DI MALAM PERTUNANGAN, TUNANGANKU MEMINUM KOPI DARI GELAS PEREMPUAN LAIN—TIGA TAHUN ATURANNYA RUNTUH HANYA DALAM BEBERAPA DETIK

Aku membaca dokumen itu sampai tiga kali, berharap ada satu kalimat yang salah kupahami. Namun, semakin lama kutatap layar laptop, semakin jelas bahwa pertunanganku bukan sekadar urusan cinta. Ada sesuatu yang sedang direncanakan di belakangku, dan namaku digunakan untuk membuat semuanya terlihat sah.

Aku tidak menangis. Aku justru membuka ponsel dan memotret setiap halaman dokumen tersebut.

Kemudian aku menelepon sahabatku, Maya, seorang pengacara yang sejak awal tidak pernah terlalu menyukai Raka.

“Maya, kalau seseorang memakai rumah warisan milikku sebagai aset pendukung kredit tanpa persetujuanku, apa yang harus kulakukan?”

Suara Maya langsung berubah serius. “Jangan tanda tangani dokumen apa pun. Simpan semua bukti. Besok pagi kita periksa semuanya.”

“Ada satu nama lagi di dokumen ini. Salma Wiratama.”

Maya terdiam sejenak. “Kamu yakin ingin tahu siapa sebenarnya perempuan itu?”

Aku menatap foto lama yang dikirim Salma. “Aku sudah terlalu lama tidak tahu apa-apa tentang calon suamiku sendiri.”

Keesokan paginya, aku tidak pergi ke kantor seperti biasa. Aku menemui Maya di kantornya di Kuningan, membawa laptop, kontrak pernikahan, dan seluruh dokumen keuangan yang pernah dikirim Raka kepadaku.

Setelah memeriksa berkas-berkas itu, Maya menemukan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.

“Dira, pengajuan kredit ini belum disetujui. Tetapi ada rancangan perjanjian yang menyebutkan bahwa setelah kalian menikah, sejumlah aset dan penghasilan gabungan akan digunakan sebagai jaminan tambahan.”

“Bukankah rumah itu warisan ibuku?”

“Benar. Statusnya harus diperiksa berdasarkan dokumen kepemilikan dan perjanjian yang ada. Pernikahan tidak otomatis membuat rumah warisanmu menjadi milik Raka. Tapi mereka tampaknya berharap kamu menyetujui pengaturan ini tanpa membaca semuanya.”

Aku menggenggam tanganku sendiri.

Selama tiga tahun, aku menganggap kebiasaan Raka sebagai sesuatu yang harus kuhormati. Aku tidak pernah memaksanya berubah. Aku bahkan merasa bangga karena mampu memahami hal-hal yang tidak dipahami perempuan lain.

Sekarang aku bertanya-tanya, berapa banyak hal yang sebenarnya tidak kupahami karena terlalu sibuk menjadi pasangan yang sempurna?

“Bisakah kita mengetahui siapa yang membuat rancangan ini?” tanyaku.

Maya menunjuk bagian bawah halaman terakhir.

“Firma konsultan keuangan yang mengurus pengajuan kredit. Tetapi ada catatan revisi dari akun internal kantor Raka. Kita perlu mendapatkan penjelasan langsung.”

Siang itu, aku mengirim pesan kepada Raka.

Aku menulis bahwa ada beberapa hal yang ingin kubicarakan mengenai biaya pernikahan. Dia langsung membalas dan meminta bertemu malam itu di apartemennya.

Ketika aku tiba, Raka sedang duduk di sofa sambil memeriksa ponsel. Di meja terdapat dua cangkir kopi. Satu untuknya, satu untukku.

Dulu, pemandangan itu mungkin membuatku tersenyum.

Malam itu, aku hanya meletakkan salinan dokumen di depannya.

“Apa ini, Rak?”

Dia melihat halaman pertama. Senyumnya perlahan menghilang.

“Kamu dapat dari mana?”

“Email yang kamu kirimkan kepadaku dua bulan lalu. Rupanya staf keuanganmu membalas semua penerima.”

Raka membalik beberapa halaman dengan cepat.

“Ini cuma rancangan.”

“Kenapa nama Salma tercantum sebagai penerima dua belas persen kepemilikan?”

“Itu pembagian saham perusahaan. Kamu tidak mengerti urusan bisnis.”

“Kalau begitu, jelaskan kepadaku. Kenapa rumah warisan ibuku dicantumkan sebagai aset pendukung?”

Raka meletakkan dokumen itu.

“Dira, aku sedang mengembangkan perusahaan. Ada risiko yang harus kuambil. Salma punya pengalaman dan bersedia membantu mencari investor.”

“Dengan menggunakan asetku?”

“Setelah kita menikah, keuangan kita akan saling mendukung. Bukankah itu tujuan pernikahan?”

Aku menatapnya lama.

“Menurutmu, menikah berarti aku harus menyetujui sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu bicarakan denganku?”

Raka berdiri, lalu berjalan menuju jendela.

“Aku tahu kamu akan bereaksi seperti ini. Itu sebabnya aku ingin semuanya beres sebelum kita membicarakannya.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.

Dia bukan lupa memberitahuku.

Dia sengaja menunda sampai semuanya cukup sulit untuk kutolak.

“Apakah Salma tahu?”

Raka tidak segera menjawab.

“Dia mitra bisnisku.”

“Apakah kalian pernah menjalin hubungan?”

Dia berbalik tajam. “Apa hubungannya dengan dokumen ini?”

“Jawab saja.”

Raka mengusap wajahnya. “Kami pernah dekat saat masih kuliah. Itu sudah lama sekali.”

“Seberapa dekat?”

“Kami pernah berpacaran.”

Dunia seolah berhenti sesaat.

Selama tiga tahun, Raka mengatakan Salma hanyalah teman masa kecil. Tidak sekali pun dia menyebut hubungan mereka yang sebenarnya.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

“Karena itu sudah selesai. Aku tidak ingin merusak hubungan kita dengan cerita masa lalu.”

“Lalu kenapa kamu bisa minum dari gelasnya, sementara aku bahkan tidak boleh menyentuh botolmu?”

Raka terdiam.

Aku akhirnya mengerti bahwa gelas itu bukanlah masalah utama. Gelas itu hanya celah kecil yang memperlihatkan sebuah pintu yang selama ini sengaja ditutup rapat.

“Aku tidak mau membahas hal konyol itu lagi,” katanya. “Kita menikah enam minggu lagi. Jangan menghancurkan semuanya hanya karena kamu cemburu.”

Aku mengambil dokumen dari meja.

“Pernikahan ini tidak akan berlangsung sesuai rencana.”

Wajahnya berubah.

“Kamu mengancamku?”

“Tidak. Aku sedang memberitahumu bahwa aku tidak akan menikah sebelum semua ini jelas.”

Aku pergi sebelum dia sempat menyusun alasan berikutnya.

Keesokan harinya, Salma meneleponku.

“Aku dengar kamu bertengkar dengan Raka.”

“Kamu juga tahu soal dokumen itu?”

Dia menarik napas panjang. “Dira, kamu harus memahami situasinya. Perusahaan Raka sedang membutuhkan modal. Aku punya jaringan investor. Kalau proyek ini berhasil, semua orang akan diuntungkan.”

“Termasuk kamu yang memperoleh dua belas persen?”

“Itu kompensasi atas kontribusiku.”

“Kenapa rumah warisan ibuku harus ikut dicantumkan?”

“Raka bilang kamu sudah setuju.”

Aku memejamkan mata.

Jadi, kepada Salma dia mengaku aku sudah menyetujui semuanya. Kepadaku, dia mengatakan dokumen itu hanya rancangan bisnis biasa.

“Aku belum pernah menyetujuinya,” kataku.

Salma terdiam beberapa detik.

“Kalau begitu, sebaiknya kamu bicara dengan Raka. Aku tidak ingin terlibat dalam masalah pribadi kalian.”

Sambungan terputus.

Aku tidak tahu apakah Salma sedang berbohong atau baru menyadari bahwa Raka telah membohonginya juga. Namun, aku tahu satu hal: aku tidak akan menyelesaikan persoalan ini dengan bertengkar tentang masa lalu mereka.

Aku akan menyelesaikannya dengan fakta.

Bersama Maya, aku mengirimkan permintaan tertulis kepada pihak terkait untuk mengklarifikasi dokumen tersebut. Aku juga meminta agar namaku tidak digunakan dalam pengajuan apa pun tanpa persetujuan yang sah. Untuk sementara, aku menghentikan pembayaran lanjutan biaya pernikahan dan meminta penyedia jasa menjelaskan pilihan pembatalan sesuai kontrak.

Dua hari kemudian, Raka datang ke rumahku.

Dia membawa bunga dan sekotak kue kesukaanku.

“Aku salah karena tidak menjelaskan semuanya,” katanya. “Tapi aku tidak pernah berniat merugikanmu.”

Aku tidak mengambil bunga itu.

“Kalau begitu, batalkan pengaturan yang memakai asetku. Berikan seluruh dokumen yang berkaitan dengan namaku. Setelah itu, kita bisa membicarakan hubungan kita.”

Dia menatapku seolah aku baru saja meminta sesuatu yang mustahil.

“Investor tidak akan menunggu. Kalau kesepakatan ini gagal, perusahaan bisa kehilangan kesempatan besar.”

“Berarti kamu harus mencari cara lain.”

“Dira, aku sudah membangun semuanya selama bertahun-tahun!”

“Dan aku sudah membangun kepercayaan kepadamu selama tiga tahun. Ternyata itu jauh lebih mudah kamu korbankan.”

Dia pergi tanpa membawa kembali bunga yang diletakkannya di meja.

Seminggu kemudian, Maya meneleponku dengan kabar yang tidak kuduga.

“Dira, pihak konsultan sudah memberikan klarifikasi. Ada beberapa versi rancangan yang berbeda. Tapi ada satu dokumen yang harus kamu lihat langsung.”

Aku kembali ke kantornya sore itu.

Di hadapanku terbentang sebuah surat yang dibuat sebelum acara pertunangan. Surat tersebut berisi pembagian kepemilikan perusahaan apabila pengajuan kredit berhasil. Di bawahnya terdapat tanda tangan Raka dan Salma.

Namun, yang membuatku terpaku bukanlah angka dua belas persen itu.

Pada halaman berikutnya, ada catatan rapat internal yang menyebutkan bahwa Salma sebenarnya tidak bersedia menggunakan rumah warisan sebagai jaminan tanpa persetujuanku.

Dia bahkan meminta agar aset tersebut dikeluarkan dari rancangan.

Raka menolaknya.

Catatan itu juga menjelaskan bahwa Raka meminta Salma hadir di acara pertunangan agar hubungan bisnis mereka terlihat sebagai hubungan keluarga dekat, sehingga calon investor lebih percaya pada kestabilan rencana tersebut.

Aku membaca bagian itu berkali-kali.

Salma memang menyembunyikan hubungan masa lalunya denganku. Dia juga tidak jujur tentang perannya dalam rencana bisnis itu. Namun, ternyata dia sempat menolak penggunaan rumahku.

Aku meminta Maya mengatur pertemuan resmi dengan keduanya.

Mereka datang pada hari Jumat, duduk berhadapan denganku di ruang rapat kecil.

Raka tampak lelah. Salma terus memandangi dokumen di depannya.

Aku membuka pembicaraan dengan tenang.

“Aku tidak datang untuk memperebutkan siapa yang lebih mengenal Raka. Aku datang untuk memastikan namaku dan aset keluargaku tidak digunakan tanpa izin.”

Salma mengangguk pelan.

“Aku seharusnya memberitahumu sejak awal bahwa aku pernah berpacaran dengannya. Aku juga seharusnya menjelaskan urusan bisnis ini.”

“Kenapa kamu tetap mengirim foto kalian malam itu?”

Salma menunduk.

“Karena aku ingin tahu apakah Raka masih memperlakukan kita secara berbeda. Aku pernah mengatakan kepadanya bahwa kalau dia sungguh-sungguh akan menikahimu, dia harus berhenti menyembunyikan masa lalu kami. Aku tidak menyangka dia akan menggunakan kehadiranku untuk kepentingan bisnis.”

Raka langsung menyela.

“Jangan berpura-pura seolah kamu tidak menginginkan saham itu.”

“Aku menginginkan saham atas pekerjaanku,” jawab Salma. “Bukan dari rumah milik perempuan yang tidak pernah diberi tahu apa-apa.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Raka kehilangan jawaban.

Aku menutup map di hadapanku.

“Pengajuan yang mencantumkan asetku harus diperbaiki. Semua dokumen yang memakai namaku akan diperiksa. Pernikahan kita juga batal.”

Raka menatapku dengan wajah pucat.

“Dira, kita bisa memperbaiki hubungan ini.”

Aku menggeleng.

“Aku bisa memaafkan kesalahan. Tapi aku tidak bisa membangun rumah tangga dengan seseorang yang menganggap kepercayaan sebagai sesuatu yang boleh dipakai tanpa izin.”

Aku meninggalkan ruang rapat tanpa menoleh lagi.

Beberapa bulan kemudian, biaya pembatalan pernikahan akhirnya diselesaikan sesuai perjanjian dengan para penyedia jasa. Aku juga memperoleh konfirmasi tertulis bahwa rumah warisan ibuku tidak digunakan sebagai jaminan dalam pengajuan yang sedang kami periksa.

Raka dan Salma akhirnya berpisah secara profesional setelah perselisihan mengenai rancangan bisnis mereka. Aku tidak tahu apakah mereka masih berkomunikasi. Aku juga tidak lagi merasa perlu mengetahuinya.

Cincin pertunangan kusimpan di dalam kotak kecil bersama foto-foto lama yang belum sanggup kubuang.

Suatu sore, saat membereskan dapur, aku menemukan tumbler abu-abu milik Raka di lemari paling atas. Selama ini aku menyimpannya karena takut dia lupa membawanya.

Aku membersihkannya, memasukkannya ke dalam kardus, lalu mengirimkannya kembali melalui kurir.

Tidak ada surat panjang. Hanya satu catatan singkat yang kutulis di atas kertas.

Semoga suatu hari kamu memahami bahwa menjaga batasan bukan berarti berhak menentukan batasan orang lain.

Malam itu, aku membeli dua cangkir kopi dari kedai dekat rumah. Satu kuminum sambil duduk di balkon. Satu lagi kubiarkan dingin di meja.

Aku tidak lagi merasa perlu membuktikan bahwa aku perempuan yang paling sabar, paling memahami, atau paling pantas dipilih.

Tiga tahun lalu, aku mengira cinta berarti menghafal semua kebiasaan seseorang dan menyesuaikan diri sampai tidak ada lagi yang mengganggunya.

Kini aku tahu, cinta yang sehat tidak meminta seseorang mengecilkan dirinya agar orang lain merasa nyaman.

Dan malam pertunangan itu, ketika Raka meminum kopi dari gelas Salma, ternyata bukan saat aku kehilangan calon suami.

Itulah saat aku akhirnya mendapatkan kembali diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang