Aku Kan Belum Menikahimu

Kata-kata itu seperti pisau tumpul yang mengiris perlahan, namun dalam dinginnya malam itu, aku tidak menangis. Ada sesuatu di dalam dadaku yang mendadak mati. Keinginan untuk berkorban, rasa kasihan, dan cinta yang kupupuk selama tujuh tahun—semuanya menguap.

Aku hanya tersenyum tipis. “Oh, benarkah, Marco? Terima kasih sudah mengingatkanku.”

Aku meletakkan popok kotor itu ke dalam tempat sampah dengan tenang, lalu masuk ke kamar. Aku tidak menangis. Aku justru mulai memasukkan pakaianku ke dalam koper kecil yang sudah lama kusimpan di bawah tempat tidur—koper yang sebenarnya kubeli untuk rencana liburan kami yang selalu batal karena “keterbatasan biaya” menurut Marco.

Pagi itu, sebelum matahari menyentuh pucuk pohon di Sampaloc, aku sudah berdiri di depan pintu kamar Pak Ben dan Bu Cora. Aku tidak mengucapkan selamat tinggal. Aku hanya menaruh segelas air dan catatan kecil di meja samping tempat tidur mereka. Catatan itu berbunyi: “Silakan minta Marco membantu kalian. Aku sudah lelah.”

Aku memesan taksi daring. Sopirnya menatapku heran melihat koper besar dan wajahku yang tanpa riasan, namun matanya memancarkan ketegangan yang asing. Aku tidak menuju bandara lokal. Aku menuju kantor agen tenaga kerja internasional yang sudah menghubungiku beberapa minggu lalu—sebuah peluang kerja yang awalnya kutolak demi merawat orang tua Marco.

Penerbangan menuju Dubai terasa seperti melarikan diri dari sebuah sekte yang menyesatkan.

Tiga bulan di Dubai bekerja sebagai asisten pribadi seorang pebisnis properti wanita sukses, aku berubah total. Tidak ada lagi bau urine atau sisa masakan. Aku mengenakan setelan kantor yang rapi, belajar bahasa Arab dasar, dan yang paling penting, aku belajar menghargai diriku sendiri.

Namun, kejutan sebenarnya datang saat bosku, Nyonya Salma, memintaku mendampinginya dalam sebuah pertemuan bisnis besar dengan investor baru dari Asia Tenggara.

Ketika pintu ruang rapat terbuka, jantungku nyaris berhenti.

Di sana, duduk di kursi utama dengan setelan jas mahal yang tampak dipaksakan, adalah Marco. Dia tidak sendiri. Dia tampak lebih tua, dengan kantung mata yang menghitam, ditemani seorang pria paruh baya yang tampak angkuh.

Marco mendongak. Matanya membelalak. Wajahnya yang pucat pasi terlihat sangat kontras dengan meja mahoni yang mewah.

“Lea?” suaranya bergetar.

Nyonya Salma menoleh padaku. “Kalian saling kenal?”

Aku berdiri tegak, memegang buku catatan dengan erat, dan tersenyum—senyum yang paling dingin yang pernah kuberikan. “Dia adalah pria yang dulu merasa saya tidak cukup berharga untuk dinikahi, Nyonya. Dan dia juga pria yang sekarang tampaknya sedang berusaha memenangkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Anda.”

Marco mencoba berdiri, hendak menghampiriku, namun pengawal Nyonya Salma menahannya. “Lea, dengarkan aku! Semuanya berantakan sejak kau pergi. Papa sudah tiada, Mama… Mama tidak ada yang mengurus, dia—”

“Dia meninggal karena kelaparan di rumah itu, bukan?” potongku tajam.

Ruangan itu hening. Marco terisak. Ternyata, tanpa diriku, dia bahkan tidak tahu cara mengatur jadwal pengobatan orang tuanya sendiri. Dia mengira merawat mereka adalah tugas alami seorang wanita, sampai dia menyadari bahwa dia bahkan tidak tahu di mana kotak obat diletakkan atau bagaimana cara menghubungi perawat darurat.

“Aku mencarimu ke mana-mana,” gumamnya, suaranya pecah. “Aku menyesal, Lea. Mari kita mulai lagi. Sekarang aku punya uang…”

Aku berjalan mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinganya. “Marco, kau salah mengira arti kata ‘keluarga’. Bagi orang seperti dirimu, keluarga adalah tempat untuk menguras energi orang lain. Bagiku, keluarga adalah tentang timbal balik. Dan kau?”

Aku menarik napas panjang.

“Kau bahkan tidak layak menjadi pelayan di rumah ini.”

Aku berbalik ke arah Nyonya Salma. “Nyonya, berdasarkan latar belakang yang saya ketahui tentang etika bisnis dan rekam jejak pribadi pria ini di Filipina, saya sangat menyarankan untuk meninjau kembali kesepakatan ini. Dia bukan orang yang bisa Anda percaya untuk mengelola proyek sebesar ini.”

Nyonya Salma, yang merupakan penguji karakter yang ulung, menatap Marco dengan pandangan merendahkan sebelum akhirnya melipat dokumen di depannya. “Pertemuan dibatalkan. Keamanan, tolong keluarkan pria ini.”

Saat Marco diseret keluar—sambil berteriak memanggil namaku—aku tidak merasa puas. Aku merasa kosong. Tapi kemudian, Nyonya Salma menepuk bahuku.

“Keputusan yang berani, Lea. Kamu baru saja menyelamatkan reputasi perusahaan ini.”

Itulah saat aku menyadari sebuah plot twist yang lebih besar.

Ternyata, Nyonya Salma sudah lama mengamatiku sejak hari pertama aku bekerja. Dia sengaja memilihku untuk menjadi sekretarisnya bukan karena kemampuanku menyeduh kopi, tetapi karena dia tahu siapa pria yang akan datang untuk melakukan negosiasi hari ini. Dia membutuhkan seseorang yang bisa meruntuhkan ego Marco di tempat yang paling menyakitkan baginya: di puncak kesuksesan yang ia dambakan.

Dunia ini sempit, dan karma tidak selalu datang dalam bentuk hukuman fisik. Kadang, karma datang dalam bentuk kehilangan hak istimewa untuk melihat orang yang pernah kita sia-siakan, berdiri di posisi yang jauh lebih tinggi daripada kita.

Aku berjalan keluar dari gedung itu, menghirup udara Dubai yang panas dan kering. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidak lagi mencium aroma obat-obatan. Aku mencium aroma kebebasan.

Dan di dalam tasku, ada tawaran promosi untuk pindah ke kantor cabang di London. Aku tidak perlu lagi memikirkan siapa yang akan mengganti popok siapa. Aku hanya perlu memikirkan diriku sendiri—sebuah kemewahan yang dulu, saat aku di Sampaloc, terasa seperti mimpi yang mustahil.

Marco menghilang dari hidupku, bukan karena dia pergi, tapi karena dia tidak pernah benar-benar ada di sana untukku sejak awal. Dia hanyalah sebuah bayangan masa lalu yang harus kuhapus.

Saat aku menatap cakrawala Dubai, aku berbisik pelan pada diriku sendiri:

“Terima kasih, Marco. Karena kata-katamu tujuh tahun lalu, aku akhirnya menyadari bahwa aku tidak dilahirkan untuk menjadi perawat bagi pria yang tidak tahu cara menghargai nyawa, apalagi cinta.”

Aku pun berbalik, berjalan menuju masa depan yang baru, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang