Aku dipaksa menikah dengan seorang pria yang sudah meninggal tepat pada hari ulang tahunku yang kedua puluh tiga.

Namaku Alena. Tepat pada ulang tahunku yang kedua puluh tiga, ibuku menyerahkan sebuah map cokelat kepadaku dengan tangan gemetar.

“Kalau kamu menolak, mereka akan menghancurkan keluarga kita.”

Aku mengira beliau sedang bercanda.

Sampai sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah kontrakan kami di pinggiran Jakarta.

Dua pria berpakaian rapi turun tanpa banyak bicara. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil dan mempersilahkanku masuk. Tidak ada ancaman. Tidak ada bentakan. Namun tatapan mereka membuatku mengerti bahwa aku sebenarnya tidak memiliki pilihan.

Sepanjang perjalanan, hujan mengguyur kota tanpa henti. Lampu-lampu jalan memantul di atas aspal basah seperti bayangan yang terus bergerak. Aku membuka map itu.

Di dalamnya terdapat sebuah akta perjanjian, beberapa foto, dan satu surat utang atas nama ayahku.

Lima belas miliar rupiah.

Jantungku terasa berhenti.

Ayah ternyata telah menjadi penjamin proyek milik Grup Ardinata, sebuah konglomerasi yang sangat berpengaruh. Proyek itu gagal. Semua aset kami telah disita. Namun keluarga Ardinata menawarkan satu syarat agar utang itu dianggap lunas.

Aku harus menjadi menantu keluarga mereka.

Masalahnya, pria yang harus kunikahi telah meninggal enam bulan sebelumnya akibat kecelakaan laut.

Aku menatap ibuku.

“Ini gila.”

Air matanya jatuh.

“Kalau kita menolak, ayahmu akan dipenjara. Mereka punya semua bukti.”

Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern di kawasan Puncak. Tidak tampak seperti rumah duka. Bangunannya indah, mewah, diterangi lampu-lampu hangat.

Namun suasananya begitu sunyi.

Aku disambut seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun. Wajahnya anggun, tetapi matanya dipenuhi kesedihan yang sulit dijelaskan.

“Aku Nyonya Ardinata,” katanya lembut. “Terima kasih sudah datang.”

Nada suaranya membuatku bingung.

Aku sudah bersiap menghadapi keluarga kejam yang akan memaksaku menjalani ritual aneh. Sebaliknya, perempuan itu justru tampak seperti ibu yang kehilangan anak.

Upacara berlangsung sederhana.

Tidak ada peti mati.

Tidak ada pemujaan.

Hanya sebuah foto besar seorang pria bernama Adrian Ardinata.

Aku menatap wajahnya.

Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Senyumnya tenang. Matanya teduh.

Entah mengapa, ada rasa asing yang muncul di dadaku.

Setelah semua selesai, Nyonya Ardinata mengajakku berbicara berdua.

“Kamu pasti membenci kami.”

Aku tidak menjawab.

Beliau menghela napas panjang.

“Kalau boleh memilih, aku juga tidak ingin melakukan semua ini.”

“Lalu kenapa?”

Beliau menatap foto Adrian.

“Seseorang ingin memastikan tidak ada orang luar yang menyentuh warisan Adrian.”

Aku mengernyit.

“Tapi dia sudah meninggal.”

“Itulah masalahnya.”

Beliau berdiri lalu membuka sebuah lemari besi kecil.

Dari dalamnya, beliau mengeluarkan flashdisk.

“Ini milik Adrian.”

Malam itu aku tidak tidur.

Aku memutar isi flashdisk di laptop kamar tamu.

Puluhan video memenuhi layar.

Video pertama memperlihatkan Adrian sedang berbicara langsung ke kamera.

“Kalau seseorang menemukan rekaman ini, berarti aku mungkin sudah mati.”

Tubuhku menegang.

“Ayahku bukan orang jahat. Ibuku juga bukan. Tapi perusahaan kami sedang dikuasai orang yang salah.”

Video berikutnya memperlihatkan dokumen keuangan.

Transfer gelap.

Pencucian uang.

Suap.

Semua mengarah kepada pamannya sendiri, Dion Ardinata, yang kini menjabat direktur utama.

Semakin banyak video yang kutonton, semakin jelas bahwa Adrian mengetahui semuanya sebelum kematiannya.

Video terakhir membuat napasku tercekat.

“Aku yakin kecelakaanku bukan kecelakaan.”

Layar berhenti.

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong.

Aku buru-buru menutup laptop.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Seorang pria berdiri di sana.

Aku menjerit.

Namun pria itu segera mengangkat kedua tangannya.

“Jangan takut.”

Aku membeku.

Wajahnya sama persis dengan foto Adrian.

Mustahil.

“Kamu…”

Pria itu menghela napas.

“Aku bukan hantu.”

Air mataku hampir jatuh karena campuran takut dan bingung.

“Namaku Adrian.”

“Kamu sudah mati.”

“Itu yang semua orang pikirkan.”

Ia masuk ke kamar lalu mengunci pintu.

