SEORANG WANITA BERPURA-PURA “KESURUPAN” UNTUK MENAKUT-NAKUTI PENAGIH UTANG

Kapitan Tiyago menyipitkan mata, menatap Marites yang masih merayap di tanah dengan gerakan yang—jujur saja—lebih mirip kepiting daripada iblis yang menakutkan.

“Dukun? Tidak perlu,” ucap Kapitan dengan nada tenang namun berwibawa, membuat kerumunan mendadak hening. “Iblis jenis ini, yang merasuki orang yang berhutang, memiliki kelemahan khusus. Dia takut pada satu hal: air suci yang dicampur dengan minyak tanah dan garam kasar, lalu disiramkan tepat ke lubang hidung.

Marites, yang masih dalam posisi menungging, hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Minyak tanah? Ke hidung? Itu bukan cara mengusir iblis, itu cara membakar rongga pernapasan! batinnya panik.

“Dan,” lanjut Kapitan Tiyago sambil mengeluarkan botol air mineral dari sakunya, “Jika dia tidak segera siuman dalam hitungan ketiga, prosedur selanjutnya adalah mencukur habis rambutnya hingga botak licin agar aliran energi negatifnya terputus. Bawa alat cukur listriknya sekarang!”

Susan, yang kini merasa memiliki sekutu, langsung berteriak, “Cepat ambilkan alat cukurnya! Jangan biarkan rambut indah Marites selamat!”

Mendengar ancaman itu, Marites merasakan keringat dingin bercucuran di balik daster lusuhnya. Dia tidak takut pada iblis, tapi dia sangat mencintai rambutnya yang baru saja dicat warna pirang karatan itu.

“Satu…” hitung Kapitan Tiyago dengan suara berat.

Marites memejamkan mata rapat-rapat. Dia mencoba menahan napas, berharap drama ini akan berakhir tanpa dia harus kehilangan mahkotanya.

“Dua…”

Tiba-tiba, Marites melompat berdiri tegak dengan kecepatan yang akan membuat pelari olimpiade merasa malu. Semua orang terkesiap. Tanpa sepatah kata pun, tanpa menoleh ke belakang, tanpa sisa-sisa “kesurupan” sedikit pun, Marites langsung berlari secepat kilat melewati gerbang rumahnya, melompati parit desa, dan menghilang di balik rimbunnya kebun pisang di ujung desa.

“Dia sembuh! Dia sembuh!” teriak Susan girang. “Tapi… hutangnya!”

Namun, Kapitan Tiyago hanya tersenyum tipis. Ia tidak mengejar Marites. Ia justru berjalan menuju pintu depan rumah Marites dan membukanya lebar-lebar.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, bubarlah,” ujar Kapitan. “Drama pagi ini sudah selesai.”

Penduduk desa perlahan membubarkan diri dengan wajah bingung, namun masih membicarakan keajaiban tersebut. Susan, sang rentenir, tetap berdiri di depan rumah, menatap gerbang yang terbuka. Dia merasa ada yang ganjil. Kenapa Kapitan tidak terlihat marah?

Saat semua orang sudah pergi, Kapitan Tiyago memanggil Susan mendekat. “Susan, masuklah. Kita perlu bicara soal ‘bisnis’ ini.”

Susan masuk dengan perasaan was-was. Di ruang tamu Marites yang berantakan, di atas meja kartu yang masih berserakan, Kapitan Tiyago menunjukkan sesuatu. Sebuah buku catatan kecil yang tertinggal di bawah kursi.

Itu adalah buku catatan hutang. Tapi isinya bukan hanya hutang Marites.

Susan membuka lembaran buku itu dengan tangan gemetar. Wajahnya perlahan memucat. Di sana tertulis daftar nama-nama warga desa, termasuk nama Kapitan Tiyago sendiri, dengan jumlah nominal yang sangat besar, dan… cap stempel resmi kantor desa di setiap halaman.

“Marites tidak hanya berhutang padamu, Susan,” bisik Kapitan Tiyago. “Dia adalah pemegang buku kas rahasia dari dana bantuan desa yang selama ini hilang. Dan dia menggunakan uang itu untuk bermain judi, bukan untuk membayar hutang padamu.”

Susan ternganga. “Jadi… dia tidak butuh uang untuk membayar hutang, dia justru sedang memeras seluruh desa?”

“Tepat sekali,” jawab Kapitan. “Dan alasan dia ‘kesurupan’ tadi bukan untuk menakutimu. Dia tahu aku sudah mencurigainya. Dia melakukan itu agar dia dianggap gila, sehingga jika dia ditangkap karena penggelapan dana, dia bisa mengajukan pembelaan tidak waras dan bebas dari penjara.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari atap rumah.

KRETEK… KRETEK…

Susan mendongak, wajahnya pucat pasi. Marites tidak lari ke kebun pisang. Dia masih di sana, di atas plafon yang tipis, menguping pembicaraan mereka.

“Oh, kalian sudah menemukannya?” suara Marites terdengar dari atas, dingin dan tidak lagi dibuat-buat.

Plafon rumah itu jebol seketika, dan Marites jatuh mendarat tepat di depan mereka. Namun, kali ini tidak ada busa pasta gigi. Tidak ada mata yang diputar ke atas. Dia memegang sebuah pisau dapur kecil dan sebuah ponsel yang sedang merekam.

“Kalian berdua tahu terlalu banyak,” ucap Marites sambil tersenyum lebar. Senyumnya lebih menakutkan daripada akting iblis manapun. “Kapitan, kamu ingin menutupi kasus penggelapan dana ini agar jabatanmu aman. Susan, kamu ingin uangmu kembali dengan bunga 200%. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan baru?”

Kapitan Tiyago dan Susan saling pandang. Mereka terjebak dalam jebakan yang mereka buat sendiri.

“Kita bagi tiga,” lanjut Marites. “Aku tidak akan melaporkan kalian ke polisi atas keterlibatan kalian di buku catatan ini, dan kalian tidak akan menangkapku. Kita bakar buku ini sekarang, dan kita mulai hidup baru dengan uang desa yang tersisa di rekening luar negeri.”

Kapitan Tiyago, yang selama ini dikenal sebagai pria paling jujur dan cerdas di desa, perlahan melepaskan topi dinasnya dan meletakkannya di meja. Dia menatap Susan, lalu menatap Marites.

“Berapa jumlah yang tersisa?” tanya Kapitan dengan suara yang kini terdengar sama dinginnya dengan Marites.

Susan, yang awalnya datang sebagai korban, kini perlahan duduk di kursi, tangannya meraih buku catatan itu. “Cukup untuk membuat kita pindah ke kota dan melupakan desa busuk ini.”

Di luar, matahari bersinar terik, seolah-olah tidak ada rahasia kotor yang baru saja dikunci rapat di dalam rumah yang tampak sederhana itu.

Kejadian “kesurupan” yang dianggap warga sebagai sebuah keajaiban atau lelucon, ternyata hanyalah awal dari sebuah konspirasi besar. Tidak ada iblis yang datang merasuki Marites hari itu, karena ternyata, iblis yang sesungguhnya sudah lama tinggal di kursi-kursi kekuasaan desa tersebut, hanya saja mereka baru saja menunjukkan wajah aslinya.

Esok harinya, Marites, Susan, dan Kapitan Tiyago mengundurkan diri dari desa secara bersamaan. Warga desa kehilangan rentenir mereka, kehilangan kepala desa mereka, dan kehilangan satu-satunya wanita yang paling banyak berhutang di desa itu.

Desa itu menjadi tenang, tapi sebuah rahasia besar terkubur di bawah tanah, di tempat di mana Marites pernah berpura-pura menjadi Valak. Di sana, terkubur kotak besi berisi sisa bukti-bukti yang tidak sempat mereka bakar—sebuah asuransi bagi mereka jika suatu saat, salah satu dari mereka berkhianat.

Dan di kota besar, tiga orang asing terlihat sedang duduk di sebuah bar mewah, tertawa membicarakan betapa bodohnya orang-orang desa yang percaya pada akting busa pasta gigi. Mereka tidak sadar, bahwa di meja sebelah, seseorang dengan ponsel yang merekam segalanya sejak mereka duduk, sedang tersenyum sinis.

Terkadang, pemburu memang bisa menjadi mangsa, tapi di dunia ini, selalu ada predator yang lebih besar yang sedang menunggu di balik bayang-bayang, menunggu saat yang tepat untuk menagih hutang yang sebenarnya.

Tidak ada yang namanya akhir cerita yang bahagia, hanya ada akhir yang tertunda sebelum penagih hutang yang sesungguhnya datang mengetuk pintu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang