Richard tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat asing di telingaku—tawa yang biasa ia tunjukkan saat sedang berbohong. “Tentu saja, Sayang. Unit ini akan menjadi milikmu sepenuhnya. Istriku? Dia terlalu sibuk dengan proyek-proyeknya yang membosankan. Dia bahkan tidak akan tahu kalau kita menghabiskan uangnya di sini.”
Darahku mendidih, namun aku tetap diam. Aku adalah seorang negosiator yang ulung; aku tahu kapan harus menyerang.
Lexi kemudian berbalik, matanya yang angkuh menyapu ruangan hingga akhirnya berhenti tepat padaku yang masih memegang lap kain di balik tanaman hias. Dia mengerutkan kening, lalu dengan angkuhnya berjalan ke arahku.

“Hei, kau!” bentaknya dengan nada merendahkan. “Apa yang kau lakukan di sini? Berhenti melamun dan bersihkan lantai itu! Ada tumpahan anggur di dekat sana. Cepat!”
Aku tertegun sejenak. Dia benar-benar mengira aku adalah petugas kebersihan. Richard, yang berada beberapa langkah di belakangnya, sibuk memeriksa ponselnya dan tidak memperhatikanku karena aku mengenakan topi baseball yang menutupi sebagian wajahku.
Aku menatap Lexi, lalu menatap gaun sutra merahnya yang menjuntai ke lantai—sebuah gaun haute couture yang harganya mungkin setara dengan gaji tahunan seorang staf administrasi biasa. Aku bisa melihat label harga yang belum dicopot dengan sempurna di bagian bawah. 100.000 peso.
“Maaf, Nyonya?” suaraku datar, menyembunyikan amarah yang membara.
“Jangan banyak bicara! Bersihkan sekarang!” Lexi menghentakkan kakinya. Saat dia berputar, tangannya yang memegang gelas anggur sedikit bergoyang. Tanpa sengaja—atau mungkin karena dia ceroboh—tetesan cairan merah itu tumpah ke lantai marmer putih yang bersih.
Inilah kesempatanku.
Aku berjalan perlahan mendekat. Richard masih membelakangi kami, masih sibuk menelepon seseorang—mungkin pengacaranya untuk membahas pengalihan aset.
“Nyonya,” kataku tenang, “apakah Anda yakin ingin saya membersihkan ini sekarang?”
“Tentu saja! Apa kau tuli? Bersihkan sekarang sebelum aku melaporkanmu ke manajemen!” Lexi menatapku dengan tatapan menghina, merasa dirinya adalah ratu di gedung milikku sendiri.
Aku tersenyum tipis. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, aku menarik bagian bawah gaun sutra merahnya yang panjang dan mahal itu. Sebelum dia bisa berteriak, aku dengan cekatan menggunakan ujung gaunnya yang mewah untuk menggosok tumpahan anggur merah di lantai marmer dengan sangat keras.
“Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!” Lexi menjerit melengking, berusaha menarik gaunnya, namun aku mencengkeramnya dengan kuat.
“Gaun ini sangat menyerap, Nyonya,” ucapku dingin. “Sangat cocok untuk membersihkan kekacauan yang Anda buat.”
Richard terlonjak kaget dan berbalik. Wajahnya yang semula santai berubah pucat pasi saat melihat siapa yang sedang memegang ujung gaun selingkuhannya. “G-Georgina?”
Lexi terbelalak, wajahnya yang penuh riasan tebal perlahan kehilangan warna. “Kau… kau adalah… petugas kebersihan ini?”
Aku berdiri tegak, melepaskan gaun itu dengan jijik. Aku melepas topi dan kacamata hitamku, menatap mereka berdua dengan tatapan yang membuat udara di ruangan itu mendadak dingin.
“Aku bukan petugas kebersihan, Lexi,” kataku tenang, suaraku menggema di seluruh VIP Lounge. “Aku adalah pemilik gedung ini. Aku adalah CEO Prime Estates. Dan Richard, aku adalah orang yang memegang kendali atas setiap sen yang kau gunakan untuk membiayai gaya hidup murahan ini.”
