PADA PERTAMA KALINYA AKU IKUT PERJALANAN BISNIS BERSAMA ATASKU

Di dalam kamar mandi, aku menyalakan keran air dingin dan membasuh wajahku berkali-kali. Jantungku berdetak seperti genderang perang. Pikiranku berkecamuk. Rafael Wijaya? Pria yang ditakuti seluruh karyawan, pria yang bahkan tidak pernah melirik sekretaris secantik apapun, kini bersamaku di tempat tidur?

Aku mencoba mengingat potongan kejadian semalam. Perjamuan bisnis. Alkohol. Rasa pening yang luar biasa. Lalu… kabur. Hanya itu. Ingatanku putus setelah gelas ketiga wine yang kupikir adalah jus buah.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, Rafael sudah duduk di meja makan yang menghadap pemandangan kota Jakarta. Dia menyesap kopi hitam dengan keanggunan yang menyakitkan.

“Duduk,” perintahnya tanpa menoleh.

Aku duduk dengan kaku. “Pak Rafael, saya minta maaf soal semalam. Saya benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Saya berjanji, ini tidak akan mengubah profesionalisme saya di kantor. Mari kita lupakan ini sebagai… kesalahan teknis.”

Rafael meletakkan cangkirnya dengan denting yang halus. Dia menatapku tajam. Tatapan itu bukan lagi tatapan atasan kepada bawahan. Itu tatapan seorang pemburu yang telah mendapatkan mangsanya.

“Kesalahan teknis?” suaranya rendah, nyaris berbisik. Dia berdiri, mendekatiku, dan meletakkan tangannya di kursi, mengunci posisiku. “Kamu pikir semalam adalah kecelakaan, Elena?”

“L-lalu apa?” suaraku mencicit.

Dia tertawa sinis. “Kamu benar-benar tidak ingat? Atau kamu pura-pura tidak ingat?”

Rafael merogoh saku bathrobe-nya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah alat perekam. Dia menekan tombol play.

Suaraku terdengar dari alat itu. Tapi itu bukan suaraku yang biasa. Itu suaraku saat mabuk, meracau tentang kebencianku padanya, tentang bagaimana aku selalu mengamati setiap gerak-geriknya, dan bagaimana aku ingin menghancurkan reputasi “Ice King”-nya.

Duniaku runtuh seketika. “I-itu bukan saya… itu hanya pengaruh alkohol!”

“Tapi kenyataannya, semalam kamu bukan korban, Elena. Kamulah yang menyeretku ke sini,” bisiknya tepat di telingaku. “Dan sekarang, kamu ingin lari dari tanggung jawab?”

02. Jebakan yang Lebih Dalam

Minggu-minggu berikutnya di kantor berubah menjadi neraka. Rafael tidak lagi dingin. Dia menjadi posesif. Setiap tugas yang kuberikan selalu dikembalikan dengan catatan, “Datang ke ruanganku malam ini untuk revisi.”

Namun, ada sesuatu yang aneh. Aku mulai menyadari bahwa Rafael tidak benar-benar membenciku. Dia justru melindungiku dari politik kantor yang kotor. Dia menaikkan gajiku secara tidak masuk akal dan memecat orang-orang yang pernah meremehkanku.

Tapi ketakutan terbesarku muncul saat aku menemukan sebuah amplop di bawah pintu apartemenku. Isinya adalah foto-foto kami berdua di hotel malam itu—diambil dari sudut yang menunjukkan bahwa kami sedang diawasi.

Aku segera berlari menemui Rafael di apartemennya. Aku mendobrak pintunya tanpa mengetuk.

“Rafael! Kita dalam bahaya!” teriakku.

Rafael sedang duduk di sofa, tidak terkejut sama sekali. Dia memegang gelas wiski, menatap ke arah pintu dengan tenang.

“Akhirnya kamu sadar,” ucapnya dingin.

“Apa maksudmu?”

“Kamu pikir kenapa aku membawamu ke Presidential Suite? Kamu pikir kenapa aku membiarkanmu ‘menyerangku’ malam itu?” Rafael berdiri, wajahnya kini terlihat sangat mengerikan—bukan lagi wajah seorang bos, melainkan wajah seorang pemain catur ulung.

“Aku butuh umpan, Elena. Dan kamu adalah umpan paling sempurna.”

Ternyata, Rafael sedang menyelidiki korupsi besar-besaran di jajaran direksi perusahaan kami. Seseorang di dalam perusahaan ingin menjatuhkannya dengan menyebarkan skandal moral. Mereka meracuni minumanku agar aku kehilangan kendali dan melakukan tindakan tidak senonoh di depan kamera tersembunyi yang sudah mereka pasang.

“Mereka ingin menghancurkan karirku dengan skandal perselingkuhan,” jelas Rafael. “Tapi saat kamu menyerangku malam itu, aku membalikkan keadaan. Aku merekam balik momen itu untuk menunjukkan bahwa akulah yang ‘terdesak’. Dengan begitu, para direksi itu tidak bisa menggunakan rekaman mereka tanpa terlihat konyol.”

Aku ternganga. “Jadi… kita tidak melakukan apa-apa?”

Rafael tersenyum miring. “Tentu saja tidak. Kamu pingsan setelah sepuluh menit karena alkohol itu. Aku hanya memindahkanmu ke tempat tidur.”

Rasa lega yang luar biasa menyelimutiku. Namun, saat aku hendak pergi, dia menarik lenganku kembali.

“Tapi ada satu hal yang salah, Elena.”

“Apa?”

“Mereka tidak tahu kalau sejak hari itu, aku benar-benar jatuh cinta padamu.”

03. Plot Twist yang Menghancurkan

Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Rafael mencintaiku? Itu terdengar seperti romansa klise, sampai aku mendapatkan pesan singkat dari nomor tak dikenal.

“Jangan percaya Rafael. Dia bukan korban. Dia adalah dalang yang meracuni minumanmu sendiri agar dia punya alasan untuk memilikimu.”

Jantungku berhenti berdetak. Aku segera membuka laptop dan mulai meretas data server perusahaan—keahlian yang selama ini kusimpan rapat-rapat sebagai mantan spesialis keamanan siber sebelum menjadi sekretaris.

Aku menembus enkripsi ruang kerja Rafael. Aku menemukan folder tersembunyi berjudul “Proyek Elena”.

Di dalamnya, bukan hanya foto malam itu. Ada foto-fotoku saat kuliah, saat aku bekerja di perusahaan sebelumnya, bahkan riwayat medis lengkapku. Rafael tidak bertemu denganku secara kebetulan. Dia sudah merencanakan pertemuan ini bertahun-tahun lalu.

Dia adalah orang yang membuatku dipecat dari pekerjaan lamaku agar aku melamar ke perusahaannya. Dia adalah orang yang mengatur segalanya.

Tiba-tiba, pintu apartemenku terbuka. Rafael berdiri di sana dengan kunci cadangan. Dia tidak lagi terlihat seperti pria yang jatuh cinta. Wajahnya datar, dingin, dan menakutkan.

“Kamu seharusnya tidak melihat folder itu, Elena,” ucapnya datar.

“Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini?” teriakku sambil memegang pisau buah yang ada di meja.

Rafael melangkah maju, tidak takut sedikit pun. “Karena kamu adalah satu-satunya orang yang pernah berhasil membongkar kasus penggelapan uang ayahku sepuluh tahun lalu, yang membuat ayahku dipenjara. Kamu menghancurkan hidupku, jadi aku memutuskan untuk menghancurkan hidupmu dengan cara yang paling lambat.”

Aku tertegun. Jadi ini bukan tentang cinta. Ini tentang balas dendam.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanyaku gemetar.

Rafael tersenyum, sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya. “Aku tidak akan membunuhmu, Elena. Itu terlalu mudah. Aku akan menikahimu, membuatmu mencintaiku, lalu tepat di hari pernikahan kita, aku akan mengungkap bahwa kamulah dalang sebenarnya di balik semua kekacauan perusahaan ini. Aku akan membiarkan dunia membencimu, sementara aku akan menikmati kehancuranmu dari barisan depan.”

Dia melangkah keluar, menutup pintu, dan menguncinya dari luar.

Aku terduduk di lantai, menyadari bahwa aku tidak sedang berada di dalam kisah romansa kantor. Aku berada di dalam perangkap seorang psikopat yang sangat sabar.

Dan di luar sana, di bawah jendela apartemenku, aku melihat lampu mobilnya menyala. Dia masih menunggu. Dia tidak akan membiarkanku lari. Permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya menang begitu saja.

Aku meraih ponselku, menekan tombol record yang terhubung langsung ke server kepolisian. Rafael baru saja mengakui segalanya di depan mikrofon tersembunyi yang kupasang di ruang tamu.

Permainan balas dendam? Mari kita lihat siapa yang akan hancur lebih dulu, Rafael.

Aku tersenyum, menyeka air mataku, dan mulai merencanakan langkah terakhirku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang