Hari pertama Citra masuk ke perusahaan Aditya, dia datang dengan penampilan yang terlalu mencolok untuk seseorang yang berstatus anak magang.
Blazer putih yang pas di tubuh, rok pendek, sepatu hak tinggi, rambut ditata seperti hendak menghadiri acara penting. Bahkan parfumnya tercium dari beberapa meter.
Aku tahu karena pagi itu aku kebetulan datang ke kantor untuk mengantar dokumen yang tertinggal di rumah.
Begitu melihatku, Citra tersenyum lebar.
“Kak Ayu? Kok datang?”

“Mengantar dokumen.”
“Oh.”
Matanya bergerak ke arah ruang kerja Aditya.
“Aku kira Kakak sengaja mengawasi aku.”
Aku hampir tertawa.
“Untuk apa?”
Citra mendekat dan merendahkan suara.
“Kakak takut, ya?”
“Takut apa?”
“Takut Kak Aditya lama-lama sadar kalau sebenarnya aku lebih cocok dengannya.”
Aku menatap wajahnya beberapa detik.
Kepercayaan dirinya memang luar biasa.
Namun sebelum aku menjawab, pintu ruang direktur terbuka.
Aditya keluar.
Ekspresi dinginnya langsung berubah ketika melihatku.
“Kamu datang kenapa nggak bilang?”
Dia berjalan cepat menghampiriku, mengambil tas dari tanganku, lalu memeriksa wajahku.
“Naik taksi?”
“Iya.”
“Kenapa nggak suruh sopir jemput?”
“Hanya sebentar.”
Aditya mengerutkan kening.
“Kamu sudah makan?”
Aku mengangguk.
“Jangan bohong.”
“Aku benar-benar sudah makan.”
Barulah wajahnya sedikit rileks.
Citra berdiri beberapa langkah dari kami seperti tidak terlihat.
Akhirnya dia berdeham.
“Kak Aditya.”
Aditya menoleh.
“Ada apa?”
“Aku sudah datang.”
“Memangnya kenapa?”
Senyum Citra hampir runtuh.
“Aku kan mulai magang hari ini.”
“Oh.”
Hanya itu.
Aditya memanggil kepala divisi desain, seorang perempuan bernama Ratna.
“Bu Ratna, anak magang baru ini titip ke tim Ibu.”
Ratna mengangguk.
Citra buru-buru berkata, “Aku nggak langsung belajar dari Kak Aditya?”
Aditya menatapnya.
“Kenapa harus belajar dariku?”
“Karena aku keluarga.”
“Di kantor tidak ada keluarga.”
Nada suaranya tenang, tetapi cukup untuk membuat beberapa karyawan yang sedang berjalan mempercepat langkah.
Aditya kemudian menggandeng tanganku menuju ruangannya.
Aku baru memahami rencananya setelah pintu tertutup.
“Kamu sengaja menerima dia?”
Aditya duduk di sofa dan menarikku agar duduk di sampingnya.
“Ya.”
“Kenapa?”
Dia tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, dia membuka laptop lalu menunjukkan sebuah folder.
Di dalamnya terdapat salinan portofolioku dari bertahun-tahun lalu.
Desain yang pernah dicuri Citra.
Aku menatap layar tanpa bicara.
“Aku minta tim legal menyelidikinya sejak kamu cerita,” kata Aditya.
Dadaku terasa sesak.
“Sudah lama sekali.”
“Lama bukan berarti tidak pernah terjadi.”
Aku menatapnya.
“Apa yang mau kamu lakukan?”
Aditya tersenyum tipis.
“Tidak melakukan apa-apa.”
Aku jelas tidak percaya.
Dia mencium dahiku.
“Aku cuma memberi seseorang kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya.”
Ternyata Aditya benar.
Citra hanya membutuhkan sebelas hari.
Perusahaan Aditya sedang mengikuti tender desain sebuah kawasan komersial baru di Bandung. Proyek itu bernilai besar dan menjadi salah satu proyek paling penting tahun itu.
Tim desain bekerja hampir setiap malam.
Citra, sebagai anak magang, sebenarnya hanya mendapat tugas sederhana. Membuat presentasi, merapikan data visual, mencari referensi material, dan membantu dokumentasi.
Namun dia tidak puas.
Dia mulai mendekati beberapa staf senior, bertanya tentang konsep utama, bahkan beberapa kali mencoba masuk ke ruang rapat yang tidak seharusnya dia hadiri.
Bu Ratna menegurnya.
Citra justru mengadu kepada Aditya.
Malam itu, dia sengaja menunggu sampai kantor hampir kosong.
Aditya masih berada di ruangannya.
Citra masuk membawa dua cangkir kopi.
