Namaku Nadia.
Kalau orang-orang melihat foto keluargaku di media sosial tiga tahun lalu, mereka pasti mengira hidup kami sempurna. Ibuku bekerja di Taiwan sebagai perawat lansia. Setiap bulan uang selalu datang tepat waktu. Aku dan adikku, Arga, tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran Bandung. Kami tidak pernah benar-benar kekurangan.
Yang tidak pernah mereka lihat adalah harga yang harus dibayar seorang ibu untuk semua itu.

Ibuku berangkat ketika usiaku baru sembilan belas tahun.
“Aku cuma lima tahun di sana,” katanya waktu itu sambil memelukku di bandara. “Setelah rumah lunas dan kalian sudah mandiri, Ibu pulang.”
Lima tahun berubah menjadi delapan.
Delapan berubah menjadi dua belas.
Setiap kali aku bertanya kapan ia pulang, jawabannya selalu sama.
“Sebentar lagi.”
Lama-kelamaan, kata “sebentar” kehilangan maknanya.
Aku mulai terbiasa menerima uang tanpa benar-benar memikirkan dari mana asalnya.
Arga bahkan lebih parah.
Ia sering berganti motor, membeli gawai terbaru, dan menghabiskan waktu di kafe bersama teman-temannya. Jika uang kiriman terlambat sehari saja, ia akan mengomel seolah itu adalah hak yang memang harus diterimanya.
Sementara itu, Ibu tidak pernah sekali pun mengeluh.
Dalam panggilan video, wajahnya selalu penuh senyum.
“Kalian sehat?”
“Tagihan listrik sudah dibayar?”
“Jangan lupa makan.”
Aku menjawab seperlunya.
Arga bahkan sering menolak mengangkat telepon.
Baginya, Ibu hanyalah seseorang yang tinggal jauh di negeri lain dan rutin mengirim uang.
Semuanya berubah pada hari ketika sebuah mobil ekspedisi berhenti di depan rumah.
Seorang sopir menurunkan sebuah peti kayu berukuran hampir satu meter.
Di bagian atasnya tertulis:
UNTUK NADIA DAN ARGA.
JANGAN DIBUKA TERBURU-BURU.
Aku langsung menelepon Arga.
“Kayaknya Ibu kirim barang.”
Arga pulang dengan wajah berbinar.
“Pasti oleh-oleh.”
Kami membuka peti itu perlahan.
Harapan kami runtuh dalam hitungan detik.
Isinya bukan barang elektronik.
Bukan makanan.
Bukan pakaian bermerek.
Yang ada hanya tumpukan buku tua, beberapa alat dapur yang sudah kusam, selimut tipis, sandal usang, payung patah, dan sebuah bantal kecil yang warnanya sudah memudar.
Arga langsung mendecak kesal.
“Ibu serius?”
Aku ikut kecewa.
Dua belas tahun bekerja di luar negeri.
Yang dikirim hanya barang-barang seperti ini?
Di dasar peti terdapat secarik kertas.
“Tolong simpan semuanya baik-baik. Jangan ada yang dibuang.”
Arga tertawa sinis.
“Barang rongsokan begini disuruh disimpan?”
Ia mengangkat payung patah itu.
“Ini bahkan tidak bisa dipakai.”
Aku mulai merasa malu.
Kalau tetangga melihat isi peti ini, mereka pasti mengira ibuku memungut barang bekas dari tempat sampah.
Arga mengambil karung besar.
“Buang saja.”
Aku sempat ragu.
“Tapi ada pesannya.”
“Ibu pasti sudah terlalu lama di sana sampai tidak sadar barang beginian tidak ada gunanya.”
Satu per satu kami memasukkan semuanya ke dalam karung.
Saat itulah tetangga kami, Pak Yusuf, lewat.
“Kalian mau buang apa?”
“Barang bekas kiriman Ibu.”
Pak Yusuf mengernyit.
“Yakin?”
“Iya.”
Beliau menatap peti itu beberapa detik.
“Lain kali kalau orang tua meminta sesuatu, ada baiknya dituruti.”
Arga hanya mengangkat bahu.
“Kami sudah besar, Pak.”
Karung itu akhirnya dibawa pemulung yang kebetulan lewat.
Selesai.
Masalah beres.
Setidaknya begitu yang kami kira.
Malam harinya, ponselku berdering.
Video call dari Ibu.
Begitu layar menyala, aku melihat wajahnya jauh lebih kurus.
“Ibu…”
“Peti sudah sampai?”
“Iya.”
“Bagaimana?”
Aku menghela napas.
“Sudah kami bereskan.”
“Semuanya?”
“Iya.”
“Semuanya.”
Ibu terdiam.
“Lalu… barang-barangnya di mana?”
Arga menjawab santai dari belakang.
“Kami kasih ke pemulung.”
Wajah Ibu langsung berubah.
“Apa?”
“Itu cuma barang bekas.”
Tangan Ibu gemetar.
“Nadia… kalian benar-benar membuang semuanya?”
Aku mulai merasa tidak nyaman.
“Iya…”
Air mata langsung mengalir di pipinya.
“Itu bukan barang bekas.”
Jantungku berdegup kencang.
“Maksud Ibu?”
Dengan suara bergetar ia berkata,
“Itu semua adalah benda-benda yang menemani Ibu selama dua belas tahun.”
Aku membeku.
“Bantal kecil itu…”
“…adalah satu-satunya bantal yang Ibu pakai sejak pertama datang.”
“Selimut tipis itu dipakai saat musim dingin ketika majikan belum membelikan penghangat.”
“Payung patah itu melindungi Ibu waktu berjalan dua kilometer ke klinik saat banjir.”
“Alat dapur itu Ibu beli dari gaji pertama.”
“Buku-buku itu berisi catatan setiap hari yang Ibu tulis agar tidak merasa sendirian.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Ibu menarik napas panjang.
“Aku ingin membuat rumah kecil berisi kenangan.”
“Aku ingin suatu hari nanti cucu-cucuku tahu bagaimana neneknya bertahan.”
Suasana hening.
Namun ternyata itu belum semuanya.
Ibu melanjutkan.
“Di dalam buku bersampul biru ada surat dari notaris.”
Aku menoleh ke Arga.
Wajahnya mulai pucat.
“Surat apa?”
“Aku menjual seluruh tabungan investasiku.”
“Dengan uang itu aku membeli rumah.”
“Rumah itu bukan atas nama Ibu.”
“Atas nama kalian berdua.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Tapi kenapa disimpan di buku?”
“Karena beberapa kali teman-teman sesama pekerja kehilangan dokumen saat mengirim paket.”
“Aku sengaja menyamarkannya.”
Arga langsung berdiri.
“Kita cari pemulung itu.”
Kami berdua keluar rumah malam itu juga.
Kami bertanya ke setiap orang.
Tidak ada yang tahu.
Baru keesokan paginya Pak Yusuf berkata pelan,
“Pemulung itu biasanya menjual semua barang ke gudang barang bekas di daerah Cimahi.”
Kami berangkat tanpa sarapan.
Gudang itu luas.
Ribuan karung memenuhi ruangan.
Pemilik gudang menggeleng.
“Kalau sudah dipilah, susah.”
Kami tidak menyerah.
Selama hampir enam jam kami membuka karung demi karung.
Tanganku penuh debu.
Arga berkeringat.
Hingga akhirnya ia berteriak.
“Mbak!”
Aku berlari.
Di depannya ada bantal kecil berwarna kusam.
Kami hampir menangis.
Satu per satu barang berhasil ditemukan.
Selimut.
Payung.
Panci.
Buku.
Namun buku bersampul biru tidak ada.
Dunia terasa runtuh.
Pemilik gudang berpikir sejenak.
“Buku-buku tua biasanya saya jual kiloan ke pengepul kertas.”
Kami kembali mengejar.
Satu tempat.
Tidak ada.
Tempat kedua.
Tidak ada.
Di tempat ketiga, seorang pekerja menunjuk tumpukan kardus yang belum dihancurkan.
“Kalau belum masuk mesin, mungkin masih ada.”
Kami membongkarnya dengan tangan sendiri.
Hampir satu jam.
Sampai akhirnya Arga menemukan buku biru yang sampulnya robek sedikit.
Ia memeluk buku itu sambil menangis.
Untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, aku melihat adikku menangis seperti anak kecil.
Dokumen rumah masih ada.
Surat notaris masih utuh.
Tetapi yang membuatku lebih terpukul adalah isi buku harian Ibu.
Di halaman pertama tertulis,
“Hari ke-17.
Hari ini Nadia ulang tahun.
Aku hanya bisa melihat fotonya lewat ponsel.
Semoga suatu hari dia mengerti kenapa aku tidak pulang.”
Halaman berikutnya.
“Hari ke-462.
Arga bilang sepatunya rusak.
Aku lembur dua minggu supaya bisa membelikannya.”
Lalu halaman demi halaman.
Tentang rasa rindu.
Tentang kesepian.
Tentang air mata yang selalu disembunyikan saat menelepon kami.
Di halaman terakhir tertulis,
“Kalau suatu hari anak-anakku membaca buku ini, berarti aku sudah tidak perlu lagi menyembunyikan rasa lelahku. Aku hanya berharap mereka tidak mengingatku sebagai mesin pengirim uang.”
Aku tidak sanggup melanjutkan membaca.
Tiga minggu kemudian, Ibu akhirnya pulang.
Bukan karena kontraknya selesai.
Melainkan karena dokter menemukan gangguan pada jantungnya akibat bertahun-tahun bekerja tanpa cukup istirahat.
Saat pintu kedatangan bandara terbuka, aku hampir tidak mengenalinya.
Tubuhnya jauh lebih kecil.
Rambutnya dipenuhi uban.
Tangannya kasar.
Ia tersenyum seolah semua penderitaan itu tidak pernah ada.
Aku memeluknya sekuat tenaga.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berkata,
“Maafkan kami, Bu.”
Arga ikut memeluk Ibu sambil menangis.
“Aku janji akan bekerja.”
“Bukan hidup dari uang Ibu lagi.”
Ibu tidak memarahi kami.
Ia hanya mengusap kepala kami seperti saat kami masih kecil.
Beberapa bulan kemudian, rumah yang dibelinya selesai direnovasi.
Di salah satu sudut ruang tamu, kami membuat lemari kaca.
Di dalamnya tersimpan bantal kecil, payung patah, alat dapur tua, selimut tipis, sandal usang, dan buku harian itu.
Setiap tamu yang datang sering bertanya mengapa kami menyimpan barang-barang yang tampak tidak berharga.
Aku selalu tersenyum sebelum menjawab,
“Karena benda-benda itu bukan barang bekas.”
“Itu adalah harga yang dibayar seorang ibu agar anak-anaknya bisa memiliki masa depan.”
