Begitu pintu kamar tertutup, jantungku berdetak begitu keras sampai aku bisa mendengar detaknya sendiri.
Namaku Alya.
Malam itu aku berdiri di dekat jendela kamar dengan gaun putih yang belum sempat kuganti. Di belakangku, suamiku, Arga Pratama, masih duduk di kursi rodanya.
Aku bahkan belum terbiasa menyebutnya suamiku.
Arga tidak langsung mendekat. Ia hanya melepas jasnya perlahan, kemudian berkata dengan suara tenang.
“Kamu pasti capek.”
Aku mengangguk tanpa menoleh.

“Alya.”
Aku menggenggam ujung gaunku.
“Kalau kamu takut, kamu bisa tidur sendiri malam ini.”
Aku akhirnya menoleh.
Wajah Arga tidak menunjukkan kemarahan ataupun kekecewaan. Justru ketenangan itulah yang membuat rasa bersalah menyusup ke dadaku.
“Aku tahu kenapa kamu menikah denganku,” lanjutnya. “Dan aku tahu kamu tidak memilih semua ini.”
Aku terdiam.
Ia tersenyum tipis.
“Jadi aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun.”
Arga kemudian menggerakkan kursi rodanya menuju meja kecil di samping tempat tidur.
Saat itulah ponselku berbunyi.
Pesan dari Ibu.
Alya, jangan membuat Mas Arga kecewa. Ingat keluarga kita sekarang bergantung kepadanya.
Dadaku terasa sesak.
Aku meletakkan ponsel dan masuk ke kamar mandi. Hampir dua puluh menit aku berada di sana, hanya untuk mengumpulkan keberanian.
Namun ketika keluar, aku mendapati kamar kosong.
“Mas Arga?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara benda jatuh dari ruang ganti.
Aku langsung berlari.
“Mas!”
Aku membuka pintu.
Dan saat itulah tubuhku membeku.
Arga berdiri.
Bukan sedang berusaha bangkit.
Bukan berpegangan pada dinding.
Ia benar-benar berdiri dengan kedua kakinya.
Aku menatap kursi roda kosong di sampingnya, lalu menatap wajahnya.
“Apa…”
Kakiku mendadak lemas.
“Mas Arga… kamu bisa berdiri?”
Wajah Arga berubah.
“Alya, dengarkan aku dulu.”
Aku mundur.
“Kamu bisa jalan?”
Ia tidak menjawab.
“JAWAB AKU!”
Arga memejamkan mata sesaat.
“Bisa.”
Aku merasa seluruh darah di tubuhku berhenti mengalir.
Semua tangisan sebelum pernikahan.
Semua rasa takut.
Semua rasa bersalah karena pernah menganggap hidupku akan hancur hanya karena menikah dengannya.
Tiba-tiba berubah menjadi kemarahan.
“Jadi selama ini kamu membohongiku?”
“Tidak sesederhana itu.”
“Lalu apa?”
Aku hampir kehabisan tenaga menahan emosi.
“Keluargaku berutang kepada keluargamu. Kamu datang menggunakan kursi roda, lalu menawarkan pernikahan sebagai jalan keluar. Aku menerima karena merasa tidak punya pilihan. Sekarang ternyata kamu bahkan tidak membutuhkan kursi roda itu?”
Arga berjalan perlahan ke arahku.
Aku spontan mundur.
Langkahnya memang tidak sempurna. Kaki kirinya terlihat sedikit kaku, tetapi jelas ia mampu berjalan.
“Aku mengalami kecelakaan dua tahun lalu,” katanya. “Dokter mengatakan kemungkinan aku berjalan normal lagi sangat kecil.”
“Namun kamu sekarang bisa.”
“Setelah rehabilitasi panjang.”
“Kenapa kamu menyembunyikannya?”
Arga menatapku lama.
“Karena aku ingin mengetahui sesuatu.”
“Apa?”
“Siapa yang tetap memperlakukanku sebagai manusia ketika mereka mengira aku tidak akan pernah berjalan lagi.”
Aku tertawa getir.
“Jadi aku bagian dari ujianmu?”
“Awalnya bukan kamu.”
Arga kemudian mengambil sebuah map dari lemari.
