Darahku mendidih, seolah ada magma yang menyembur di balik dadaku. Namun, aku membeku. Aku ingin berteriak, menghancurkan dapur itu detik itu juga, tetapi instingku sebagai engineer yang terbiasa menganalisis situasi sebelum bertindak menahanku. Aku harus melihat sampai di mana busuknya mereka.
Aku bersembunyi di balik pilar besar ruang makan, menahan napas.
Maya tidak membantah. Ia hanya menunduk, mengusap air matanya dengan lengan baju, lalu mengambil gelas-gelas wine itu dengan tangan gemetar.
“Maafkan saya, Clara,” bisik Maya pelan.

Ibu tertawa sinis, suara yang biasanya terdengar lembut di telingaku kini terdengar seperti lolongan iblis. “Sudah kubilang, Clara, jangan terlalu keras. Biarkan dia belajar bersyukur. Maya, dengar baik-baik. Kamu harus bersyukur masih bisa tinggal di sini, makan dari uang anakku, dan memiliki atap di atas kepala. Kalau bukan karena Ardi, kamu mungkin masih jadi kuli panggul di desamu itu.”
Maya terdiam, bahunya terguncang hebat.
“Ardi mengirimkan uang banyak setiap bulan, Bu,” suara Maya tertahan. “Apakah… apakah aku bisa menggunakan sedikit saja untuk menebus obat ibuku di kampung? Dia sedang sakit parah.”
“Cih!” Clara mendengus. “Uang itu milik keluarga kami, bukan untuk membiayai orang miskin di kampungmu! Kamu sudah jadi menantu di sini, tugasmu melayani, bukan meminta-minta.”
Aku tidak bisa menahan diri lagi. Langkah kakiku menghentak lantai marmer, menciptakan gema yang membuat mereka tersentak hebat.
“Jadi, ini caramu merawat ‘putri sendiri’, Ibu?” suaraku berat, sedingin es.
Wajah Ibu dan Clara memucat seketika. Gelas wine di tangan Clara jatuh dan pecah berkeping-keping. “Ar-Ardi? Kamu… kamu seharusnya di Dubai!”
Aku berjalan mendekati Maya. Ia gemetar hebat, wajahnya yang cantik kini terlihat hancur oleh kelelahan yang ekstrem. Aku melepas jas mahalku dan menyampirkannya di bahunya, lalu mendekapnya erat. Bau sabun murah dan peluh memenuhi hidungku, kontras dengan wewangian mahal di tubuh ibuku.
“Maya, maafkan aku,” bisikku di telinganya.
Aku berbalik menatap mereka, mataku menyala dengan amarah yang dingin. “Ke mana para pembantu yang kugaji 20 juta per bulan? Ke mana uang yang kukirimkan setiap bulan?”
Ibu berusaha tenang, meski tangannya gemetar. “Ardi, dengarkan Ibu. Kami hanya… mendisiplinkan Maya. Dia terlalu manja, butuh kerja keras agar menghargai posisi ini.”
“Mendisiplinkan?” Aku tertawa getir. “Kalian mempekerjakannya sebagai budak. Kalian memecat pembantu dan mengantongi uang gaji mereka, lalu menjadikan istriku satu-satunya tumbal untuk gaya hidup sosialita kalian yang memuakkan!”
“Ardi, kamu mau mengusir Ibu sendiri hanya demi perempuan desa ini?” Clara mencoba memprovokasi.
Aku tidak menjawab. Aku mengeluarkan ponsel, memanggil pengacaraku. “Pak Surya, tolong siapkan surat pengosongan rumah ini dalam 1×24 jam. Dan tolong periksa rekening rumah tangga yang saya percayakan pada mereka. Saya ingin audit total. Jika ada satu sen pun yang disalahgunakan, saya pastikan mereka berakhir di balik jeruji besi.”
“Ardi! Jangan gila!” teriak Ibu.
Babak yang Tak Terduga
Keesokan harinya, rumah itu sudah sepi. Mereka pergi dengan penuh sumpah serapah. Namun, saat aku sedang membereskan barang-barang Maya, aku menemukan sebuah kotak kayu tua di bawah tempat tidur.
Di dalamnya, bukan emas atau perhiasan, melainkan tumpukan kwitansi rumah sakit dan buku harian Maya.
Aku membukanya. Halaman terakhir membuat jantungku berhenti.
“Ardi, maafkan aku. Aku tahu uang itu bukan untukku. Tapi Ibu dan Clara mengancam akan membunuh ibuku di desa jika aku melaporkan apa yang terjadi. Mereka bukan hanya menjadikanku pembantu, mereka memaksa Maya menjual perhiasan yang kamu berikan untuk menutupi hutang judi Clara.”
Tanganku gemetar. Ternyata, penderitaan Maya lebih dalam dari yang kubayangkan. Namun, saat aku membalik halaman terakhir, aku menemukan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan seorang pria yang sangat kukenal—ayah kandungku yang kukira sudah meninggal 20 tahun lalu. Dan di belakang foto itu tertulis: “Ibu Ratna tidak pernah mencintaimu, Ardi. Dia hanya menginginkan aset perusahaan ayahmu. Maya tahu kebenarannya, itulah sebabnya dia disiksa.”
Kepalaku pening. Ternyata aku selama ini tinggal bersama musuh yang menyamar sebagai keluarga.
Aku menatap Maya yang sedang tidur lelap di ruang tengah. Cahaya matahari menyinari wajahnya. Aku baru menyadari sesuatu yang krusial. Selama empat tahun ini, Maya tidak pernah meminta apa pun. Dia selalu tampak bahagia. Aku bertanya-tanya, bagaimana dia bisa menanggung semuanya sendirian?
Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Pesan dari Pak Surya: “Ardi, ada temuan baru. Ibu Ratna bukan ibu kandungmu. Dia adalah mantan sekretaris ayahmu yang memalsukan surat kematian setelah kecelakaan itu. Dan Maya… Maya sebenarnya adalah anak dari pemilik asli perusahaan yang sekarang kamu pimpin. Ayahmu yang sebenarnya dulu mencurinya dari keluarga Maya.”
Dunia seakan terbalik.
Aku menatap Maya yang baru saja terbangun, menatapku dengan mata lelah namun penuh kasih. Aku selama ini merasa menjadi penyelamat hidupnya, padahal dialah yang sebenarnya menjadi korban dari keserakahan keluargaku.
Aku mendekatinya, berlutut di depannya, dan menggenggam tangannya yang kasar karena sabun.
“Maya,” bisikku, “Aku sudah tahu semuanya. Bukan hanya tentang penderitaanmu, tapi tentang siapa kita sebenarnya.”
Maya terdiam, air mata mengalir di pipinya. “Aku tahu kamu akan tahu suatu hari nanti, Ardi. Tapi aku tidak ingin kamu kehilangan segalanya.”
“Aku tidak kehilangan apa pun,” kataku sambil tersenyum tipis. “Justru sekarang, aku punya alasan untuk menghancurkan segalanya dan membangun kembali semuanya bersamamu, dengan cara yang benar.”
Kami tidak pergi ke hotel atau rumah mewah. Kami pergi ke desa tempat Maya berasal, membawa semua bukti yang kami punya. Bukan untuk balas dendam dengan kekerasan, tapi dengan kebenaran yang jauh lebih mematikan.
Dua bulan kemudian, berita utama di koran nasional adalah: “Skandal Besar Perusahaan Internasional: Ratna Pratiwi Ditangkap atas Kasus Penipuan dan Penculikan.”
Aku tidak lagi menjadi head engineer di perusahaan besar itu. Aku membangun firma teknik kecil di desa, tempat di mana Maya tidak lagi menjadi pembantu, melainkan menjadi ratu yang sebenarnya.
Setiap malam, saat aku pulang kerja, aku tidak menemukan tumpukan piring kotor. Aku menemukan istriku, sedang duduk di teras kayu, menungguku dengan senyum yang tulus.
Aku pulang lebih awal bukan untuk memberikan kejutan materi, melainkan untuk memberikan kehidupan yang seharusnya dia miliki sejak lama. Aku tidak lagi mencari kesuksesan di gedung-gedung pencakar langit, karena kesuksesan terbesarku adalah melihat Maya bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut.
Dan ketika dia bertanya apakah aku menyesal kehilangan semua kekayaan itu, aku hanya menggenggam tangannya dan menjawab, “Maya, dulu aku mengira aku adalah sang pangeran yang menyelamatkanmu. Ternyata, kamulah yang menyelamatkanku dari kebohongan yang selama ini kusebut keluarga.”
Di bawah langit desa yang bersih, kami mulai menulis ulang takdir. Tak ada lagi piring kotor yang harus ia cuci sendirian, tak ada lagi air mata yang harus disembunyikan. Karena di sini, di kesederhanaan ini, aku menemukan bahwa rumah bukanlah tempat yang dibangun dengan uang, melainkan tempat di mana seseorang yang kita cintai merasa aman dan berharga.
Dan itulah, akhirnya, sebuah kebahagiaan yang tak pernah bisa dibeli oleh gaji 500 juta sebulan. Kami menang, bukan dengan harta, tapi dengan kejujuran yang akhirnya membebaskan kami dari sangkar emas yang penuh dengan busuknya tipu daya.
