…aku merasakan dingin yang menusuk tulang, bukan karena angin malam, melainkan karena pengkhianatan yang baru saja terungkap.
Dua suara itu adalah milik Ratih dan Sari, istri dari anak sulung dan anak tengahku. Ratih yang selama ini terlihat lembut bak angin pantai, ternyata adalah dalang di balik semua perhitungan kejam ini. Sementara Sari, si tajam dan penuh perhitungan, hanyalah eksekutor yang siap menyingkirkan siapa pun yang menghalangi.
Lalu, bagaimana dengan menantu ketigaku, Maya? Istri dari putra bungsuku yang pendiam? Selama enam bulan ini, dia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah mengeluh. Dia datang setiap pagi, membersihkan rumah, mencuci pakaianku yang bau apek, dan tidak pernah sekali pun menyinggung soal tanah. Bahkan saat aku berpura-pura menumpahkan teh di atas meja, dia tidak marah, hanya membersihkannya dengan sabar sembari berbisik, “Tidak apa-apa, Bapak. Biar Maya bantu.”

Apakah dia juga bagian dari skenario ini?
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menunggu. Tepat tengah malam, pintu kamar kayu yang tua itu berderit terbuka. Aku memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napas agar tetap teratur layaknya orang yang sedang terlelap.
Seseorang masuk. Langkahnya ringan, hampir tak terdengar. Bau melati yang lembut menyentuh indra penciumanku. Itu Maya.
Dia mendekat ke tepi tempat tidur, lalu duduk di kursi kayu kecil di sampingku. Untuk waktu yang lama, tidak ada suara. Hanya detak jantungku yang berpacu. Tiba-tiba, aku merasakan tangannya yang hangat menyentuh dahiku, menyingkirkan rambut putihku dengan sangat pelan.
Dia tidak bicara. Namun, aku mendengar suara isakan tertahan.
“Bapak tahu…” bisiknya lirih, suaranya bergetar hebat. “Maya tahu Bapak tidak buta.”
Tubuhku membeku. Mataku yang terpejam di balik kelopak mata seakan ingin terbuka lebar, namun aku memaksanya tetap diam.
“Maya tahu Bapak melakukan ini karena ingin melihat siapa yang benar-benar mencintai Bapak,” lanjutnya, kali ini isakannya pecah. “Bapak tidak buta, tapi Bapak sedang sekarat, bukan? Hasil pemeriksaan dari RS kota yang Bapak buang ke tempat sampah dua minggu lalu… Maya membacanya.”
Duniaku runtuh. Rahasia terbesarku—bahwa aku sebenarnya menderita gagal jantung stadium akhir dan hanya memiliki waktu beberapa bulan lagi—telah diketahui oleh orang yang paling tidak kucurigai.
“Mereka berencana meracuni Bapak jika tanda tangan itu tidak didapat minggu ini,” Maya berbisik lagi, suaranya penuh kepedihan. “Bapak harus pergi dari sini. Malam ini. Maya sudah menyiapkan kendaraan di depan. Jangan percaya pada siapa pun lagi, bahkan pada suami mereka… anak-anak kandung Bapak sendiri sudah bersekongkol dengan mereka demi uang.”
Aku tersentak. Jadi, anak-anakku pun terlibat?
“Kenapa?” tanyaku akhirnya, suaraku parau dan sengaja kupecahkan, melepaskan sandiwara “buta” ini seketika. Aku membuka mata dan menatapnya. Kegelapan kamar itu tidak lagi terasa menyesakkan, karena kejujuran Maya menjadi satu-satunya cahaya yang tersisa.
Maya tersenyum, meski air mata membanjiri pipinya. “Karena Bapak adalah satu-satunya orang yang memeluk saya saat semua orang menganggap saya orang asing di keluarga ini. Bapak tidak butuh tanah itu untuk dihargai, Bapak hanya butuh seseorang yang melihat Bapak sebagai manusia, bukan sebagai aset.”
Kami segera bergegas. Aku tidak membawa harta. Aku hanya membawa satu tas kecil berisi dokumen-dokumen penting yang selama ini kusembunyikan di balik lantai kayu di bawah tempat tidur. Saat kami melangkah keluar menuju mobil, aku melihat Ratih dan Sari berdiri di teras depan, memegang secangkir kopi yang mungkin sudah dicampur dengan sesuatu yang mematikan. Wajah mereka pucat pasi saat melihatku berjalan dengan mata terbuka.
“Bapak… Bapak sudah melihat?” tanya Ratih dengan suara gemetar.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap wajah anak-anakku yang berdiri di belakang mereka, wajah-wajah yang selama enam bulan ini menatapku dengan kasihan palsu, padahal di baliknya ada belati yang siap menghunjam.
Aku masuk ke mobil bersama Maya. Saat mobil melaju meninggalkan rumah tua itu, aku menoleh ke belakang. Aku melihat rumah warisan leluhur itu. Aku tidak merasa kehilangan. Justru, aku merasa baru saja memenangkan pertarungan paling berharga dalam hidupku.
“Ke mana kita akan pergi, Bapak?” tanya Maya.
Aku tersenyum tipis, menatap jalanan yang membentang di depan. “Kita pergi ke notaris, Maya. Bukan untuk membagikan tanah, tapi untuk menghibahkan seluruh tanah itu kepada panti asuhan, dan memastikan mereka semua tidak mendapatkan satu jengkal pun.”
Maya terdiam, lalu dia tertawa kecil—tawa yang tulus.
Namun, tepat saat kami berbelok di ujung jalan desa, sebuah mobil SUV hitam tiba-tiba memotong jalan kami dengan kasar. Aku mengerem mendadak. Pintu mobil itu terbuka, dan putra bungsuku—suami Maya—keluar dengan wajah yang sangat dingin, memegang sebuah amplop besar di tangannya.
“Istriku,” katanya menatap Maya dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Kenapa kau harus berbuat sejauh ini? Padahal kita bisa mendapatkan semuanya dengan mudah jika kau tidak mengacaukan rencana ini sejak awal.”
Maya pucat pasi. Aku menatapnya, bingung.
“Bapak,” Maya berbisik gemetar, menatapku dengan mata yang tiba-tiba berubah tajam dan penuh perhitungan. “Ternyata, dia tidak sebodoh yang saya kira.”
Di malam yang dingin itu, di tengah hutan kelapa yang sepi, aku akhirnya menyadari kenyataan yang paling pahit: aku tidak sedang dikelilingi oleh musuh, aku sedang dikelilingi oleh sekawanan predator yang sudah mengincarku sejak aku pertama kali menutup mata. Dan sang “penyelamatku” ternyata adalah pemimpin dari permainan ini sejak awal.
Aku tersenyum kecut, mengambil kunci mobil dari sakuku, dan menyadari bahwa pintu mobil sudah dikunci dari sistem pusat oleh anakku sendiri. Sandiwara enam bulan yang kubangun untuk menguji mereka, berakhir dengan aku terjebak di dalam jaring yang mereka buat sendiri.
Ternyata, mata yang bisa melihat tidaklah cukup. Kita butuh hati yang bisa merasakan kejahatan sebelum ia sempat meracuni kita. Dan malam itu, aku benar-benar buta akan satu hal: betapa serakahnya darah dagingku sendiri.
Apakah Anda ingin tahu apa yang akhirnya terjadi pada tanah warisan tersebut setelah kejadian di malam itu?
