PEREMPUAN KAYA SELALU MENGIRA MEREKA MASIH PUNYA PILIHAN

Namaku Alena Prasetyo.

Pagi pertama setelah pernikahanku seharusnya dipenuhi aroma kopi hangat, tawa kecil, dan rencana bulan madu. Sebaliknya, yang kudengar justru suara gelas pecah menghantam lantai marmer rumah keluarga suamiku di Jakarta Selatan.

Semua orang menoleh kepadaku.

Bukan karena aku yang menjatuhkannya.

Melainkan karena ibu mertuaku sengaja menyenggol gelas itu dengan siku, lalu berkata dengan tenang, “Lihat? Bahkan rumah ini menolak perempuan yang terlalu dimanjakan oleh uang.”

Tak seorang pun membantah.

Raka, suamiku yang baru menikah denganku kurang dari dua puluh empat jam, hanya menarik napas panjang sambil menundukkan kepala.

Aku memandangnya, menunggu.

Menunggu satu kalimat sederhana.

“Ibu, jangan bicara begitu.”

Namun kalimat itu tidak pernah keluar.

Yang muncul justru sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

“Sudahlah, Alena. Jangan memperbesar masalah.”

Saat itulah aku sadar.

Pernikahan bisa mengubah seseorang hanya dalam semalam.

Atau mungkin…

Ia tidak pernah berubah.

Aku hanya terlambat melihat siapa dirinya sebenarnya.

Kami berkenalan dua tahun sebelumnya dalam sebuah acara amal. Raka tampil sebagai pria sederhana, pekerja keras, dan rendah hati. Ia selalu mengatakan bahwa ia tidak menyukai perempuan yang mengukur segala sesuatu dengan uang.

Aku menyukainya karena alasan itu.

Aku bahkan sengaja menyembunyikan kenyataan bahwa keluargaku memiliki beberapa perusahaan properti di berbagai kota.

Bagiku, cinta tidak membutuhkan laporan keuangan.

Selama dua tahun kami berkencan, aku hanya mengatakan bahwa ayahku seorang konsultan.

Itu memang tidak sepenuhnya bohong.

Ayahku memang sering menjadi konsultan bagi perusahaan-perusahaan miliknya sendiri.

Namun aku tidak pernah menunjukkan rumah keluargaku, mobil koleksi ayahku, ataupun aset yang selama ini dikelola oleh kantor keluarga.

Aku ingin dicintai sebagai Alena.

Bukan sebagai pewaris.

Ketika Raka melamarku, ia menangis.

Ia berkata hanya ingin hidup sederhana bersamaku.

Aku mempercayainya.

Ternyata, ada orang yang sangat pandai memainkan peran.

Setelah sarapan yang penuh penghinaan itu, ibu mertuaku memintaku duduk di ruang keluarga.

“Ada beberapa hal yang perlu diselesaikan sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian keluarga.”

Aku tetap duduk.

Ia meletakkan sebuah map.

Di dalamnya ada beberapa dokumen.

“Kami sudah berkonsultasi dengan notaris. Akan lebih baik jika apartemenmu dialihkan atas nama bersama. Begitu juga rekening tabunganmu. Dalam keluarga, tidak boleh ada harta yang dipisahkan.”

Aku tersenyum kecil.

“Apartemen yang mana?”

Raut wajahnya berubah sebentar.

“Apartemen Senopati.”

“Oh.”

“Itu hadiah dari orang tuamu, bukan?”

“Benar.”

“Kalau begitu, lebih baik digunakan untuk kepentingan keluarga.”

Aku mengangguk pelan.

“Lalu?”

“Mobilmu juga sebaiknya dipakai Felia.”

Felia adalah adik Raka.

Ia baru lulus kuliah dan belum bekerja.

“Aku sudah janji dengan teman-temanku,” katanya sambil tersenyum. “Mereka pikir aku bakal bawa SUV baru minggu depan.”

Aku menatapnya.

“Kamu sudah berjanji memakai mobilku?”

“Ya. Kan sekarang kita keluarga.”

Aku hampir tertawa.

Mereka berbicara seolah semua itu sudah menjadi milik mereka.

Raka tetap diam.

Diam yang semakin lama terasa seperti persetujuan.

“Ibu,” kataku akhirnya, “kenapa semua pembicaraan ini baru muncul setelah pernikahan?”

Karina, ibu mertuaku, menyilangkan tangan.

“Karena sebelum menikah kamu masih tamu.”

“Dan sekarang?”

“Kamu istri. Tugas istri adalah mengutamakan keluarga suami.”

Aku berdiri.

“Aku pulang.”

Raka langsung menahan lenganku.

“Kita selesaikan dulu.”

“Tidak.”

“Kamu mempermalukan keluargaku.”

Aku menatap matanya.

“Justru keluargamu yang sedang mempermalukan dirinya sendiri.”

Tamparan itu datang begitu cepat.

Tidak terlalu keras.

Tetapi cukup membuat seluruh ruangan sunyi.

Felia tersenyum tipis.

Karina sama sekali tidak tampak terkejut.

Seolah semuanya memang sudah direncanakan.

Aku mengambil tasku.

Tanpa menangis.

Tanpa berteriak.

Aku keluar dari rumah itu.

Begitu masuk ke mobil, teleponku berdering.

Ayah.

“Ayah.”

“Kamu baik-baik saja?”

Aku terdiam.

“Ayah sudah tahu.”

Aku menoleh ke kaca spion.

Sebuah sedan hitam berhenti beberapa meter di belakangku.

“Itu orang Ayah?”

“Iya.”

Aku terkejut.

“Ayah mengikuti kami?”

“Bukan. Ayah melindungimu.”

Aku mulai menangis.

Untuk pertama kalinya sejak pagi itu.

Ayah membiarkanku menangis beberapa menit.

Kemudian beliau berkata pelan.

“Sudah waktunya mereka mengetahui siapa yang sebenarnya mereka hadapi.”

Aku pulang ke rumah orang tuaku.

Ibu memelukku tanpa bertanya apa pun.

Sore harinya, ayah mengadakan rapat kecil bersama pengacara keluarga.

Barulah di sana aku mengetahui sesuatu yang membuatku terpaku.

Ayah ternyata sudah lama merasa ada yang tidak beres.

Beberapa bulan sebelum pernikahan, beliau menyuruh tim audit pribadi memeriksa latar belakang keluarga Raka.

Hasilnya mengejutkan.

Perusahaan keluarga mereka terlilit utang besar.

Rumah yang mereka tinggali sebenarnya dijaminkan ke bank.

Bisnis yang selama ini dibanggakan hanya bertahan karena pinjaman baru terus menutupi pinjaman lama.

Yang lebih mengejutkan lagi…

Raka diam-diam pernah mencoba mencari informasi mengenai aset keluargaku melalui seorang kenalan di kantor pertanahan.

Ia bahkan beberapa kali menanyakan nilai apartemenku kepada agen properti.

Ayah tidak pernah menceritakan semua itu.

Karena beliau berharap penilaiannya salah.

Ternyata tidak.

Seminggu kemudian, Raka datang.

Ia membawa bunga.

“Maaf.”

Aku hanya menatapnya.

“Aku khilaf.”

“Karena menamparku?”

“Ibu membuatku emosi.”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Kamu tidak khilaf.”

“Kamu sedang menunjukkan siapa dirimu.”

Ia mencoba memegang tanganku.

Aku mundur.

“Kita masih suami istri.”

Aku tersenyum.

“Tidak lama lagi.”

Seminggu setelah itu gugatan pembatalan perkawinan sekaligus perceraian diajukan.

Barulah keluarga Raka mulai panik.

Mereka mengira aku akan takut.

Mereka mengira aku akan mempertahankan rumah tangga demi nama baik.

Yang tidak mereka ketahui adalah seluruh percakapan di rumah mereka pagi setelah pernikahan terekam jelas.

Jam tanganku ternyata memiliki fitur perekam suara.

Fitur itu sebenarnya sering kupakai saat rapat.

Tanpa sengaja semuanya tersimpan.

Termasuk pembicaraan tentang apartemen.

Tentang rekening.

Tentang mobil.

Dan tamparan itu.

Ketika pengacara kami mengirimkan salinan rekaman kepada pihak mereka, teleponku tidak berhenti berbunyi.

Karina menangis.

Felia memohon.

Raka meminta bertemu.

Aku menolak semuanya.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Beberapa hari kemudian, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun datang ke kantor ayah.

Namanya Budi Santoso.

Ia mantan rekan bisnis almarhum ayah Raka.

Ia membawa koper kecil berisi dokumen lama.

Menurutnya, selama bertahun-tahun Karina memalsukan laporan keuangan perusahaan keluarga.

Raka mengetahui semuanya.

Mereka menggunakan nama beberapa kerabat untuk menyembunyikan utang.

Mereka juga beberapa kali mendekati perempuan dari keluarga berada dengan tujuan mendapatkan akses terhadap aset melalui pernikahan.

Aku bukan yang pertama.

Aku hanya target pertama yang berhasil mereka nikahi.

Begitu membaca semua dokumen itu, pengacara kami langsung menyerahkannya kepada pihak berwenang.

Penyelidikan resmi dimulai.

Media mulai memberitakan kasus tersebut.

Nama keluarga mereka yang selama ini tampak terhormat perlahan runtuh.

Sementara itu, proses perceraianku berjalan jauh lebih cepat dari dugaan.

Hakim melihat bukti kekerasan, rekaman suara, serta berbagai dokumen lain.

Pernikahan yang bahkan belum genap satu bulan itu akhirnya berakhir.

Beberapa bulan sesudahnya, rumah keluarga Raka disita bank.

Mobil-mobil mewah mereka dilelang.

Perusahaan mereka dinyatakan bangkrut.

Felia akhirnya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil.

Karina menjual hampir seluruh perhiasannya untuk membayar sebagian utang.

Suatu sore, hampir setahun setelah semua berakhir, aku bertemu Raka secara tidak sengaja di sebuah kedai kopi.

Ia tampak jauh lebih tua.

Rambutnya mulai memutih.

Ia duduk sendirian.

Saat melihatku, ia berdiri.

“Aku hanya ingin bertanya satu hal.”

Aku mengangguk.

“Kalau waktu itu keluargaku tidak meminta apartemenmu… apakah kita masih bisa bahagia?”

Aku memandangnya cukup lama.

“Luka kami bukan dimulai dari apartemen.”

“Lalu?”

“Dari keyakinanmu bahwa cinta bisa dijadikan jalan pintas menuju kehidupan yang lebih mudah.”

Ia menunduk.

Aku tersenyum tipis.

“Aku sebenarnya tidak pernah keberatan membantu keluarga pasangan.”

Raka mengangkat wajah.

“Tapi bantuan hanya diberikan kepada orang yang menghargai, bukan kepada orang yang merasa berhak.”

Aku meninggalkan kedai itu tanpa menoleh lagi.

Beberapa bulan kemudian aku mendirikan sebuah yayasan kecil yang memberikan bantuan hukum bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan penipuan finansial setelah menikah.

Setiap kali ada perempuan datang sambil berkata, “Saya malu karena terlalu mudah percaya,” aku selalu menggenggam tangannya dan mengatakan hal yang sama.

“Percaya bukanlah kelemahan. Yang salah adalah mereka yang memanfaatkan kepercayaan itu.”

Karena pada akhirnya, kekayaan terbesar seseorang bukanlah apartemen mewah, rekening yang penuh, ataupun warisan keluarga.

Melainkan keberanian untuk pergi ketika harga diri mulai ditukar dengan alasan yang disebut cinta.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang