“Aku akan memandikan ibumu, lalu dia akan berjalan,” ujar sang miliarder sambil menyeringai, seolah itu hanyalah lelucon kecil untuk menghibur dirinya sendiri.

Saat Arga Pratama berdiri di teras rumah mewahnya sambil memandang halaman yang selalu tertata sempurna, ia percaya bahwa hidup hanyalah persoalan disiplin. Jika segala sesuatu diatur dengan benar, tidak akan ada kekacauan. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada kejutan.

Setidaknya, itulah yang selalu ia yakini.

Di usia tiga puluh enam tahun, Arga dikenal sebagai pengusaha teknologi paling sukses di Jakarta. Kekayaannya membuat banyak orang iri, tetapi mereka tidak pernah tahu bahwa setiap pagi ia menjalani rutinitas yang sama, bahkan hingga hitungan menit. Sarapan pukul tujuh tepat. Rapat pukul delapan. Telepon dengan investor pukul sepuluh. Makan siang dua belas lewat lima belas menit.

Bahkan ibunya, Ratna, yang telah berusia tujuh puluh sembilan tahun dan menggunakan kursi roda sejak terserang stroke ringan tiga tahun lalu, juga hidup mengikuti jadwal yang dibuat Arga.

Perawat datang bergantian.

Obat diminum tepat waktu.

Terapi dilakukan sesuai kalender.

Tidak ada ruang untuk spontanitas.

Arga selalu berkata kepada semua orang, “Ini demi kebaikan Ibu.”

Tidak ada yang berani membantah.

Sampai Maya datang.

Maya bukan lulusan universitas ternama. Ia berasal dari Yogyakarta dan sudah bertahun-tahun bekerja merawat lansia. Sikapnya tenang, tetapi matanya selalu memperhatikan sesuatu yang sering luput dari orang lain.

Hari pertamanya berjalan biasa.

Ia mengikuti semua instruksi.

Ia membaca buku catatan kesehatan Ratna.

Ia menghafal jadwal obat.

Namun menjelang sore, ia menghentikan kursi roda Ratna di taman belakang.

“Ibu suka di sini?” tanyanya lembut.

Ratna hanya tersenyum kecil.

“Lima belas tahun lalu, saya yang menanam bunga melati ini.”

“Kenapa sekarang tidak pernah menyentuhnya?”

Ratna menghela napas.

“Katanya nanti kotor.”

Maya menatap tangan tua yang dipenuhi keriput itu.

“Tangan ini masih bisa menyentuh bunga.”

Ratna tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

Sejak hari itu, Maya mulai melakukan hal-hal kecil yang tidak tertulis dalam jadwal.

Ia membiarkan Ratna memilih pakaian sendiri.

Ia mengajak berbincang, bukan sekadar memberi obat.

Ia membiarkan wanita tua itu duduk lebih lama menikmati matahari pagi.

Bagi Maya, merawat seseorang bukan sekadar menjaga tubuhnya tetap hidup.

Tetapi membuatnya tetap merasa menjadi manusia.

Perubahan kecil itu membuat Ratna tampak lebih ceria.

Ia mulai tertawa lagi.

Mulai bercerita tentang masa mudanya.

Mulai meminta diputar lagu-lagu lama.

Namun semua itu membuat Arga justru tidak nyaman.

Suatu malam ia memanggil Maya ke ruang kerja.

“Saya dengar Ibu sekarang sering berada di luar jadwal.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena beliau bahagia.”

Arga menggeleng.

“Kebahagiaan bukan prioritas. Kesehatan adalah prioritas.”

Maya tersenyum tipis.

“Kadang dua hal itu tidak bisa dipisahkan.”

Arga menganggap Maya terlalu emosional.

Baginya, angka hasil pemeriksaan lebih penting daripada senyum.

Beberapa hari kemudian hujan turun deras.

Ratna memandangi halaman dari balik jendela.

“Aku kangen hujan,” katanya lirih.

Maya membuka pintu.

“Ibu mau keluar?”

Ratna tertawa.

“Mana mungkin.”

“Kalau saya temani?”

Wanita tua itu memandangnya ragu.

Lalu Maya mendorong kursi roda ke teras.

Ia melepas sandal Ratna.

Membiarkan ujung kaki tuanya terkena percikan air hujan.

Ratna menutup mata.

Air mata mengalir bersamaan dengan rintik hujan.

“Aku tidak merasakan ini sejak suamiku meninggal.”

Saat itulah Arga pulang.

Ia melihat ibunya di teras, kaki basah oleh hujan.

“Apa yang kamu lakukan?”

Suaranya menggema.

Maya tetap tenang.

“Ibu hanya menikmati hujan.”

“Kamu tahu kalau beliau bisa masuk angin?”

“Saya tahu.”

“Kamu dibayar untuk mengikuti aturan.”

“Saya dibayar untuk merawat manusia.”

Arga langsung memecat Maya hari itu juga.

Ratna hanya diam.

Namun sejak Maya pergi, rumah besar itu kembali sunyi.

Terlalu sunyi.

Ratna mulai kehilangan selera makan.

Ia tidak lagi meminta diputar lagu.

Ia menolak keluar kamar.

Dokter mengatakan kondisi fisiknya stabil.

Tetapi semangat hidupnya perlahan menghilang.

“Secara medis tidak ada masalah,” kata dokter.

“Kalau begitu kenapa beliau semakin lemah?”

Dokter memandang Arga lama.

“Karena tubuh tidak selalu sakit lebih dulu.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Arga.

Beberapa minggu kemudian, Arga menemukan sebuah kotak kayu tua saat membersihkan gudang.

Kotak itu berisi surat-surat ayahnya.

Ia membuka salah satunya.

Tulisan tangan ayahnya masih jelas.

“Kalau suatu hari aku tidak ada, jangan pernah mengurung ibumu dalam rasa takut. Dia paling bahagia saat merasa bebas.”

Arga membeku.

Ia terus membaca.

“Aku tahu kamu selalu ingin melindungi semua orang. Tapi ingat, perlindungan yang berlebihan bisa berubah menjadi penjara.”

Tangannya bergetar.

Ia baru sadar.

Selama bertahun-tahun ia tidak pernah bertanya apa yang diinginkan ibunya.

Ia hanya memutuskan semuanya sendiri.

Hari berikutnya Arga mencari Maya.

Ia mendatangi alamat lama.

Tetapi rumah kontrakan itu kosong.

Pemilik rumah berkata Maya sudah pindah.

Ia mencari lewat agen.

Nomornya sudah tidak aktif.

Hampir dua bulan berlalu sebelum akhirnya ia menemukannya sedang bekerja di sebuah panti lansia sederhana di pinggiran Bogor.

Tempat itu jauh dari kemewahan.

Cat tembok mulai memudar.

Halaman dipenuhi tanaman.

Para lansia tertawa sambil bernyanyi.

Arga melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di rumahnya sendiri.

Kehidupan.

Maya terkejut melihatnya.

“Saya datang untuk meminta maaf.”

Maya tidak langsung menjawab.

“Saya salah.”

Ia menunduk.

“Saya pikir uang bisa membeli perawatan terbaik.”

“Perawatan memang bisa dibeli,” jawab Maya pelan.

“Tapi perhatian tidak.”

Arga mengangguk.

“Maukah kamu kembali?”

Maya menggeleng.

“Saya sudah menemukan tempat saya.”

Wajah Arga langsung murung.

“Tapi saya bisa datang sesekali kalau Ibu Ratna memang menginginkan.”

Mereka pulang bersama hari itu.

Ketika Maya memasuki kamar Ratna, wanita tua itu langsung menangis.

“Kamu kembali.”

“Bukan untuk selamanya.”

“Cukup hari ini saja.”

Hari itu mereka duduk di taman.

Maya membawa bibit melati baru.

Ratna menanamnya dengan tangan yang gemetar.

Arga membantu memegang sekop.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka bertiga tertawa bersama.

Sejak saat itu, Arga mulai mengubah banyak hal.

Ia mengurangi jam kerja.

Ia makan siang bersama ibunya.

Ia mengajak Ratna berjalan ke taman kota.

Ia berhenti menyuruh orang lain mengambil semua keputusan.

Beberapa bulan kemudian kondisi Ratna memang tidak sembuh total.

Ia tetap menggunakan kursi roda.

Tetapi wajahnya berubah.

Lebih hidup.

Lebih damai.

Suatu sore, Ratna memanggil Arga.

“Kamu tahu kenapa aku bahagia sekarang?”

Arga tersenyum.

“Karena Maya sering datang?”

Ratna menggeleng.

“Karena akhirnya aku punya anak lagi.”

Arga bingung.

“Aku tidak mengerti.”

“Dulu aku tinggal dengan seorang pengusaha yang mengurus semua kebutuhanku.”

Ratna menggenggam tangan putranya.

“Sekarang aku tinggal bersama anakku.”

Kalimat sederhana itu membuat mata Arga basah.

Beberapa minggu setelah Ratna meninggal dengan tenang dalam tidurnya, Arga menemukan surat terakhir di laci meja samping tempat tidur.

Surat itu ditulis beberapa hari sebelum kepergiannya.

“Arga, jangan pernah menyesal karena aku pergi. Yang membuat seorang ibu bahagia bukan umur yang panjang, tetapi kesempatan melihat anaknya belajar mencintai dengan benar. Terima kasih karena akhirnya kau tidak lagi merawatku seperti sebuah tanggung jawab. Kau merawatku sebagai seorang ibu.”

Arga memeluk surat itu sambil menangis.

Setahun kemudian, rumah mewah yang dulu terasa dingin berubah menjadi sebuah yayasan perawatan lansia.

Bukan yayasan dengan fasilitas paling mahal.

Melainkan tempat yang memiliki taman, ayunan, musik, aroma bunga melati, dan orang-orang yang benar-benar mau mendengarkan cerita para lansia.

Di gerbang yayasan hanya ada satu kalimat sederhana yang dipasang atas permintaan Arga.

“Manusia tidak hanya membutuhkan umur yang panjang. Mereka membutuhkan alasan untuk tetap merasa hidup.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang