PUKUL DUA LEWAT SEBELAS AKU MELIHAT UNDANGAN PERNIKAHAN SUAMIKU, SAAT TABUNGAN MASA DEPAN PUTRI KAMI DIKURAS UNTUK PESTA MEWAHNYA DI LEMBANG

Pukul tujuh pagi, aku sudah berada di kantor pengacara dengan seluruh bukti tersimpan di dalam laptop. Aku tidak tidur semalaman. Setiap kali memejamkan mata, yang terbayang adalah wajah Kirana ketika mengetahui bahwa ayahnya menghabiskan tabungan pendidikannya demi menikahi perempuan lain.

“Bu Nadia, jangan menghubungi suami Anda dulu,” kata Pak Arif, pengacara yang pernah membantu perusahaan kami menangani sengketa kontrak. “Kita perlu mengamankan dokumen rumah dan memeriksa transaksi rekening. Kalau tanda tangan itu palsu, kita harus bertindak sebelum properti berpindah tangan.”

Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun menikah, aku berhenti memikirkan cara menyelamatkan Raka dari masalah.

Aku harus menyelamatkan putriku dari perbuatannya.

Pukul sembilan, aku mendatangi bank untuk melaporkan transaksi yang tidak pernah kusetujui dan meminta pemeriksaan atas akses rekening pendidikan Kirana. Petugas memberiku daftar dokumen yang diperlukan untuk mengajukan pembatasan transaksi lanjutan. Aku juga mengirimkan pemberitahuan tertulis kepada pihak terkait bahwa penjualan rumah tersebut sedang disengketakan.

Sebelum meninggalkan bank, aku menerima telepon dari ibu mertuaku.

“Nadia, kamu sudah mentransfer uang untuk acara keluarga hari Sabtu, kan?” tanyanya tanpa basa-basi.

Aku terdiam.

“Acara keluarga yang mana, Bu?”

“Jangan pura-pura tidak tahu. Raka bilang kamu akan membantu biaya resepsi. Keluarga Laras sudah mengeluarkan banyak uang.”

Aku menahan napas. “Ibu tahu Raka akan menikah dengan Laras?”

Hening sesaat.

Kemudian ia menjawab dengan nada dingin, “Kamu perempuan dewasa. Jangan membuat masalah semakin besar. Raka sudah lama tidak bahagia denganmu.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

“Kalau begitu, mengapa Ibu membiarkan dia mengambil uang pendidikan Kirana?”

“Uang itu milik keluarga. Raka berhak menggunakannya.”

“Termasuk uang dari warisan ayah saya?”

Ibu mertua langsung terdiam.

Aku melanjutkan, “Dan apakah Ibu juga tahu dia menggunakan tanda tangan palsu untuk menjual rumah peninggalan ibu saya?”

Sambungan terputus.

Aku menatap layar telepon dengan perasaan aneh. Selama ini aku mengira ibu mertua sekadar menyukai Raka lebih daripada diriku. Ternyata, mungkin aku tidak pernah benar-benar dianggap bagian dari keluarga itu.

Siang harinya, aku pulang untuk menjemput Kirana dari sekolah. Aku tidak ingin anakku mengetahui persoalan ini dari orang lain.

Dia berlari menghampiriku sambil membawa gambar rumah berwarna biru.

“Ma, ini rumah kita. Kirana gambar taman depan juga. Nanti kalau Kirana sudah besar, Kirana mau belikan Mama kursi supaya Mama tidak capek.”

Aku berjongkok dan memeluknya.

“Kalau suatu hari kita harus pindah rumah, kamu takut?”

Kirana menggeleng kecil. “Asalkan sama Mama.”

Dadaku sesak. Anak sekecil itu tidak meminta rumah mewah, mobil mahal, atau pesta besar. Dia hanya ingin seseorang yang tetap tinggal di sisinya.

Malam itu, aku memindahkan barang-barang penting ke tempat aman dan menyimpan salinan dokumen di tangan pengacara. Aku tidak pergi diam-diam untuk menghilang. Aku sedang mempersiapkan diri agar Raka tidak bisa menghapus masa depan putrinya begitu saja.

Pukul sebelas malam, Raka akhirnya pulang.

Dia masuk ke kamar dengan wajah lelah, lalu meletakkan koper di dekat lemari.

“Kamu belum tidur?”

Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangnya.

“Bagaimana perjalananmu ke Surabaya?”

Dia membuka jam tangannya. “Melelahkan. Ada masalah apa lagi?”

Aku menyodorkan tablet miliknya.

Wajahnya berubah ketika melihat dokumen surat kuasa penjualan rumah.

“Kamu membuka barang pribadiku?”

“Aku mencari anggaran keluarga. Aku menemukan rencana menjual rumah ibuku.”

Raka menutup tablet dengan keras.

“Itu urusan bisnis. Kamu tidak mengerti prosesnya.”

“Kalau begitu, jelaskan tanda tanganku.”

Dia terdiam beberapa detik, lalu tertawa pendek.

“Kamu terlalu emosional, Nadia. Aku memang berniat menjual rumah itu. Kita bisa membeli rumah lain setelah semuanya selesai.”

“Dengan uangnya kamu akan menikahi Laras?”

Wajahnya mengeras.

“Siapa yang memberitahumu?”

Aku menatapnya tanpa berkedip. “Jadi benar.”

Raka mondar-mandir di kamar, kemudian berhenti di hadapanku.

“Aku sudah lelah hidup seperti ini. Selama ini aku selalu berada di bawah bayang-bayangmu. Perusahaan berkembang karena keputusanmu. Orang-orang lebih menghormatimu daripada aku.”

Aku tidak menyangka itulah alasan yang akan keluar dari mulutnya.

“Kamu bisa membicarakan semua itu denganku. Kamu bisa meminta bantuan. Tetapi kamu memilih mengambil uang anakmu dan memalsukan tanda tanganku.”

“Laras memahami aku!”

“Apakah dia juga memahami bahwa kamu membiayai pernikahan kalian dengan tabungan anakmu?”

Raka tidak menjawab.

Aku berdiri dan mengeluarkan selembar kertas dari map.

“Mulai malam ini, jangan gunakan rekening atau dokumen atas namaku. Pengacara sudah mengirimkan pemberitahuan sengketa atas rumah itu. Transaksi yang tidak kusetujui juga sedang diperiksa.”

Wajahnya pucat.

“Kamu mengancam suamimu sendiri?”

“Tidak. Aku sedang melindungi anakku.”

Dia mencoba mengambil map itu, tetapi aku menariknya menjauh.

“Jangan bertindak gegabah,” katanya. “Kamu bisa menghancurkan perusahaan kita.”

“Perusahaan yang kita bangun bersama tidak sama dengan kehidupan yang kamu bangun diam-diam di belakangku.”

Untuk pertama kalinya, Raka tidak memiliki jawaban.

Keesokan paginya, aku menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Itu Laras.

“Aku perlu bertemu denganmu sebelum hari Sabtu. Ada sesuatu yang belum kamu ketahui tentang Raka.”

Aku hampir menghapus pesan itu. Namun beberapa menit kemudian, dia mengirimkan sebuah foto.

Foto sebuah dokumen transfer senilai Rp245.000.000.

Di bawahnya ada pesan singkat.

“Uang itu tidak seluruhnya digunakan untuk resepsi. Sebagian dikirim Raka kepada seseorang yang namanya tidak pernah dia ceritakan kepadaku.”

Aku membalas, “Siapa?”

Laras mengirimkan nama yang membuatku membeku.

Bambang Wiratama.

Ayah Raka sendiri.

Aku segera meminta Laras bertemu di sebuah kafe dekat kantor pengacaraku. Dia datang mengenakan pakaian sederhana, tanpa perhiasan yang biasanya terlihat di foto-foto persiapannya.

Matanya sembap.

“Aku tahu kamu pasti membenciku,” katanya.

“Aku belum memutuskan apa yang harus kurasakan terhadapmu. Aku ingin tahu kebenarannya.”

Laras membuka ponselnya dan memperlihatkan percakapan dengan Raka. Rupanya, dia baru mengetahui bahwa uang yang dijanjikan Raka untuk resepsi berasal dari tabungan pendidikan Kirana. Dia juga menemukan bahwa keluarga Raka telah mendorong pernikahan itu karena ayahnya Laras berencana menyuntikkan modal ke perusahaan keluarga Wiratama.

Namun bukan itu bagian terburuknya.

“Aku tidak pernah meminta Raka menjual rumahmu,” katanya lirih. “Ayahku memang tertarik membeli properti itu, tetapi aku baru tahu rumah tersebut milik keluargamu setelah melihat dokumennya.”

“Lalu mengapa kamu tetap merencanakan pernikahan?”

Laras menunduk. “Karena aku percaya dia sudah bercerai.”

Aku mengerutkan kening.

Dia menunjukkan sebuah salinan putusan perceraian yang diberikan Raka kepadanya.

Nama kami tercantum di sana, tetapi nomor perkara dan cap pengesahannya tampak janggal. Pengacaraku kemudian memastikan bahwa dokumen itu tidak cocok dengan catatan perkara yang tersedia.

Raka telah berbohong kepada kami berdua.

Dia mengatakan kepadaku bahwa dia sedang membangun masa depan keluarga. Kepada Laras, dia mengaku sudah bebas dari pernikahan kami. Kepada keluarganya, dia menjanjikan uang dari penjualan rumah. Kepada ayah Laras, dia menjanjikan investasi yang belum tentu bisa dipenuhi.

Dia membangun begitu banyak kebohongan sampai akhirnya tidak ada satu pun yang bisa berdiri sendiri.

“Aku membatalkan pernikahan itu,” kata Laras. “Aku juga akan memberikan semua bukti yang kupunya.”

Aku menatapnya lama sebelum mengangguk. Aku tidak ingin menjadikannya teman, tetapi setidaknya kali ini dia memilih mengatakan kebenaran.

Hari Sabtu tiba.

Aku tidak datang ke Lembang untuk merebut pengantin atau membuat keributan di depan tamu. Aku berada di kantor pengacara ketika pihak berwenang menerima laporan beserta dokumen yang kami kumpulkan. Pemeriksaan terhadap dugaan pemalsuan tanda tangan dan transaksi tanpa persetujuan resmi mulai berjalan.

Pukul sebelas lewat lima belas, Laras mengirimkan sebuah pesan.

“Acara dihentikan. Keluarga Raka sedang bertengkar. Ayahnya baru tahu uang yang dijanjikan ternyata berasal dari rekeningmu.”

Beberapa jam kemudian, Raka meneleponku berkali-kali.

Aku baru mengangkat pada panggilan terakhir.

“Nadia, tolong cabut laporanmu. Aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Jelaskan kepada penyidik.”

“Kita masih bisa memperbaiki rumah tangga kita.”

Aku memandang Kirana yang sedang mengerjakan tugas sekolah di meja makan.

“Rumah tangga kita sudah kamu hancurkan ketika kamu memutuskan bahwa masa depan anakmu lebih murah daripada pesta pernikahanmu.”

“Nadia, aku ayahnya!”

“Kalau begitu, mulailah bertindak seperti seorang ayah.”

Aku mengakhiri panggilan.

Proses hukum dan pemeriksaan keuangan berlangsung selama berbulan-bulan. Penjualan rumah berhasil dihentikan selama sengketa diselesaikan. Akses Raka terhadap rekening pendidikan Kirana dibatasi sesuai prosedur bank, dan aku menata ulang pengelolaan keuangan keluarga melalui jalur yang sah.

Aku tidak mendapatkan kembali semua uang dalam semalam. Ada dokumen yang harus diperiksa, transaksi yang harus ditelusuri, dan proses yang tidak bisa dipercepat hanya karena hatiku terluka.

Namun sedikit demi sedikit, aku membangun kembali tabungan Kirana.

Pada suatu malam, putriku duduk di sampingku sambil membawa celengan kelincinya yang lama.

“Ma, uang Kirana masih ada?”

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya.

“Sebagian harus Mama perjuangkan kembali. Tapi masa depanmu tidak akan Mama biarkan ditentukan oleh kesalahan orang dewasa.”

Kirana memelukku, lalu berlari mengambil gambar rumah biru yang pernah dibuatnya.

Beberapa bulan kemudian, aku membingkai gambar itu dan meletakkannya di ruang tamu.

Di bawah gambar tersebut, aku menulis sebuah kalimat kecil.

Rumah bukan tempat seseorang berjanji untuk pulang, melainkan tempat orang-orang di dalamnya tidak perlu takut dikhianati.

Aku sempat mengira akhir dari pernikahanku adalah kehilangan seorang suami. Belakangan aku mengerti, yang sebenarnya berakhir adalah kebiasaanku membenarkan segala sesuatu demi mempertahankan sebuah keluarga.

Dan ketika Raka akhirnya kehilangan kepercayaan orang-orang yang pernah membelanya, aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa lega karena Kirana masih memiliki satu hal yang tidak berhasil dicuri ayahnya.

Seorang ibu yang tidak lagi takut berkata cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang