Rania hampir membatalkan langkahnya ketika melihat deretan mobil mewah memenuhi halaman taman kanak-kanak itu. Di antara para orang tua yang mengenakan pakaian mahal dan berbicara dengan percaya diri, ia merasa dirinya begitu kecil. Ia hanya seorang desainer grafis lepas yang membesarkan putra semata wayangnya seorang diri. Namun, ia sudah berjanji pada Arga bahwa hari ini mereka akan mencoba yang terbaik.
Arga menggenggam tangan ibunya sambil mengenakan ransel bergambar dinosaurus kesayangannya. Bocah lima tahun itu sama sekali tidak terlihat gugup. Justru matanya berbinar melihat taman bermain yang luas.

“Ma, kalau aku diterima, boleh main perosotan itu setiap hari?”
Rania tersenyum tipis.
“Kalau kamu diterima, kamu boleh main setelah selesai belajar.”
Arga mengangguk puas.
Satu per satu anak dipanggil masuk ke ruang wawancara. Ada yang memainkan biola, ada yang membaca buku berbahasa Inggris tanpa terbata-bata, bahkan ada yang mampu menyebut nama-nama planet dalam tiga bahasa. Rania mulai kehilangan harapan.
Ketika nama Arga dipanggil, bocah itu melangkah masuk dengan santai.
Di balik meja panjang duduk tiga orang pewawancara. Dua guru dan seorang pria yang tampak jauh lebih muda dibandingkan jabatan yang terpampang pada kartu namanya.
Direktur Akademik.
Nadanya tenang ketika mempersilakan Arga duduk.
Rania yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat kepala.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Pria itu adalah Adrian Mahendra.
Mantan kekasihnya.
Lima tahun yang lalu mereka berpisah dengan cara yang sangat buruk. Rania menghilang tanpa penjelasan setelah menerima kabar bahwa ayahnya sakit keras dan terlilit utang. Demi melindungi Adrian dari ancaman para penagih utang yang bahkan sempat mendatanginya, Rania memilih memutuskan hubungan dengan kata-kata yang paling kejam yang bisa ia ucapkan.
Sejak hari itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
Tatapan Adrian berhenti beberapa detik pada wajah Rania, tetapi ekspresinya nyaris tak berubah.
“Silakan mulai.”
Seorang guru tersenyum kepada Arga.
“Apa cita-citamu?”
“Aku mau jadi ilmuwan.”
“Kenapa?”
“Soalnya dinosaurus memang sudah punah. Tapi mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang lebih hebat.”
Semua orang tertawa kecil.
Kemudian Adrian mengambil formulir pendaftaran.
Tatapannya berhenti pada kolom ayah yang kosong.
“Arga tinggal dengan siapa?”
“Sama Mama.”
“Kalau ayah?”
Arga berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“Mama bilang ayahku orang baik. Tapi beliau tidak tahu kalau aku ada.”
Ruangan langsung sunyi.
Untuk pertama kalinya wajah Adrian berubah.
Ia memandang Rania, lalu kembali menatap bocah kecil di depannya.
“Apa kamu sedih?”
Arga menggeleng.
“Enggak. Mama bilang kalau orang yang sayang sama kita belum tentu selalu bisa ada di dekat kita.”
Kalimat sederhana itu menghantam hati Rania lebih keras daripada apa pun.
Wawancara berakhir beberapa menit kemudian.
Saat Rania hendak pergi, Adrian memanggil namanya.
“Bisakah kita bicara sebentar?”
Rania menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Kalau begitu aku hanya ingin bertanya satu hal.”
“Apa?”
“Apakah kamu sekarang bahagia?”
Pertanyaan itu membuat Rania membeku.
Ia tidak menjawab.
Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Tiga hari kemudian, Arga dinyatakan diterima dengan beasiswa penuh.
Rania yakin telah terjadi kesalahan.
Ia datang kembali ke sekolah untuk menolak fasilitas yang menurutnya terlalu berlebihan.
Namun Adrian sudah menunggunya di ruang kerja.
“Kamu tidak perlu khawatir. Beasiswa itu diberikan karena hasil tes Arga memang sangat tinggi.”
“Aku tidak ingin dikasihani.”
“Aku juga tidak sedang mengasihanimu.”
Suara Adrian tetap tenang.
“Aku menghargai kemampuan anakmu.”
“Anakku.”
Rania menekankan kata itu.
“Bukan urusanmu.”
Adrian mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Ia tidak bertanya lagi.
Sikap itu justru membuat Rania semakin gelisah.
Hari-hari berlalu.
Arga cepat beradaptasi di sekolah.
Yang membuat Rania heran, setiap kali menjemput putranya, ia sering melihat Adrian sedang bermain catur atau menyusun balok bersama anak-anak.
Suatu sore Arga berlari menghampiri ibunya.
“Ma! Pak Adrian hebat.”
“Kenapa?”
“Beliau bisa bikin gunung dari balok cuma lima menit.”
Rania hanya tersenyum.
Namun sejak saat itu Arga terus bercerita tentang Adrian.
Kadang mereka menggambar bersama.
Kadang membaca buku tentang luar angkasa.
Kadang sekadar memberi makan ikan di kolam sekolah.
Suatu malam Arga bertanya sebelum tidur.
“Ma.”
“Hm?”
“Kalau aku punya ayah, kira-kira beliau bakal kayak Pak Adrian enggak?”
Pertanyaan itu membuat dada Rania sesak.
Ia memeluk putranya erat.
“Setiap ayah punya caranya sendiri untuk menyayangi anak.”
“Kalau ayahku tahu aku ada, beliau bakal datang?”
Rania tidak sanggup menjawab.
Beberapa minggu kemudian Arga mengalami reaksi alergi setelah tanpa sengaja memakan kue yang mengandung kacang saat menghadiri pesta ulang tahun temannya di sekolah.
Dalam hitungan menit Adrian sudah menggendong Arga menuju klinik terdekat sambil terus menghubungi ambulans.
Rania yang baru tiba langsung menangis melihat putranya mulai sadar.
Dokter mengatakan penanganan cepat itulah yang menyelamatkan Arga.
Malam itu, setelah Arga tertidur di ruang observasi, Adrian berdiri di lorong rumah sakit.
“Aku ingin bertanya sekali lagi.”
Rania diam.
“Siapa ayah Arga?”
Air mata Rania akhirnya jatuh.
“Kalau aku memberitahumu sekarang… semuanya akan berubah.”
“Aku hanya ingin mengetahui kebenaran.”
Rania menarik napas panjang.
“Lima tahun lalu, seminggu setelah kita berpisah, aku mengetahui kalau aku hamil.”
Adrian tidak bergerak.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Aku ingin mencarimu.”
“Tapi?”
“Orang-orang yang mengejar utang ayahku mengancam akan menyakitimu kalau aku tetap bersamamu.”
“Aku pikir… kalau kamu membenciku, kamu akan berhenti mencariku.”
Adrian menutup mata.
“Lima tahun.”
Rania mengangguk sambil menangis.
“Aku membesarkan Arga sendirian. Bukan karena aku tidak percaya padamu. Aku hanya tidak mau hidupmu hancur karena keluargaku.”
Hening panjang memenuhi lorong rumah sakit.
Adrian akhirnya duduk perlahan.
Selama bertahun-tahun ia mengira dirinya dibuang karena tidak cukup berarti.
Ternyata perempuan yang dicintainya justru memikul semuanya sendirian.
Keeskan harinya Adrian meminta tes DNA.
Bukan karena ia meragukan Rania.
Melainkan karena ia ingin memastikan secara hukum agar tidak ada seorang pun yang bisa merebut hak Arga di kemudian hari.
Dua minggu kemudian hasilnya keluar.
Probabilitas hubungan biologis mencapai 99,99 persen.
Adrian adalah ayah Arga.
Ketika Arga melihat kedua orang dewasa itu menangis sambil memegang selembar kertas, ia menggaruk kepalanya.
“Aku bikin masalah lagi ya?”
Adrian berlutut hingga sejajar dengan wajah bocah itu.
“Boleh Om bertanya sesuatu?”
“Boleh.”
“Kalau ternyata Om adalah ayahmu… apakah kamu marah?”
Arga memiringkan kepala.
“Kenapa harus marah?”
“Karena Ayah baru datang sekarang.”
Arga berpikir cukup lama.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kalau Ayah memang baru tahu aku ada, berarti Ayah juga baru bisa datang sekarang.”
Jawaban polos itu membuat Adrian tak mampu lagi menahan air mata.
Ia memeluk Arga erat untuk pertama kalinya.
Rania berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Selama lima tahun ia selalu yakin bahwa kebohongan adalah satu-satunya cara melindungi semua orang.
Namun pada hari itu ia menyadari bahwa kejujuran yang terlambat masih jauh lebih baik daripada kebohongan yang dipelihara seumur hidup.
Beberapa bulan kemudian, pada acara pentas seni sekolah, Arga berdiri di atas panggung mengenakan kostum astronot.
Ketika pembawa acara meminta setiap anak melambaikan tangan kepada keluarganya, Arga tersenyum lebar.
Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
“Untuk Mama…”
Lalu ia menoleh ke arah Adrian yang duduk di samping Rania.
“…dan untuk Ayah.”
Tepuk tangan memenuhi aula.
Di tengah sorak-sorai itu, Adrian menggenggam tangan Rania.
Bukan untuk menghapus masa lalu.
Melainkan sebagai janji bahwa mulai hari itu, tidak ada lagi rahasia yang akan memisahkan keluarga kecil mereka.
