KONTRAK PERNIKAHANKU SELAMA TIGA TAHUN DENGAN KENJI SALVADOR HAMPIR BERAKHIR.

Tiga hari terasa seperti tiga detik yang merayap di atas duri. Selama waktu itu, aku tidak menunjukkan emosi apa pun. Aku menjadi istri yang sempurna: menyiapkan setelan jasnya, menyetrika kemejanya yang berbau parfum mewah dan sisa aroma tubuhnya, serta tersenyum ketika dia menyebut nama “Clara” di telepon.

Kenji tidak pernah melihatku. Dia hanya melihat sebuah kontrak yang hampir selesai.

Hari terakhir tiba. Surat cerai sudah berada di atas meja marmer ruang tamu, hanya menunggu tanda tanganku. Kenji duduk di seberangku, wajahnya setajam pisau. Dia tampak tidak sabar.

“Tanda tangani,” ucapnya dingin. “Setelah ini, hidupmu akan terjamin. Aku sudah menyiapkan rumah dan dana cukup untukmu hidup nyaman seumur hidup. Jangan pernah mencari aku lagi setelah ini.”

Aku mengambil pulpen. Tanganku gemetar, namun aku menyembunyikannya di bawah meja.

“Kenji,” suaraku serak. “Sebelum aku menandatanganinya, aku ingin mengatakan sesuatu.”

Dia memutar bola matanya, tanda kejengkelan yang sudah kukenal dengan baik. “Cepatlah. Clara sudah menunggu di restoran. Kita punya reservasi makan malam untuk merayakan ‘kebebasan’ ini.”

“Aku hamil.”

Dua kata itu jatuh seperti bom di ruang tamu yang sunyi.

Kenji membeku. Untuk pertama kalinya, matanya yang sedingin es menatap langsung ke mataku. Namun, bukan kebahagiaan yang kulihat. Bukan pula keterkejutan seorang calon ayah.

Dia tertawa. Tawa yang kering dan meremehkan.

“Bagus sekali, Elara. Benar-benar trik klasik. Kamu pikir dengan mengatakan kamu hamil, aku akan membatalkan perceraian ini?” Dia berdiri, mendekatiku, dan mencengkeram daguku dengan kasar. “Kamu pikir aku bodoh? Kita selalu berhati-hati. Dan kalaupun itu benar, kamu pikir aku akan membiarkan anak itu lahir untuk mengikatku?”

Air mataku jatuh tanpa izin. “Aku tidak memintamu membatalkan perceraian. Aku hanya… aku hanya ingin kamu tahu.”

“Simpan saja kebohonganmu,” desisnya. Dia melemparkan map berisi dokumen itu ke dadaku. “Tanda tangani sekarang, atau aku akan pastikan kamu tidak mendapatkan satu sen pun dari yang sudah kujanjikan.”

Dengan tangan yang mati rasa, aku menandatangani surat itu.

Seketika, kontrak itu berakhir. Dia memungut dokumen tersebut, memutar badannya, dan berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun. Suara pintu yang tertutup rapat adalah suara retaknya hatiku.

Enam bulan berlalu.

Aku tidak lagi tinggal di Jakarta. Aku pindah ke sebuah kota kecil di pegunungan, hidup sederhana dan damai. Perutku sudah mulai membuncit, dan setiap tendangan kecil di dalamnya adalah alasan bagiku untuk tetap hidup.

Namun, dunia luar punya cara sendiri untuk menemukanku.

Suatu sore, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumah kecilku. Aku mengenali pria yang keluar dari mobil itu. Pengacara Kenji.

“Nyonya Elara, saya harus membawa Anda kembali ke Jakarta. Sekarang.”

“Kontrak itu sudah berakhir,” jawabku dingin.

“Tuan Kenji dalam keadaan kritis,” jawab pengacara itu, suaranya bergetar. “Dan neneknya… neneknya baru saja meninggal. Sebelum meninggal, dia meninggalkan surat wasiat yang sangat spesifik.”

Aku terdiam. Nenek Kenji selalu menyukaiku, jauh lebih daripada dia menyukai Clara.

Di Jakarta, suasana di rumah besar keluarga Salvador terasa mencekam. Kenji terbaring di tempat tidur rumah sakit di kamar pribadinya, tampak pucat dan lemah. Ternyata, dia mengalami kecelakaan fatal seminggu yang lalu.

Dia membuka matanya saat melihatku. Ada penyesalan yang mendalam di sana, namun juga ketakutan.

“Elara…” bisiknya.

Seorang notaris mendekat dan membacakan wasiat terakhir nenek Kenji.

“Seluruh harta warisan, saham perusahaan, dan kepemilikan tanah keluarga Salvador hanya akan jatuh kepada Kenji Salvador jika dia masih dalam ikatan pernikahan sah dengan istrinya, Elara, dan jika mereka memiliki seorang pewaris yang sah. Jika tidak… seluruh harta akan disumbangkan ke yayasan panti asuhan.”

Aku terpaku. Kenji menatapku dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah tahu tentang wasiat ini, dan itulah alasan dia terburu-buru ingin bercerai—dia pikir dia bisa memanipulasi keadaan sebelum neneknya tahu. Dia tidak tahu bahwa neneknya sudah mengetahui segalanya.

“Elara,” suaranya parau. “Aku… aku tidak tahu. Clara… dia meninggalkan aku begitu saja saat tahu perusahaanku terancam bangkrut setelah kecelakaan ini. Dia hanya mencintai uang dan namaku.”

Aku melihat Kenji yang dulu begitu angkuh, kini hancur di hadapanku. Namun, kenyataan sebenarnya jauh lebih mengejutkan.

Aku mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kecilku.

“Kenji, aku punya pengakuan,” kataku dengan suara datar namun tajam.

“Ternyata, selama enam bulan ini, aku tidak hanya berdiam diri. Aku bekerja sama dengan pengacara nenekmu untuk meneliti kontrak tiga tahun lalu.”

Kenji mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

“Tanda tanganmu pada kontrak perceraian itu… tidak sah.”

Dia terbelalak.

“Tiga tahun lalu, saat kita menandatangani kontrak pernikahan, aku menuntut satu klausul tambahan yang tidak kamu perhatikan karena kamu terlalu sibuk dengan rencanamu,” lanjutku. “Bahwa jika salah satu pihak berkhianat sebelum masa kontrak berakhir, maka kontrak tersebut gugur secara hukum dan semua aset akan jatuh ke tangan pihak yang setia.”

Aku tersenyum tipis. “Kamu lupa, Kenji. Kamu mencium Clara tepat dua bulan sebelum kontrak berakhir. Aku punya bukti fotonya. Dan aku juga punya rekaman percakapanmu yang berencana menelantarkanku.”

Kenji terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. Dia sadar, dia telah kalah.

“Jadi…” bisiknya.

“Jadi,” kataku sambil berdiri dan membelai perutku. “Secara hukum, kita masih menikah. Wasiat itu tetap berlaku. Tapi, semua kekuasaan atas perusahaan Salvador bukan lagi milikmu, melainkan milikku—sebagai wali dari ahli waris yang sah.”

Aku tidak menginginkan uangnya. Aku hanya ingin memastikan bahwa anakku tidak akan pernah memiliki ayah yang tidak mengenali nilainya sendiri.

Kenji menatapku dengan campuran antara benci dan kekaguman yang aneh. Di detik terakhir, saat dia sadar dia tidak punya siapa-siapa lagi, dia menggenggam tanganku.

“Elara… maafkan aku.”

Aku melepaskan tangannya dengan tenang. “Maafkan aku, Kenji. Tapi kontrak kita yang baru… baru saja dimulai. Dan kali ini, aku yang memegang kendalinya.”

Aku berjalan keluar dari ruangan itu. Di luar, matahari mulai terbenam, menyinari masa depan yang akan aku bentuk sendiri—tanpa rasa takut, tanpa ketergantungan, dan dengan cinta yang kini hanya milikku dan bayiku.

Tiga tahun lalu aku adalah pion. Hari ini, aku adalah ratu di atas papan catur yang aku buat sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang