Aku masih berdiri di pinggir Jalan Ahmad Yani ketika petugas muda itu menunjukkan layar ponselnya kepada Rudi.
Wajah Rudi yang tadi penuh kemenangan mendadak kaku.
Di layar itu terpampang fotoku. Foto resmi, diambil beberapa bulan lalu ketika aku menghadiri rapat koordinasi pengawasan pelayanan publik. Di bawahnya tertulis kalimat yang membuat tengkukku terasa dingin.
DAFTAR ORANG YANG HARUS DIHINDARI SAAT OPERASI SETORAN.
Namaku berada di urutan ketiga.

Laras Prameswari. Inspektorat Provinsi Jawa Tengah.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Suara kendaraan yang melintas terdengar jauh lebih keras daripada sebelumnya.
Rudi menatapku, lalu menatap petugas muda itu.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Grup Koordinasi Lapangan, Pak.”
“Siapa yang kirim?”
Petugas muda itu menelan ludah.
“Pak Darto.”
Rudi langsung merebut ponselnya.
Aku tidak bergerak. Justru pada saat itulah aku sadar bahwa apa yang kulihat jauh lebih besar daripada pungutan liar terhadap seorang sopir angkot.
Mereka bukan sekadar tiga petugas nakal.
Mereka punya sistem.
Mereka punya daftar.
Dan seseorang cukup tinggi di dalam jaringan itu mengetahui siapa saja yang bisa membahayakan mereka.
Rudi mengembalikan ponsel petugas muda tersebut, lalu tersenyum kepadaku. Senyumnya berubah total.
“Mbak Laras, sepertinya terjadi salah paham.”
Pak Hendra menatapku dengan bingung.
Aku menjawab datar, “Amplopnya keluarkan dari tas Pak Hendra.”
Rudi tertawa kecil.
“Amplop apa?”
Aku menunjuk tas yang masih berada di tangan salah satu petugas.
“Amplop hitam yang Anda masukkan sendiri.”
“Itu tuduhan.”
“Ada rekamannya.”
Wajah Rudi kembali menegang.
Ia menatap ponselku yang layarnya retak akibat dijatuhkan tadi.
Kemudian ia memberi isyarat kecil kepada dua rekannya.
Salah satu dari mereka segera melepaskan lengan Pak Hendra.
“Sudah, Pak. Silakan jalan.”
Pak Hendra masih gemetar.
“Tas saya.”
Tas itu dilempar ke arahnya.
Aku mengambilnya lebih dulu, membuka resleting, dan mengeluarkan amplop hitam tersebut.
Di dalamnya ada beberapa lembar uang seratus ribuan dan sebuah plastik kecil berisi pil.
Pak Hendra mundur.
“Ya Allah… itu bukan punya saya, Mbak.”
“Aku tahu.”
Rudi mendekat.
“Sebaiknya Mbak juga tahu kapan harus berhenti.”
Aku menatap matanya.
“Ancaman?”
“Nasihat.”
Ia kemudian menurunkan suaranya.
“Tidak semua hal harus dibawa ke kantor.”
Aku hampir tertawa.
Justru kalimat itu memastikan satu hal.
Aku tidak boleh membawa kasus ini langsung ke kantor.
Setidaknya belum.
Aku memasukkan amplop ke kantong plastik yang kuambil dari angkot tanpa menyentuh bagian dalamnya.
Kemudian aku berkata kepada Pak Hendra, “Kita pergi.”
Tidak ada yang mencegah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuaku di Banyumanik, Pak Hendra hampir tidak bicara. Kedua tangannya terus bergetar di setir.
Setelah beberapa kilometer, ia akhirnya bertanya, “Mbak sebenarnya siapa?”
“Pegawai negeri.”
“Pegawai negeri mana sampai mereka takut begitu?”
Aku terdiam sejenak.
“Inspektorat.”
Pak Hendra langsung menepikan angkot.
Ia menatapku seolah baru mengetahui bahwa penumpangnya membawa bom.
“Turun saja, Mbak.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
“Saya punya keluarga.”
“Pak Hendra, saya tidak akan menyeret Bapak ke masalah ini.”
“Bukan Mbak yang saya takutkan.”
Ia mengusap wajah.
“Mereka tahu rumah saya.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Pak Hendra lalu bercerita.
Pungutan itu bukan baru terjadi hari ini. Selama hampir setahun, sopir angkot, truk kecil, mobil barang, bahkan beberapa pengemudi travel diwajibkan membayar “uang pengamanan”.
Nominalnya berbeda.
Seratus ribu untuk lewat sekali.
Lima ratus ribu untuk bebas pemeriksaan selama seminggu.
Satu juta lebih untuk kendaraan barang tertentu.
