidak kembali ke apartemen Arga. Keesokan paginya, aku menghubungi keluarganya untuk memberi tahu bahwa hubungan kami telah berakhir, kemudian mengumpulkan semua bukti transaksi dan berkonsultasi mengenai langkah yang bisa kuambil untuk menuntut pengembalian uangku.
Aku tidak mengunggah apa pun ke media sosial. Aku tidak mengirim pesan panjang kepada Keisha. Aku juga tidak meminta teman-teman kami memilih pihak.
Aku hanya ingin hidupku kembali menjadi milikku.
Lima minggu kemudian, penyangga di tangan kiriku akhirnya dilepas. Tulangku mulai pulih, meskipun aku masih harus menjalani terapi agar gerak pergelangan tanganku kembali normal.
Arga beberapa kali mengirim pesan. Awalnya dia meminta maaf. Kemudian dia berjanji akan berubah. Setelah itu, dia mengatakan bahwa Keisha meninggalkannya karena mengetahui seluruh kebenaran tentang uang tersebut.
Aku membaca pesannya tanpa membalas.
Sebagian uangku akhirnya dikembalikan setelah keluarga kami ikut membantu menyelesaikan masalah itu. Sisanya dicicil sesuai kesepakatan tertulis. Aku tidak mendapatkan kembali delapan tahun yang telah berlalu, tetapi setidaknya aku tidak lagi membiarkan masa depanku menjadi jaminan bagi seseorang yang mengkhianatiku.
Pada suatu sore, aku kembali melewati halte tempat aku pertama kali bertemu Arga delapan tahun lalu.
Aku masih ingat bagaimana dia berlari mengejarku sambil mengangkat dompetku tinggi-tinggi. Aku masih ingat tawanya, es kopi pertama kami, dan keyakinanku bahwa orang yang mengembalikan sesuatu yang hilang pasti akan menjaganya dengan baik.
Kini aku mengerti bahwa satu perbuatan baik tidak menjamin seseorang akan terus menjadi orang baik.
Aku berhenti di sebuah kedai kopi kecil dan memesan minuman kesukaanku. Dengan tangan kiri yang masih sedikit kaku, aku membantu memegang gelas sementara tangan kanan membuka ponsel.
Ada pesan dari ibuku.
Bagaimana tanganmu hari ini, Nak?
Aku tersenyum dan menjawab bahwa semuanya semakin membaik.
Sebelum memasukkan ponsel ke dalam tas, aku melihat sebuah foto lama di galeri. Foto aku dan Arga pada tahun pertama kami berpacaran. Kami tersenyum lebar, saling menggenggam tangan, seolah dunia tidak mungkin mengubah apa pun di antara kami.
Aku tidak menghapus foto itu.
Aku juga tidak menyimpannya sebagai kenangan indah yang harus terus kujaga.
Aku membiarkannya tetap ada, sebagai pengingat bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan tulus, dan bahwa ketulusan itu tidak pernah menjadi kesalahanku.
Malamnya, aku pulang ke Solo dengan bus. Ketika kendaraan mulai bergerak, aku menatap bayangan wajahku di jendela.
Tanganku memang belum sepenuhnya pulih.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa harus menggenggam seseorang hanya karena takut kehilangan.
Aku pernah mengira kecelakaan itu merenggut sebagian hidupku. Ternyata, kecelakaan itu hanya membuka pintu yang selama ini sengaja kututup dengan harapan.
Arga memilih perempuan yang menabrakku.
Namun tanpa sadar, dia juga memberiku kesempatan untuk berhenti menabrakkan diriku sendiri pada kebohongan yang sama.
Dan ketika bus melaju meninggalkan kota, aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupelajari jauh lebih awal.
Kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar memilih kita bukanlah akhir dari cinta.
Kadang-kadang, justru itulah awal dari keberanian untuk memilih diri sendiri.