Selama hampir satu jam, Adrian menceritakan semuanya.

Enam bulan lalu, kapal yang ditumpanginya memang meledak.

Namun ia berhasil selamat.

Seorang nelayan menyelamatkannya sebelum ledakan kedua menghancurkan kapal.

Saat sadar, Adrian mengetahui bahwa ada orang yang sengaja ingin membunuhnya.

Kalau ia kembali, mereka akan mencoba lagi.

Karena itu ia memilih menghilang.

“Kenapa keluargamu tidak tahu?”

“Mereka juga diawasi.”

“Lalu kenapa sekarang kamu muncul?”

Adrian tersenyum tipis.

“Karena hanya kamu yang membuka flashdisk itu.”

Aku tertawa sinis.

“Aku bahkan dipaksa menikahi orang yang katanya sudah mati.”

“Aku tahu.”

“Jadi kamu membiarkan semua ini?”

Tatapan Adrian berubah penuh penyesalan.

“Aku tidak pernah meminta ibuku melakukan pernikahan simbolis itu.”

Keesokan paginya, semuanya berubah.

Rumah besar itu dikepung polisi.

Dion datang bersama pengacaranya.

Ia menuduh Nyonya Ardinata memalsukan dokumen perusahaan.

Suasana menjadi kacau.

Namun Adrian masih bersembunyi.

“Kita belum punya cukup bukti,” katanya.

Aku memandangi ruang tamu yang dipenuhi orang.

Kemudian sebuah ide muncul.

Aku keluar sambil membawa flashdisk.

“Aku punya sesuatu.”

Semua mata tertuju kepadaku.

Dion tersenyum meremehkan.

“Kamu hanya menantu palsu.”

Aku membalas senyumnya.

“Benarkah?”

Aku memasukkan flashdisk ke layar televisi besar di ruang keluarga.

Video Adrian mulai diputar.

Ruangan langsung sunyi.

Satu demi satu bukti transaksi ilegal muncul.

Rekaman suara.

Dokumen.

Nama pejabat.

Nomor rekening.

Wajah Dion perlahan berubah pucat.

Ia mencoba mencabut kabel televisi.

Terlambat.

Polisi sudah menyaksikan semuanya.

“Apa ini cukup?” tanyaku.

Seorang penyidik melangkah maju.

“Kami akan menyita seluruh perangkat.”

Dion berteriak marah.

“Itu semua rekayasa!”

Saat itulah terdengar suara dari belakang.

“Tidak.”

Semua orang menoleh.

Adrian berjalan memasuki ruangan.

Ibunya langsung menangis histeris.

“Adrian…”

Pria itu memeluk ibunya erat.

Tak seorang pun mampu berkata-kata.

Dion mundur beberapa langkah.

“Kamu…”

“Aku masih hidup.”

Wajah Dion kehilangan seluruh warna.

Beberapa menit kemudian polisi memborgolnya.

Penyelidikan berlangsung selama berbulan-bulan.

Kasus korupsi yang selama ini tersembunyi akhirnya terbongkar.

Banyak pejabat dan pengusaha ikut ditangkap.

Utang ayahku dinyatakan tidak sah karena dibuat melalui manipulasi dokumen perusahaan.

Keluargaku dibebaskan dari seluruh tuntutan.

Aku mengira semuanya selesai.

Ternyata belum.

Suatu sore Adrian mengajakku ke dermaga tempat kecelakaan itu terjadi.

“Masih ada satu hal yang harus kukatakan.”

Aku menatap laut yang tenang.

“Apa?”

“Aku sebenarnya mengenalmu sebelum semua ini.”

Aku mengernyit.

“Tidak mungkin.”

“Tiga tahun lalu kamu pernah menolong seorang pria tua yang pingsan di halte bus.”

Aku mencoba mengingat.

Lalu bayangan itu muncul.

Seorang pria tua yang kuberi air minum.

“Ayahku,” kata Adrian.

“Sejak hari itu beliau selalu berkata bahwa kalau suatu saat aku menikah, beliau berharap aku menemukan perempuan setulus dirimu.”

Aku tertawa pelan.

“Lucu sekali. Akhirnya kita bertemu lewat cara yang paling aneh.”

Adrian ikut tersenyum.

“Bukan karena takdir menyeramkan.”

“Lalu?”

“Karena masih ada orang yang berani memilih kebenaran, meski harus membayar dengan rasa takut.”

Beberapa bulan kemudian, kami benar-benar menikah.

Bukan karena utang.

Bukan karena paksaan.

Bukan demi memenuhi tradisi yang menyesakkan.

Melainkan karena kami sama-sama berhasil keluar dari masa lalu yang hampir menghancurkan hidup kami.

Saat akad selesai, hujan kembali turun seperti hari pertama kami bertemu.

Bedanya, kali ini tidak ada rasa dingin yang menyelimuti dadaku.

Yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa kebohongan, betapapun rapi disembunyikan, pada akhirnya akan runtuh oleh keberanian seseorang untuk mengungkapkan kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang