Aku melangkah keluar dari balik pilar dengan tenang. Topi hitam dan masker masih menutupi sebagian wajahku, tetapi begitu jarak kami tinggal beberapa meter, Rama langsung mengenaliku.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
“Maya?”
Lina ikut menoleh. Tangannya yang tadi menggenggam lengan Rama perlahan terlepas.

“Apa… apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Rama, berusaha tersenyum, meski suaranya terdengar kaku.
Aku berhenti tepat di depan mereka.
“Mengantar sahabat,” jawabku singkat. “Lalu tanpa sengaja menemukan suamiku yang katanya sedang seminar di Bandung.”
Tak ada satu pun dari mereka yang mampu langsung menjawab.
Rama cepat menguasai diri.
“Kamu salah paham.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau begitu, jelaskan kenapa seminar manajemen risiko pindah ke Terminal Internasional.”
Lina menelan ludah.
“Kami hanya perjalanan dinas.”
“Ke Paris? Dengan tiket sekali jalan?”
Tatapan mereka berubah.
Aku tahu kalimat itu mengenai sasaran.
Rama memicingkan mata.
“Kamu mengikutiku?”
“Aku tidak perlu.”
Aku mengangkat ponsel.
“Suaramu sendiri sudah cukup.”
Wajah Rama membeku ketika melihat ikon perekam suara yang masih menyala.
Selama beberapa detik, hanya terdengar pengumuman keberangkatan dari pengeras suara bandara.
Kemudian Rama tertawa kecil.
“Tidak masalah.”
Ia bersandar santai seolah semuanya masih berada dalam kendalinya.
“Rekaman itu tidak akan mengubah apa pun.”
“Apa maksudmu?”
“Transfer uangnya sudah selesai.”
Aku memandangnya tanpa berkedip.
“Benarkah?”
“Tentu.”
Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Lima puluh miliar itu sekarang bukan lagi milikmu.”
Aku menghela napas pelan.
“Kalau begitu, coba buka aplikasi mobile banking-mu.”
Rama terlihat heran.
Namun ia tetap mengeluarkan ponselnya.
Beberapa detik kemudian senyumnya perlahan menghilang.
“Mustahil…”
Lina mendekat.
“Ada apa?”
“Saldo rekening offshore…”
Ia mengusap layar berkali-kali.
“…nol.”
Aku menatapnya tenang.
“Tepatnya, transfer itu tidak pernah berhasil.”
Rama mengangkat kepala.
“Apa?”
“Tiga hari lalu bank sudah menghubungiku. Mereka menemukan transaksi yang tidak biasa.”
Aku membuka folder tipis yang sedari tadi kubawa.
“Setelah itu semua akses rekening bersama langsung dibekukan.”
Aku mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Yang kamu transfer hanyalah rekening pengawasan milik bank.”
“Tidak mungkin!”
“Justru sangat mungkin.”
Aku tersenyum tipis.
“Karena aku pemilik utama seluruh aset itu.”
Lina mulai panik.
“Rama… kamu bilang semuanya aman.”
“Diam!”
Ia membentak Lina sebelum kembali menatapku.
“Kamu menjebakku.”
“Aku hanya membiarkanmu percaya bahwa rencanamu berhasil.”
Kulihat rahang Rama mengeras.
“Kamu pikir ini selesai?”
“Belum.”
Aku mengangkat ponsel dan mengetik satu pesan singkat.
Kurang dari tiga puluh detik kemudian, empat petugas keamanan bandara bersama dua polisi berpakaian sipil berjalan mendekat.
Di belakang mereka muncul Komisaris Besar Surya.
Beliau menghampiriku sambil tersenyum tipis.
“Maaf membuat Ibu Maya menunggu.”
Rama langsung berdiri.
“Ada apa ini?”
Komisaris Surya menunjukkan kartu identitasnya.
“Rama Prasetyo?”
“Ya.”
“Anda diminta ikut bersama kami untuk memberikan keterangan mengenai dugaan percobaan penggelapan, pemalsuan dokumen, dan tindak pidana pencucian uang.”
Wajah Rama berubah pucat.
“Ini fitnah!”
Aku mengeluarkan satu flashdisk.
“Di dalamnya ada rekaman percakapan lima menit yang baru saja kalian lakukan.”
Aku lalu menyerahkan map lain.
“Ditambah seluruh hasil investigasi detektif swasta selama dua hari terakhir.”
Komisaris Surya membuka map itu.
Foto-foto Rama dan Lina keluar satu per satu.
Foto mereka memasuki hotel.
Foto mereka bertemu seorang broker luar negeri.
Salinan percakapan.
Bukti pemesanan tiket.
Kontrak pembukaan rekening offshore.
Semua lengkap.
Lina mulai gemetar.
“Aku… aku hanya ikut…”
“Diam!”
Rama kembali membentaknya.
Namun kali ini Lina tidak mau lagi.
“Tidak! Kamu yang menyuruhku!”
Semua orang di sekitar mulai memperhatikan.
Beberapa penumpang berhenti berjalan.
Petugas bandara mencoba mengatur kerumunan.
Rama kehilangan kesabarannya.
Ia tiba-tiba menunjukku.
“Semua ini salahmu!”
Ia melangkah cepat ke arahku.
Belum sempat mendekat, dua polisi langsung menahannya.
“Lepaskan aku!”
Suasana terminal menjadi gaduh.
Aku hanya berdiri diam.
Sudah bertahun-tahun aku mengenal pria itu.
Selama tujuh tahun pernikahan, aku selalu berpikir Rama hanya lelaki ambisius yang ingin membuktikan dirinya.
Ternyata ia hanya menunggu kesempatan mengambil semua yang kubangun.
Saat kedua tangannya diborgol, ia masih menatapku penuh kebencian.
“Kamu menghancurkan hidupku.”
Aku menggeleng perlahan.
“Bukan aku.”
“Kamulah!”
“Tidak.”
Aku menatap matanya.
“Keserakahanmu sendiri.”
Lina tiba-tiba menangis.
“Aku tidak tahu semuanya akan seperti ini.”
Aku memandang wanita itu cukup lama.
“Kamu tahu dia sudah menikah.”
Ia menunduk.
“Kamu tahu uang itu bukan milik kalian.”
Air matanya semakin deras.
“Kamu tetap memilih ikut.”
Tak ada lagi yang bisa ia katakan.
Mereka berdua akhirnya dibawa menuju ruang pemeriksaan.
Sebelum menghilang di balik pintu, Rama menoleh untuk terakhir kalinya.
Tatapannya dipenuhi penyesalan.
Namun bagiku semuanya sudah terlambat.
Kupikir cerita itu berakhir hari itu.
Ternyata tidak.
Dua minggu kemudian aku menerima laporan lengkap dari tim audit internal Wijaya Capital.
Saat itulah aku menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah diperkirakan oleh Rama.
Selama hampir empat tahun, ia diam-diam membuat lebih dari tiga puluh perusahaan cangkang.
Perusahaan-perusahaan itu digunakan untuk menaikkan harga proyek, membuat kontrak fiktif, dan mengalihkan keuntungan ke rekening lain.
Nilainya bukan lima puluh miliar.
Bukan seratus miliar.
Totalnya mencapai hampir tiga ratus miliar rupiah.
Aku langsung memerintahkan audit forensik terhadap seluruh grup perusahaan.
Media mulai memberitakan kasus itu.
Nama Rama muncul di berbagai portal berita ekonomi.
Investor panik.
Namun mereka segera tenang setelah mengetahui aku telah menemukan seluruh skema itu sebelum dana benar-benar hilang.
Harga saham perusahaan sempat turun selama dua hari.
Pada hari ketiga justru melonjak.
Pasar melihat bahwa perusahaan masih berada di tangan yang tepat.
Beberapa komisaris yang dulu diam mulai mendatangiku.
Salah satunya adalah Pak Yusuf.
Ia menunduk saat memasuki ruang kerjaku.
“Saya minta maaf.”
“Apa maksud Bapak?”
“Saya sebenarnya pernah curiga pada Rama.”
“Lalu kenapa diam?”
“Saya takut.”
Aku tersenyum tipis.
“Itulah masalah terbesar.”
Beliau terdiam.
“Orang jujur terlalu sering diam.”
“Tapi orang serakah tidak pernah berhenti.”
Kalimat itu membuatnya menundukkan kepala lebih dalam.
Sebulan kemudian persidangan dimulai.
Jaksa menghadirkan semua bukti.
Rekaman suara di bandara menjadi salah satu bukti utama.
Pengacara Rama mencoba menyatakan bahwa rekaman itu diperoleh tanpa izin.
Namun hakim menolak keberatan tersebut karena percakapan itu berkaitan langsung dengan dugaan tindak pidana yang sedang berlangsung.
Saksi demi saksi hadir.
Pegawai bank.
Auditor.
Detektif swasta.
Petugas imigrasi.
Bahkan broker luar negeri yang bekerja sama dengan Interpol ikut memberikan kesaksian melalui konferensi video.
Rama akhirnya menyadari tidak ada lagi jalan keluar.
Pada sidang terakhir ia meminta izin berbicara.
Ia menatapku dari kursi terdakwa.
“Maya…”
Aku tidak menjawab.
“Aku memang salah.”
Ruang sidang hening.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi dulu aku benar-benar mencintaimu.”
Aku memandangnya tanpa emosi.
“Mungkin.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Kalau saja aku tidak serakah…”
Aku memotong ucapannya.
“Bukan keserakahanmu yang menghancurkan kita.”
Ia mengangkat kepala.
“Melainkan keputusanmu.”
Semua orang memiliki kesempatan untuk berhenti sebelum melangkah terlalu jauh.
Ia memilih terus berjalan.
Hakim kemudian menjatuhkan hukuman penjara atas berbagai tindak pidana ekonomi, pencucian uang, pemalsuan dokumen, dan percobaan penggelapan aset perusahaan.
Lina juga menerima hukuman karena terbukti membantu serta mengetahui keseluruhan rencana.
Enam bulan setelah semua itu selesai, hidupku berubah sepenuhnya.
Aku tidak lagi tinggal di rumah yang dulu kami tempati bersama.
Rumah itu kujual.
Sebagian hasil penjualannya kugunakan mendirikan Yayasan Arunika, sebuah lembaga yang memberikan bantuan hukum dan pendampingan finansial bagi perempuan yang menjadi korban penipuan pasangan maupun kekerasan ekonomi dalam rumah tangga.
Pada hari peresmian yayasan, Sari pulang sebentar dari Toronto.
Ia memelukku erat.
“Aku bangga padamu.”
Aku tersenyum.
“Dulu aku pikir kehilangan suami adalah akhir hidupku.”
“Lalu?”
Aku memandang puluhan perempuan yang sedang mengikuti seminar literasi keuangan di aula yayasan.
“Ternyata itu hanya akhir dari kebohongan.”
Sari ikut tersenyum.
“Dan awal dari hidup yang sebenarnya.”
Aku mengangguk pelan.
Tujuh tahun pernikahan mengajariku bahwa cinta tanpa kejujuran hanyalah ilusi yang mahal.
Kepercayaan memang bisa diberikan kepada siapa saja.
Tetapi kendali atas hidup, harga diri, dan hasil kerja keras sendiri tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada orang lain.
Hari itu aku datang ke Bandara Soekarno-Hatta hanya untuk mengantar sahabat menuju masa depannya.
Aku tidak pernah menyangka justru di tempat keberangkatan itu aku menemukan pengkhianatan terbesar dalam hidupku.
Namun ironisnya, di tempat yang sama pula aku meninggalkan masa lalu untuk selamanya dan memulai perjalanan menuju kehidupan yang jauh lebih kuat, lebih bebas, dan lebih berharga daripada yang pernah kubayangkan.