Pembayaran dilakukan melalui kode QR koperasi, rekening pribadi, atau tunai.
“Kalau tidak bayar?” tanyaku.
Pak Hendra tertawa getir.
“Besok kendaraan diperiksa sampai ditemukan kesalahan.”
“Kalau tidak ada kesalahan?”
“Dibuat ada.”
Aku teringat amplop hitam tadi.
“Seperti itu?”
Pak Hendra mengangguk.
“Tiga bulan lalu teman saya dituduh membawa obat terlarang. Padahal sebelumnya dia menolak bayar. Akhirnya kendaraan dijual untuk biaya pengacara.”
Aku merasa perutku mengeras.
“Namanya?”
“Joko Santoso.”
Aku mencatatnya.
Sebelum turun, aku memberikan nomor telepon pribadi.
“Kalau ada orang datang ke rumah Bapak, telepon saya.”
Pak Hendra menatap nomor itu lama.
“Mbak Laras.”
“Ya?”
“Kalau mau bongkar mereka, jangan percaya siapa pun di kantor.”
Aku menatapnya.
“Maksud Bapak?”
Ia menggeleng.
“Saya cuma sopir. Tapi setiap kali ada razia resmi setelah kasus pungutan ramai, mereka selalu sudah tahu duluan.”
Malam itu seharusnya aku membantu persiapan lamaran adikku.
Rumah penuh bunga, kotak hantaran, suara sepupu-sepupuku, dan aroma masakan ibu.
Tetapi pikiranku terus berada di Jalan Ahmad Yani.
Aku mengunci diri di kamar dan memeriksa rekaman.
Suara Rudi terdengar jelas.
“Bayar Rp750 ribu.”
“Transfer.”
“Sekarang punya kamu.”
Semua ada.
Foto kode QR juga jelas.
Aku mencari Koperasi Maju Bersama melalui data badan hukum yang bisa kuakses secara legal.
Koperasi itu memang terdaftar.
Alamatnya sebuah ruko kecil di Semarang Barat.
Ketua koperasi bernama Darto Wibowo.
Namaku terasa seperti dipukul sesuatu.
Pak Darto.
Nama yang disebut petugas muda tadi.
Aku mengenalnya.
Darto Wibowo adalah kepala salah satu bidang di instansi yang berkaitan dengan operasi lapangan transportasi.
Aku segera membuka laptop.
Tetapi sebelum sempat mencari lebih jauh, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
Tidak ada suara.
Lalu terdengar napas seseorang.
“Bu Laras?”
“Ya.”
“Kalau Ibu ingin Pak Hendra tetap bisa pulang kepada keluarganya, hapus rekaman tadi.”
Sambungan terputus.
Darahku seperti turun ke kaki.
Aku langsung menelepon Pak Hendra.
Tidak aktif.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Tetap tidak aktif.
Aku mengambil kunci mobil.
Ibu menghadang di ruang tengah.
“Kamu mau ke mana? Besok lamaran adikmu.”
“Ada urusan kantor.”
“Kamu sedang cuti.”
Aku mencium pipinya.
“Justru itu.”
Aku menuju alamat Pak Hendra yang tadi sempat ia sebutkan.
Rumahnya gelap.
Pintunya terbuka sedikit.
Aku memanggil.
“Pak Hendra?”
Tidak ada jawaban.
Di ruang tamu, sebuah kursi terbalik.
Ponselnya tergeletak di lantai.
Aku hendak menelepon polisi ketika seseorang muncul dari dapur.
Aku mundur refleks.
Ternyata Pak Hendra.
Wajahnya pucat.
“Jangan telepon polisi.”
“Bapak tidak apa-apa?”
“Tadi ada dua orang datang.”
“Apa yang mereka lakukan?”
“Mereka cuma bilang anak saya pulang sekolah jam dua.”
Aku mengepalkan tangan.
“Bapak harus membuat laporan.”
“Ke siapa?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi aku tidak bisa langsung menjawab.
Aku akhirnya menghubungi satu orang yang paling kupercaya di kantor, Arman, auditor senior yang sudah menjadi mentorku selama enam tahun.
Kami bertemu malam itu di sebuah warung kopi yang hampir tutup.
Aku menyerahkan salinan rekaman dan foto.
Arman mendengarkannya tanpa ekspresi.
Setelah selesai, ia berkata, “Jangan masukkan ini ke sistem dulu.”
“Kenapa?”
“Kalau jaringan mereka benar-benar punya akses internal, laporan resmi akan bocor.”
“Jadi kita diam?”
“Tidak.”
Arman menatapku.
“Kita buat mereka percaya kamu sudah mundur.”
Selama dua minggu berikutnya, aku kembali bekerja seperti biasa.
Aku tidak membicarakan Rudi.