Ia menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya terdapat laporan keuangan perusahaan milik ayahku.
Tanganku mulai gemetar.
“Apa ini?”
“Utang keluargamu tidak sebesar yang dikatakan ayahmu.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
“Sebagian besar sudah dilunasi enam bulan lalu.”
Aku membaca dokumen itu berulang kali.
Jumlah yang tersisa bahkan tidak sampai sepersepuluh dari yang selama ini disebut Ayah.
“Tidak mungkin.”
“Telepon ayahmu.”
Dengan tangan gemetar, aku menelepon Ayah.
Tidak diangkat.
Aku mencoba lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Arga kemudian berkata pelan.
“Pernikahan ini bukan syarat dariku untuk menghapus utang.”
Aku menatapnya.
“Lalu siapa?”
“Orang tuamu.”
Dunia seperti runtuh untuk kedua kalinya malam itu.
Arga menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya, ayahku datang menemuinya. Ayah mengetahui keluarga Arga sedang mencari calon pendamping untuknya.
Ayah menawarkan pernikahan kami.
Sebagai gantinya, ia meminta investasi besar untuk menyelamatkan bisnisnya.
Arga awalnya menolak.
Namun kemudian ia melihat fotoku.
Ternyata kami pernah bertemu tiga tahun sebelumnya.
Aku tidak mengingatnya.
Saat itu aku menjadi relawan dalam sebuah acara sosial di Jakarta. Arga datang setelah kecelakaannya, menggunakan kursi roda, dan beberapa orang memperlakukannya seolah ia tidak mampu melakukan apa pun.
Aku satu-satunya yang bertanya langsung kepadanya.
“Mas mau dibantu atau bisa sendiri?”
Ketika ia menjawab bisa sendiri, aku hanya tersenyum dan pergi.
Bagi Arga, hal sederhana itu ternyata membekas.
“Aku tidak jatuh cinta saat itu,” katanya. “Tapi aku mengingatmu.”
Aku menutup map dengan keras.
“Kalau begitu kamu seharusnya datang kepadaku dengan jujur.”
“Aku tahu.”
“Bukan membuatku menikah dalam keadaan merasa terpaksa.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, ketenangan Arga runtuh.
“Aku salah.”
Matanya memerah.
“Aku berpikir kalau aku membayar seluruh utang keluargamu, setidaknya kamu tidak perlu kehilangan rumah. Tapi aku tidak sadar bahwa keputusan itu justru membuat orang tuamu semakin mudah menekanmu.”
Aku menahan air mata.
“Apakah semua utang itu sudah kamu bayar?”
“Sudah.”
“Lalu kenapa mereka mengatakan aku harus menikahimu?”
Arga tidak menjawab.
Namun jawabannya datang keesokan paginya.
Ayah dan Ibu muncul di rumah kami.
Begitu melihat Arga berdiri di ruang keluarga, wajah Ayah langsung pucat.
“Arga?”
Arga menatapnya tajam.
“Sepertinya Bapak lebih terkejut melihat saya berdiri daripada melihat putri Bapak menangis.”
Ayah kehilangan kata-kata.
Aku meletakkan dokumen di meja.
“Kenapa Ayah bohong?”
“Alya, dengarkan Ayah dulu.”
“Utangnya sudah lunas.”
Ibu memegang tanganku.
“Kami melakukan ini demi masa depanmu.”
Aku menarik tanganku.
“Masa depanku atau perusahaan Ayah?”
Ruangan mendadak sunyi.
Akhirnya semuanya terbongkar.
Perusahaan Ayah sebenarnya membutuhkan modal tambahan sekitar Rp4 miliar untuk proyek baru.
Pernikahanku dengan Arga dianggap jalan tercepat untuk mengikat hubungan bisnis kedua keluarga.
Aku bukan sedang menyelamatkan keluarga.
Aku dijadikan jaminan untuk ambisi mereka.
Air mataku jatuh.
“Aku anak kalian.”
Ibu mulai menangis.
“Alya…”
“Bukan aset perusahaan.”
Aku mengambil tas.
Arga menatapku.
“Kamu mau ke mana?”
“Pergi.”