“Kak.”
Aditya tidak mengangkat kepala.
“Siapa yang menyuruhmu masuk?”
“Aku bawakan kopi.”
“Taruh.”
Citra meletakkannya di meja lalu tidak pergi.
“Kak Aditya capek?”
“Tidak.”
“Aku bisa pijat pundak Kakak.”
Tangan Citra baru terangkat ketika Aditya menatapnya.
“Keluar.”
Satu kata.
Citra menggigit bibir.
“Kakak benar-benar nggak pernah melihat aku sebagai perempuan?”
Aditya akhirnya menutup laptop.
“Citra.”
Nada suaranya sangat tenang.
Justru itu yang membuatnya terasa lebih dingin.
“Aku menerimamu bekerja di sini karena kamu adik Ayu. Jangan salah mengartikan kesopanan sebagai ketertarikan.”
Wajah Citra memerah.
“Apa bagusnya Ayu?”
Aditya diam.
Entah keberanian dari mana, Citra terus bicara.
“Dia dingin, keras kepala, nggak pandai memanjakan laki-laki. Dari kecil dia memang begitu. Semua orang di rumah lebih suka aku.”
Aditya bersandar.
“Sudah selesai?”
“Aku cuma ingin Kakak sadar ada perempuan yang lebih cocok.”
“Kamu?”
Citra mengangguk.
Aditya tertawa kecil.
Bukan tawa geli.
Lebih mirip seseorang yang baru mendengar sesuatu yang sangat bodoh.
“Keluar.”
Citra pergi dengan mata merah.
Namun bukannya menyerah, penolakan itu justru membuat obsesinya semakin besar.
Dua hari kemudian, aku menerima telepon dari Ibu.
“Ayu, kamu bicara apa sama Aditya?”
“Apa?”
“Kenapa dia memperlakukan Citra seperti orang asing di kantor?”
“Karena Citra memang karyawan magang.”
Ibu langsung meninggikan suara.
“Dia adikmu!”
“Lalu?”
“Suruh suamimu kasih posisi yang bagus. Masa adik iparnya sendiri disuruh fotokopi dan bikin presentasi?”
Aku memijat pelipis.
“Ibu, Citra bahkan belum punya pengalaman kerja.”
“Makanya dibantu!”
Aku hampir menutup telepon ketika Ibu mengatakan sesuatu yang membuatku diam.
“Kalau kamu memang nggak bisa membahagiakan Aditya, jangan menghalangi Citra. Ibu lihat sendiri bagaimana dia memandang suamimu.”
Aku tertawa pelan.
“Ibu benar-benar sedang membantu anak Ibu merebut suami kakaknya sendiri?”
“Apa salahnya kalau Aditya akhirnya memilih yang lebih baik?”
Untuk pertama kalinya, perkataan itu tidak membuatku marah.
Hanya membuatku lelah.
“Ibu.”
“Apa?”
“Sejak hari ini, jangan pernah meminta apa pun dariku lagi.”
Aku menutup telepon.
Malamnya, Aditya pulang dan menemukan aku duduk sendirian di balkon.
Dia tidak bertanya banyak.
Dia hanya duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku.
Setelah lama diam, aku berkata, “Dulu aku selalu berpikir kalau aku cukup baik, Ibu akhirnya akan menyayangiku seperti dia menyayangi Citra.”
Aditya meremas jemariku.
“Ternyata tidak.”
“Ayu.”
“Aku nggak sedih.”
“Kamu bohong.”
Aku tertawa, tetapi air mataku jatuh.
Aditya menarikku ke dadanya.
“Kalau mereka tidak tahu cara menghargaimu, itu bukan alasan kamu harus terus berdiri di depan pintu mereka.”
Malam itu aku menangis cukup lama.
Sementara di tempat lain, Citra sedang melakukan sesuatu yang akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.
Tiga hari kemudian, salah satu staf IT melaporkan adanya akses mencurigakan ke server internal.
Seseorang mencoba membuka folder tender Bandung menggunakan akun milik staf senior.
Rekaman CCTV menunjukkan Citra berada di meja staf tersebut ketika pemilik akun sedang makan siang.
Aditya tidak langsung memecatnya.
Dia justru membiarkannya tetap bekerja.
Aku semakin yakin suamiku sedang menunggu sesuatu.
Dan sesuatu itu datang dua hari kemudian.
Sebuah perusahaan pesaing tiba-tiba mengirim proposal dengan konsep yang sangat mirip dengan desain awal perusahaan Aditya.
Bu Ratna panik.
Beberapa direktur meminta penyelidikan internal.
Aditya justru terlihat tenang.
“Biarkan.”
Malam itu Citra pulang dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Yang tidak dia ketahui adalah desain yang dia curi bukan proposal sebenarnya.
Aditya sudah mencurigainya sejak hari pertama.
Folder yang bisa diakses Citra sengaja berisi konsep umpan.
Di beberapa bagian terdapat elemen desain yang secara teknis tidak mungkin mendapatkan izin pembangunan karena melanggar ketentuan tata ruang.
Lebih penting lagi, setiap file memiliki watermark digital tersembunyi yang berbeda.
File yang dikirim perusahaan pesaing memiliki watermark milik akun yang digunakan Citra.
Bukti itu sempurna.
Namun Aditya belum bergerak.
Sampai suatu malam Citra datang ke rumah kami.
Ibu sedang pergi bersama ayah tiriku ke luar kota, dan menurut Citra, apartemennya sedang mengalami masalah listrik.
“Aku boleh menginap semalam, kan?”
Aku belum menjawab ketika Aditya berkata, “Silakan.”
Aku menatapnya.
Tatapan Aditya mengatakan satu hal.
Biarkan.
Sekitar pukul sebelas malam aku sudah berada di kamar.
Aditya masih bekerja di ruang keluarga.
Beberapa menit kemudian aku mendengar pintu kamar mandi tamu terbuka.
Citra keluar hanya mengenakan jubah mandi.
Aku berdiri di balik pintu kamar, cukup jauh sehingga dia tidak menyadari keberadaanku.
Dia berjalan perlahan mendekati Aditya.
“Kak.”
Aditya menoleh.
“Ada apa?”
“Aku takut tidur sendiri.”
“Kunci pintumu.”
Citra mendekat lagi.
“Aku tahu Kakak sebenarnya juga tertarik padaku.”
Aditya berdiri.
“Dari mana kamu mendapat kesimpulan itu?”
“Kalau nggak tertarik, kenapa Kakak menerima aku di perusahaan? Kenapa Kakak membiarkan aku masuk rumah ini?”
Aditya menatapnya seperti baru memahami tingkat kebodohannya.
Citra kemudian bergerak cepat.
Dia memeluk Aditya dari belakang.
Namun belum sempat tubuhnya menempel sempurna, Aditya menangkap pergelangan tangannya dan memutarnya menjauh.
“Aduh! Sakit!”
Citra hampir jatuh.
Aditya segera melepaskannya.
Wajahnya benar-benar dingin.
“Kamu tahu berapa banyak usaha yang aku lakukan supaya Ayu mau percaya padaku dan menikah denganku?”
Citra memegangi tangannya.
“Kak, aku cuma…”
“Kalau lain kali kamu masih berani melewati batas seperti ini, jangan harap aku akan diam.”
Citra mulai menangis.
“Aku lebih mencintai Kakak daripada Ayu!”
Untuk pertama kalinya malam itu Aditya terlihat benar-benar marah.
“Jangan pernah membandingkan dirimu dengan istriku.”
Aku keluar dari kamar.
Wajah Citra langsung pucat.
“Kak Ayu…”
Aku menatapnya.
Tidak marah.
Tidak berteriak.
Aneh sekali, tetapi aku justru merasa tenang.
“Kamu pernah bilang dulu kamu bisa mengambil desainku, sekarang kamu juga bisa mengambil suamiku.”
Citra membuka mulut.
Aku tersenyum tipis.
“Ternyata dua-duanya memang bukan milikmu.”
Dia langsung mengambil tas dan kabur dari rumah sambil menangis.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata keesokan paginya baru dimulai.
Pukul sembilan, Citra dipanggil ke ruang rapat perusahaan.
Di sana sudah ada Aditya, Bu Ratna, direktur legal, dua auditor internal, dan perwakilan perusahaan pesaing.
Wajah Citra berubah ketika sebuah layar menampilkan rekaman CCTV.
Kemudian muncul riwayat akses server.
Lalu bukti transfer uang sebesar Rp350 juta ke rekeningnya dari seorang manajer perusahaan pesaing.
Citra gemetar.
“Aku bisa jelaskan.”
Aditya menyilangkan tangan.
“Silakan.”
“Aku cuma memberikan konsep awal. Mereka bilang itu nggak akan dipakai.”
Direktur legal mendorong sebuah dokumen ke depannya.
“Ini bukan persoalan magang lagi. Ini dugaan pencurian rahasia dagang dan penyuapan.”
Citra langsung menangis.
“Kak Aditya, tolong.”
Aditya tidak bereaksi.
“Kita keluarga.”
“Di kantor tidak ada keluarga. Kamu sendiri sudah mendengar itu sejak hari pertama.”
Citra menelepon Ibu.
Kurang dari satu jam kemudian Ibu datang dan langsung menerobos ruang rapat.
“Ayu!”
Entah bagaimana, orang pertama yang disalahkannya tetap aku.
“Kamu tega menjebak adikmu sendiri?”
Aku menatapnya.
“Aku tidak menyuruh dia mencuri.”
“Kamu pasti menyuruh suamimu melakukan semua ini!”
Aditya berdiri.
“Bu.”
Ibu terdiam.
“Perangkap itu saya buat.”
Wajah Ibu berubah.
“Saya sengaja menerima Citra.”
Citra menatapnya tidak percaya.
Aditya melanjutkan, “Saya tahu sejak awal dia pernah mencuri portofolio Ayu. Saya hanya ingin tahu apakah setelah dewasa dia berubah.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Ternyata tidak.”
Citra menangis semakin keras.
Namun Aditya mengeluarkan satu map lagi.
“Dan ini bagian yang paling menarik.”
Di dalamnya terdapat bukti lama dari universitas Citra.
Arsip digital menunjukkan sebagian besar karya dalam portofolio penerimaannya identik dengan file asli milikku, lengkap dengan metadata pembuatan beberapa bulan sebelum Citra mengirim aplikasinya.
Aku membeku.
“Kamu menemukannya?”
Aditya menatapku.
“Aku bilang aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil sesuatu darimu lagi.”
Untuk pertama kalinya Citra benar-benar kehilangan kata-kata.
Kasus kebocoran perusahaan akhirnya diselesaikan melalui jalur hukum. Perusahaan pesaing memilih berdamai secara bisnis dan memecat manajer yang terlibat, sementara Citra diwajibkan mengembalikan uang yang diterimanya dan menghadapi konsekuensi hukum sesuai proses yang berlaku.
Universitasnya juga membuka penyelidikan terhadap dugaan plagiarisme akademik.
Ibu tidak berbicara denganku selama berbulan-bulan.
Anehnya, hidupku justru menjadi jauh lebih tenang.
Beberapa bulan kemudian aku menerima sebuah email dari universitas yang dulu menjadi impianku.
Mereka telah meninjau bukti mengenai portofolio tersebut.
Aku memang tidak bisa mengulang masa lalu.
Namun salah satu profesor yang melihat desain asliku tertarik pada perkembangan karierku dan menawarkan kesempatan mengikuti program profesional singkat di Jakarta yang bekerja sama dengan universitas mereka.
Aku membaca email itu tiga kali.
Aditya berdiri di belakangku.
“Pergilah.”
Aku menoleh.
“Programnya enam bulan.”
“Aku ikut.”
“Kamu punya perusahaan.”
“Aku punya direktur operasional.”
Aku tertawa.
“Aditya.”
“Apa?”
“Kamu benar-benar nggak normal.”
Dia memeluk pinggangku.
“Aku sudah bilang dari awal.”
Aku menyandarkan kepala ke dadanya.
Bertahun-tahun aku mengira luka terbesar dalam hidupku adalah desain yang dicuri Citra.
Ternyata bukan.
Luka terbesarku adalah keyakinan bahwa aku harus terus mengalah agar pantas dicintai.
Aku mengalah pada adikku.
Mengalah pada ibuku.
Mengalah pada ketidakadilan karena takut kehilangan keluarga.
Sampai akhirnya aku bertemu seorang pria yang sama sekali tidak mengerti konsep menyuruhku mengalah.
Beberapa hari sebelum program itu dimulai, aku bertanya kepada Aditya sesuatu yang selama ini menggangguku.
“Waktu kamu menerima Citra magang, kamu sudah tahu dia bakal mencuri file?”
“Nggak.”
“Kalau ternyata dia berubah?”
Aditya mengangkat bahu.
“Ya bagus. Aku akan memberinya pekerjaan.”
“Kalau dia tidak mencoba mendekatimu?”
“Lebih bagus lagi.”
Aku menatapnya.
“Jadi sebenarnya kamu memberi dia kesempatan?”
Aditya mengangguk.
“Perangkap terbaik bukan yang memaksa seseorang masuk.”
Dia menggenggam tanganku.
“Perangkap terbaik hanya membuka pintu. Orang itu sendiri yang memutuskan apakah mau berjalan masuk.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya aku memahami semuanya.
Aditya tidak menghancurkan Citra.
Aku juga tidak.
Citra hanya diberi pilihan yang selama bertahun-tahun tidak pernah diberikan kepadaku.
Kesempatan untuk menentukan sendiri akan menjadi orang seperti apa.
Dan pada akhirnya, dia memilih mengulangi kesalahan yang sama.
Sementara aku akhirnya memilih sesuatu yang berbeda.
Aku berhenti mengalah.