Tidak melaporkan Darto.
Bahkan ketika seorang rekan bertanya tentang insiden angkot yang mulai beredar sebagai gosip, aku hanya berkata terjadi salah paham.
Sementara itu, Arman diam-diam menelusuri aliran dana koperasi.
Aku mencari korban.
Awalnya hanya Pak Hendra.
Kemudian Joko.
Lalu enam sopir.
Menjadi dua belas.
Dua puluh tiga.
Semua menceritakan pola yang sama.
Kode QR.
Ancaman penahanan kendaraan.
Pelanggaran palsu.
Amplop yang tiba-tiba muncul.
Beberapa bahkan menunjukkan bukti transfer.
Total transaksi yang berhasil kami dokumentasikan dalam delapan bulan mencapai lebih dari dua miliar rupiah.
Namun sesuatu terasa aneh.
Uang dari Koperasi Maju Bersama selalu dipindahkan setiap Jumat ke rekening sebuah perusahaan konsultan.
PT Satria Nusantara Konsultan.
Aku mencari nama direkturnya.
Tanganku membeku di atas keyboard.
Arman Prasetyo.
Aku membaca nama itu berkali-kali.
Mentorku sendiri.
Orang yang selama dua minggu memegang seluruh bukti yang kukumpulkan.
Aku langsung membuka log dokumen.
Beberapa file telah diakses dari akun Arman tengah malam.
Kemudian dihapus.
Saat itulah semuanya menjadi jelas.
Daftar orang yang harus dihindari bukan dibuat untuk melindungi operasi dari Inspektorat.
Daftar itu dibuat menggunakan informasi dari dalam Inspektorat.
Dan Arman adalah kebocorannya.
Aku tidak pulang malam itu.
Aku menyalin semua bukti ke tiga penyimpanan berbeda dan mengirim satu paket terenkripsi kepada tim pengawasan internal tingkat pusat yang sebelumnya pernah bekerja sama denganku.
Pagi berikutnya Arman masuk ke ruanganku.
“Laras.”
Aku tersenyum.
“Mas.”
“Kita harus bicara.”
Ia menutup pintu.
“Darto tahu kamu masih menyelidiki.”
Aku berpura-pura terkejut.
“Dari mana dia tahu?”
Arman menatapku beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
Senyum yang tidak pernah kulihat selama enam tahun mengenalnya.
“Karena aku yang bilang.”
Ruangan terasa dingin.
“Aku kira kamu lebih pintar,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena sistem ini tidak dibangun oleh satu Rudi atau satu Darto.”
Ia duduk di depanku.
“Semua orang dapat bagian.”
“Termasuk kamu?”
“Termasuk orang yang jauh lebih tinggi daripada aku.”
Ia mendorong sebuah map ke arahku.
Di dalamnya ada surat pengunduran diri yang sudah disiapkan.
“Hari ini kamu tanda tangan. Kasus selesai. Pak Hendra aman.”
“Kalau aku menolak?”
Arman menghela napas.
“Kamu punya ibu. Ayah. Adik yang baru bertunangan kemarin.”
Aku menatapnya.
Lalu mengambil pulpen.
Arman tersenyum puas.
Namun sebelum ujung pulpen menyentuh kertas, pintu terbuka.
Empat orang masuk.
Dua petugas pengawasan internal.
Seorang penyidik.
Dan Pak Hendra.
Wajah Arman berubah.
Aku meletakkan pulpen.
“Maaf, Mas.”
Aku mengeluarkan ponsel dari saku.
“Sejak kamu masuk, semuanya direkam.”
Arman berdiri.
“Kamu menjebak aku?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Kamu datang sendiri.”
Hari itu, operasi serentak dilakukan di beberapa lokasi.
Rudi ditangkap ketika menerima uang dari pengemudi truk.
Darto ditemukan di rumahnya bersama puluhan kartu ATM, stempel koperasi, serta catatan setoran.
Arman diamankan berdasarkan bukti aliran dana dan rekaman percakapannya denganku.
Tetapi kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.
Penyidik memanggilku.
Mereka menunjukkan buku catatan milik Darto.
Di halaman terakhir terdapat daftar pembagian uang.
Nama pejabat.
Nominal.
Tanggal.
Dan satu nama yang membuatku tidak mampu berkata-kata.
Ayahku.
Aku pulang malam itu dengan tangan gemetar.
Ayah sedang duduk di teras membaca berita tentang penangkapan jaringan pungli tersebut.
Aku meletakkan fotokopi catatan di mejanya.
“Ayah mau jelaskan?”
Ia membaca namanya.
Tidak tampak terkejut.
Justru matanya perlahan berkaca-kaca.
“Sudah waktunya kamu tahu.”
Ayah masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah kotak tua.
Di dalamnya ada puluhan kuitansi, rekaman percakapan, dan laporan yang tanggalnya bahkan lebih lama daripada masa kerjaku.
“Ayah tidak menerima uang mereka.”
“Nama Ayah ada di daftar pembagian.”
“Karena selama tiga tahun Ayah membuat mereka percaya bahwa Ayah menerima.”
Aku menatapnya tak percaya.
Sebelum pensiun, ayah pernah bekerja di bidang pengawasan transportasi.
Ia ternyata sudah mencoba membongkar jaringan yang sama bertahun-tahun lalu.
Namun setiap laporan selalu hilang.
Dua saksi menarik keterangan.
Seorang sopir bahkan meninggal dalam kecelakaan misterius.
Akhirnya ayah mengubah cara.
Ia berpura-pura menerima bagian, tetapi seluruh uang disimpan terpisah sebagai barang bukti.
“Kenapa tidak pernah bilang padaku?”
Ayah tersenyum lelah.
“Karena Ayah tahu suatu hari kamu mungkin masuk ke dunia yang sama. Ayah tidak ingin kamu mewarisi ketakutan Ayah.”
Aku tidak mampu menjawab.
Ia lalu mengeluarkan satu lembar kertas terakhir.
Sebuah daftar nama.
Di urutan pertama tertulis nama ayah.
Di urutan kedua nama seorang penyidik yang sudah pensiun.
Di urutan ketiga namaku.
Daftar orang yang harus dihindari saat operasi setoran.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Namaku bukan masuk ke daftar itu karena jabatan.
Bukan pula karena aku dianggap berbahaya setelah menjadi auditor.
Namaku sudah berada di sana jauh sebelum kejadian di angkot.
Karena aku adalah anak dari orang yang pernah hampir menghancurkan jaringan mereka.
Beberapa bulan kemudian, puluhan orang diperiksa. Sebagian diberhentikan, sebagian menjalani proses hukum, dan mekanisme pembayaran serta pemeriksaan kendaraan diperbaiki agar transaksi tidak lagi mudah disembunyikan.
Pak Hendra kembali menarik angkot.
Suatu sore aku sengaja menaiki kendaraannya lagi dari terminal.
Ia melihatku dari kaca spion dan tertawa.
“Sekarang saya takut kalau Mbak naik.”
Aku ikut tertawa.
“Kenapa?”
“Setiap Mbak naik, ada orang ditangkap.”
Angkot melaju menyusuri jalan yang dulu menjadi tempat Rudi menghentikan kami.
Di tikungan itu sekarang terdapat papan pemeriksaan resmi, kamera pengawas, dan informasi tentang kanal pengaduan.
Pak Hendra tiba-tiba berkata, “Mbak Laras.”
“Ya?”
“Waktu itu kenapa Mbak berani turun? Padahal bisa saja pura-pura tidak lihat.”
Aku memandang keluar jendela.
Orang-orang berjalan pulang. Pedagang kaki lima mulai menyalakan lampu. Motor dan mobil memenuhi jalan seperti hari-hari biasa.
Aku teringat ayah.
Aku teringat Joko.
Aku teringat semua orang yang membayar karena merasa tidak punya pilihan.
“Karena kalau semua orang berpura-pura tidak melihat,” kataku pelan, “lama-lama kita hidup di tempat di mana yang salah tidak perlu lagi bersembunyi.”
Pak Hendra mengangguk.
Angkot terus berjalan.
Namun sebelum aku turun, ia memberikan sesuatu kepadaku.
Sebuah amplop hitam.
Aku langsung menatapnya.
Pak Hendra tertawa melihat ekspresiku.
“Buka saja.”
Di dalamnya tidak ada uang.
Hanya selembar kertas kecil.
Tulisan tangan dari dua puluh tiga sopir yang dulu memberikan kesaksian.
Terima kasih karena waktu itu Ibu tidak tetap duduk di dalam angkot.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tersenyum.
Selama ini aku mengira cerita itu dimulai ketika tiga petugas menghentikan sebuah angkot di Jalan Ahmad Yani.
Ternyata tidak.
Cerita itu sudah dimulai bertahun-tahun sebelumnya, ketika ayah memilih menyimpan bukti meski tidak ada yang mau mendengarnya.
Dan mungkin cerita seperti ini tidak pernah benar-benar selesai.
Karena korupsi tidak selalu dimulai dari orang yang meminta uang dalam jumlah besar.
Kadang ia dimulai dari sebuah kalimat sederhana.
Sudahlah. Jangan ikut campur.
Dan perlawanan terhadapnya juga bisa dimulai dari kalimat yang sama sederhananya.
Tidak.
Kali ini saya ikut campur.