Ayah langsung berkata, “Kamu sudah menikah. Jangan mempermalukan keluarga.”
Aku berhenti di depan pintu.
Kemudian untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menatap Ayah tanpa takut.
“Yang mempermalukan keluarga bukan anak perempuan yang pergi dari kebohongan. Tapi orang tua yang menjual keputusan hidup anaknya demi bisnis.”
Aku pergi.
Arga tidak mengejarku.
Dan anehnya, justru itulah hal pertama yang membuatku mulai menghargainya.
Selama tiga bulan berikutnya, aku tinggal di apartemen kecil milik sahabatku di Jakarta.
Arga tidak pernah memaksaku pulang.
Ia hanya mengirim satu pesan.
Aku akan menghormati keputusanmu. Kalau kamu ingin bercerai, aku akan menandatangani semuanya. Tidak ada utang, tidak ada tuntutan, tidak ada syarat.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Kemudian satu hari, aku mendatangi pusat rehabilitasi tempat Arga menjalani terapi.
Dari balik pintu kaca, aku melihatnya berjalan dengan susah payah menggunakan tongkat.
Keringat membasahi wajahnya.
Beberapa kali tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Arga memang mampu berdiri.
Tetapi bukan berarti ia sepenuhnya pulih.
Kursi roda itu bukan kebohongan sepenuhnya.
Pada hari-hari ketika rasa sakitnya kambuh atau tubuhnya terlalu lelah, ia masih membutuhkannya.
Arga melihatku.
Ia berhenti.
“Alya?”
Aku mendekatinya.
“Kenapa tidak pernah menjelaskan bagian ini?”
“Karena kesalahanku tetap kesalahan, meskipun aku punya alasan.”
Aku terdiam.
“Dokumen perceraian sudah siap,” katanya. “Kamu hanya perlu menandatanganinya.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Aku menerimanya.
Namun aku tidak membukanya.
“Mas Arga.”
“Ya?”
“Aku belum bisa mencintaimu.”
Wajahnya tetap tenang.
“Aku mengerti.”
“Aku juga belum bisa memaafkanmu sepenuhnya.”
“Aku mengerti.”
Aku menarik napas panjang.
“Tapi kalau kita memulai lagi, aku ingin satu hal.”
“Apa?”
“Tidak ada lagi rahasia.”
Arga menatapku seolah tidak percaya.
“Artinya?”
Aku menatap kursi roda yang berada beberapa meter di belakangnya.
Kemudian kembali menatap matanya.
“Artinya kali ini aku ingin mengenalmu bukan sebagai pria kaya yang menyelamatkan keluargaku. Bukan sebagai pria berkursi roda. Bukan juga sebagai pria yang ternyata bisa berjalan.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku ingin mengenal Arga.”
Enam bulan kemudian, kami mengadakan resepsi kecil yang kedua.
Bukan untuk mengulang pernikahan.
Melainkan untuk merayakan sebuah pilihan yang akhirnya benar-benar kami buat sendiri.
Tidak ada kontrak bisnis.
Tidak ada utang.
Tidak ada tekanan keluarga.
Ketika kami keluar dari gedung, Arga berdiri di sampingku menggunakan tongkat.
Setelah beberapa langkah, ia mulai kelelahan.
Aku menunjuk kursi rodanya.
“Duduk saja.”
Ia tersenyum.
“Nanti orang-orang melihat.”
Aku tertawa.
“Biarkan.”
Arga duduk.
Aku berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangannya.
Dulu aku pernah berpikir kebahagiaan berarti memiliki suami yang mampu berjalan bersamaku menyusuri jalanan Jakarta.
Ternyata aku salah.
Kebahagiaan bukan tentang apakah seseorang berjalan dengan kedua kakinya atau bergerak menggunakan kursi roda.
Kebahagiaan adalah ketika dua orang memiliki kebebasan untuk memilih satu sama lain, tanpa utang, tanpa paksaan, dan tanpa kebohongan.
Dan malam ketika aku melihat Arga berdiri untuk pertama kalinya memang menghancurkan dunia yang kukenal.
Namun justru dari reruntuhan itulah aku akhirnya belajar membangun hidupku sendiri.