Richard berusaha melangkah maju, tangannya gemetar. “Sayang, tunggu… ini hanya salah paham. Lexi tidak tahu siapa kau…”
“Oh, dia akan segera tahu,” potongku. Aku mengeluarkan ponselku dan menekan tombol speaker. “Security, silakan naik ke lantai VIP sekarang. Bawa semua dokumen pengusiran dan pastikan dua orang ini keluar dari properti saya dalam waktu kurang dari lima menit. Juga, panggil pengacara saya. Proses perceraian akan dimulai hari ini.”
Lexi mulai terisak, gaun merahnya kini ternoda oleh anggur dan debu lantai. Dia mencoba memohon, “Georgina, aku tidak bermaksud… Richard yang berjanji padaku…”
“Dan kau mempercayai pria yang bahkan tidak berani jujur pada istrinya sendiri?” aku tertawa getir. “Kalian berdua benar-benar pasangan yang sempurna. Sama-sama tidak tahu tempat.”
Petugas keamanan gedung datang dengan sigap. Aku tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun; mereka tahu instruksiku adalah mutlak. Richard mencoba berargumen, mencoba memohon belas kasihan, tetapi aku hanya menatapnya dengan tatapan tajam yang biasa kugunakan saat memecat karyawan yang tidak kompeten.
“Richard, kau punya waktu satu jam untuk mengosongkan rumah kita. Semua kartu kredit yang kuberi padamu sudah kublokir. Dan untuk kau, Lexi…” aku menatap gaun merahnya yang hancur. “Nikmati gaun 100.000 peso itu. Itu adalah hal termahal yang pernah kau gunakan untuk menjadi kain pel.”
Saat mereka diseret keluar oleh petugas keamanan, aku menarik napas dalam-dalam. Keheningan kembali menyelimuti VIP Lounge. Aku berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota.
Besok adalah Grand Opening. Gedung ini akan menjadi sukses besar, dan aku akan merayakannya sendirian, lebih kaya, lebih bijaksana, dan jauh lebih bebas.
Richard mengira dia bisa menipuku dengan kekayaan yang kubangun. Dia lupa satu hal: seseorang yang bisa membangun sebuah kerajaan dari nol, tidak akan pernah membiarkan parasit merusak fondasinya.
Aku mengambil lap kain yang sebenarnya dan kembali melanjutkan pekerjaanku membersihkan debu di vas bunga. Segalanya harus sempurna untuk hari esok. Dan hari ini, aku baru saja membersihkan sampah yang paling menyebalkan dalam hidupku.
Akhir Cerita
Beberapa bulan berlalu. Perceraianku dengan Richard menjadi berita utama di media bisnis. Karena bukti-bukti perselingkuhan dan upaya penggelapan aset yang ia lakukan, dia tidak mendapatkan satu persen pun dari harta gono-gini. Dia kehilangan pekerjaannya, reputasinya hancur, dan Lexi meninggalkannya begitu saja ketika uangnya benar-benar habis.
Prime Estates justru melesat lebih tinggi dari sebelumnya. Aku tidak hanya membangun gedung, aku membangun kehidupan baru. Setiap kali aku melangkah masuk ke The Grand Summit, aku selalu ingat hari itu—hari di mana aku belajar bahwa kesederhanaan bukanlah kelemahan, dan bahwa terkadang, kita perlu mengotori tangan kita untuk membersihkan orang-orang beracun dari hidup kita.
Aku berdiri di puncak menara, memandang kota di bawahku. Aku adalah Georgina, dan aku baru saja memulai babak terbaik dalam hidupku.
Pertanyaan untuk Anda: Apakah menurut Anda cara Georgina memberikan pelajaran kepada selingkuhan suaminya sudah cukup adil, atau ada cara lain yang lebih elegan untuk menghadapinya?
