SAAT SUAMI SAYA PERGI DARI RUMAH, MERTUA SAYA MEMINTA SAYA

Isinya bukan uang, bukan emas, bukan pula perhiasan yang selama ini saya bayangkan disimpan oleh seorang pria penyimpan rahasia. Di dalam kantong plastik itu terdapat segumpal rambut manusia yang diikat dengan pita hitam kusam, puluhan foto polaroid yang sudah pudar warnanya, dan yang paling mengerikan—sebuah kunci perak kecil yang berlumuran noda kecokelatan yang sudah mengering.

Noda itu… saya tahu persis apa itu. Darah.

Tangan saya gemetar hebat. Saya mencoba menjatuhkan kantong itu, tetapi mata saya terkunci pada satu foto yang paling atas. Foto itu menampilkan seorang wanita yang wajahnya dicoret dengan tinta spidol hitam, tetapi saya masih bisa mengenali latar belakangnya. Itu adalah ruang tamu kami. Di kursi yang sering diduduki Lucas, putri saya.

“Apa yang kau lakukan, Elena?”

Suara itu berat, tenang, dan mematikan.

Saya terlonjak. Mark sudah kembali. Dia berdiri di ambang pintu kamar mandi, menatap lubang di dinding yang baru saja saya hancurkan dengan tatapan kosong. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya kekecewaan yang jauh lebih menakutkan daripada amarah mana pun.

“Mark?” suara saya serak. “Apa ini? Siapa wanita ini?”

Mark melangkah masuk. Dia tidak menutup pintu, tapi dia menguncinya. Suara klik dari kunci itu terdengar seperti vonis mati. Dia perlahan melepas jaketnya, menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap Pak Ernesto yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya, menatap lantai dengan tubuh gemetar hebat.

Ternyata, Pak Ernesto bukan mencoba menyelamatkan saya. Dia adalah bagian dari ini.

“Ayah,” kata Mark dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk saya berdiri. “Ayah sudah berjanji untuk tidak ikut campur setelah apa yang terjadi pada ibuku.”

Mata saya membelalak. “Ibumu? Apa maksudmu?”

Mark terkekeh, suara yang sangat asing bagi saya. “Elena, sayang. Kau selalu bertanya kenapa kita sering pindah rumah, bukan? Kau pikir itu karena karierku? Kau pikir kita beruntung menemukan rumah-rumah murah dengan desain klasik yang kau sukai?”

Dia mendekat. Saya terpojok ke dinding, palu masih dalam genggaman saya, tapi tangan saya terlalu lemah untuk menggunakannya.

“Setiap rumah yang kita tempati, aku membangunnya kembali. Aku bukan arsitek, Elena. Aku seorang pengumpul sejarah yang tidak ingin hilang.”

Dia menunjuk ke lubang di balik keramik. “Itu koleksi terakhir. Wanita di foto itu adalah orang yang kau gantikan. Dia adalah istriku sebelum kau. Dia terlalu cerewet, terlalu banyak bertanya tentang ke mana perginya barang-barang pribadinya.”

Dunia seolah berputar. Seluruh memori tentang pernikahan kami—makan malam romantis, tawa Lucas, kecupan di kening setiap pagi—semuanya terasa seperti sebuah sandiwara yang diputar berulang kali di depan penonton yang salah.

“Kenapa kau memberitahuku sekarang?” teriak saya, air mata mengalir deras.

Mark menoleh ke arah ayahnya. Pak Ernesto jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, menutupi wajahnya dengan tangan.

“Karena Ayah sudah tua dan mulai pikun,” sahut Mark santai, seolah sedang membahas cuaca. “Dia mulai menceritakan ‘cerita pengantar tidur’ kepada Lucas. Dia mulai merasa bersalah. Dan bagiku, seseorang yang merasa bersalah adalah sebuah cacat dalam rencana sempurna.”

Tiba-tiba, Pak Ernesto mendongak. Di tangannya, dia mengeluarkan sesuatu yang selama ini disembunyikan di balik jaketnya. Sebuah pisau lipat kecil.

“Jangan sentuh dia, Mark!” teriak Pak Ernesto. “Aku sudah memanggil polisi! Mereka akan datang dalam lima menit!”

Mark tidak terlihat takut. Dia justru tersenyum lebar. “Ayah, apakah Ayah benar-benar berpikir aku tidak tahu? Ayah sudah mematikan sinyal ponsel di rumah ini sejak satu jam yang lalu. Tidak ada polisi yang akan datang.”

Dalam kekacauan itu, saya melihat kesempatan. Saat Mark sedikit lengah karena menatap ayahnya, saya mengayunkan palu sekuat tenaga ke arah pipa air di atas kepala kami.

Brak!

Pipa besi itu pecah, menyemprotkan air dengan tekanan tinggi ke seluruh ruangan. Kamar mandi berubah menjadi kekacauan yang basah dan licin. Mark tergelincir, terhempas ke lantai.

“Lari, Elena! Bawa Lucas pergi!” teriak Pak Ernesto.

Tanpa berpikir dua kali, saya berlari keluar dari kamar mandi, menabrak Mark yang mencoba bangkit. Saya berlari ke arah rumah tetangga, meneriakkan nama Lucas sekuat tenaga.

Namun, saat saya sampai di teras rumah tetangga, saya berhenti. Saya melihat Lucas sedang duduk di ayunan di halaman depan, bermain dengan mainan robotnya. Tapi, ada yang aneh.

Lucas menoleh ke arah saya. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak begitu datar. Di belakangnya, berdiri seorang wanita—wanita yang ada di dalam foto itu. Wanita yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu, yang seharusnya sudah menjadi bagian dari dinding-dinding rumah yang kami tempati.

“Ibu,” panggil Lucas dengan suara yang bukan suaranya. Suaranya terdengar seperti rekaman kaset yang rusak. “Ayah bilang kita harus menunggu di sini sampai ‘pembersihan’ selesai.”

Saya mundur selangkah. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari belakang saya. Itu bukan Mark.

Itu adalah sekelompok orang yang mengenakan seragam putih, masker, dan sarung tangan medis. Mereka tidak membawa senjata, mereka membawa suntikan.

Mark keluar dari pintu rumah kami, sudah mengganti kemejanya yang basah. Dia berdiri di samping saya, merangkul pundak saya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah kami baru saja selesai menonton film yang menyedihkan.

“Maafkan aku, Elena,” bisiknya di telinga saya. “Eksperimen ini berjalan sedikit terlalu jauh. Memori palsu yang kami tanamkan di otakmu ternyata membuatmu sedikit lebih agresif dari subjek-subjek sebelumnya.”

Saya mencoba berteriak, tapi tangan-tangan kuat dari pria berseragam itu menahan saya.

“Lucas bukan anak kita,” lanjut Mark dengan nada yang sangat lembut. “Lucas adalah subjek observasi. Dan kau, Elena, adalah satu-satunya istri yang bertahan paling lama. Sayang sekali kau harus diriset ulang.”

Saya melihat ke arah rumah. Keramik yang saya hancurkan tadi mulai diperbaiki oleh seseorang yang muncul dari bayang-bayang. Pak Ernesto kini berdiri di samping mereka, wajahnya kini terlihat tenang, seolah dia baru saja menyelesaikan tugas administratif.

“Jangan khawatir,” kata Mark saat salah satu dari mereka menyuntikkan sesuatu ke leher saya. “Besok pagi, kau akan bangun di rumah baru. Kau akan menjadi Elena yang baru. Dan kita akan menikah lagi, seperti pertama kali kita bertemu.”

Dunia saya perlahan memudar menjadi gelap. Sebelum kesadaran saya benar-benar hilang, saya melihat Mark mencium kening saya dengan tulus.

“Sampai jumpa di rumah berikutnya, Sayang.”

Dan dalam kegelapan itu, saya menyadari satu hal yang mengerikan: ini bukan kali pertama ini terjadi. Dan mungkin, tidak akan pernah ada akhir yang sebenarnya. Saya adalah bagian dari dinding itu, terperangkap dalam siklus yang Mark buat, selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang