Pulang Semalam Lebih Cepat, Aku Menemukan Suamiku dengan Perempuan Lain—Pagi Harinya Dua Keluarga Duduk Menghadap Surat Cerai

Pukul tujuh pagi, meja makan rumah kami dipenuhi orang-orang yang tidak pernah kubayangkan akan berkumpul untuk membicarakan kehancuran pernikahanku.

Raka duduk di sebelahku bersama Pak Yudi, pengacara keluarga kami. Di seberang meja ada Bu Ratih dan Arman, ibu serta kakak Dimas. Mereka semua tampak bingung, sampai suara langkah terdengar dari tangga.

Dimas muncul dengan kaus kusut dan rambut berantakan. Selma berjalan beberapa langkah di belakangnya, mengenakan kemeja yang kebesaran.

Begitu melihat kami, wajah Dimas berubah pucat.

“Alya, apa-apaan ini?”

Aku meletakkan secangkir teh di meja. “Selamat pagi. Duduklah. Kita perlu membicarakan banyak hal.”

Tatapannya berpindah dari ibunya ke Raka, lalu berhenti pada Pak Yudi.

“Kenapa ada pengacara?”

“Karena aku tidak ingin percakapan ini berakhir dengan janji kosong,” jawabku.

Selma berusaha menyelinap menuju tangga, tetapi Bu Ratih menghentikannya.

“Kamu siapa sebenarnya bagi anak saya?”

Selma menunduk. “Saya rekan kerja, Bu.”

Aku mengeluarkan ponsel dan memutar video yang kurekam malam sebelumnya. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan, tetapi gambar itu cukup jelas.

Bu Ratih menutup mulutnya. Arman mengusap wajah dengan kedua tangan. Dimas menatapku seolah aku baru saja melakukan kejahatan besar.

“Kamu merekam kami?” bentaknya.

“Aku merekam apa yang kutemukan di rumahku sendiri.”

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku hampir tertawa mendengarnya. Kalimat itu ternyata memang tidak pernah kehilangan penggemarnya.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa dia tidur di ranjang kita.”

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Selma akhirnya duduk. Tangannya gemetar saat meraih segelas air.

“Aku bisa menjelaskan,” kata Dimas.

“Bagus. Mulailah dari uang Rp412 juta yang kamu transfer kepadanya.”

Wajah Selma seketika berubah.

Aku menggeser tumpukan rekening koran ke tengah meja. Dimas membalik beberapa halaman dengan tergesa-gesa, lalu mendorongnya menjauh.

“Itu uangku. Aku yang mencari nafkah untuk perusahaan.”

“Sebagian uang itu berasal dari rekening bersama kita. Dan uang perusahaan bukan uang pribadimu.”

“Kamu tidak mengerti bagaimana bisnis berjalan!”

“Kalau begitu, bantu aku mengerti kenapa ada apartemen atas namamu yang dihuni Selma.”

Bu Ratih menoleh tajam kepada putranya.

“Dimas, kamu membiayai perempuan ini selama ini?”

“Bu, jangan ikut campur. Ini masalah rumah tanggaku.”

“Rumah tanggamu?” suara Bu Ratih meninggi. “Kamu membawa perempuan lain ke tempat tidur istrimu, lalu menyuruh kami tidak ikut campur?”

Dimas terdiam.

Aku belum selesai.

Keluarkan map kedua dari tas, lalu letakkan di samping rekening koran.

“Sekarang kita membicarakan PT Mahardika Prima Logistik.”

Arman langsung menegakkan tubuh.

“Apa hubungannya dengan Selma?”

“Perusahaan keluarga kalian membayar lebih dari Rp2,8 miliar kepada vendor ini selama dua tahun. Nomor administrasinya menggunakan nomor telepon Selma. Beberapa dokumen persetujuan juga mencantumkan tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.”

Arman merebut salah satu lembar dokumen, membacanya dengan cepat, kemudian menatap adiknya.

“Kamu bilang pembayaran kepada vendor ini sudah diperiksa bagian keuangan.”

“Memang sudah!” Dimas menjawab terlalu cepat. “Semua transaksi sah.”

Pak Yudi akhirnya berbicara.

“Kami belum menyimpulkan adanya tindak pidana. Namun, dokumen dan aliran dana ini perlu diperiksa secara independen. Apalagi ada tanda tangan yang diduga bukan milik Bu Alya.”

Dimas memandangku dengan kebencian yang tidak lagi berusaha disembunyikannya.

“Kamu mau menghancurkan perusahaan keluargaku?”

“Bukan aku yang membuat transaksi itu.”

“Aku suamimu!”

“Dan aku istrimu selama enam tahun. Apa itu pernah menghentikanmu menggunakan uang keluarga untuk membiayai perselingkuhan?”

Ruangan mendadak sunyi.

Kemudian Selma menangis.

“Aku tidak tahu uang itu berasal dari rekening bersama kalian,” katanya terbata-bata. “Dimas bilang dia menggunakan uang pribadinya.”

Dimas menoleh kepadanya. “Diam, Selma!”

Selma tersentak, tetapi kali ini dia tidak menurut.

“Kamu bilang perusahaan itu milikmu. Kamu juga bilang Alya sudah setuju membantu pembiayaan proyek. Kamu menyuruhku mengirim tagihan dan menggunakan nama perusahaan tersebut.”

Aku menatapnya.

“Siapa yang membuat perusahaan itu?”

Selma meremas jemarinya.

“Bukan saya sendiri. Dimas yang mengatur semuanya.”

Arman berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Cukup! Aku akan meminta auditor independen memeriksa semua transaksi. Mulai hari ini, tidak ada pembayaran besar yang boleh dilakukan tanpa pemeriksaan tambahan.”

“Mas, kamu tidak bisa melakukan itu!” bentak Dimas.

“Aku bisa, karena perusahaan ini juga menyangkut masa depan karyawan dan keluarga kita.”

Untuk pertama kalinya, Dimas tidak memiliki jawaban.

Aku mengeluarkan dokumen terakhir dari mapku.

“Ini rancangan kesepakatan sementara. Kita akan membahas pemisahan tempat tinggal, pengaturan pengasuhan Keira, dan perlindungan aset selama proses hukum berlangsung. Aku juga akan mengajukan gugatan cerai melalui jalur yang semestinya.”

Dimas menatap halaman pertama.

“Kamu serius mau menceraikanku hanya karena satu kesalahan?”

Aku menahan napas. Bukan karena ragu, melainkan karena kalimat itu terdengar begitu asing setelah semua yang kulihat.

“Satu kesalahan?” tanyaku pelan. “Kamu punya hubungan dengan Selma, mengirim uang keluarga kepadanya, menyediakan apartemen, dan membiarkan dokumen perusahaan memakai tanda tangan yang bukan milikku. Berapa banyak kesalahan yang harus terjadi sebelum kamu menyebutnya pengkhianatan?”

Dia mengusap wajahnya.

“Aku bisa memperbaiki semuanya. Aku akan menghentikan hubungan ini. Aku akan mengembalikan uangnya.”

“Pengembalian uang tidak otomatis menghapus akibatnya. Dan janji tidak bisa menggantikan pemeriksaan.”

Bu Ratih menangis tanpa suara. Aku tahu dia terluka melihat anaknya sendiri melakukan semua ini, tetapi aku juga tahu kesedihannya tidak bisa menjadi alasan bagiku untuk bertahan.

Sebelum pertemuan berakhir, aku menyerahkan salinan dokumen kepada Pak Yudi dan meminta agar bukti asli disimpan dengan aman. Kami sepakat tidak mengambil tindakan sepihak terhadap aset yang masih dipersengketakan. Urusan rekening dan perusahaan akan ditangani sesuai prosedur, bukan melalui ancaman atau kemarahan.

Selma pergi lebih dulu. Dimas tetap duduk ketika semua orang mulai berdiri.

“Alya,” katanya lirih. “Bagaimana dengan Keira?”

Pertanyaan itu membuat dadaku terasa berat.

“Keira tetap membutuhkan ayahnya. Tapi dia juga membutuhkan orang tua yang tidak menjadikan rumah sebagai tempat berbohong. Kita akan mengatur pengasuhan dengan mengutamakan kepentingannya.”

Aku mengambil tas dan berjalan menuju pintu.

“Apa kamu tidak pernah mencintaiku lagi?” tanyanya.

Aku berhenti sejenak.

“Pernah. Itulah sebabnya aku bertahan begitu lama tanpa menyadari betapa banyak yang kamu sembunyikan.”

Aku meninggalkan rumah bersama Raka.

Siang itu, aku menjemput Keira di rumah Mama. Putriku berlari memelukku, lalu menunjukkan gambar keluarga yang dibuatnya dengan krayon. Ada tiga orang bergandengan tangan di depan sebuah rumah, dengan matahari besar di atas atap.

“Ini Mama, ini Papa, ini Keira,” katanya bangga.

Aku memeluknya erat.

“Gambarnya bagus sekali, Sayang.”

“Papa nanti pulang juga, kan?”

Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum pasti.

“Papa akan tetap menjadi Papamu. Mama dan Papa sedang belajar menyelesaikan masalah orang dewasa.”

Keira mengangguk, lalu kembali mewarnai matahari.

Beberapa minggu berikutnya, hidupku berubah menjadi rangkaian pertemuan dengan pengacara, pemeriksaan dokumen, dan diskusi tentang masa depan putriku. Auditor independen menemukan sejumlah transaksi yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Perusahaan kemudian menyerahkan dokumen terkait kepada pihak yang berwenang untuk diperiksa. Dugaan pemalsuan tanda tangan dan penyalahgunaan dana tidak diselesaikan melalui kesepakatan keluarga, melainkan melalui proses yang semestinya.

Aku tidak menyebarkan video perselingkuhan itu ke media sosial. Aku juga tidak menghubungi rekan-rekan bisnis Dimas untuk mempermalukannya. Aku hanya menyimpan bukti, melindungi hakku, dan membiarkan fakta berbicara melalui jalur yang benar.

Proses perceraian kami akhirnya berjalan.

Namun kejutan terbesar datang ketika Pak Yudi menerima surat dari notaris yang menangani dokumen lama perusahaan.

Dalam surat itu, terdapat salinan perjanjian yang ditandatangani empat tahun sebelumnya, ketika ayah Dimas masih hidup. Isinya menyatakan bahwa sebagian saham yang diwariskan kepadaku bukan sekadar hadiah kepada menantu, melainkan bagian dari jaminan atas pinjaman pribadi yang pernah kuberikan kepada perusahaan saat bisnis mereka hampir bangkrut.

Aku teringat uang tabunganku yang kukeluarkan waktu itu. Dimas berjanji akan mengembalikannya setelah keadaan membaik. Aku tidak pernah menagih karena menganggap kami sedang membangun masa depan bersama.

Ternyata ayahnya mencatat semuanya dengan rapi.

Berdasarkan dokumen tersebut, aku memiliki hak yang jauh lebih besar dalam penyelesaian keuangan perusahaan daripada yang selama ini kupahami. Hak itu tidak membuatku otomatis memiliki seluruh perusahaan, tetapi cukup untuk memastikan bahwa kontribusiku tidak bisa dihapus begitu saja.

Ketika Dimas mengetahui hal itu, dia meneleponku berkali-kali.

Aku hanya mengirim satu pesan.

“Semua akan diselesaikan melalui pengacara. Aku tidak ingin membalasmu. Aku hanya ingin mengambil kembali hakku.”

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi diputuskan. Pengaturan pengasuhan Keira ditetapkan dengan mempertimbangkan kepentingannya, sementara persoalan keuangan perusahaan tetap berjalan melalui proses terpisah.

Pada hari aku pindah ke rumah yang lebih kecil bersama Keira, aku menemukan kotak martabak yang pernah kubeli malam itu masih tersimpan dalam foto di ponselku.

Aku tersenyum getir.

Aku pulang lebih cepat untuk mengejutkan suamiku, tetapi justru menemukan alasan untuk menyelamatkan diriku sendiri.

Dulu aku mengira pernikahan yang berhasil adalah pernikahan yang mampu bertahan melewati segala sesuatu.

Kini aku mengerti, tidak semua yang bertahan berarti masih sehat. Ada kalanya keberanian terbesar bukan mempertahankan rumah tangga, melainkan berhenti menyebut pengkhianatan sebagai ujian cinta.

Malam itu, Keira memelukku sebelum tidur.

“Ma, sekarang kita tinggal berdua?”

Aku mencium keningnya.

“Untuk sementara, kita tinggal berdua.”

Dia tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Ma. Yang penting rumah kita tidak sedih lagi.”

Aku mematikan lampu dan duduk sebentar di samping ranjangnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak takut menghadapi hari esok.

Sebab aku akhirnya memahami bahwa rumah bukanlah bangunan yang dibeli bersama, bukan rekening yang saldonya terus bertambah, dan bukan nama keluarga yang tercetak di atas dokumen.

Rumah adalah tempat seseorang bisa tidur dengan tenang tanpa harus bertanya-tanya apakah orang yang dicintainya sedang menghancurkan hidupnya dalam diam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang